
Lanaya dengan tombak bajanya menyerang berkali - kali ke arah Pak Kaji Dauh hingga terpojok. Pak Kaji Dauh bajunya terkoyak dengan luka yang mengucurkan darah segar.
"Oh jadi rumor itu benar. Kamu tidak bisa menggunakan jurusmu dalam dua hari ini karena telah menciptakan jurus Barrier raksasa ya pak tua?" Cemo'oh Lanaya.
"Kalau saja aku bisa menggunakan jurusku...." Ucap Pak Kaji Dauh terputus.
"Tidak ada kalau. Di medan perang yang ada hanyalah hidup atau mati!!" Teriak Lanaya.
Lanaya melompat menghunuskan tombak bajanya. Tampak Pak Kaji Dauh sudah pasrah akan kematiannya. Pak Kaji Dauh hanya memandang langit. Semua dosa, semua kenangan, semua perjalanan hidupnya sekelebat tergambar pada langit yang dipenuhi awan.
Craaaaassshhhhhhhhh!!!
Tombak Lanaya menghujam tubuh Pak Kaji Dauh. Seluruh pasukan yang kebetulan menyaksikan tertusuknya tubuh Pak Kaji Dauh membelalakkan mata seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Pak Kaji Dauh!!" Teriak nenek Faynem dari kejauhan.
Sementara itu Dia Sang Penguasa Desa KangAgung yang menyaksikan hal tersebut hanya terdiam tanpa emosi sama sekali.
"Jadi akhirnya empat pilar langit hanya tinggal dua ya." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
Sementara itu kloning Ladusong malah menyesal.
"Bodoh! Seharusnya akulah yang membunuh Pak Kaji Dauh itu!" Ucap kloning Ladusong.
Dokter Skak dan Tengud yang tengah bertarung pun menghentikan pertarungan mereka sejenak.
"Lihatlah! Pak Kaji Dauh pun akhirnya tumbang! Bagaimana menurutmu Tengud? Skahahaha...." Ucap dokter Skak sembari tertawa terbahak - bahak.
"Cih! Aku tidak peduli! Dia itu memang sudah tua. Bukan urusanku kapan si tua itu akan mati. Sekarang ayo kita lanjutkan pertarungan kita!!" Ucap Tengud sembari melempar pisaunya. Ada setitik air mata yang berusaha tidak diperlihatkan Tengud saat itu.
"Kamu benar - benar tak berperasaan ya Tengud. Aku suka sisi kesadisanmu itu! Skahahaha!" Ucap dokter Skak yang menghindari pisau - pisau dari Tengud itu dengan mengubah tubuhnya menjadi slime.
"White Snow! Cepat selamatkan Pak Kaji Dauh!" Perintah nenek Faynem.
"Siap nyonya!" Jawab White Snow yang langsung merubah tubuhnya menjadi kabut putih.
Kabut putih itu melesat dengan cepat melewati para pasukan yang bertarung. Dengan cepat akhirnya kabut putih itu sudah berada di tempat Lanaya yang tengah menusukkan tombaknya ke dada Pak Kaji Dauh. Kabut putih tersebut menjelma kembali menjadi White Snow yang langsung menendang muka Lanaya dengan keras.
Lanaya bertahan dengan satu tangan dan akhirnya terseret mundur. Tombak yang menancap pun akhirnya tercabut dari dada Pak Kaji Dauh hingga menyemburkan darah yang lebih banyak lagi.
"Pak Kaji Dauh!" Teriak White Snow yang langsung membopong tubuh Pak Kaji Dauh.
"Sudah terlambat. Dadanya telah rusak parah tertusuk tombak bajaku. Dia akan mati." Ucap Lanaya.
"Tidak! Tidak akan kubiarkan Pak Kaji Dauh mati!" Teriak Lanaya.
White Snow langsung merubah dirinya menjadi kabut dan dengan cepat White Snow melompat mundur sembari membopong tubuh Pak Kaji Dauh yang tidak berdaya ke arah nenek Faynem.
"Nyonya. Luka Pak Kaji Dauh tampaknya amat sangat berat dan sulit untuk disembuhkan." Ucap White Snow ketika telah sampai di hadapan nenek Faynem.
"Astaga!! Parah sekali!!" Teriak nenek Faynem.
