Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 15: Imut sih tapi...


Pertandingan voli di pantai Kecoak mulai memanas layaknya sinar matahari yang membakar ubun - ubun kepala. Banyak penonton berjejalan menyaksikan pertandingan tersebut terutama dari kalangan bapak - bapak. Jelas terlihat niat mereka hanya ingin menonton keseksian Intan artis dari desa Balatara dan keanggunan paras cantik Juli artis dangdut dari desa KangAgung.


Penonton bersorak bergemuruh, berteriak - teriak dengan penuh semangat. Terlihat seorang pria tua yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk menjual es kelapa muda miliknya. Es kelapa muda itu dibungkusnya dalam plastik lengkap dengan sedotannya


"Es kelapa muda! Yang seger, yang seger!! Es kelapa muda cuma sepuluh ribu!" Teriaknya dengan penuh semangat.


Nama pria tua itu adalah Pak Sanan. Pak Sanan merupakan sesepuh dari pemukiman pantai Kecoak. Pak Sanan memiliki kembaran dengan nama yang sama, sehingga untuk membedakan mereka dijuluki Sanan Wetan dan yang satunya adalah Sanan Kulon. Penjaja es kelapa muda itu bernama Pak Sanan Kulon.


Tidak butuh waktu lama es kelapa muda Pak Sanan Kulon langsung habis dipesan penonton yang kehausan. Pak Sanan Kulon bersandar pada salah satu pohon kelapa sambil melihat kelanjutan pertandingan voli pantai tersebut.


Tampak tim merah tertinggal jauh dengan skor 1 - 14. Hanya tinggal satu poin lagi bagi tim biru untuk mengalahkan tim merah. Juli sebagai ketua tim merah tampak sudah tidak bersemangat lagi.


"Kita tidak bisa memenangkan pertandingan ini, kita menyerah saja." Ucap Juli.


"Benar, mereka terlalu kuat." Ucap Pak Gaelani yang mukanya memerah terkena hantaman bola.


"Apa - apaan kalian ini hah?! Berdiri! Pertandingan belum usai! Menang atau kalau kalah bukan masalah! Yang menjadi masalah adalah jika kita menyerah! Menyerah adalah kekalahan mental terbesar! Ayo bangkit, Menang atau kalah kita hadapi bersama!" Teriak Insur yang menolak untuk menjadi pengecut.


Menurut Insur, pecundang bukanlah orang yang kalah. Pecundang adalah orang yang tidak bisa menerima kekalahan. Hadapi hidup, meskipun tertatih. Itulah dunia orang - orang yang memiliki tekad.


Juli dan Pak Gaelani terbakar semangatnya mendengar perkataan Insur. Mereka bertiga siap untuk menghadapi tim biru kembali.


"Kenapa kamu tidak menyerah saja hah? Tinggal satu poin lagi kami akan menang. Lihatlah skor kita, 14 - 1. Mustahil kalian bisa menang!" Teriak Intan mencoba mematahkan semangat Insur, Juli, dan Pak Gaelani.


"Justru saat aku merasa terpojok inilah yanh menjadi momen menarik dalam hidupku. Zehahaha.... Ayo maju!" Teriak Insur.


Juli segera menservis bola mengarah pada Shin. Shin menerima bola dan mengarahkan pada Shun. Shun mengumpan lambung pada Intan. Intan pun melakukan Jump Smash!


Duasssssshhhhhhhh!


Bola dengan cepat mengarah ke daerah tim merah. Insur dan Juli tiba - tiba memegang kedua tangan Pak Gaelani dan mengarahkan kepala Pak Gaelani pada bola yang datang tersebut.


Krrreteeeeekkkkkk!


Kepala Pak Gaelani terkena bola tersebut dan bola kembali ke daerah tim biru dengan cepat. Shin dan Shun segera melakukan Body Blocking tapi apa daya ternyata bola tersebut seperti berbelok dan masuk!


Prrrrrriiiiiittttt!


Mak Imah meniup peliut keras.


Skor 2 - 14.


Insur dan Juli berteriak penuh kemenangan. Sementara Pak Gaelani bonyok mukanya.


"Sur, bener kata lu! Ternyata kalau kita menggunakan kepala Pak Gaelani arah bola jadi tidak terbaca." Ucap Juli.


