
Keesokan harinya..
Manda bergegas bangun lebih cepat, hari ini dia ada mata kuliah pagi. Dan Vina juga sudah menunggunya di depan, duduk di sofa ruang tamu sendirian. Sebelumnya Manda sudah menghubungi Vina jika ia ingin berangkat bersama. Karena Aron tidak mengijinkan dia untuk pergi ke kantornya lagi jadi kalau bawa sopir sendiri juga pagi malas, apalagi berangkat pagi, lagian Vina juga tidak keberatan jika harus jrmput dia dulu. Arah rumahnya dengannya juga dekat. Hanya berjarak kurang dari 5 km.
Sekarang ia harus berangkat kuliah pagi, dan nebeng Vina dulu untuk sementara. Sekalian Vina juga ambil mata kuliah pagi. Kalau siang ia harus bekerja di perusahaan ayahnya. Ingin ia bisa mengemudi mobil sendiri. Tapi Aron tidak pernah mau jika mengajarinya mobil. Ia takut Manda kenapa-napa. Dan malah seting keluyuran annti jika dia bisa naik mobil sendiri.
Oya, Vina itu gadis muda yang sangat pintar mengaatur waktu, di usianya yang segitu. Bahkan dia sudah di jadikan manajer pemasaran oleh ayahnya. Vina mampu melakukan tugasnya itu dengan baik, sehingga membuat perusahaannya semakin maju. Ayahnya punya usaha pabrik parmum internasional. Dengan berbagai fariasi yang mereka buat.
"Syang" panggil Manda yang sedang terburu-buru. Ia meraih tangan Aron dan mencium punggung tangannya lembut, di balas dengan sentuhan jemari Aron di rambutnya. Manda juga tidak lupa mencium ke dua anaknya. Mengusap lembut kepala mereka.
"Iya, kamu jangan buru-buru gitu. Jaga baby kita syang. Kalau kamu panik gitu aku yang was-was takut kamu terjatuh nanti" gumam Aron, memegang tangan Manda. Sifatnya yang selalu khawatir membuat Manda merasa risih sendiri.
"Dia benar-benar membuatku kesal, padahal aku baik-baik saja tapi dia over banget" batin Manda.
"Udah syang lepaskan tangab kamu, aku bisa jalan sendiri" ucap Manda.
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati ya" gumam Aron yang tak hentinya terus mengkhawatirkan kondisi Manda. Ia sebenarnya ingin menemani Manda saat kuliah, membantu dia mengerjakan semuanya. Tapi gak bisa ada pekerjaan yang harus di selesaikan juga.
"Iya, aku berangkat dulu ya" ucap Manda. "Dan kalian jangan nakal kalau di rumah, mama hanya pergi sebentar ya syang" ucap Manda pada ke dua anaknya.
"Iya ma" ucap Lia dan Duke kompak.
Manda melangkahkan kakinya pergi dari kamar, dan berjalan keluar menuruni anak tangga dengan langkahnya yang semakin cepat.
"Syang tunggu!" panggil Aron membuat langkahnya terhenti. Manda menoleh ke belakang. Melihat Aron berdiri di belakangnya, seakan mau mengingatkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Manda bingung.
"Kamu lupa sesuatu ya?" gumam Aron berjalan ringan mendekati Manda.
Manda terdiam, melihat sekujur tubuhnya. Merasa sudah lengkap tidak ada yang ketinggalan, ia kembali menatap ke arah Aron. "Apa yang ketinggalan?" tanya Manda.
"Ini!" ucap Aron menyentuh bibirnya.
"Bibir aku masih tetap di tempatnya syang" ucap Manda kesal, apalagi Aron selalu basa-basi. Dia tidak tahu jika Vina sudah dari tadi menunggunya di ruang tamu. Ia juga merasa tidak enak dengan Vina. Apalagi dia hanya numpang dengannya.
Aron berdiri di depan Manda, menatap jelas setiap inci wajah cantik Manda, dengan jemarintangan memegang lembut wajah Manda dan behenti menyentuh dagunya. dengan rambut di kepang 2, ia terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan.
Helaian rambut yang tertinggal di pelipis Manda. Aron memegangnya lembut, meletakkan di belakang telinga Manda. "Kamu lupa sesuatu kebiasaan kita syang" ucap Aron lirih, di telinga kanan Manda.
"Buruan syang ada apa?" tanya Manda.
Belum sempat menutup mulutnya, Sebuah benda kenyal menempel di bibir Manda sangat lembut. Hanya sebentar, Aron melepaskan ciumannya. " Ini yang aku maksud syang" gumam Aron, mengusap lembut rambut Manda.
Vina yang berdiri di ruang tamu tak sengaja melihat kejadian itu. Ia hanya terdiam, menatap mereka malu-malu. Bagi wanita single seperti Vina, ia pasti punya rasa ingin merasakan hal tersebut.