"Tidak Pak Kaji Dauh! Tidak! Kamu orang baik! Kamu sudah menjadi orang baik dan kamu tidak boleh mati sekarang!" Ucap nenek Faynem sembari meneteskan air mata.
"Tapi nyonya, luka Pak Kaji Dauh memang tampaknya terlalu dalam dan tidak mungkin diobati." Ucap White Snow.
"Diam kamu! Masih ada harapan! Cepat bawa Pak Kaji Dauh ke rumah Pak Iconk! Hanya Pak Iconk yang bisa menyembuhkan Pak Kaji Dauh!" Teriak nenek Faynem.
Nenek Faynem dan White Snow pun bergegas membopong tubuh Pak Kaji Dauh mendur dari area peperangan. Mereka berlari menuju ke rumah Pak Iconk.
"Dasar nenek tua bodoh. Kenapa membiarkan emosi tidak berguna menguasai diri ketika dalam situasi peperangan." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
Peperangan pun terus berlanjut. Kini Lanaya berhadapan dengan Pak Atu dan pasukannya. Sementara itu kloning Ladusong bertahan saat Williams dan pasukannya terus menembakinya.
"Incar kepalanya! Jika kloning Ladusong mati maka para pemberontak ini akan kehilangan salah satu pemimpin mereka!" Teriak Williams menyemangati pasukannya.
Doooor doooor doooor!!
Tembakan sniper beruntun ditembakkan ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong melakukan kuda - kuda, lalu dengan cepat dia hempaskan Max Elbow ke arah bukit tempat Williams dan pasukannya berada.
Blllllluuuuuuaaaargggghhhh!!
Sebuah gempa besar terjadi. Udara di sekitar bukit retak hingga akhirnya terjadi gempa besar. Bukit tersebut terbelah hingga berkeping - keping. Williams dan pasukannya berjatuhan bagaikan semut - semut kecil.
"Gila! Itu bencana alam! Itu kekuatan dewa!!" Teriak para pasukan yang tengah bertarung di bawah bukit.
Tanah dan bebatuan bukit terbang tak tentu arah menyapu orang - orang yang sedang bertarung di bawahnya.
"Luahahahaha!! Inilah kekuatanku yang baru! Aku tidak terkalahkan!!" Ucap kloning Ladusong.
"Dia gila! Ternyata dia sudah menyerap batu darah hingga pada tahap kekuatan yang sebesar ini!" Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
Pasukan desa KangAgung semakin merosot mental bertarungnya. Pak Kaji Dauh, nenek Faynem, dan White Snow telah mundur dari pertarungan. Kini ditambah dengan hancurnya pasukan sniper beserta Williams yang tak sadarkan diri tertimbun batu - batu besar.
"Sebaiknya kalian menyerah. Kekalahan kalian sudah di depan mata!" Teriak Lanaya sambil menghunuskan tombaknya pada Pak Atu.
"Dasar bodoh! Kami bukan pengecut seperti mereka! Kami adalah kubu Serigala Tanah yang tak takut mati! Maju!!" Teriak Pak Atu membakar semangat pasukan kubu Serigala Tanah.
Pasukan kubu Serigala Tanah semakin beringas dalam bertempur. Sekalipun darah membasahi tubuh mereka tetap maju. Kematian adalah tujuan yang seakan - akan memang dicari dalam sebuah pertempuran!
Dua telik sandi akhirnya berhasil mendekati Lanaya dan melaporkan perintah dari tuan Zhou.
"Lapor tuan Lanaya, ada perintah dari tuan Zhou agar anda dan seluruh pasukan anda mundur meninggalkan pertempuran ini dan kembali ke kapal!" Lapor telik sandi desa Magala tersebut.
"Kenapa? Padahal kita sedikit lagi akan memenangkan pertempuran ini?" Tanya Lanaya tidak mengerti.
"Pasukan desa Balatara datang dari arah barat jembatan Agung. Kita harus segera kembali ke desa Magala dan tidak ikut campur lagi terkait pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak. Kalau tidak segera kembali ke desa Magala maka akan semakin sulit bagi kondisi pasukan kita saat ini." Jawab telik sandi desa Magala tersebut.
Lanaya menghentikan kuda - kuda tempurnya. Kemenangan tinggal selangkah lagi. Sayang sekali kalau dilewatkan. Tetapi kalau melanggar perintah maka Lanaya kredibilitasnya sebagai seorang panglima perang desa Magala.