
Insur memasang kuda - kuda legendaris miliknya. Kuda - kuda yang sama persis dipakai Insur untuk mengalahkan Surin empat tahun yang lalu di jembatan Agung. Ladusong yang melihat hal itu menyeringai. Tampak kilatan matanya seakan dia memang sudah menantikan Insur akan menggunakan jurus andalannya itu.
Angin keras tiba - tiba menyelimuti lapangan Oliv. Angin itu berhembus kesana - kemari. Semua orang yang hadir melihat pertarungan Insur dan Ladusong saat itu takjub akan kejadian yang terjadi. Apa - apaan angin keras ini?!
"Akhirnya kamu mulai serius juga ya? Luahahaha.... Ayo tunjukkan seluruh kemampuanmu padaku Sur!" Teriak Ladusong sembari pada posisi siaga memegang pedang besarnya dengan kedua tangannya erat - erat.
Masih dengan posisi kuda - kuda legendaris dan angin yang berhembus kencang di sekitarnya Insur berkata, "Untuk semua jiwa yang telah kamu bunuh tanpa hak, untuk semua jiwa yang harus kehilangan nyawanya tanpa alasan rasionalmu......"
Insur bersiap menyerang, sementara Ladusong juga bersiap menghalau serangan legendaris Insur.
"Akan kutebas fatamorgana keadilanmu Ladusong!!!!" Insur berteriak.
Angin semakin kencang, amat sangat kencang hingga semua polisi dan warga memicingkan mata karena kesulitan melihat.
Dan......
Wuuuuuuutzzzzzz!!!!
Tiba - tiba Insur menghilang! Ladusong kebingungan, dimana dia? Dari arah mana Insur akan menyerangnya?
Sryyaaaaaaaaaattttttzzz!!!!
Tiba - tiba Insur sudah melakukan tebasan melewati tubuh Ladusong. Tebasan Insur laksana kilatan cahaya yang begitu cepat. Tangan kanan Ladusong putus, terjatuh bersama dengan pedang besarnya. Darah membasahi samurai Insur. "Aaaaaarggggggghhhhhhhh.........!!!!!!" Teriak Ladusong merasakan kesakitan karena lengan kanannya telah putus.
Dia meringis menahan rasa sakit perih yang luar biasa. Insur hanya terdiam memandangi Ladusong yang tersungkur mengaduh kesakitan. Angin kencang telah berhenti. Kembali suasana lapangan Oliv menjadi normal kembali.
Pantam, Bambang, Faynem, pak Kaji Dauh, polisi - polisi yang berjaga serta semua yang menonton kejadian tersebut tertegun. Ngeri menjalar melihat Ladusong yang mengaduh kesakitan di tengah lapangan. Dan hasil pertandingan ini sudah jelas, Insur menang!
"Kamu sudah kalah Ladusong, menyerahlah" Ucap Insur.
"Arrggghhhhh..... belum! Belum! Aku belum kalah! Aku tidak akan kalah darimu!!! Aku Ladusong salah satu dari empat pilar Elang Langit tidak akan kalah darimu!!! Arggghhhh..." Ladusong mulai meracau menahan rasa sakitnya. Kini tanpa lengan kanan memang mustahil bagi Ladusong untuk melawan Insur.
Dooooooorrrrr!!!!
Tiba - tiba suara pistol meletus. Insur tertembak di bagian dadanya. Kontan saja dia langsung terduduk, memandangi darah yang mengucur dari dadanya yang tertembak.
"Ada apa ini?! Siapa yang menembak Insur?!! Ini duel, kenapa ada yang ikut campur?!!!" teriak Pantam memandangi Insur dari kejauhan.
Warga panik, semua kocar - kacir meninggalkan lapangan Oliv. Sementara itu pak kaji Dauh dan Faynem kebingungan di tengah keramaian itu. Siapa yang menembak Insur? Apakah ini salah satu rencana licik Ladusong. Dipaidi. Iya, Dipaidi. Ternyata Dipaidi tangan kanan Ladusong lah yang menembak Insur.
"Semua polisi siaga! Tangkap Insur hidup atau mati! Tembak ditempat bagi semua yang menghalangi!" Perintah Dipaidi pada semua polisi yang berada di lapangan Oliv.
Insur yang terduduk memegangi dadanya yang tertembak melihat Dipaidi dengan terkejut.
"Luahahaha... Pasti kamu tidak menyangkanya Insur! Aku telah mempersiapkan segalanya, semua polisi yang aku siagakan akan menangkapmu! Kamu tidak bisa lari.... hosh.. hosh..." Kata Ladusong yang telah kehilangan lengan kanannya, tersenyum sembari menahan rasa sakitnya.
Ternyata semua ini adalah jebakan Ladusong. Dari awal duel ini memang jebakan untuk menangkap Insur. Menang atau kalah Insur tetap akan diringkus.
