Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 40: Tidak Memukul, Hanya Menendang


White Snow dan Dipaidi berlari di tepian sungai menuju air terjun. Suasana sekeliling sungai saat itu begitu sejuk. Maklum, area tersebut memang jarang dikunjungi oleh manusia. Kawasan hutan yang sangat jarang terkena sentuhan manusia.


Dipaidi memandang sekilas di depannya, tampaknya ada pertarungan. Dipaidi memperlambat larinya dan berkata pada White Snow, "Di depan tampaknya ada pertarungan. Kita lihat situasinya dahulu."


White Snow hanya mengangguk tanda setuju. Ketika semakin mendekat, mereka berdua berhenti sejenak. Ternyata itu adalah pertarungan antara Juli dan Memey. Terlihat Juli berkali - kali menghindari serangan bumerang dari Memey. Gerakan Juli tidak terlalu cepat, hanya saja memiliki ciri khas tersendiri sehingga sulit bagi Memey untuk melemparkan bumerangnya tepat sasaran. Tanah di sekitar tempat pertarungan tersebut sudah banyak yang retak dan berlubang bekas hantaman bumerang Memey.


"Ternyata Memey, sekretaris Ladusong, sedang melawan Juli." Ucap Dipaidi.


"Iya. Mungkin Juli mendapat perintah dari nenek Faynem. Si nenek itu berjanji dia tidak akan ikut campur, oleh karena itu mungkin dia menyuruh Juli untuk membantu kita." Ucap White Snow menimpali.


"Kalau Memey, aku tahu dia cukup mahir dalam pertarungan jarak jauh menggunakan bumerang. Tapi Juli? Siapa si Juli ini? Aku belum pernah mendengar dia bisa bertarung. Yang aku tahu dia adalah penyanyi dangdut top desa KangAgung." Tanya Dipaidi.


"Juli adalah keturunan klan Samudera Biru. Lihatlah gerakannya, mengalir bagaikan gerakan ombak." Jawab White Snow.


Dipaidi terbelalak matanya mendengar nama klan Samudera Biru disebut. Tidak mungkin! Klan itu adalah klan penghuni sebuah pulau kecil di utara desa KangAgung. Selama ini klan Samudera Biru merupakan klan yang tertutup. Tidak ada satupun warga desa yang bisa masuk ke pulau tersebut. Begitu juga sebaliknya, klan Samudera Biru tidak pernah keluar dari pulau itu. Pulau berbenteng besi itu dinamakan pulau Es Beku. Sebuah pulau kecil yang dikelilingi gunung - gunung es abadi.


"Tidak mungkin!" Ucap Dipaidi.


"Segalanya mungkin. Sekarang aku tidak bisa menceritakan detailnya, tapi intinya sejak kecil Juli diasuh oleh nenek Faynem." Kata White Snow.


"Lalu kenapa dia tidak ikut dalam perang besar empat tahun yang lalu?" Tanya Dipaidi masih penasaran.


"Entahlah. Yang penting kita harus segera menyusul Insur dan Ladusong! Ayoooo!" Perintah White Snow yang segera meloncat melewati pertarungan Memey dan Juli. Dipaidi segera mengekor di belakangnya.


"Aduh... aaduh.... berbahayanaananana.... Banyak bangetz sich yang kepengen mengejara Ladusong tersayang ciiinnn..." Ucap Memey dengan manjanya ketika melihat Dipaidi dan White Snow yang melewatinya.


"Sudah, kamu konsentrasi saja bertarung denganku Memey." Ucap Juli sambil bergerak maju.


Memey dengan cepat melemparkan bumerangnya. Syuuuutzzz...... Bumerang itu terbang dengan cepat ke arah juli. Dan lagi - lagi Juli menghindari serangan bumerang itu dengan mudahnya. Juli mengelak ke samping lalu setelah menghindari bumerang itu dia melesat kembali ke arah Memey.


"Benar - benar gerakan yei sangat aneh cin.... Akika sulit menangkara!" Ucap Memey kaget.


Semakin dekat dengan Memey, Juli pun mengarahkan sebuah tendangan pada kepala Memey. Dikiranya Memey akan menghindari tendangannya tersebut, tapi ternyata tendangan Juli malah disambut dengan sundulan kepala Memey!


Duazhhhhhh!!!


Suara kaki Juli dan kepala Memey menimbulkan tekanan yang besar pada area di sekelilingnya. Memey segera menangkap kaki Juli dengan kedua tangannya.


"Sekarang yei tidak akan bisa kabara (kabur) lagi cin....!!" Teriak Memey.


