Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 49: Pertarungan Tekad!


Tengud yang terluka parah berjalan ke pusat pemerintahan desa KangAgung. Dia membawa mayat dokter Skak yang dipanggul oleh pak Jarwi. Tengud mendapat sorakan dan pujian bertubi - tubi dari para warga desa KangAgung.


"Hidup pahlawan!!"


"Hidup Tengud!!"


"Tengud yang mengalahkan dokter Skak!!"


Empat anak buah spesial Tengud yaitu; Mpok Sumin, Mpok Romlah, Mpok Patonah, dan Mpok Juleha mulai menyebarkan gossip bahwa Tengudlah satu - satunya pahlawan yang membuat desa KangAgung memenangkan pertarungan melawan para pemberontak.


"Iya betul! Begitu! Terus puji aku! Ayo terus puji aku! Akulah pahlawan desa KangAgung!!" Ucap Tengud dalam hatinya sambil tersenyum lebar.


Setelah sampai di kantor pusat pemerintahan desa KangAgung, terlihat Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan nenek Faynem sudah menunggu kedatangan Tengud. Tampaknya akan ada ide politik lagi yang akan dijalankan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Apa - apaan lagi ini tuan Dia?" Tanya Tengud.


"Ada yang ingin kusampaikan secepatnya. Ini terkait bagaimana mengarahkan pandangan warga pasca perang melawan pasukan pemberontak. Pak Kaji Dauh masih koma dan belum sadar. Jadi aku ingin mengadakan rapat dadakan dengan kamu dan nenek Faynem." Jelas Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Dasar otak politik ya. Teahahaha. Kalau tidak ada hal yang menguntungkanku maka aku tidak peduli." Ucap Tengud berkacak pinggang.


"Aku tahu sifatmu Tengud. Aku mengajakmu tentunya aku juga sudah mempersiapkan hal yang menguntungkanmu juga." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dengan ketus.


Akhirnya Tengud mau juga dibujuk untuk mengikuti rapat dadakan tersebut. Dia berjalan mengikuti Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan nenek Faynem menuju ke ruang rapat.


"Langsung saja. Aku mengadakan rapat kali ini untuk membahas pengarahan pandangan warga. Kini perang telah usai jadi saatnya membuat sejarah tentang perang ini." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Aku tahu arah pembicaraanmu tuan Dia. Kamu tak ingin berita tentang ikutnya kubu Serigala Tanah dalam perang ini tersebar bukan?" Ucap nenek Faynem.


"Iya. Berita tentang membantunya kubu Serigala Tanah dalam perang melawan pemberontak harus dihapus." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Apa yang kamu tawarkan sebagai gantinya?" Tanya nenek Faynem.


"Aku sebagai ketua kubu Elang Langit sekaligus pemimpin desa KangAgung akan menghentikan segala perburuan dan peperangan dengan kubu Serigala Tanah. Yah asalkan seluruh kubu Serigala Tanah tidak mencampuri urusan pemerintahan desa KangAgung yang kini dikuasai kubu Elang Langit." Jelas Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Baik. Sebagai pemimpin kubu Serigala Tanah aku setuju. Akan aku sampaikan pada seluruh anggota kubu Serigala Tanah." Ucap nenek Faynem menyetujui.


"Lalu untuk kamu Tengud. Kamu harus membantuku dalam hal biaya untuk merenovasi segala kerusakan yang disebabkan oleh pasukan pemberontak." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Kamu gila hah?! Kenapa juga aku mau mengeluarkan biaya untuk segala kerusakan yang disebabkan oleh para pasukan pemberontak itu hah?!" Teriak Tengud yang berapi - api penuh emosi karena merasa yang dirugikan.


"Tentu ada timbal balik juga Tengud. Aku akan membuat namamu menjadi pahlawan desa KangAgung. Kamu akan dikenal warga desa KangAgung sebagai pahlawan utama yang mengalahkan para pemberontak. Aku akan menganugerahkan julukan sang pahlawan padamu. Dengan begitu tentu bisnismu juga akan semakin lancar ke depannya dengan nama baikmu sebagai pahlawan yang membumbung tinggi. Anggap saja ini investasi masa depan." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung menjelaskan pada Tengud.


