Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Perasaan Manda


Aron berjalan membuka pintunya, lalu menutupnya kembali. Ia segera mencari kotak P3K yang tersimpan dekat lemarinya. Dengan sigap dia segera mengobati luka yang telihat terus mengeluarkan darah segar. lelaki itu segera membersihkan lukanya dengan alkohol dan meneteskan obat merah perlahan ia meringis menahan rasa sakitnya. Lalu mengambil perban membalutnya ke tangannya.


Dia terus membalut tangannya namun pikirannya melayang pada kenangan saat kejadian Manda tadi yang tiba tiba berubah menjadi Manda yang mengerikan. Seolah dia haus darah membunuh.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa dia seperti itu bahkan dia terlihat sangat berbahaya saat marah.Sebaiknya aku bawa dia check up ke dokter besok untuk memeriksa keadannya"gumam Aron.


Dia yang terus melamun tak sadar sudah selesai membalut luka gigitan manda di tangan kananya.


#Vino POV


Vino membaringkan tubuh manda yang hanya berbalut selimut di ranjangnya. Ia menatap wajah gadis itu sangat detail. Bahkan sesekali dia menatap dekat wajahnya.


Deg..


"Perasaan apa ini?"  Vino nampak terdiam menatap wajah cantik yang membuat hatinya gelisah sesaat itu.


" Apa yang kakak aku lakuin dengannya?? Kenapa dia jadi seperti itu?? Dan tadi tangan kakak sepertinya terluka" Vino nampak bingung dengan apa yang terjadi sejak dia pergi tadi. Padahal dia pergi hanya 2 jam namun dalam dua jam semuanya berbeda. Banyak kejadian yang tak terduga terjadi benar-benar membuat ia kebingungan.


Pandanganya mulai tertuju pada tubuh mungil manda.tiba tiba Vino tersenyum kecil melihat leher manda penuh dengan bekas ciuman.


"Ckckck.." Vino tertawa kecil


"Kak Aron memang sangat ganas!! Gadis kecil seperti dia di sikat juga??" Lanjut lelaki itu jemarinya mengusap lembut rambut panjangnya.


lelaki itu mulai beranjak berdiri. namun langkahnya terhenti seketika seolah menyangkut sesuatu.Vino menoleh melihat tangan Manda memegangnya sangat erat.


" Jangan pergi!!" Vino terdiam seketika mendengar suara Manda yang seolah berharap Vino terus menemaninya.


Dia berdecak kesal ingin rasanya istirahat sebentar di kamar namun gadis ini melarang dia pergi. " benar-benar menyebalkan gadis ini?? Sepertinya aku harus cari cara agar aku bisa kembali ke kamarku?" Gumam Vino dengan mulut mulai tertutup raoat pikiran melayang memikirkan sebuah cara untuk pergi.


Vino terdiam sejenak, Dia menoleh ke belakang menatap Manda yang memasang wajah polos menyedihkan membuat dia merasa tidak tega harus berbohong padanya. Vino menarik nafas panjang menarik kursi di depan meja make up ke dekat ranjangnya. beranjak duduk dengan tangan yang masih memegang Manda.


"Kenapa sebenarnya dia??" Vino nampak bertanya tanya dalam dirinya sendiri apa yang terjadi dengan Manda sebanarnya. Dia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 03.00. Empat jam lagi mereka akan berangkat sekolah tapi keadaan Manda nampaknya tidak memungkinkan untuk sekolah dulu. Tapi apa boleh buwat dia anak baru tidak mungkin baru sehari laku bolos sekolah.


Vino mengusap lembut rambut panjang Manda menatap wajah cantiknya. Sesekali memandangi wajah manda dan mengusap pipi Manda yang terlihat mulus tanpa make up dengan jemari nya.


Di balik pintu nampak Aron menatap mereka di sela-sela pintu yang sengaja sudah dia buka sedikit. Aron hanya terdiam menatap adiknya terlihat perhatian dengan Manda. Dia berharap Vino akan mejaganya sejanak . Karena dengan Vino hati Manda berubah seketika dari ganas menjadi lulut saat kedatangan Vino. Alasan itu yang membuat Aron membiarkan adiknya bersama dengan Manda untuk menjaganya agar tidak terulang hal seperti itu lagi.


"Sepertinya ada yang memerhatikanku??"


Vino merasa ada yang memperhatikannya ia menoleh di balik pintu namun pintu itu telihat tertutup lagi seraya tidak ada seorangpun di sana.


"Ahh... mungkin hanya perasaanku saja" gumamnya kembali menatap Manda yang masih terbaring di ranjangnya.


Dia melihat manda sudah nampak tertidur lelap. lelaki itu perlahan melepaskan tangannya dari pegangan erat Manda. Dia beranjak berdiri melangkahkan kakinya pergi dengan langkah sangat hati-hati. memang sengaja ia lakukan agar tak terdengar suara hentakan kakinya terdengar ke telinga Manda, yang akan membuatnya terbangun nantinya. Dia segera membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Berjalan menjauh dari kamar Manda menuju kamarnya yang lumayan jauh dari kamar manda berjarak 10 langkah.


