
Di pinggiran hutan cemara tampak White Snow, Devi dan beberapa anak buahnya yang kaget melihat kedatangan Pak Kaji Dauh. Hutan Cemara telah dilindungi sihir penghalang milik Pak Kaji Dauh. Pak Kaji Dauh memang memiliki jurus Barrier, semacam jurus yang mampu menciptakan semacam penghalang yang tidak bisa ditembus.
Pada saat perang besar dahulu kala Pak Kaji Dauh merupakan ketua penjara besar kubu Elang Langit berkat jurus andalannya itu. Hanya White Snow satu - satunya orang yang pernah lolos dari jurus Barrier Pak Kaji Dauh.
"Apa - apaan ini Pak Kaji Dauh? Bukankah kita telah membuat kesepakatan?" Tanya White Snow sembari melakukan kuda - kuda bersiap menyerang.
"Tahan. Sabar dulu. Kesepakatannya adalah aku tidak ikut campur pertarungan." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Apanya yang tidak ikut campur! Buat apa kamu membuat penghalang ini!" Bentak White Snow tidak sabar.
Pak Kaji Dauh menghela napas sejenak. Dipandanginya White Snow dan Devi bergantian. Pak Kaji Dauh bukan tipe orang yang emosional kecuali untuk situasi yang menurut pendapatnya amat sangat berbahaya bagi kedamaian desa KangAgung.
"Benar yang diucapkan White Snow. Mengapa anda membuat jurus penghalang ini Pak Kaji Dauh?" Tanya Devi ikut menimpali.
"Aku tidak ikut campur pertarungan mereka. Aku hanya membuat jurus penghalang ini agar pertarungan mereka tidak meluas dan menyebabkan kerusakan pada desa KangAgung." Ucap Pak Kaji Dauh.
Mendengar penjelasan Pak Kaji Dauh yang masuk akal itu akhirnya Devi setuju. Devi telah melihat kerusakan akibat pertarungan Insur dan Ladusong di beberapa tempat sebelumnya. Keputusan Pak Kaji Dauh untuk menggunakan jurus Barrier pada hutan cemara akhirnya disetujui oleh Devi.
White Snow yang awalnya marah akhirnya setuju juga dengan pendapat Pak Kaji Dauh. Kerusakan dan korban di gedung pemilihan, kantor bekas Anci, dan warung kopi mbak Moshi sudah memberikan fakta akibat pertarungan tersebut jika meluas. Maka keputusan Pak Kaji Dauh untuk membuat penghalang memang merupakan keputusan paling bijaksana untuk situasi saat ini.
Mereka akhirnya cukup melihat dari kejauhan hasil dari pertarungan Insur dan Ladusong. White Snow berharap agar Insur baik - baik saja. Sementara Devi dan anak buahnya bersiaga. Tujuannya adalah menangkap Ladusong yang telah membuat Dipaidi terluka parah. Di sisi lain, Pak Kaji Dauh hanya memiliki satu tujuan yaitu terjaganya kedamaian desa KangAgung.
Devi jadi teringat akan sesuatu dan panik. Dia masih harus memberikan samurai hitam pada Insur! Diangkatnya samurai hitam Insur di tangannya dan memandang Pak Kaji Dauh.
"Pak Kaji Dauh. Saya setuju dengan anda, tapi mohon maaf. Bisakah anda membuka penghalang ini sebentar? Saya harus memberikan samurai hitam ini pada Insur!" Ucap Devi.
"Tidak bisa." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Apa - apaan ini Pak Kaji Dauh! Insur membutuhkan samurai hitamnya ini agar pertarungan mereka adil!" Sergah White Snow.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan membuka jurus penghalang Barrier -ku sedikit pun." Kata Pak Kaji Dauh membulatkan tekad.
Jawaban Pak Kaji Dauh membuat situasi memanas kembali. Untung saja Bambang segera datang sembari berlari dari kejauhan.
"Hosh...hoshh... Woi tenang saja sini gua bantu!" Ucap Bambang sembari mengatur napasnya yang tersengal - sengal karena berlari cukup jauh. Maklum lah, Semakin tua memang stamina semakin menurun.
"Kamu bisa memberikan samurai hitam ini pada Insur tanpa memecah jurus Barrier Pak Kaji Dauh?" Tanya Devi keheranan.
"Tentu bisa. Hosh...hoshh... mudah!" Jawab Bambang.
Pak Kaji Dauh sangat terkejut mendengar bahwa Bambang dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa Bambang mampu menembus jurus penghalangnya.
