
"Apa kamu tahu semuanya?" Tanya Manda. Menatap wajah Aron di sampingnya.
Aron memegang ke dua bahu Manda. Menghilakan helaian rambut di pelipisnya ke belakang telinga Manda.
"Aku sudah tahu semuanya sejak awal, tapi kenapa kamu merahasiakan itu semua dariku. Manda!, jika kamu cerita tentang semuanya. Aku akan melindungimu dan anak ini. Dia adalah calon penerusku kelak, jadi aku gak mau kalau dia nanti kenapa-napa" pungkas Aron.
Dari tingkahnya yang sejak tadi aneh, tiba-tiba berubah jadi serius lagi seperti ini. "Apa itu bawaan dari bayinya ya?" Gumam Manda. Yang terus menatap wajah Aron sangat detail. Kini wajahnya tak terlihat lugu. Lebih terlihat berwibawa lagi.
Manda terdiam sejenak. "Jadi sejak tadi, waktu aku muntah di kamar mandi, kamu juga tahu semuanya" Ucap manda masih terlihat sangat penasaran pada suaminya itu.
Memang benar Aron tu tidak gampang di tebak. Sifatnya yang tiba-tiba baik, dingin, cuek, terkadang juga seperti anak kecil. Namun meskipun begitu Aron sangat baik padanya. Bahkan dia benar-benar selalu menjaganya.
"Aku sudah tahu semuanya, sejak kamu di rumah sakit sama kesha dan Vino, kamu yang gak sadar tidak melihatku saat di rumah sakit. Dan kebetulan aku juga ada di rumah sakit itu. Melihatmu keluar dari rumah sakit. Aku coba tanya pada dokter yang memeriksamu kemarin. Dia bilang kalau kamu lagi hamil muda. Apa kamu tahu perasaan yang aku rasakan waktu itu?. Aku sangat senang sekali Manda mendengar kabar baik itu. Dan hari ini kamu ikut aku untuk mengambil surat perceraian ku dengan Fany" Gumam Aron. Perlahan mulai menjalankan mobilnya kembali menuju ke pengadilan.
Manda terdiam, ia tak menyangka jika Aron benar-benar akan menceraikan Fany, bahkan dia juga sudah memikirkan dampaknya nanti jika bercerai dengan Fany. Sepertinya semua rencana Aron sudah di susun dan di tata sedemikian rupa. Jadi baginya tak ada halangan apapun untuk menceraikan Fany. Meskipun keluarganya sekalipun, bukan menjadi momok menakutkan bagi Aron, mereka tidak akan bisa berbuwat apa-apa lagi kali ini.
Ya, bisa di katakan mereka bakal bertekuk lutut di depan Aron.
Karena diam-diam Aron lah, penyebab perusahaan keluarganya terus mengalami kerugian dan sekarang bisa di katakan dalam tahap akan bangkruk. Ia tahu rencana Fany saat tidur dengannya, itu hanyalah akal busuk Fany, untuk mempunyai keturunan dari Aron.
Ya meskipun Aron nanti memang punya keturunan dari Fany, ia juga tidak tahu selanjutnya. Karena sekarang Fany memang belum hamil, tetapi ia tetap menceraikan Fany, dan jika melahirkan anak maka dia akan mengambil anaknya. Dan hak waris tetap jatuh pada anak Manda kelak nanti. Semua sudah di rencanakan dengan matang oleh Aron.
Dan kali ini ia berharap, anaknya nanti adalah lelaki. Agar ia bisa mengembangkn bisnisnya jauh lebih maju.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Aron, melirik sekilas ke arah istrinya itu.
"Aku masih tidak menyangka, seakan semuanya benar seperti mimpi. Tapi kenapa kamu yakin akan menceraikan Fany, bagaimana jika Fany akan berbuwat nekat nantinya. Aku takut anak ini jadi terancam" gumam Manda yang nerasa snagat khawatir dengan keselamatan bayinya.
Aron tersenyum tipis, ia mencoba meyakinkan istrinya itu untuk tetap tenang, dan tidak khawatir lagi.
"Sudahlah jangan takut, anak ini akan selali dalam lindunganku. Siapa yang berani menyentuhnya sedikitpun maka akan berurusan denganku" Gumam Aron, ia mengusak perut Manda dengan tangan kirinya. Dan tangan kanan masih fokus mengemudi.