"Seperti yang terlihat. Pak Gaelani adalah aset kemenangan kita. Dengan memanfaatkan kepala Pak Gaelani maka kita bisa memenangkan pertandingan voli ini!" Teriak Insur.


"Tapi... tapi...." Ucap Pak Gaelani yang mukanya bonyok.


"Sudahlah. Ini demi kemenangan tim kita. Kamu adalah harapan kami Pak Gaelani." Ucap Insur sembari meremas pundak Pak Gaelani. Pak Gaelani berkeringat dingin dengak muka bonyoknya.


Pertandingan voli berlanjut. Dan berluang kali kepala Pak Gaelani dijadikan alat oleh Insur dan Juli. Semakin bertambah poin tim merah maka semakin bonyoklah muka Pak Gaelani!


Skor menjadi 14 - 14. Intan, Shin, dan Shun tak percaya poin mereka dapat disusul. Insur dan Juli tersenyum puas. Sementara Pak Gaelani mengaduh kesakitan dengan muka lebam dan penuh darah.


Duaaaaazzzhhhhhhh!


Bola mengarah ke Shin dan Shun. Bola kali ini terbaca! Bola melambung dan Intan siap melakukan jump smash!


"Juli! Ini kesempatan terakhir kita! Kita gunakan kepala Pak Gaelani sebagai block untuk memenangkan pertandingan ini!" Teriak Insur.


Mendengar perkataan Insur, Pak Gaelani ketakutan dan merangkak ingin keluar dari arena dengan muka lebam dan penuh darah. Tapi dia dicegat Insur dan Juli yang segera membopongnya kembali ke arena.


"Ampun Sur, Ampun Juli! Sudah jangan menggunakan kepala gua sebagai alat! Udah bonyok muka gua!" Teriak Pak Gaelani memelas.


"Diam! Ini demi kemenangan tim kita!" Teriak Juli.


Bola di smash Intan. Insur dan Juli segera membopong dan mengarahkan kepala Pak Gaelani pada bola tersebut......


Duuuuuuuuazzzzzhhhhhh!


Bola tersebut tepat mengenai wajah Pak Gaelani. Bola memental kembali ke daerah tim biru dan masuk!


Priiiiiiiiiiiittttttt!!


Mak Imah meniup peluitnya keras dan berteriak, "Pemenangnya adalah tim merah dengan skor 15 - 14!"


Penonton bersorak kegirangan. Mereka tidak menyangka tim merah akan menang setelah tertinggal begitu banyak poin. Sungguh serangan balik yang fenomenal!


Intan, Shin, dan Shun pun tak percaya mereka bisa kalah setelah tinggal sedikit lagi bisa menang.


Insur dan Juli berpelukan dengan bahagia. Juli berteriak - teriak penuh suka cita karena timnya dapat memenangkan pertandingan voli.


Sementara Pak Gaelani...... Pingsan!


-----


Sore itu Juli dan Insur pun mengobrol di warung kopi mak Imah.


"Makasih ya Sur! Berkat ide elu kita jadi menang!" Ucap Juli pada Insur.


"Iya sih tapi kasihan juga Pak Gaelani." Ucap Insur.


"Santai aja. Palingan besok juga udah sembuh." Ucap Juli acuh tak acuh.


"Sekarang dimana Pak Gaelani?" Tanya Insur.


"Sedang dirawat di hotel mewah. Disana disediakan perawatan medis juga." Ucap Juli sembari meminum es jeruknya.


"Juli, nanti malam jadi kan bantuian gua?" Tanya Insur sembari menyulut rokoknya.


"Iya dong kak Insur. Emang yang tersegel dengan segel sihir klan Samudera Biru itu dimana?" Tanya Juli.


"Di lantai paling atas mercusuar. Ada benda yang harus aku ambil. Kamu adalah satu - satunya anggota klan Samudera Biru di desa KangAgung. Jadi hanya kamu yang bisa membantuku. Nanti tengah malam kutunggu kamu di sana." Ucap Insur serius.


Juli mengangguk dengan gaya imutnya lalu dia berpamitan kembali ke hotel mewahnya. Insur melihat kepergian Juli yang berlari - lari kecil dengan manisnya kembali ke hotel mewah.


Ah manis sekali dia. Parasnya juga cantik. Tapi sayangnya dia cowok! Kampret!! Gerutu Insur dalam batin.