Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 36: Bantuan Desa Balatara


Sebuah rocket mengenai tembok perumahan Bangau Putih dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Pasukan desa KangAgunh yang berjaga di sekitar tembok terhempaskan oleh tekanan ledakan tersebut. Ada juga beberapa yang langsung menjadi mayat gosong.


Kepanikan segera menyusul karena adanya roket - roket susulan yang bertubi - tubi menghantam posko pertahanan. Para pasukan desa KangAgung yang tengah tertidur langsung terjaga dan bersiaga.


"Serangan! Ada serangan dari pasukan pemberontak dan pasukan desa Magala! Semua pasukan bersiap bertempur!" Teriak Williams membangunkan pasukan snipernya.


Williams segera mengendap - endap berjalan menuju atas bukit yang berada di depan perumahan Bangau Putih. Mereka segera bersiaga melakukan tugasnya sebagai penyerang jarak jauh. Sesampainya di atas bukit, Williams dan pasukannya segera menyiapkan senjata sniper masing - masing.


"Tidak kusangka jurus Barrierku mampu ditembus." Ucap Pak Kaji Dauh seraya mengambil tongkatnya dan bersiap bertempur.


Insur yang tertidur pulas pun terbangun saat salah satu roket hampir saja mengenai tubuhnya. Insur jumpalitan terhempas angin ledakan.


"Apa - apaan ini?! Bagaimana musuh dapat menembus jurus Barrier Pak Kaji Dauh?!" Ucap Insur sambil dilihatnya empat truk baja besar yang terus menerus menembakkan rocket ke arah perumahan Bangau Putih.


Setelah sepuluh menit kemudian tembakan roket berhenti. Tampaknya truk - truk baja besar itu kehabisan amunisi. Perumahan Bangau Putih berlubang di mana - mana. Atap - atap perumahan tersebut banyak yang berlubang bahkan hingga hancur. Gapura besar perumahan Bangau Putih berlubang besar dan retak dimana - mana.


Tengud yang melihat perumahan hasil kerja kerasnya hancur menjadi amat sangat marah. Dia berlari ke arah truk - truk baja besar tersebut.


"Semuanya segera keluar dari truk dan bersiap bertempur!" Teriak Lanaya.


Para pasukan yang berbaju anti peluru dengan masing - masing memegang senapan laras panjang pun turun dari truk masing - masing. Adu tembak pun segera terjadi antara pasukan desa KangAgung dengan pasukan gabungan dari pemberontak dan desa Magala.


White Snow merangsek maju sambil menyayatkan pisaunya pada pasukan musuh. Pertempuran sudah dimulai. Pak Atu dan pasukannya bersiap - siap dengan golok besar masing - masing.


"Apakah kalian siap untuk menancapkan taring kalian pada musuh?!" Teriak Pak Atu mengobarkan semangat pasukannya.


"Itu Pak Atu dan White Snow. Ternyata kubu Serigala Tanah ikut turun tangan dalam pertempuran kali ini." Ucap dokter Skak.


"Bukankah ini malah semakin menarik. Luahahaha." Ucap kloning Ladusong.


Pertempuran pun semakin merebak. Tak hanya adu tembak, bahkan ada yang mulai adu pedang dan berperang dengan jarak dekat. Insur memandang pertempuran dari salah satu atap rumah pada perumahan Bangau Putih. Pantam dan Nu'im berada di sampingnya kiri dan kanannya.


"Nu'im, kamu turun ikut perang dahulu. Ingat pesanku, jangan melawan para petinggi. Level kamu belum cukup untuk menghadapi mereka." Ucap Insur.


"Baik guru." Ucap Nu'im.


Nu'im segera melompat turun dari atap dengan menggunakan jurus langkah anginnya. Dia pun segera ikut dalam medan pertempuran. Nu'im menyabetkan pedang kayunya ke arah musuh dengan cepat. Jurus langkah angin yang telah dipelajarinya membuatnya mampu bergerak dengan cepat hingga gerakan musuh terasa melambat.


"Wah wah wah... Hebat juga si Nu'im itu." Ucap Pantam.


"Tentu saja! Jurus langkah angin adalah jurus dasar dari kecepatan yang Surin dan aku miliki. Zehahaha...." Ucap Insur menyombongkan diri.


"Sombong amat!" Umpat Pantam.


"Bantuan apa Sur?" Tanya Pantam.


