
"Syang kamu bisa buka gak sih"tanya Manda kesal, dari tadi nunggu Aron gak buka pintunya.
"Syang ambilkan kuncinya disaku kemeja aku"pinta Aron.
Manda mengerutkan keningnya "Kunci, emang di hotel ini ada kuncinya ya, bukannya berbentuk kotak seperti kertas itu, tapi entahlah namanya apa itu"Ucap Manda menjelaskan.
"Iya itu kamu tahu, udah cepat ambil sayang berat tubuh kamu nih"Gumam Aron.
"Gak mau, salah sendiri ngeluh terus"gumam Manda.
"Syang plis ambilkan ya"ucap Aron memohon pada Manda.
"Tumben nih mohon-mohon padaku"gumam Manda tersenyum melihat wajah Aron yang bisa memelas seperti itu pada Manda. Wajah yang sangat menggemaskan saat memohon, jika ada camera Manda lebih ingin mengabadikan moment langka itu.
"Apa sih syang udah cepetan dong"Gumam Aron.
"Gak, gak"Ucap Manda tegas.
"Pliss syang nanti aku kasih bonus buwat kamu" Ucap Aron.
"Bonus apa?"tanya Manda pada Aron.
"Entar di dalam aku kasih tahu kalau di sini entar di lihat orang"ucap Aron mencoba mencari alasan pada Manda.
"Beneran ya gak bohong, awas saja kalau bohong"ucap Manda mengancam.
"Iya syang beneran, emang wajah aku kelihatan bohong ya, udah cepetan jangan banyak bicara dong cepek nih"Gumam Aron.
"Nyebelin udah laki badan bagus bentuk tubuh ukiran bagus. Eh, kebanyakan ngeluh kalau gendong aku, padahal kan gak terlalu berat"ucap Manda, segera mengambil kartu kartu untuk buka kamarnya.
"Jadi kamu mengamati tubuhku ya, atau diam-diam akmu pegang tubuhku saat tidur"goda Aron.
"Apa sih, gak"gumam Manda.
"Beneran, itu wajah kamu kenapa merah"ucap Aron tersenyum menatap wjaah Manda yang mulai memerah.
"Apaan sih udah ayo masuk"ucap Manda kesal.
"Oke, oya Tadi kamu pura-pura tidur ya"tanya Aron.
"Siapa yang pura-pura tidur?"gumam Manda mengelak.
Aron meletakkan tubuh Manda di ranjangnya perlahan, "Udah kamu sekarang tidur ya, harus lebih banyak jaga kesehatan, gak boleh erlalu capek, apalagi kamu lagi hamil"gumam Aron mengusap rambut Manda lalu mengecup keningnya lembut.
"Mana bonusnya, pasti sangat mewah atau apa gitu"gumam Manda mengulurkan tangannya ke depan.
"Kan itu tadi bonusnya, sebuah kecupan mesra"goda Aron.
"Apaan sih bohong, malas ah,"ucap Manda melemparkan wajahnya berlawanan Arah dengan tangan bersendekap dan ia mengerutkan bibirnya.
Melihat Manda terus menyun, sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di bibir Manda. "Atau kamu mau lebih dari itu" tanya Aron dengan kedipan menggoda.
"Gak mau"ucap Manda tegas, seolah dia tahu tatapan kotor Aron itu tertuju padanya.
"Kenapa gak mau?" tanya Aron.
"Udah aku mau tidur jangan di ganggu, aku capek"
"Hachu...."
"Haduh kenapa sih bersin dari tadi gak berhenti"gumam Manda kesal.
"Udah sekarang kamu angkat kepala kamu, kamu harus tidur dengan bantal lebih tinggi biar hidung kamu gak kesumbat, dan Mulai besok jangan jalan-jalan lagi. Aku gak mau kamu cepek, apalagi besok kita akan perjalanan Jauh untuk pulang ke rumah"ucap Aronln segera membenarkan kepala Manda.
Ia beranjak mengambil satu gelas air putih, lalu memberikan pada istrinya,
Aron memopang leher belakang Manda, membantu dia untuk minum, melihat Aron sangat perhatian dengannya, tadi yang semula ia kesal dengannya kini berubah jadi kagum padanya.
"Syang aku bisa minum sendiri"ucap Manda,
"Gak aku bantuin kamu, lagian sudah jadi kewajiban suami aku untuk merawat istrinya yang lagi sakit, termasuk juga kamu nantinya juga harus merawatku saat sakit"ucap Aron tsrsenyum mengusap lembut wajah istrinya itu.
"hachuu... Hachuuu.. "
"Kamu pakai tisu dari Kesha tadi saja ya, aku pergi dulu belikan kamu stok tisu"ucap Aron.
"Jangan lama-lama ya" ucap Manda memegang pergelangan tangan Aron.
"Iya syang"gumam Aron lembut, mengusap rambut Manda.
melihat Aron sudah beranjak pergi Manda memejamkan matanya sejenak, sambil menunggu Aron pulang. Merasa sangat lama ia mulai memejamkan matanya, hingha tertidur pulas di ranjangnya dengan ke dua tangan merangkul kitak tisu.
"Ternyata dia sudah tidur"ucap Aron berjalan menghampiri istrinya itu.
"Selamat tidur ya sayang mimpi indah"ucap Aron mengecup kening manda, lalu mengusapnya lembut.
"Emm... syang temani aku"ucap Manda yang sepertinya ngigau memegang erat tangan.