Bumerang yang dilemparkan Memey tadi ternyata sekarang sudah kembali ke arah Memey. Memey yang masih memegang kaki Juli segera menghempaskan tubuh Juli ke arah bumerang itu.


Wuzzzzzhhhh!


Juli akhirnya terkena sabetan bumerang di dadanya.


Crashhhhh!!


Byuuuuuurrrrr!!


"Meahahahaha.... Rasakan itu Juli!!! Itulah serangan cantik dari bumerang eike!! Meahahaha.....!!" Memey tertawa terbahak - bahak sembari memegang bumerangnya kembali.


Tiba - tiba ada gerakan aneh pada permukaan sungai tempat Juli tercebur. Memey tercengang melihat air sungai berputar - putar seperti sebuah bentuk tornado tetapi terbuat dari air. Pusaran air itu lalu mengarah ke arah Memey dan menerjangnya. "Kyaaaaarghhhhhh....!!!" Memey berteriak kesakitan tatkala air bah besar dari sungai itu menerjangnya, memutar - mutar tubuhnya dengan cepat lalu menghantam dinding batu di samping air terjun dengan kerasnya!


Bammmmmmmmm!!!!


Batu - batu itu retak seketika saat tubuh Memey yang terdorong pusaran air menghantamnya.


Memey memuntahkan darah yang banyak dari mulutnya. Tampaknya paru - paru Memey mengalami luka parah akibat menghantam dinding batu dan tekanan air. Memey tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang menancap di dinding batu tersebut. Dia sudah kehilangan banyak tenaga.


Air surut kembali lagi ke sungai. Dan Juli keluar dari sungai dengan santai. Dia mendekati Memey yang sudah tidak berdaya.


"Sudah siap menerima serangan balasanku?" Tanya Juli dengan santainya.


"Ampyuuuun.... Eike minta ampyunnn jeng...." Memey ketakutan dan merengek sejadi - jadinnya.


Juli tidak menghiraukan Memey, dia kepalkan tangannya.


"Ampyuuuun... Jangan yey pukul muka eike yang cantik jelita ini bouwww...." Rengek Memey meminta belas kasihan Juli. Memey memang sangat memperhatikan masalah wajah. Tak jarang Memey selalu memakai make up dengan ketebalan 12 cm demi kualitas menawan wajahnya. Kini dia merengek tidak rela jika wajahnya yang selama ini dia rawat akan kena pukul.


"Owwww gak boleh pukul wajah kamu ya? Okee, okee, aku gak akan memukul wajahmu." Ucap Juli.


"Aduhhhh eike makasih bangetz loo girls, iiiih... makasih ya cin karena....."


Belum sempat Memey melanjutkan kalimatnya dan.... Buk, buk, gedebuk, bak, bak, buk, gedebak, gedebuk, bammmmmm!!!! Juli menendangi muka Memey bertubi - tubi selama sekitar dua puluh menit. Memey sampai pingsan tidak kuasa menahan rasa sakit!


Juli memandangi lukanya. Bukan luka yang cukup dalam. Juli mempertimbangkan apakah dia akan menyusul untuk melihat pertarungan Insur dan Ladusong atau memilih untuk pergi.


Setelah menimbang sejenak, Juli pun memilih pergi. Dia hanya berjanji pada nenek Faynem untuk membantu Insur satu kali saja. Dan tugasnya sudah beres. Juli pun pergi dengan menaiki perahu kecilnya.


-----


Dipaidi dan White Snow berenang melalui terowongan gelap. Tak lama kemudian mereka sampai pada suatu ruangan dengan cahaya keremangan. Dilihatnya sebuah pintu yang terbuka di dinding samping. Setelah saling mengangguk, keduanya pun bergegas menuju pintu tersebut.


Di balik pintu itu terdapat tangga menuju ke atas. Dipaidi dan White Snow melakukan lompatan - lompatan panjang hingga akhirnya sampai pada puncaknya yang merupakan sebuah pintu besi.


Dipaidi menendang pintu besi itu dengan kerasnya. Pintu terbuka.


Bruuuuaaakkk!!


Dipaidi dan White Snow terbelalak saat mereka melihat seluruh ruangan kantor yang porak poranda dengan banyak keretakan dan lubang dinding begitu juga bermacam kursi dan meja berserakan tak beraturan.


Dan yang lebih mencengangkan lagi bagi White Snow adalah saat melihat Insur, pria yang dicintainya, sedang berlumuran darah dan dicekik dengan tangan kanan robot Ladusong!