"Tolong dalam peperangan ini kamu jaga Nu'im. Aku akan konsentrasi mengalahkan kloning Ladusong. Aku ada urusan sebentar di jembatan Agung." Jawab Insur.


"Baiklah." Ucap Pantam singkat walaupun dia tidak mengerti ada apa di jembatan Agung padahal peperangan tengah terjadi di perumahan Bangau Putih.


Insur segera bergegas melompat turun dari atap dan segera menemui Pak Gaelani. Pak Gaelani yang berada di atas becaknya sudah paham dengan apa yang dimaksud Insur. Pak Gaelani segera membonceng Insur dengan becaknya melalui area hutan agar tidak terseret peperangan. Keduanya kini menuju jembatan Agung. Ada apa dengan jembatan Agung? Bukankah peperangan tengah terjadi di perumahan Bangau Putih?


Zhou duduk dan meminum kopinya di tenda besarnya yang terletak di samping sungai Tasbran tempat kapalnya tertambat. Dia ditemani oleh Jaki Sang Ahli Strategi desa Magala.


"Kenapa tuan Zhou memilih untuk menarik sebagian pasukan desa Magala ke sini?" Tanya Jaki tidak mengerti.


"Perasaanku tidak enak. Ada hal samar yang membuatku ragu. Tapi aku tidak tau itu apa. Walaupun begitu aku yakin firasatku benar." Jawab Zhou.


Jaki pun tampak bingung oleh keputusan tuan Zhou tersebut. Padahal pasukan pemberontak dan pasukan desa Magala sudah berada di atas angin. Entah kenapa Zhou malah mengirim balik sebagian pasukannya ke kapal air mereka.


Tak selang berapa lama misteri itu pun terpecahkan. Dari arah barat jembatan Agung terlihat pasukan besar sedang menuju ke arah mereka. Zhou dan Jaki segera keluar untuk melihat pasukan dari mana tersebut. Zhou memicingkan mata dan melihat ke arah bendera yang berkibar lantang di depan pasukan tersebut. Itu adalah bendera desa Balatara!


"Apa - apaan ini?! Kenapa pasukan desa Balatara kemari?!" Ucap Jaki tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tampaknya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung meminta bantuan kepada desa Balatara." Ucap Zhou.


"Apa?" Ucap Jaki yang tidak mengerti.


"Mungkin kamu belum tahu. Sebenarnya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan Karaka Sang Pemimpin Desa Balatara itu merupakan saudara sedarah keturunan dari Earth Sang Penguasa dari Barat." Ucap Zhou menjelaskan.


"Gawat! Tapi bukankah kabarnya desa Balatara tengah berperang dengan desa Gorgon?" Tanya Jaki.


"Tentu. Tampaknya hal itulah yang membuat pasukan ini tidak dipimpin oleh Karaka." Jawab Zhou.


Jaki segera memfokuskan pandangannya pada pasukan desa Balatara yang datang dari arah barat tersebut. Setelah Jaki perhatikan secara seksama memang pasukan desa Balatara tersebut tidak dipimpin oleh Karaka, tetapi oleh Intan Sang Putri Desa Balatara ditemani oleh Shin dan Shun.


"Memang benar kata anda tuan Zhou. Tidak ada Karaka tetapi ada putrinya Intan ditemani dua bodyguardnya Shin dan Shun. Merekalah yang memimpin pasukan tersebut." Ucap Jaki.


"Persiapkan kapal kita. Kita akan segera kembali ke desa Magala. Dan juga panggil Lanaya dan pasukannya untuk kembali. Aku tak mau berurusan dengan desa Balatara." Ucap Zhou.


"Siap laksanakan tuan!" Ucap Jaki.


Para pasukan desa Magala segera membongkar tendanya dan memasukkan seluruh peralatan perang ke atas kapal. Tampaknya pasukan desa Magala sudah tidak ingin membantu pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak lagi.


Jaki segera mengirim dua telik sandi andalannya untuk memberitahu pada Lanaya. Kedua telik sandi segera berlari dengan cepat ke arah semak - semak. Jaki memandangi kepergian dua telik sandinya. Sementara Zhou yang menunggu di atas kapal bergumam, "Entah kenapa sekarang peperangan ini tambah runyam. Aku tak mau tahu. Yang penting Aku sudah mendapatkan batu darah!"