
Manda memeluk erat tubuh Aron masuk dalam sebuah mimpi bersama dengan balutan selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya. Mereka saling membalas merengkuh dalam dekapan hangat berdua.
Dan Aron tak begitu bergairah seperti biasanya. Yang selalu mengajak Manda berhubungan, ia hanya menikmati rengkuhan tubuh manda dan berbaring berdua bersamanya dalam sebuah kehangatan di balik derasnya hujan di luar rumah yang masih belum berhenti.
Rasa dingin yang menusuk ke sum-sum tulang Manda. Membuatnya sangat menggigil kedinginan meskipun sudah berbalut selimut tebal. Namun seperti tak bisa menahan rasa dinginnya yang semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tubuh manda yang menggigil Membuat Aron tersadar dari tidurnya, ia melihat Manda kedinginan, dengan sigap Aron mendekatkan tubuhnya. Memeluk erat tubuh Manda dengan tangan kiri menyangga kepalanya. Serta tangan kanan merengkuh pinggang ramping Manda.
Tak mau menyalakan penghangat ruangan Aron berpikir jika ia ingin mendekapnya semakin erat. Hingga kepala manda tepat menempel pada dada bidang Aron. Hingga bisa merasakan detak jantung Aron yang tak beraturan. Hembusan nafas beratnya terasa di ubunnya.
Tubuh mungil Manda perlahan berhenti mengigil ia merengkuh tubuh Aron meski tak bisa di gapai oleh tangannya yang mungil.
Aron tersenyum tipis seolah ia berpikir sangat girang melihat Manda begitu erat mendekapnya, Kamu milikku dan akan terus jadi milikku, seolah senyumnya selalu mengatakan hal itu. Dengan belaian lembut dari jemari Aron pada rambut panjang Manda yang terasa sangat halus di tangannya.
Perlahan Aron mulai terbuai dalam dekapan hangat Manda dalam sebuah mimpi indah yang sudah menunggunya. Ia mulai melanjutkan mimpi Indahnya berdua seakan sedang beradu kasih bersama dalam mimpi. Hatinya saling menggebu dengan perasaan bersama.
***
Keesokan harinya jarum jam menunjukan pukul 06.30.
matahari sudah tersenyum ceria menampakkan sinarnya menembus cela-cela jendela kaca berbalut ukiran kayu klasik dengan selambu tipis berwarna putih menutupinya. Sinar matahari menembus langsung ke wajah Manda membuatnya perlahan membuka matanya.
Ia mengusap berkali kali matanya yang masih ada sisa kotoran menempel. Seketika pandangannya tertuju pada Aron di sampingnya yang masih merengkuhnya erat. Seakan tak perbolehkan dia pergi ataupun bergerak kemanapun.
Wanita itu menghela nafas sejenak mencoba menyingkirkan tangan kekar Aron dari pinggangnya. Namun ia semakin merengkuhnya sangat erat tak mau melepaskan tubuh mungilnya. Bahkan ia seakan sulit tuk bernapas lega.
Manda memasukkan bibirnya ke dalam mulutnya untuk menahan emosinya. Ia berpikir, Lama lama aku kehilangan napas di sini dalam rengkuhan yang semakin membuat ia tak boleh bernapas lagi.
Hingga 5 menit kemudian Aron masih tetap tak bergerak sekalipun dari posisinya. Merasa sudah capek ia ingin sekali pergi. Namun apalah daya tubuhnya tak bisa menghindar dari tangan kekar Aron.
Manda menarik napasnya mengeluarkan perlahan. Ia mencoba lagi menyingkirkan tangan Aron namun masih tetap sama. "Hzmzm jangan pergi" gumamnya bahkan seperti anak kecil bergerak sedikit semakin merengkuh erat pinggang manda, dengan manjanya menyandarkan kepalanya ke dada Manda dengan tangan masih merengkuh erat pinggangnya. Matanya masih tertutup rapat seakan tak mau terbuka lebih dulu.
" Apa tadi dia ngigau" Gumam Manda menatap dekat wajah tampan Aron. Ia menyentuh wajah lucu Aron saat tertidur. Bahkan dia lebih lucu dari bayi jika tak marah-marah gak jelas seperti biasanya. Pemandangan yang jarang sekari Manda lihat. Biasanya ia selalu kasar pada Manda bahkan tak henti menamparnya jika salah. Namun kini semua berbeda seolah Aron sudha membuka lembaran baru untuk kehidupannya.
Manda tersenyum tipis menatap wajah tampan, lucu dan menggemaskan Aron. dengan jemarinya menyentuh bibir suaminya itu. Serasa ia ingin menciumnya untuk mengantarnya ke dalam mimpi.
Perasaan takutnya tak memberanikan diri untuk berbuwat demikian ia bukanya tak mau mecium Aron. Namun dia lebih di bilang masih takut dengan Aron sifatnya yang terkadang sangat mengerikan saat marah. Bahkan seperti seekor serigala yang ingin mencabik-cabik lawannya membuatnya selalu bergidik takut.
