Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 2: Dibalik Bayangan


Warung kopi mbak Moshi tampak ramai pagi itu. Banyak para lelaki yang menyempatkan ngopi barang sejenak sebelum memulai untuk bekerja. Di desa KangAgung hal tersebut memang sudah seperti suatu budaya. Budaya ngopi.


Kopi di desa KangAgung pun tergolong unik. Warnanya hijau dan aromanya juga segar. Jika kopi itu dipadukan dengan susu maka akan menciptakan rasa gurih yang tiada bandingannya.


Takaran kopi susu di warung mbak Moshi juga tidak terlalu besar. Hanya sebuah cangkir kecil. Dengan empat atau lima sruputan pasti kopi susu tersebut langsung habis. Mereka menamai kopi susu dengan takaran kecil itu sebagai: campur cilik.


"Campur cilik dua mbak Moshi!" Ucap Pantam memesan kopi susu khas tersebut.


"Loooh Pantam sudah sembuh ya?" Tanya mbak Moshi.


"Sudah mbak Moshi." Jawab Pantam.


Pagi itu Pantam dan Bambang ngopi bersama. Sementara Insur masih belum siuman di kamar kosnya. Luka akibat pertarungannya dengan Ladusomg tampaknya membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.


"Sekarang desa KangAgung akhirnya damai lagi tanpa pergolakan ya Bambang. Akhirnya kita bisa ngopi dengan nyaman lagi." Ucap Pantam membuka obrolan.


"Iya. Tapi ngomong - ngomong sekarang empat pilar kubu Elang Langit sudah berkurang satu. Dengan meninggalnya Ladusong berarti empat pilar kubu Elang Langit tinggal Dia Sang Penguasa Desa, lalu Tengud si bos dari perumahan Bangau Putih, dan juga Pak Kaji Dauh." Ucap Bambang menimpali.


"Tapi bisa jadi mereka akan mengangkat empat pilar yang baru menggantikan Ladusong yang sudah mati." Ucap Pantam.


Obrolan mereka tehenti sejenak ketika mbak Moshi datang dengan membawakan dua cangkir kopi susu. Diletakkannya kedua cangkir susu tersebut di depan Pantam dan Bambang.


"Silahkan dinikmati campur ciliknya!" Ucap mbak Moshi dengan gaya manjanya.


"Iya mbak Moshi!!!!" Ucap Pantam dan Bambang bersamaan dengan penuh semangat. Dasar mata keranjang! Ruahahaha....


Pantam dan Bambang pun meneruskan obrolan mereka setelah mbak Moshi meninggalkan mereka. Diseruputnya kopi susu cangkir tersebut dengan nikmatnya.


"Kalo tambah merokok pasti enak nih menikmati campur cilik ini." Ucap Bambang.


Tanpa ba bi bu lagi Pantam mengeluarkan sebungkus rokok. Mereka berdua mulai merokok bersama. Asap putih rokok mulai memenuhi udara di ruangan tersebut.


"Sekarang Insur sudah bukan buron lagi. Jadi ketika dia sembuh nanti dia dapat mulai mencari kerja lagi." Ucap Bambang.


Mereka berdua pun meneruskan obrolan tersebut hingga sore hari.


Di kantor pusat pemerintahan desa KangAgung tampak Dipaidi yang berjalan ke sebuah ruangan khusus. Ruangan tersebut adalah ruangan pribadi milik Dia Sang Penguasa Desa.


Dipaidi mengetuk pintu secukupnya lalu segera membuka pintu tersebut. Tiba - tiba seorang ninja melesat menuju Dipaidi, mendorongnya hingga terdesak ke dinding dengan menodongkan sebuah katana ke leher Dipaidi.


Dipaidi tak sempat menghindar. Dia terpojokkan dengan sebuah katana yang siap menggorok lehernya setiap saat.


"Sudah! Lepaskan dia Nin nin! Dia adalah tamuku!" Bentak Dia Sang Penguasa Desa sembari bersantai di kursi goyangnya.


Seorang Ninja perempuan yang dipanggil Nin nin itu pun melepaskan Dipaidi lalu berjalan santai ke samping Dia Sang Penguasa Desa. Dipaidi cukup kaget juga. Ternyata Dia memiliki seorang pengawal ninja perempuan yang memiliki kecepatan mematikan.


"Maaf atas perbuatan Nin nin tadi. Dia adalah salah satu pengawal pribadiku. Duduklah Dipaidi, mari, santai saja." Ucap Dia dengan santainya dan menuangkan teh pada gelas cangkir kecil.


Dipaidi menerima teh tersebut dan menyesapnya dengan khidmat. Rasa tenang mulai menjalari tubuhnya seusai menyesap teh tersebut.


"Anda memiliki pengawal ninja perempuan yang seksi juga ya." Ucap Dipaidi.


"Diahahahaha...." Tawa Dia Menggema di ruangan tersebut.


"Dia juga memiliki sesuatu yang besar." Ucap Dipaidi dengan nakal.


"Kurang ajar!" Teriak Nin nin sembari mengeluarkan katananya lagi.


