Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 49: Dok bukan Dog!!!


Malam menuju pagi dini hari dan hawa dingin mulai menusuk hingga ke tulang. Suasana desa KangAgung telah terlelap terbuai mimpi masing - masing. Hanya beberapa orang saja yang masih terjaga karena mengerti kondisi yang tengah terjadi. Hasil perrtarungan Insur dan Ladusong akan mempengaruhi gejolak yang akan terjadi di desa KangAgung.


Dia Sang Penguasa Desa tampak sedang memikirkan sesuatu di kursi goyangnya. Kursi goyang itu terletak di teras lantai tiga gedung pemerintahan. Dia merokok dengan menggunakan cangklong sembari menatap langit malam itu.


Hatinya dipenuhi tanda tanya besar, apakah keputusannya memilih Dipaidi dari pada Ladusong sebagai komandan militer tertinggi di desa KangAgung sudah benar? Apakah jika Ladusong dapat mengalahkan Insur maka dia balas dendam dan mengguncang kekuasaannya di desa KangAgung?


Berat rasanya bagi Dia Sang Penguasa Desa untuk memikirkan hal tersebut. Kini dia hanya berharap Insur lah yang memenangkan pertarungan tersebut agar tidak menjadi masalah yang lebih serius.


Sementara itu di kantor pusat pengelolaan perumahan Bangau Putih, Tengud juga sedang terjaga. Dia tidak sendirian di ruangan khusus tersebut. Dia duduk di kursi nyaman dari kulit harimau dengan empat ibu - ibu mengitari suatu meja bundar yang besar. Ke-empat ibu - ibu tersebut adalah para punggawa besar Tengud. Mereka adalah anak buah spesial Tengud dalam membangun kekuatan terbesarnya, yaitu kekuatan gosip!


"Semoga Insur yang menang. Akan lebih sulit bagi kita untuk menghadapi Ladusong yang berotak keras dan tidak peduli keadaan lingkungan. Kekuatan gosip kita tidak akan begitu berpengaruh pada orang tipe seperti itu. Berbahaya, berbahaya...." Ucap Tengud pada ke-empat ibu - ibu tersebut.


Di tempat lain yaitu rumah sakit ApaanLu, Faynem sibuk mengobati beberapa pasien yang terluka parah. Sekitar sembilan puluh sembilan korban sedang ditangani secepat mungkin. Dipaidi, Pantam, Pak Atu, dan Pak Gaelani adalah salah satu diantaranya. Mereka diletakkan dalam satu ruangan.


Terlihat Dipaidi tidak sadarkan diri. Sementara yang lainnya sudah agak membaik dan sedang saling mengobrol tak jelas. Berusaha menghibur satu sama lain. Ketika obrolan mereka bertiga sedang seru - serunya pintu kamar mereka dibuka dengan cepat. Ternyata si nenek Faynem yang datang membawa suntikan.


"Kenapa malah mengobrol dan tidak istirahat hah? Sini waktunya kalian untuk mendapatkan suntikan penyembuh!" Bentak nenek Faynem.


"Tidak mau!!" Teriak mereka bertiga bersamaan ketakutan dengan jarum suntik.


Faynem tidak menggubris penolakan mereka bertiga. Suntikan pertama dia berikan pada Dipaidi yang tengah pingsan. Lalu dia menuju pada Pantam.


"Ampun nek ampun! Tolong saya jangan disuntik!" Pinta Pantam dengan memelas.


Tiada ampun lagi, dengan kasar nenek Faynem membalik tubuh Pantam dan mencobloskan suntikan itu ke pantat Pantam dengan kasar.


"Aaaauuuuuuuwwwww...........!" Teriak Pantam hingga akhirnya dia pingsan.


Mendengar teriakan Pantam hingga pingsan tersebut membuat Pak Gaelani semakin ketakutan. Dilihatnya nenek Faynem sedang mempersiapkan jarum ketiga di tangannya.


"Eh anu nek kalau saya tidak usah disuntik saja bagaimana? Saya sudah merasa sehat kok, beneran, sehat banget saya sekaranhg nek." Ucap Pak Gaelani dengan muka memelas.


"Jangan banyak bicara. Cepat serahkan pantatmu!" Hardik nenek Faynem.


Nenek Faynem segera mendekati tempat Pak Gaelani dengan suntikan besar di tangannya. Pak Gaelani ketakutan dan mulai habis akal. Dia pun segera bangkit dari tempat tidur rumah sakit tersebut dan mencoba merebut jarum suntik yang dipegang nenek Faynem.


"Nek sumpah nek saya takut disuntik! Tolong jangan suntik saya!" Ucap Pak Gaelani.


"Ahhh mau disuntik aja ribet amat!!" Bentak nenek Faynem.


