Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 17: Pertarungan Tepi Pantai


Kehadiran Intan membuat Insur dan Juli terkejut. Intan melangkah dengan santai dan menengadahkan tangan kanannya pada Insur.


"Berikan batu darah itu." Ucap Intan.


Insur mengernyit. Dia segera memasukkan batu darah pada kantong yang terikat di celananya. Tamoaknya gerakan Insur tersebut sudah merupakan sebuah jawaban bahwa Insur tidak akan menyerahkan batu darah tersebut pada Intan.


"Kenapa kamu yang merupakan orang dari desa Balatara mengetahui tentang batu darah ini? Bahkan hanya sebagian besar warga dari desa KangAgung sendiri saja tidak mengetahuinya. Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Insur bertubi - tubi.


"Kamu tidak perlu tahu. Kalau kamu tidak menyerahkan batu darah tersebut berarti kamu sudah siap mempertaruhkan nyawamu!" Hardik Intan.


Intan segera melompat dengan cepat ke arah Insur dan menendangnya


Duaaaaaazzhhhhh!


Insur mencoba menahan tendangan Intan. Tapi ternyata tendangan itu begitu kuat. Bagaimana mungkin seorang wanita seanggun Intan bisa memiliki tendangan sekuat itu?!


Insur terpelanting kebelakang. Menabrak dinding lantai atas mercusuar hingga roboh dan dia pun terjatuh ke luar mercusuar. Dengan ketinggian hampir dua puluh meter Insur terjun ke bawah timbunan pasir pantai bersamaan dengan puing - puing batu beton dinding yang hancur.


Dumm! Duumm! Duuum!! Bammmmmm!!


Insur terjatuh di pasir pantai yang dingin.


"Insur.......!" Teriak Juli khawatir.


Intan segera meloncat turun dari menara mercusuar yang tinggi itu dan mengarahkan tendangannya pada Insur yang tergeletak di tanah.


Duuuuuuuaaaazhhhhh!


Tepat saat detik - detik terakhir Insur mengelak dari serangan tersebut dengan berguling - guling ke samping. Tendangan Intan mengenai pasir pantai hingga pasir tersebut berhamburan di sekitarnya.


"Gila! Wanita seanggun dirimu ternyata memiliki kekuatan sebesar itu!" Ucap Insur sembari mencoba berdiri dengan sempoyongan.


"Ini peringatan terakhir. Berikan batu darah itu." Ucap Intan.


Shin dan Shun tiba - tiba muncul di belakang Insur. Kini Insur tersudutkan. Juli yang melihat kejadian tersebut dari lantai atas menara segera menuruni anak tangga menuju ke bawah.


"Oh aku tahu sekarang. Kalau diingat - ingat, dengan kekuatan sekuat baja itu sepertinya kamu adalah keturunan dari klan milik Earth ya. Atau jangan - jangan kamu malah keturunan langsung dari Earth Sang Penguasa dari Barat? Berarti kamu dari keluarga bangsawan desa Balatara." Pancing Insur.


"Iya. Aku adalah puteri tunggal dari Karaka Sang Kepala Desa Balatara." Ucap Juli.


Ahhh pantas saja dia tau tentang batu darah ini. Jadi Intan hanya berpura - pura sebagai artis desa Balatara yang sedang berlibur di pantai kecoak ini, batin Insur.


Earth memiliki dua anak. Yang pertama adalah Dia yang diajaknya menuju ke timur. Yang kedua adalah Karaka yang ditinggalkan di kawasan tengah dan mendirikan desa Balatara.


Intan telah mengakui kalau dirinya adalah puteri tunggal dari Karaka. Tampaknya Insur harus berhati - hati. Bisa jadi hal ini sangat rentan sebagai penyebab terjadinya konflik antara desa KangAgung dan Balatara. Apalagi sekarang desa KangAgung sendiri juga ada kekacauan internal akibat ulah kloning Ladusong dan dokter Skak.


"Batu darah itu harus kudapatkan untuk meningkatkan kekuatan desa Balatara." Ucap Intan.


"Ohhh jadi kamu cucunya Earth ya. Menakjubkan juga." Ucap Insur.


Intan segera melesat ke arah Insur dan mengarahkan tendangannya.


Insur terdesak tidak ada jalan untuk menhindari serangan Intan karena Shin dan Shun mengelilinginya. dan.......


Baaaaaaammmmmmmmmm!!


Juli tiba - tuba muncul menghadang tendangan Intan dengan teknik dinding air. Intan terpental ke belakang.