Para polisi yang jumlahnya sekitar seratus orang itu bukan hanya ditugaskan berjaga di sekitar lapangan Oliv ketika duel berlangsung. Mereka semua dipersenjatai berbagai senjata api mulai dari pistol kecil hingga senapan laras panjang. Para polisi itu juga ditugaskan meringkus Insur kalau sampai Ladusong kalah. Sungguh siasat licik. Bagaimana mungkin Insur akan keluar dari situasi ini? Bagaimana bisa Insur melawan seratus polisi bersenjata lengkap hanya dengan samurainya?
"Jangan macam - macam kamu!" bentak Dipaidi sambil menodongkan senjatanya pada Pantam.
"Sebaiknya jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa!" kata Dipaidi melanjutkan kalimatnya.
Beberapa polisi yang lain sudah berkumpul di sekitar Insur sembari menodongkan senjata.
"Luahahaha.... Aku lah yang akhirnya tetap menang Insur!!!" Kata Ladusong mulai bangkit sembari tangan kirinya memegangi bahu kanan, menahan sakit menjalar karena lengannya putus.
Lapangan Oliv telah sepi dari warga yang berhamburan kabur. Tinggal Insur, ladusong, dan beberapa polisi mengelilingi Insur dengan todongan senjatanya.
Di pinggir lapangan Oliv, Pantam dan Bambang dibekuk oleh Dipaidi dan beberapa polisi karena mencoba menyelamatkan Insur. Sementara Faynem dan pak kaji Dauh masih berdiri tenang menyaksikan semua kejadian itu.
Matahari mulai ke arah barat, pertanda sore hari dimulai. Asap kabut putih tebal tiba - tiba menyelimuti seluruh lapangan Oliv. Kabut itu amat sangat tebal hingga menghalau penglihatan.
"Ini......." Pak kaji Dauh tidak memeruskan kalimatnya. Semuanya kaget dengan kabut tebal putih yang datang tiba - tiba itu.
"Apa - apaan ini? Tetap siaga!!!" Teriak Ladusong.
Seluruh polisi kebingungan dan tidak berani bergerak sedikitpun.
"Kabut tebal putih ini sangat aneh, dan hawanya menjadi dingin sekali" Ujar Faynem si nenek tua mendekap tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan.
Di sela - sela kabut tebal putih dan hawa dingin itu mulai terdengar beberapa teriakan beberapa polisi mengaduh kesakitan. Mereka tiba - tiba tersayat telinga, hidung, pipi, dan ada juga yang tersayat salah satu matanya.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?!!" Teriak Ladusong kebingungan.
Lalu kabut tebal itu menghilang secara perlahan. Hingga akhirnya keadaan lapangan Oliv kembali seperti semula dan penglihatan dapat tajam kembali. Betapa tercengangnya Ladusong ketika kabut sudah menghilang, dia melihat beberapa anggota polisi yang berniat menangkap Insur tersayat telinga, hidung, pipi, dan mata mereka. Dan yang lebih membuat Ladusong marah lagi adalah Insur yang sudah menghilang dari tempatnya terkepung.
"Kurang ajar..... Kurang ajar!!!!!" Teriak Ladusong seakan meneriaki langit.
"Kurang ajar kamu Insur!!!!!!"
Beberapa polisi segera membantu kawannya yang terluka, mengantarnya ke rumah sakit. Puluhan polisi terluka parah. Masih dengan darah menetes dari lengan kanannya yang putus, Ladusong menghampiri pak kaji Dauh dan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi pak kaji Dauh?"
Pak kaji Dauh yang juga salah satu empat pilar Elang Langit menjawab, "Aku tidak yakin. Tapi tampaknya jurus kabut tebal itu seperti milik white snow."
Ladusong terbelalak dan berkata, "White snow?!! bukankah dia pembunuh tertinggi dari kubu Serigala Tanah sama seperti Mbezi?!!"
"Iya. Dulu aku pernah menghadapi white snow, dan jurus tadi sama persis seperti miliknya." Jawab Pak Kaji Dauh.
Ladusong hanya melotot menahan amarah bukan saja karena kehilangan lengan kanannya, tetapi juga kegagalannya menangkap Insur.
"Kenapa White snow menyelamatkan Insur?" Tanya Ladusong.
"Aku juga masih heran kenapa. Tetapi sebaiknya kamu obati dulu lengan kananmu Ladusong. Mulai sekarang beberapa hal akan jadi rumit." Ujar pak kaji Dauh.
Ladusong hanya menatap pak kaji Dauh. Mulai sekarang keadaan akan menjadi lebih rumit lagi, White snow! Siapa sebenarnya White snow ini? Kenapa Dia menyelamatkan Insur?