Keduanya pun bergulat saling memperebutkan jarum suntik tersebut. Pak Gaelani mencoba sekuat tenaga menarik jarum suntik dari tangan nenek Faynem. Tapi ternyata nenek Faynem bersikukuh mempertahankan jarum suntiknya.


Saat itulah dokter Skak memasuki ruangan tersebut. Dokter Skak merupakan dokter andalan desa KangAgung. Dokter Skak ini memiliki tubuh yang kurus dengan mengenakan kacamata tebal. Usianya sekitar empat puluhan. Selama perang besar empat tahun yang lalu namanya cukup terkenal karena tidak ada racun yang tidak bisa dia tangani. Dia tidak memihak pada kubu Serigala Tanah ataupun pada kubu Elang Langit. Semua yang membutuhkannya akan segera dia tolong.


Dokter Skak tercengang saat masuk ruangan dan melihat nenek Faynem dan Pak Gaelani bergulat memperebutkan jarum suntik.


Nenek Faynem dan Pak Gaelani tidak mengindahkan kata - kata dokter Skak dan terus bergulat. Hingga akhirnya nenek Faynem terjungkal dan jarum suntik tersebut tidak sengaja melesat dan menusuk bagian atas paha dokter Skak.


"Aaaauuuuuuuuwwwwww.......!!!!!" dokter Skak melenguh kesakitan.


Sementara Faynem dan Pak Gaelani menatap dengan terbelalak ketika dilihaynya jarum suntik tersebut menancap di atas bagian paha dokter Skak. Lebih tepatnya adalah di bagian itu. Iya pokoknya di bagian itulah!! Susah pengarang mau jelasin, Ruahaha....


Dokter Skak segera mencabut jarum suntik tersebut dan memandang nenek Faynem dan Pak Gaelani dengan amarah.


"Nenek Faynem!!! Cepat pegangi Pak Gaelani!!!" Perintah dokter Skak.


Faynem pun segera memegangi kedua tangan Pak Gaelani dan menengkurapkannya. Pak Gaelani tidak berkutik karena ternyata kekuatan nenek Faynem begitu kuat. Dokter Skak segera menusukka jarum suntik tersebut ke arah pantat Pak Gaelani bertubi - tubi! Gila! Mungkin karena ada sedikit dendam saat bagian itunya kena jarum tadi. Ruahahaha....


"Auuuuwww... auwww..... auwwwwww!!!" Pak Gaelani berteriak berkali - kali hingga akhirnya pingsan.


Sesudah dilihatnya seluruh pasien di ruangan tersebut sudah istirahat maka dokter Skak dan nenek Faynem bersantai duduk - duduk di taman belakang rumah sakit ApaanLu.


"Nenek Faynem, sebenarnya ada yang ingin saya ketahui sejak dari dulu." Ucap dokter Skak sembari menyalakan rokok.


"Apa itu dog?" Tanya nenek Faynem.


"Hey bukan dog tapi dok!! Ingat ya dok bukannya dog!!" Teriak dokter Skak.


"Eh iya iya... dok. Apa yang ingin anda ketahui dok?" Tanya nenek Faynem lagi.


Dokter Skak diam sejenak. Menghembuskan asap rokoknya melalui lubang hidungnya.


"Sebenarnya siapa si Insur ini..." Tanya dokter Skak sembari memandangi langit malam desa KangAgung.


"Maksud anda?" Tanya Faynem lagi dan lagi.


"Aku sudah lama bekerja di dunia medis. Sudah banyak manusia yang saya teliti tubuhnya. Suatu ketika saya disuruh Dia Sang Penguasa Desa untuk menyelidiki sampel darah Insur saya begitu tercengang. Tampaknya ada hal yang tidak wajar dengan tubuh Insur." Ucap dokter Skak menjelaskan.


"Maaf saya tidak tahu apa - apa dog." Jawab nenek Faynem singkat seperti menyembunyikan sesuatu.


Mendengar jawaban dan ekspresi nenek Faynem tersebut membuat dokter Skak semakin penasaran. Siapa sebenarnya si Insur ini? Batin dokter Skak.


Dokter Skak mematikan rokoknya. Dia berdiri dan bersiap menuju ke hutan cemara tempat Insur dan Ladusong sedang bertarung.


"Saya akan menuju hutan cemara untuk melihat pertarungan Ladusong dan Insur. Sekaligus ingin sekali rasanya meneliti lebih dalam tentang Insur ini. Sisi keilmuan medis saya tergelitik." Ucap dokter Skak.


Dokter Skak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauh. Lalu dia berpaling sejenak pada Faynem dan berteriak, "Ingat ya panggilnya dok bukan dog!!!"