#Aron POV


seorang lelaki berdiri bersandar di tembok depan pintu kamarnya. Ia melihat Vino sudah pergi dari kamar Manda. pikirannya mulai begejolak ingin masuk ke dalam untuk sekedar melihat keadaannya. Dia memegang gagang klasik berwarna emas itu perlahan membuka pintu kamar Manda dengan langkah ringan masuk ke dalam.lalu menutupnya kembali. Dia melihat manda masih terbaring memejamkan matanya di kamar hanya dengan balutan selimut yang menutupi tubuhnya.


lelaki itu berjalan mengendap endap melihat wajah polos Manda membuat hatinya merasa kasihan dengan Manda. Tapi dia tidak bisa tahan untuk menyiksanya.


"Apa semua karena aku??" gumam Aron dengan langkah menuju ranjang Manda.


" gadis kecil jika kamu tidak mirip dengan Sindy mungkin aku tidak akan mebawamu masuk ke dalam lingkunganku yang kejam. Tapi kamu sangat mirip dengannya aku tidak suka sangat tidak suka" Aron terus berbicara dengan Manda meskipun mata Manda belum terbuka. ia tidak perduli Manda mendengarnya atau tidak. Hingga ia tertidur lelap duduk di samping ranjang Manda.


***


Matahari sudah mulai terbit, burung burung bertebangan mengeluarkan kicauan yang sangat merdu menghiasi karangan rumah Aron yang terlihat sangat luas. penuh dengan berbagai jenis bunga yang indah. Aroma bunga sudah menembus masuk ke dalam kamar Manda. Desiran ombak lautan terdengar jelas menerjang bebatuan besar.


manda perlahan sudah membuka matanya terkena pantulan sinar matahari yang menembus langsung dari cela-cela cendela ke wajah Manda. Dia beranjak duduk memutar matanya melihat sekeliling rungan itu. Matanya tertuju pada Aron yang tidur dengan posisi duduk kepala menyandar di ranjang.


Dia melihat tangan kekarnya sudah terbalut perban. "Apa ini yang aku lakukan kemarin?" Manda mencoba memegang luka di tangan Kanan Aron.


"Apa aku sekejam ini degannya?? Kenapa aku seperti hewan buas sangat menjijikkan!!" Batin manda mencoba menyilakan rambut Aron yang mentup ke matanya.


" Maafkan aku Om!!"


" Om ini terlihat manis saat tertidur!!"


Manda terus memandangi wajah tampan Aron tak sengaja Ia memegang bibir Aron yang pernah ia rasakan semalam.


"Jika dia tidak begitu kasar pasti aku akan tergila gila dengannya!! Tapi maaf aku tidak akan pernah suka dengan lelaki sadis seperti kamu??" Ucap manda terakhir dan beranjak berdiri dari ranjangnya. Membiarkan Aron yang masih tertidur. Dia menuju ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Terlintas di benaknya jika dia ingin pergi ke sekolah dengan Vino. Namun entahlah Vino apa mau pergi dengannya. Dia pasti malu dengan teman teman yang lain jika berboncengan denganku.


Dan juga tak luput dari bahan gosip, Candaan dan buwat bahan tawa teman teman sekolah. Teman sekolahnya banyak yang tak suka dengan Manda saat kejadian memalukan kemarin membuat dia minder. Beda dengan Manda waktu di desa terkenal cantik , anggun dan juga dia sangat polos serta baik hati. Bahkan banyak lelaki yang menyukainya rela antri untuk mendapatkan cintanya.


20 menit dia berendam akhirnya dia keluar hanya dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia melihat Aron sudah duduk dengan tatapan dinginya di ranjang.


" Mau kemana kamu??" Tanya Aron dengan tatapan yang membuat Manda bergidik seketika. Dia terlihat sangat takut melihat lirikan mata Aron bahkan seakan seperti seekor singa yang sudah menemukan makananya.


"Aku mau sekolah!!" Jawab Manda berjalan perlahan menuju ke lemari mengambil seragam sekilah dengan terburu buru.


"Siapa yang menyuruhmu sekolah??" Manda terdiam seketika mendengar ucapan Aron seakan tak mengizinkan dia untuk sekolah hari ini. Namun dia tidak menggubris ucaoan Aron. Dia segera beralri menuju kamar mandi sekedar untuk memakai seragam sekolahnya.


"DASAR GADIS SIALAN!!" Ucap Aron dengan nada meninggi hingga terngiang di ruangan itu.


Manda masih tak menggubris ucapan Aron kali ini dia harus sekolah. Karena sudah ketinggalan pelajaran jauh. Bahkan sebelumnya dia sudah 3 bulan tidak sekolah dan memutuskan untuk pindah sekolah. Di antara banyak sekolah hanya sekolahan yang ia tempati sekarang yang mau memerimanya tanpa persyaratan.