"udah syang, aku buru-buru" ucap Manda. Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aron sendiri.
Ia berjalan menghampiri Vina, yang masih terdiam tidak menyangka ia melihat hal itu di depan matanya. "Ayo berangkat" ucap Manda menepuk pundak Vina, membuat wanita itu terkejut.
"Eh.. iya Da" ucap Vina.
"Kamu tadi lagi ngapain Da?" tanya Vina ragu.
"Udah gak usah bahas itu, yo berangkat" gumam Manda menarik tangan temannya itu. Di tengah kehamilannya yang sudah jalan 3 bulan. Ia masih tetap nelakukan aktifitas kuliah seperti biasanya. Lagian dia baru kuliah, tidak mungkin jika harus libur, lagian yang ia dapat juga beasiswa untuk masuk ke Universitas tersebut.
"Eh.. iya Da tunggu bentar, jangan tarik aku" gumam Vina, yang masih tak percaya melihat hal itu.
Vina wanita cantik tapi polosnya minta ampun. Seakan dia tidak pernah melakukan hal itu dengan pacarnya dulu.
Mereka segera masuk ke dalam mobilnya. "Kamu tadi melihat suamiku menciumku ya?" tanya Manda.
"Iya, dan itu hal gila yang pernah aku lihat. Aku gak pernah melihat itu, dan gak pernah melakukan itu. Dan sekarang aku tahu gimana ciuman. Rasanya ingin sekali merasakan sebuah ciuman seperti itu. Pasti sangat enak ya?" gumam Vina, dengan wajah nampak sangat polos.
"Kamu gak tahu, atau pura-pura gak tahu. lagian aku hak percaya jika kamu belum pernah. Terus kamu dulu pacaran ngapain saja. Apa hanya diem atau hanya ngorol dan kencan pegangan tangan gitu" ucap Manda menggoda, mencoba menjahili Vina yangvterlalu lugu itu, sambil menikmati laju mobil Vina dengan santainya. Dia mengemudi mobil santai tidak seperti Aron yang terlalu kencang.
"Bener, ku belum pernah sama sekali. Apa kamu gak percaya denganku. Aku itu benar-benar sangat polos, bahkan seperti anak kecil yang belum tahu apa-apa." ucap Vina yang masih fokus dengan jalan di depannya. "Aku itu hidup di lingkungan yang sangat keras, gimana aku bisa pacaran jika aku gak pernah boleh keluar sama sekali. Aku boleh keluar kalau bersama dengan wanita. Ya, mungkin orang tua-ku mau jodohkan aku atau gimana aku juga tidak tahu" lanjut Vina.
"Oo.. aku juga pernah pacaran, tapi aku gak pernah sama sekali ciuman dulu seperti ini. Ya, cuma hanya dengan suamiku, ku bisa merasakan indahnya pacaran yang sesungguhnya." ucap Manda, seketika membuat Vina merasa sangat iri dengannya. Ia ingin merasakan jatuh cinta beneran dengan seseorang dan langsung menikah. Soal pacaran urusan belakangan. Tapi Vina belum mau menikah jika ia belum bisa mendapatkan hati Albert. Lelaki dingin yang membuatnya tergila-gila.
"Kenapa kamu diam?" tanya Manda.
"Aku hanya kepikiran Albert" ucap Vina.
"Kenapa dia?" tanya Manda bingung.
"Dia tampan, dia yang mampu membuat aku tergila-gila" ucap Vina, dengan senyum menyungging di bibirnya.
"Baiklah, aku akan bantu kamu dapatkan dia. Gimana?" ucap Manda, seketika Vina langsung menoleh ke arah Manda spontan dengan tatapan terkejut.
"Beneran?" tanya Vina.
"Iya" ucap Manda tegas.
"Baiklah, kalau begitu mulai nanti ya" ucap Vina.
Manda hanya diam, ia mendengar bunyi ponselnya. Ia segera mengampil ponsel di dalam tas di pangkuannya, dan mulai membuka, sebuah pesan dari "My Husband".
"Ada apa ya?" batin Manda, dengan jemari yang mulai membuka pesan dari Aron.
Jaga kesehatan jangan suka main mata dengan lelaki lain. Aku gak mau kejadian saat kamu hamil Duke dulu, bertemu mantan yang masih suka dengan kamu. Aku harap kamu bisa jaga hati kamu, hanya untukku dan anak-anakmu
"Dia benar-benar pengertian, dan cemburuan banget" batin Manda, dengan senyum manis terpancar dari bibirnya.
"Pasti suami kamu ya?" tanya Vina, menatap sekilas ke arah Manda.
"Iya" ucap Manda dengan bangganya.
"Enak ya, punya suami yang selalu pengertian dengan istrinya" gumam Vina.
"Ya, begitu" ucap Manda. "Udah, parkir dulu mobil kamu" lanjutnya. Mereka sudah sampai di parkiran kampus.