Manda terdiam, ia tersenyum tipis, benar-benar sebuah kebahagiaan yang tertunda baginya. Kini semua perlahan sudah mulai mendekatinya lagi. Sebuah kebahagiaan yang selama ini Manda rindukan. Dan berharap jika nanti tidak ada halangan apapun untuk kehidupan rumah tangga mereka kelak nanti.
Sekarang yang paling penting baginya adalah, menjaga kesehatan anaknya dan menjaganya, baby yang sudah di nantikan oleh mereka berdua sejak dulu.
Manda tiba-tiba teringat tentang Fany, ia terus bertanya dalam hatinya, jika Fany juga hamil apa mereka tidak jadi cerai.
"Oya, bukannya Fany juga hamil?" Tanya Manda, ia terlihat bingung sekarang. Ia tahu jika Fany juga sudah hamil. Tapi ia tak tahu anak siapa itu, benar anak Aron atau hanya pura-pura hamil.
Aron tertawa kecil. Ia mengusap lembut rambut Manda. "Manda!, dia itu hanya pura-pura hamil. Dia membayar dokter di rumah sakit itu untuk berbohong padaku. Aku sudah tahu semuanya. Dan dia juga ternyata berselingkuh di belakangku" Gumam Aron.
Mobil berhenti tepat di kantor pengadilan, "kamu tunggu di sini ya? Aku hanya ambil surat saja sebentar" Ucap Aron mengusap perut calon babynya itu.
Manda menarik tangan Aron mencegahnya pergi, "Aku ikut!" Gumamnya. Ia merasa ada hal aneh yang mencurigakan. Entah itu perasaannya atau apa. Tetapi kali ini ia merasa tak tenang.
Aron menatap wajah Manda yang terlihat ketakutan.
"Baiklah, ayo turun"ucap Aron. Beranjak turun berlari memutar, lalu membuka pintu mobil untuk manda.
Aron melebarkan punggung tangannya. Mempersilahkan tangan Manda untuk memeluknya masuk ke dalam ruang pengadilan. "Kamu takut aaa sebanarnya, aku tidak akan segan-segan melukai siapapun yang berani menyantuhmu, baik itu wanita maupun lelaki. Semua bagiku sama tidak ada yang boleh menyakitmu" Ucap Aron menegaskan.
Manda menyandarkan kepalanya di bahu Aron. Di balas dengan usapan lembut jemari Aron di ubun kepalanya.
Bahkan mereka tak perdulikan orang menatap mereka. Benar-benar sudah seakan seperti dunia milik berdua, yang lainya anggap saja cuma ngontrak.
"Sore tuan." Sapa seorang lelaki yang berjalan mendekatinya.
"Apa kamu sudah atur semuanya surat perceraianku" gumam Aron.
"Sudah tuan, semua sudah beres. Ini tuan suratnya. Jadi mulai sekarang tuan langsung resmi cerai dengan Fany" lelaki itu menyodorkan beberapa lembar surat perceraian Aron dan Fany.
Aron mengangguk. "Baik, makasih, aku akan memberikan imbalan padamu nanti"Ucap Aron, ia membalikkan bandanya beranjak pergi, tanpa berlama-lama di dalam.
"Setelah itu kita mau kamana?" Tanya Manda. Ia bingung dengan Aron ajak dia pergi tapi hanya di kantor pengadilan.
"Babyku ini mah kamana?"tanya Aron pada perut Manda, ia terus mengusapnya lembut kali ini.
Kejadian yang tak terduga bagi Manda. Ia yang pertamanya tak mengharapkan sentuhan lembut Aron pada baby nya. Ia kini terlihat sangat senang, bahkan tak bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata.
"Kalau aku mau makan"Ucap Manda tersenyum lebar menatap Aron dengan kedipan menggoda.
Aron mengacak-acak rambut Manda. "Kanapa kamu jadi suka makan gini?, gimana kalau kamu nanti gemuk?" Tanya Aron. Ia tertawa lebar kali ini. Ia membayangkan jika istrinya itu jadi gemuk.
Manda mengerutkan bibirnya.
"Emang kalau aku gendut kamu gak suka lagi denganku" ucap Manda dengan nada kesalnya.
"Mau kamu gendut atau apapun, kamu tetap istriku paling cantik" gumam Aron mencoba merayu.
Mereka segera berjalan masuk ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan mereka menuju restaurant. Sepertinya anaknya sangat lapar kali ini.