Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kesedihan


"Dasar pembunuh"teriak Manda meronta mencoba memukul Aron, air matanya pecah membasahi pipinya.


"Syang aku bisa jelasin semuanya, kamu jangan seperti ini. Ingat anak kita syang"ucap Aron memeluk tubuh Manda.


"Lepaskan aku"Bentak Manda mendorong lagi tubuh Aron menjauh darinya. Hingga tersungkur ke lantai.


"Jangan pernah menyentuhku lagi, aku tidak mau hidup dengan pembunuh seperti kamu"ucap Manda dengan nada tinggi,


"Manda aku bisa jelaskan semuanya, kenapa kamu percaya gitu saja dengan lembaran kertas itu. Apa kamu gak mikir jika ada seseorang yang ingin menghancurkan hubungan kita. Jangan asal percaya dengan semua ini. Aku yakin ada orang yang ingin menghancurkan hubungan kita."Ucap Aron mencoba menenangkan Manda.


Manda hanya diam tak perdulikan ucapan Aron, ia beranjak berdiri. Tetesan darah dari punggung tangan Manda itu, perlahan menentes menghiasi lantai putih di bawahnya. "Manda tangan kamu"ucap Aron memegang tangan kanan Manda yang terlihat berdarah. "Jangan perdulikan aku"Bentak Manda menepis tangan Aron.


"Manda tangan kamu terluka, ayo ikut aku, aku akan mengobati tanganmu"ucap Aron dengan tubuh tak behenti panik melihat kondisi Manda.


Manda manarik bibirnya sedikit, Menepis tangan Aron.


"Sudah aku bilang jangan sentuh aku, luka ini gak seberapa dengan apa yang aku rasakan. Rasa kecewa sakit hati, selama ini aku telah di bohongi oleh suamiku sendiri. Kenapa kamu menyembunyikan hal besar ini dariku, kenapa? Aku sudah curiga dari kemadin kamu selalu murung sendiri. Dan ternyata ini jawabannya."ucap Manda tersenyum sinis menatap Aron, berjalan dengan tatapan kosong menuju ke balkon kamarnya.


"Manda kamu mau kemana?" Aron berlari mencegah manda pergi, ia memeluk tubuh Manda erat. "Jangan melakukan hal bodoh Manda. Kamu boleh marah denganku, kamu boleh dendam denganku, bahkan jika kamu ingin membalas semuanya, silahkan lakukan. Tapi aku mohon jangan libatkan anak kita, biarkan dia lahir menikmati udara segar di dunia ini. kasihan dia, belum tahu apa-apa harus jadi korban. Lebih baik sakiti aku, dari pada kamu menyakiti anak kamu dan menyakiti dirimu sendiri. Lebih baik aku yang menderita dari pada kamu harus melakukan hal bodoh seperti ini"gumam Aron, perlahan ia duduk berlutut memegang kaki Manda.


Manda tak hentinya meneteskan air matanya, ia tidak sanggup mendengar semua kenyataan ini. "Argggg... Aku pusing semuanya palsu"Teriak manda mengacak-acak rambutnya.


"Aku benci dengan kehidupan ini, ku benci dengan semuanya"ucap Manda tak henti terus berteriak di atas balkon.


"Arggg... "Umpat kesal Manda memukul kepalanya.


"Manda jangan sakiti diri kamu sendiri, ku mohon hentikan Manda"Ucap Aron yang amsih memeluk erat kaki Manda.


"Pergi menjauh dariku"Bentak Manda.


"Aku gak akan pergi, sampai kamu mau menatapku. Aku ingin kita bicara betdua"ucap Aron, butiran air mata terus membasahi oantai di bawahnya.


Manda terdiam perlahan rasa marah yang menggebu dalam hatinya, seakan mulai labil. Di saat ia mengingat tentang anaknya, yang memang tidak bersalah, Harus jadi korban dari kemarahannya. Ia mengusap perutnya meneteskan air matanya dengan penuh perasaan menyesal. "Maafkan mama syang"Ucap Manda terus mengusap perutnya.