"Teknik itu! Kamu.... kamu salah satu klan Samudera Biru! Bagaimana bisa ada klan Samudera Biru yang berada di luar pulau es beku?!" Ucap Intan terperangah sembari menstabilkan keseimbangan tubuhnya.


Juli berdiri menghadap Intan. Dia bersiap dalam posisi bertarung. Sementara Insur masih enggan untuk bertarung.


"Bagaimana kalau keadaan ini kita bicarakan baik - baik terlebih dahulu tuan putri?" Tanya Insur pada Intan.


"Berikan batu darah itu terlebih dahulu baru kita bicara!" Bentak Juli.


Ah tampaknya Intan ini tipikal cewek keras kepala. Semakin sulit kalau sudah begini. Tidak ada pilihan lain kecuali dengan mengalahkannya terlebih dahulu.


"Juli! Kamu kalahkan si Intan. Ingat jangan sampai membunuhnya. Aku tidak ingin terjadi peperangan antara desa KangAgung dan desa Balatara." Ucap Insur pada Juli.


Juli mengangguk tanda dia mengerti. Insur segera menepi membiarkan Juli bertarung dengan Intan. Sementara Shin dan Shun tetap di posisinya bersiap jika terjadi hal - hal yang di luar kondisi. Pertarungan antara Juli dan Intan pun dimulai.


Intan berlari ke arah Juli lalu melompat dan mengarahkan tendangannya kembali pada Juli. Juli menghindari tendangan tersebut dengan anggun seperti air mengalir. Dan berulang kali Intan mengarahkan serangannya pada Juli, tetapi Juli tetap bisa menghindari serangan tersebut dengan gerakan yang dinamakan gerakan aliran air.


Intan mulai kelelahan dibuatnya. Ketika tenaga Intan mulai habis Juli segera melakukan teknik penguncian dengan menciptakan sebuah gelembung air. Gelembung air tersebut memerangkap Intan di dalamnya hingga dia tidak bisa bergerak lagi. Intan tidak berkutik. Jangankan melakukan serangan, bahkan untuk menggerakkan badannya pun dia sudah tidak bisa.


Shin dan Shun yang melihat Intan terperangkap segera maju ke arah Juli untuk menyerangnya. Tapi tiba - tiba seseorang muncul dengan gesit dan menendang muka Shin dan Shun bersamaan hingga mereka berdua terjerembab.


"Sudahi pertarungan ini. Aku tidak mau ada kekacauan di pemukiman pantai Kecoak ini." Ucap orang tersebut yang ternyata adalah Pak Sanan Kulon.


Shin dan Shun bangkit kembali. Insur memandangi Pak Sanan Kulon tersebut. Tampaknya dia merupakan salah satu sesepuh pemukiman pantai Kecoak. Insur mendekat.


"Maaf Pak Sanan Kulon. Bukan kami yang memulai perkelahian ini, tapi mereka. Bahkan kami juga sudah berusaha untuk membicarakannya baik - baik." Ucap Insur menjelaskan.


"Lepaskan putri Intan. Akan jadi konflik besar dengan desa Balatara jika dia terluka parah." Perintah Pak Sanan Kulon.


Juli memandang Insur. Insur mengangguk tanda dia menyetujui untuk melepaskan Intan. Juli pun melepaskan Intan dan gelembung air yang memerangkap Intan pecah.


"Hosh... hosh.... Kurang ajar!" Teriak Intan.


"Sabar tuan putri. Bicarakan keadaan dengan baik - baik. Ingat anda adalah pengunjung di pantai kecoak. Tak baik rasanya jika anda berbuat kekacauan di tempat saya." Ucap Pak Sanan Kulon dengan lemah lembut dan bijaksana.


Intan yang semula dipenuhi amarah pun hatinya melembut. Pak Sanan Kulon segera mengajak semuanya memasuki mercusuar dan membicarakan masalah ini dengan baik - baik. Dan mereka semua menyetujuinya.


Mereka segera masuk dalam mercusuar dan duduk di ruang tamu. Pantam yang terbangun cukup kaget melihat banyak sekali tamu malam itu. Dia segera membuatkan kopi di belakang.


"Sekarang aku ingin tahu duduk perkaranya. Kalian berdua adalah sama - sama tamu di perkampungan Kecoak ini. Saya sebagai tuan rumah mengharapkan sikap yang lebih sopan dari kalian." Ucap Pak Sanan Kulon sambil memandangi semua yang ada di ruangan tersebut.