Perlahan Aron membuka matanya ia terbelalak seketika melihat wajah Manda sangat dekat dengannya. Entah kenapa kini Aron tak ingin berhasrat lebih dengan Manda ia lebih ingin menjaganya ke dalam dekapannya.
" Kamu menatapku dari tadi?" tanya Aron dengan nada santainya. Kini wajahnya terlihat lebih polos tak terlihat mengerikan lagi.
Aron melepaskan pelukanya, mencium kening Manda sebagai salam untuknya di pagi hari. Ia beranjak berdiri dari samping Manda. Menarik ke dua tangannya ke atas untuk merenggangkan ototnya yang kaku sehabis tidur.
Telapak tangan mengusap mukanya berkali kali agar ia bisa membuka matanya agar bisa mrlihat dengan jelas. Ia beranjak menuju pintu balkon. Ia menggeser pintunya hingga terbuka lebar. Membuat hebusan angin diiringi desiran ombak pantai terdengar jelas di telinganya seakan seperti suara irama musik di pagi hari.
Manda membuka selimut tebal yang masih menutupi tubuhnya. Beranjak berdiri dari ranjangnya. Ia ingin menghampiri Aron yang berdiri di luar menikmati udara pagi yang terasa masih sangat sejuk. Tanpa ragu lagi ia berjalan ringan mendekatinya.
" Manda.. jangan panggil aku Om lagi. Panggi aku dengan namaku" Ucap Aron dengan pandangan tertuju pada lautan luas di depannya. Bahkan ia tidak melirik sedikitpun ke arah Manda. Seraya ia tahu Manda berjalan mendekatinya. Dan kini sudah berdiri tepat di belakangnya
Manda tersenyum tipis, ia berjalan memeluk tubuh Aron dari belakang tanpa rasa ragu, takut, khawatir, yang selalu menyelimuti hatinya. Kali ini perasaan Manda benar-benar sudah lepas seakan ia menunjukan sudah mulai mencoba jadi istri yang lembut dan baik pada suaminya.
Aron terkejut ia memegang ke dua tangan manda di pinggangnya. Dengan senyum tipis seakan berat untuk tersenyum. Pikirannya mulai takut bagaimana nanti jika Manda tahu yang sebenarnya. Apa dia masih mau memaafkannya atau malah dia akan pergi jauh darinya dan tak akan pernah kembali lagi. Rasa takut itu menjalar ke tubuhnya seakan berat untuk melepaskannya nanti.
Kemesraan yang baru dua hari tak mau Aron kehilangan itu. Ia merasa manda benar-benar istri sahnya meskipun hanya siri. Bahkan kasih sayang Aron pada Manda lebih dari istri sahnya yang tak pernah ia cintai sama sekali.
Aron mencoba mengalihkan pikirannya.
" Manda.. apa kamu sudah tidak marah lagi padaku" tanya Aron dengan wajah nampak serius. Ia melepaskan rengkuhan erat Manda di pinggangnya. Lalu ia membalikkan badan menatap wajah cantik Manda sehabis tidur di depannya.
Manda melempar senyum manis di raut wajahnya. Ia menutup mulut Aron dengan satu jarinya seolah ia tak boleh bicara lagi.
" Jangan bilang itu lagi" Ucap Manda.
Aron tersenyum seraya dia tahu semua tentang perasaan Manda padanya. Perasaan yang jauh di dalam lubuk hatinya paling dalam. Jika dia semakin hari semakin menyukai Aron. Meskipun perasaan itu tidak muncul dari bibir seksi manda. Namun Aron tak pernah memasakahkan itu. Ia sudah tahu semua dari cara perlakuan dia kepadanya yang terlihat lebih memanjakannya.
Manda beranjak berdiri di samping Aron menatap ke lautan luas di depanya. Suasana hati mereka terlihat sangat bahagia. Meski tak ada yang mau ungkap perasaan mereka masing-masing.
" Wanita ini mampu membuatku luluh sekita. Wanita kecilku yang sangat ia cintai sekarang" Batin Aron dengan senyum tipis menatap wajah Manda dari samping, yang masih menatap lautan dengan senyum cerianya menjadi obat kegundahan hatinya.
" Kamu segeralah mandi aku akan ajak kamu ke kantor hari ini" Ucap Aron memegang ke dua bahu Manda agar ia menatapanya.
Kecupan mesra di bibir Manda seraya menghentikan senyum bahagian Manda menjadi sebuah kelembutan cinta. Jantungnya mulai lagi berdetak tak normal menatap wajah Aron dari dekat bahkan ia bisa kerasakan desiran nafas beratnya.
" Sudah cepat mandi" Ucap Aron lirih.
Manda melempar senyum, lalu membalikan badannya beranjak menuju kamar Mandi dengan segera. Ia tak mau Aron menunggu lama. Kali ini benar-benar akan mejadi jati pertamanya datang ke kantor Aron dengan nya. Senyum bahagia dalam hatinya mengiringi setiap langkahnya menuju kamar Mandi.
Manda tak ingin melewatkan hal yang ia tunggu kali ini. Memulai hidup baru bersama Aron dan berusaha melupakan dendamnya yang yang tak ada habisnya dalam pikirannya.