"Syang, aku mohon maafkan aku. aku janji padamu akan membuktikan semuanya tentang kebenaran itu. Dan aku juga akan mencari lelaki itu yang pernah membunuh keluargamu. Aku masih ingat wajah orang itu. Dan gak mungkin aku lupa, tapi aku tidak tahu dia di mana sekarang. Dan aku mohon berilah aku kesempatan Manda untuk membuktikan semuanya. Aku tidak mau hubungan kita terpecah lagi gara-gara ada orang yang tidak suka melihat kita bahagia."Ucap Aron masih tersungkur di lantai merengkuh ke dua kaki Manda. Ia tak berhenti terus mememohon hingga tetesan air mata jatuh membasahi lantai putih di tambah dengan tetesan darah yang masih keluar dari punggung tangan Manda.


"Apa yang kamu katakan benar?" ucap Manda menarik napasnya mencoba mengontrol emosi dalam dirinya. Ia tidak mau hal buruk dalam dirinya itu terulang kembali. membuat kepribadian gandanya semakin membuat ia tersiksa.


Manda terus menangis sesegukan, dengan hidung dan amta yang sudah mulai memerah.


"Berdirilah" Bentak Manda.


"Aku gak akan berdiri sampai kamu mau memaafkan aku, aku akan terus memeluk kakimu, sampai kamu membetikan aku kesempatan untuk membalas semuanya. Dan percayalah padaku"Ucap Aron semakin mempererat rengkuhannya.


"Aku bilang berdiri"Bentak Manda semakin keras.


"Gak" ucap Aron tegas.


"Kamu mau berdiri atau aku akan pergi dari sisimu sampai kamu bisa membuktikan itu semua"ucap Manda.


"Jangan pergi"Aron langsung berdiri menuruti apa kata Manda. Tetesan air mata tak behenti mengalir dimatanya.


Manda mencoba mengontrol emosinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Jika memang kamu bukan pembunuh orang tua aku, kenapa bukti itu mengarah padamu. Aku ingat jika pembunuh itu adalah suruhan tuan muda dengan mobil hitam mewah."ucap Manda mencoba berbicara lembut pada Aron.


"Emangnya kamu lihat aku di dalam mobil itu?"ucap Aron mencoba memastikan.


"Enggak! tapi aku juga gak tahu harus percaya siapa sekarang. Bukti itu mengarah padamu. Kamu sudah lihat kan tadi, Jika kamu lihat sekarang pasti kamu bisa jelaskan padaku." Ucap Manda dengan nada kecewa dan kesalnya.


"Syang foto itu aku gak pernah tahu jika aku dalam mobil itu, dan lagian kamu apa lihat aku ada di depan rumahmu enggak kan, Emang orang itu adalah anak buahku. tapi aku tidak tahu jika dia akan membunuh orang tua kamu"ucap Aron, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi waktu itu.


"Maksud kamu?" Hati Manda yang sudah mulai kendinginan, ia mencoba bisa menerima kenyataan yang terjadi. Meskipun ia merasa sangat sakit. Orang yang ia cintai, dan sekaligus suaminya adalah otakĀ  pembunuh pada orang tuanya.


"Kamu percayalah padaku, aku bisa buktikan itu semua padamu. Dan ada kejanggalan yang belum aku ketahui."ucap Aron memegang ke dua bahu Manda. "Tolong jangan pergi, tetaplah disini bersamaku, hanya kamu yang aku punya sekarang, sebentar lagi adikku juga akan kuliah di luar negeri. Hanya kamu sekarang keluargaku bagian hidupku"Ucap Aron memeluk erat tubuh Manda. Perasaan keala yang masih menyelimuti hatinya. perlahan mulai pudar, ia tidak sanggup melihat Aron menangis di dalam dekapannya.


"Lepaskan aku"ucap Manda.


"Aku gak mau melepaskanmu, aku mau kamu selalu ada dalam dekapanku, jangan pergi, tetaplah disini Manda, ku mohon"ucap Aron masih mempererat pelukannya.


"Apa kamu tidak ingat semua yang kita lalui bersama beberapa hari ini, saat kita tertawa, bercanda bersama. Apa kamu lupa semuanya saat kamu manja denganku"gumam Aron, lelaki yang di bilang sangat bengis dan kejam dulu. Kini berbuha dratis dan terlihat lemah di depan wanita.