Meskipun ngigau atau enggak aku tetap akan temani kamu syang, gumam Aron dalam hatinya. Ia berbaring di samping Manda, bahkan ia tak bisa bergerak Manda merengkuh erat tangannya, dengan kaki di atas tubuhnya.
"Kenapa tidurnya jadi seperti ini"Gumam Aron, mecoba menyingkirkan kaki Manda dari atas perutnya.
"Blukkk.."kaki Manda mendarat lagi di perut Aron, merasa tak ada guannya menyingkirkan kakinya. Ia membiarkan manda dan mencoba memejamkan matanya kembali.
---000---
Aron yang sudah terbangun dari tadi menatap ke arah Manda di sampingnya tanganya terasa sangat sakit semalaman harus jadi tumpuan kepala Manda.
"Manda"panggil Aron.
"Merasa tak mendengar penggilan Aron mengecup kening Manda sebagaai tanda ucapan selamat pagi padanya.
Merasa sudah renggang Aron neranjak berdiri dan mulai untuk membasuh tubuhnya, karena pesawat teke off sebentar lagi kurang 1 jam.
"Syang" panggil Manda membaringkan tubuhnya ke kiri dengan tangan mencoba mencari Aron di sampingnya.
"Kemana dia?"ucap Manda langsung beranjak berdiri dari ranjangnya.
"Ada apa syang, kamu kangen ya"ucap aron mengusap rambutnya yang basah.
"Kamu dari mana?"tanya Manda khawatir.
"Kamar Mandi, udah sekarang cepat mandi entar ketinggalan pesawat lo."ancam aron.
"Baiklah,"Manda segera menuju ke kamar mandi
"tok..tok..tok.."
suara ketukan pintu di luar membuat Aron terkejut,.
"Siapa?" tanya Aron.
"Vino kak, ayo cepat keluar jadi pulang gak"tanya Vino.
"Iya bentar Vin,Masih nunggu Manda"Teriak Aron.
"Ya sudah aku tunggu kalian di lobi ya" ucap Vino.
Tak butuh waktu lama Manda sudah bersiap dan tinggal berangkat untuk pulang.
"Kamu sudah siap?" tanya Aro memastikan.
"Iya"gumamnya.
"Ya sudah lalu bawa kopernya kamu jalan lebih dulu"ucap Aron.
Mereka segera berjalan keluar menuju mobilnya bersama dengan Vino yang dari tadi menunggunya di lobi.
Mereka terus berbincang dalam mobil menuju ke bandara. 8 jam berlalu Manda tertidur pulang habis bercanda dengan Aron di tambahi bumbu pertengkaran kecil dari mereka. Yang menghiasi perjalanan mereka tadi di dalam pesawat.
Pesawar mereka mendarat dengan sempurna, Mereka sampai di bandara dan tanpa nunggu lama, Aron segera mengajak Manda untuk oulang ke rumah.
"Akhirnya sampai juga, aku langsung tidur dulu ya syang"gumam Manda.
"Gak makan dulu?" tanya Aron.
"Gak aku capek mau istirahat"ucap Manda.
"Ya sudah, kamu istirahat duluan saja nanti aku nyusul kamu"ucap Aron.
"Siap". Manda terlihat cuek, badannya terasa sangat lelah, ia terus memegang tempurungnya yang terasa sakit dari tadi.
Aron segera mencari pelayannya dan mencoba bertanya pada mereka tentang seseorang yang bertamu disini saat ia pergi.
"Gak ada yang bertamu tuan saat semua pergi, hanya ada sebuah paket kecil"ucap Pelayan itu.
"paket apa?" tanya Aron penasaran.
"Gak tahu apa dalamnya tuan, karena aku gak berani buka"pelayan itu hanya menunduk tak berani menatap mata Aron.
"Ya sudah kemana paket itu kamu taruh"tanya Aron kembali.
"Di kamar tuan" ucapnya sambil menundukan badannya.
Aron terbelalak seketika, ia langsung berlari menuju kamarnya sebelum Manda membuka paket itu dan semuanya akan membuatnya marah nantinya, mungkin juga akan pergi meninggalkannya.
"Brakkkk"
"Syang ada apa?" tanya Manda panik melihat Aron seperti orang kebingungan berjalan masuk ke kamarnya.
"Manda kamu melihat peket kecil di sini" tanya Aron dengan napas masih ngos-ngosan.
"Oo.. kamu lagi cari paket itu"Manda menunjuk ke arah peket di harus dengan plastik hitam yang terlihat sudah terbuka.
"kenapa, kenapa sudah terbuka, dan mana kertas alamat pengirimnya gak ada, "
"Syang kamu gak apa-apa kan?" tanya Manda menepuk pundak Aron.
"Apa kamu yang membuka ini? Apa kamu sudah membacanya? Dan pasti sekarang kamu marah denganku? Aku mohon jangan marah, kalau kamu mau bunuh saja aku biar kamu puas membalas semuanya"Ucap Aron, ia menunduk ke arah Manda meneteskan air matanya.
"Syang apa yang kamu katakan?" Tanya Manda penasaran. Ia melihat bingung Aron yang tiba-tiba datang seperti orang kebingungan dan sekarang malah nangis.
Aron terhenti meneteskan air matanya, menatap ke arah Manda, "Apa kamu gak marah denganku? tanya Aron memastikan.
"Marah kenapa memangnya?"tanya Manda.
"Ya sudah kalau memang kamu gak tahu?" ucap Aron.