"Bukan itu maksudku! Maksudku kekuatanmu! Kekuatanmu yang besar!!" Teriak Dipaidi.


"Sudah, sudah... Sekarang ada hal apa yang membuatmu kemari Dipaidi?" Tanya Dia.


"Saya hanya ingin melapor kalau Ladusong telah kalah. Dia meninggal. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengumumkan kematiannya di lapangan Oliv. Sekarang seluruh desa KangAgung dapat hidup tenang kembali setelah melihat kepala Ladusong yang dipajang di tiang lapangan Oliv." Ucap Dipaidi menjelaskan.


"Bagus, bagus... Dengan seperti ini maka desa KangAgung akan tenang kembali." Ucap Dia.


Mereka berdua terdiam sejenak. Dia Sang Penguasa Desa kembali menuangkan teh pada cangkir Dipaidi yang sudah kosong. Dipaidi kembali mengangkat cangkir tersebut dan meminum teh yang hangat dan menenangkan tersebut.


"Dengan kematian Ladusong maka empat pilar kubu Elang Langit hanya tersisa tiga orang." Kata Dia Sang Penguasa Desa.


Dipaidi hanya terdiam. Mencoba menebak ke arah mana pembicaraan tersebut.


"Karena itu Dipaidi. Aku ingin memberimu sebuah penawaran. Maukah kamu kuangkat menjadi salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit?" Tanya Dia.


Dipaid diam seribu bahasa. Jika menolak maka sama seperti menantang Dia Sang Penguasa Desa, orang yang berumur ratusan tahun di desa KangAgung ini. Tentu saja kekuatan Dia tidak dapat dianggap remeh karena sudah mengatur desa KangAgung selama ratusan tahun itu.


Dipaidi hanya ingin menjadi komandan militer tertinggi desa KangAgung. Tapi kalau dia juga menjadi salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit maka dia bisa menjadi berat sebelah dalam menjalakan tugasnya sebagai komandan tertinggi desa KangAgung. Dipaidi pun menghela napas berat.


"Maaf Pak Dia. Saya benar - benar minta maaf. Tawaran anda saya tolak." Ucap Dipaidi dengan tegas.


Jawababn Dipaidi membuat Dia Sang Penguasa Desa merasa kaget. Mereka berdua saling menatap tajam. Dipaidi sudah menentuka pilihannya.


Seorang anak buah Dipaidi memasuki ruangan tersebut dengan tergesa - gesa.


"Bukankah kubilang untuk menunggu di luar!!" Bentak Dipaidi.


"Maaf komandan, ada berita penting. Dokter Skak menerobos memasuki bekas kantor Anci!" Ucap polisi anak buah Dipaidi tersebut dengan cepat.


"Apa - apaan lagi ini?!" Ucap Dipaidi sembari langsung berdiri dari kursi duduknya.


Dan.....


Syyraaaaaaatttttzzzz.....


Kepala dari polisi anak buah Dipaidi langsung dipenggal oleh Nin nin. Dipaidi terbelalak. Kepala tersebut jatuh ke lantai. Darah mengalir di lantai yang terbuat dari kayu tersebut.


"Maaf. Yang kuundang hanya kamu, bukan anak buahmu." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Dipaidi menahan amarahnya. Dia tidak mungkin melawan Dia Sang Penguasa Desa. Hawa mengintimidasi dari Dia begitu kuat terasa di ruangan tersebut.


"Sekarang aku tanya lagi Dipaidi. Maukah kamu menjadi salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit menggantikan Ladusong?" Tanya Dia.


Nin nin maju dan mengarahkan katananya ke leher Dipaidi. Tapi Dipaidi sudah membulatkan tekadnya. Orang - orang yang sudah memiliki tekad tidak akan pernah takut untuk mati.


"Jawabanku tetap sama. Tidak!!!" Teriak Dipaidi tegas.


Dipaidi segera memegang tangan Nin nin dan membantingnya ke lantai. Nin nin berguling lalu dengan cepat dia bangkit kembali dan bersiap menyerang.


"Sudah cukup Nin nin! Aku menghargai keputusanmu Dipaidi. Sekarang kamu boleh pergi." Perintah Dia Sang Penguasa Desa.


Dipaidi memberi hormat pada Dia Sang Penguasa Desa lalu dengan cepat melangkah pergi menuju kantor bekas Anci.


"Kenapa anda mencegah saya untuk membunuhnya? Bukankah dia menolak bergabung dengan kubu Elang Langit?" Tanya Nin nin setelah Dipaidi sudah tidak di ruangan tersebut.


"Sekarang desa tengah kacau. Kalau kita membunuhnya, maka situasi desa KangAgung akan lebih kacau lagi. Untuk sementara ini biarkan seperti ini dulu. Lagi pula berita tentang pergerakan dokter Skak tadi membuatku curiga. Kamu susul Dipaidi ke kantor bekas Anci. Intai saja dari jauh." Perintah Dia Sang Penguasa Desa.


"Siap!!" Jawab Nin nin yang langsung melesat dibalik bayangan.