Tengud pun berpikir sejenak. Tampaknya ucapan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung ada betulnya. Dengan nama baik sebagai pahlawan pasti lebih mudah pula dalam mencari uang dalam berbagai bisnis.


"Baiklah aku setuju!" Ucap Tengud setelah menimbang untung rugi.


-----


Naga angin di langit terlihat meraung - raung. Angin semakin kencang di puncak gunung kembar. Karena terlalu kencangnya hingga pohon - pohon yang akarnya tidak kuat tercerabut dari tanah dan ikut melayang - layang di udara.


"Kloning Ladusong! Ini adalah akhir dari pertempuran kita!" Teriak Insur.


"Aku juga berpikir sama Insur! Akhirnya perasaan ini datang juga! Perasaan yang sama saat aku melawan Surin seperti dahulu! Luahahahaha!" Teriak kloning Ladusong.


Dengan segera Insur yang melayang - layang terbang di udara tersebut menukik tajam ke arah kloning Ladusong. Naga angin pun ikut menghujam ke arah kloning Ladusong. Kloning ladusong segera mengarahkan Final Max Elbownya pada Insur yang berada di atasnya. Kedua serangan mereka berdua bertemu! Kekuatan keduanya saling menekan satu sama lain.


Sebuah retakan udara besar tercipta karena dahsyatnya kekuatan gempa yang dikeluarkan kloning Ladusong. Ledakan demi ledakan beruntun terjadi tanpa henti. Puncak gunung kembar terguncang keras karena gempa yang terjadi.


Sementara naga angin milik Insur pun berubah menjadi tornado besar yang mencabik - cabik segala yang ada di sekitarnya. Pepohohan yang terbang terpecah belah menjadi serpihan serpihan kayu terkena sayatan angin.


"Tolooooonnnngggg!!! Ini bencana alam!! Ini bencana alam!!!!" Teriak pak Gaelani yang meringkuk bersembunyi di balik becak kesayangannya.


Duuuuuuuuaaaaaaaarrrrrrghhhhhhhhhhh!!!!


Sebuah ledakan dahsyat terjadi memekkan telinga bagai guntur. Pak Gaelani menutup telinganya erat - erat. Selang tak berapa lama keadaan menjadi sunyi kembali. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?!! Teriak pak Gaelani dalam hati.


Angin tornado telah berhenti. Pepohonan tergeletak tak beraturan. Gempa pun juga sudah berhenti. Tampaknya pertarungan sudah usai. Siapakah pemenangnya?


Pak Gaelani keluar dari tempat persembunyiannya. Dan dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tidak mungkin!! Ini tidak mungkin terjadi!!!" Teriak Pak Gaelani.


Insur tergeletak bersimbah darah. Samurai hitam masih dipegangnya erat - erat. Sementara kloning Ladusong berdiri tegak dengan tubuh penuh luka.


"Bangun kamu Sang Pembantai! Ayo bangun!! Pertarungan kita belum usai!!" Teriak kloning Ladusong.


Insur berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya yang telah mencapai batas. Kakinya bergetar tak karuan. Kloning Ladusong pun tampaknya juga sudah kehabisan tenaga. Keduanya terengah - engah.


"Aku sudah kehabisan tenaga." Ucap kloning Ladusong sambil memuntahkan darah dari mulutnya.


"Aku juga sudah kehabisan tenaga." Ucap Insur.


"Tampaknya ini saatnya! Luahahaha!" Ucap kloning Ladusong sambil tertawa.


"Iya, memang inilah saatnya! Zehahaha!" Ucap Insur yang juga tertawa.


"Inilah saatnya pertarungan Tekad!!" Teriak Insur dan kloning Ladusong bersamaan.


Insur maju menebaskan samurai hitamnya. Kloning Ladusong maju mengarahkan sikutan Max Elbow pada Insur. Dan keduanya sama - sama terluka terhempas dan terjatuh ke belakang.


"Bangun! Ayo bangun! Ini belum selesai!" Teriak kloning Ladusong yang terbangun lebih dulu dengan tubuh bersimbah darah terkena tebasan Insur.


Insur berusaha berdiri. Dia memuntahkan darah dari mulutnya. Tangannya bergetar memegang samurai hitam.


"Ayo! Aku masih bisa bertarung!!" Teriak Insur.