"Sini! Mana samurai hitamnya!" Ucap Bambang.
Bambang segera merebut samurai hitam dari tangan Devi. Ditimang - timang sebentar samurai hitam tersebut. Lalu Dia melakukan kuda - kuda akan melempar.
"Beneran kamu bisa?" Tanya White Snow.
Semuanya terdiam dan memandang Bambang yang bersiap - siap untuk melempar samurai hitam ke arah dalam hutan cemara. Pak Kaji Dauh juga memperhatikan dengan seksama. Dia ingin tahu apakah benar Bambang dapat menembus jurus penghalangnya yang paling kokoh itu.
Bambang bersiap. Suasana sunyi. Lalu dengan hentakan cepat dia lempar samurai hitam tersebut.
Wuuuuiiuuuzzzzhhhhhh!!!
Samurai itu terlempar dengan cepat! Dan benar ternyata samurai itu mampu menembus jurus Barrier milik Pak Kaji Dauh! Semua yang menyaksikan hal tersebut melotot tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana seorang Bambang mampu menembus jurus Barrier milik Pak Kaji Dauh yang merupakan salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit itu!
Samurai itu terlempar memasuki hutan cemara dengan kecepatan tinggi. Menuju ke tengah - tengah pertarungan Insur dan Ladusong. Saat itu Insur sedang bergerak cepat secara zig zag menghindari serangan tangan kanan robot Ladusong yang menghantam berkali - kali hingga tanah mengalami banyak retakan.
"Dasar tatakan panci! Apa hanya ini kemampuanmu Sur! Luahahahaha!!" Teriak Ladusong kegirangan.
Insur merasa terdesak. Dia lupa membawa samurai hitamnya. Tanpa samurai hitamnya Insur tidak bisa melakukan serangan balik.
Duaaaazzzhhhhhh.....!!!
Sebuah Max Elbow mengenai dirinya. Insur yang sekuat tenaga menahan serangan itu akhirnya terhempas ke belakang dengan hentakan dahsyat. Tangan Insur bergetar karena menahan rasa sakit dari serangan tersebut.
Ah sial! Seandainya aku membawa samurai hitamku! Umpat Insur dalam hati. Dan benar saja! Sebuah samurai hitam tiba - tiba melesat masuk dalam hutan cemara tersebut. dan....
Zleeeeebbbbbbbb!!!
Samurai itu melesat dan mengenai pantat Insur!!!
"Aaauuuuuuuwwwwwwww!!!" Insur berteriak melenguh kesakitan.
Ladusong terdiam melihat sebuah samurai hitam yang tiba - tiba menancap di pantat Insur.
"Ahhhh.... Dasar kacang kuaci!!! Siapa yang lempar samurai hitam ke pantat gua!!! Aaaauuuuuwwwwhhhh.... Aw aw awwwwwhhh!!" Sumpah serapah Insur sembari mencabut samurai hitamnya dari pantatnya.
Bambang yang melempar samurai hitam tersebut berkacak pinggang dan berkata, "Ahhh aku memang pelempar hebat. Tepat mengenai sasaran!"
Mendengar ucapan Bambang tersebut maka Pak Kaji Dauh, White Snow, Devi, dan para anak buahnya melotot pada Bambang. Mereka berteriak dalam hati bersama - sama; Woooooi!! Apaan wooooi!! Jadi lu lemparnya memang mengincar pantatnya Insur Hah?!!! Dasar kutu kupret!!
Kini Insur bersiap kembali menghadapi Ladusong dengan samurai hitamnya. Insur mengeluarkan samurai tersebut dari sarung pedangnya dan menunjukkan samurai hitam tersebut pada Ladusong.
"Sekarang aku bisa melanjutkan pertarungan kita dengan serius Ladusong. Bersiaplah!" Ucap Insur.
"Bagus, bagus... Ayo kita nikmati pertarungan terakhir kita ini Insur. Kerahkan kemampuan terbaikmu seperti saat kamu mengalahkan Surin dahulu kala! Luahahaha..." Ladusong tertawa merakan kesenangan karena lawannya akhirnya mulai serius. Inilah pertarungan antara hidup dan mati yang telah lama dia idam - idamkan selama ini.
Sementara itu di sisi luar penghalang yang menyelimuti hutan cemara, Pak Kaji Dauh menatap tajam Bambang.
"Bambang, aku heran. Bagaimana kamu bisa menembus jurus Barrier-ku ini?" Tanya Pak Kaji Dauh.
Bambang tersenyum santai dan berkata, "Buahahaha.... Itu karena aku punya rahasia, yaitu......"