Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 45: Boneka ya boneka


Insur berlarian di setapak jalan samping sungai Tasbran. Di belakangnya Lasusong berusaha mengejarnya. Insur lari bukannya takut pada Ladusong, tetapi mencari tempat yang jauh dari kumpulan orang - orang sehingga tidak menambah jumlah korban orang tidak berdosa.


Insur segera mempunyai ide. Dia melompat ke sungai Tasbran lalu berenang hingga ke sisi tepi barat sungai Tasbran. Ladusong menyusulnya, dengan cepat dia mengarungi sungai Tasbran tersebut.


Di belakangnya ada White Snow yang mengikuti dari jarak aman. Dia cukup membuat lompatan super panjang sehingga tidak perlu menyelam.


Insur terus berlari mengarahkan Ladusong ke daerah hutan cemara yang terletak di tepi barat sungai Tasbran bagian paling selatan.


Ketika sampai di hutan cemara itulah Insur berhenti. Dia berbalik dan siap menghadapi Ladusong.


"Oh jadi kamu ingin hutan cemara ini sebagai tempat kematianmu ya Sur? Luahahaha...." Ejek Ladusong.


"Bukan. Tempat inilah yang akan jadi pemakamanmu." Timpal Insur.


Sementara itu White Snow masih mengintai dari kejauhan. Dia bersiap - siap atas segala kemungkinan terburuk dari hasil pertarungan Insur melawan Ladusong.


Malam semakin dingin. Cahaya bulan menerpa hutan cemara. Menimbulkan siluet Insur yang siap berhadapan dengan Ladusong untuk ketiga kalinya!


-----


Sementara itu di kantor bekas Anci yang sudah hansur berantakan tampaklah Dipaidi mulai sadarkan diri. Dia hanya mampu membuka mata tanpa bisa menggerakkan tubuhnya. Luka di tulang rusuk kanannya amat sangat parah.


Seorang wanita cantik datang menghampirinya dengan pasukan polisi tak kurang dari lima puluhan. Wanita itu ialah Devi, sekretaris Dipaidi yang setia. Devi kaget melihat kondisi bosnya yang telah terluka parah. Dia menghampiri Dipaidi.


"Pak Dipaidi!! Anda masih hidup bukan?!" Tanya Devi dengan penuh perhatian.


"Uhuk.. uhuk... i... iyaaa..." Jawab Dipaidi dengan tersengal - sengal.


"Polisi medis! Segera rawat Pak Dipaidi!" Perintah Devi.


"Di sana... uhuk.. uhuk... di sana ada Pantam. Obati dia juga!!" Ucap Dipaidi.


Dipaidi dan Pantam pun segera dibopong oleh beberapa polisi untuk mendapatkan pengobatan. Sebelum Dipaidi dilarikan ke rumah sakit, sekilas terlihat samurai hitam milik Insur tergeletak di lantai.


"Devi!! Ini perintah!! Uhuk.. uhuk... itu... itu samurai hitam milik Insur! Bawakan samurai itu untuk... uhuk.. untuk Insur!! Dia membutuhkannya untuk mengalahkan Ladusong!!" Ucap Dipaidi.


Devi segera melihat ke arah samurai hitam yang ditunjuk Dipaidi. Diambilnya samurai itu beserta sarung pedangnya.


"Siap laksanakan!" Ucap Devi.


"Bagi tugas! Sepuluh orang antarkan dan beri keamanan Dipaidi dan Pantam! Empat puluh orang yang lain ikuti saya!" Perintah Devi dengan tegas.


"Siap Laksanakan!" Teriak kelima puluh personil polisi tersebut dengan tegas.


Devi dan ke-empat puluh polisi segera menelusuri jejak Insur dan Ladusong. Jejak itu mengarah ke warung kopi mbak Moshi. Keadaan warung kopi mbak Moshi tampak gaduh saat itu. Pak Gaelani yang terluka parah masih dipangku oleh mbak Moshi. Devi segera mengendalikan keadaan di warung kopi mbak Moshi agar tenang dan terkendali.


"Dimana Insur dan Ladusong?" Tanya Devi.


"Mereka berdua tampaknya menuju sisi barat sungai ke arah hutan cemara. Tolong Pak Gaelani membutuhkan bantuan secepatnya! Dia tadi terkena..." Jelas mbak Moshi yang mulutnya langsung dibekap Devi karena menjelaskan terlalu panjang.


"Tenang mbak Moshi. Semua akan kami bereskan." Kata Devi.


Devi pun kembali membagi tugas ke-empat puluh personilnya. lima belas personil disuruhnya mengamankan kondisi warung kopi mbak Moshi. Lima oranh disuruhnya mengantarkan Pak Gaelani untuk mendapat pengobatan sama seperti Dipaidi dan Pantam. Sementara Dua puluh sisanya mengikuti Devi menuju hutan cemara.


-----


Dengan santainya dia menyapu sambil bernyanyi sesekali. Ah sungguh dunia yang indah malam itu bagi Bambang. Disulutnya sebatang rokok yang dia temukan saat menyapu. Aahhh sungguh nikmat sekali saat asap rokok itu memenuhi dadanya lalu dia hembuskan perlahan.


Juli saat itu tak sengaja melewati pekarangan Bambang. Diinjaknya halaman yang sudah disapu Bambang tersebut hingga akhirnya kotor lagi. Melihat hal tersebut tentu saja Bambang menjadi naik pitam dibuatnya.


"Woooooi kalau jalan pakai mata! Halaman rumah gua jadi kotor tuh!!" Hardik Bambang.


"Oh iya maaf... maaf... Gak sengaja." Ucap Juli meminta maaf.


"Eh enak aja lu asal minta maaf! Dasar tutup panci!"


"Loh kok lu nyolot! Apaan lu kacang kuaci!"


"Oh... ohh... berani ya lu ngatain gua! Dasar kutu kupret"


"Muka lu kayak apel ijo!"


"Wah lu nantangin?! Sini lu!"


"Ayuk! Sini lu!"


Dan akhirnya mereka berdua pun saling bertikai. Sebagai seorang lelaki sejati keduanya tentu tahu bagaimana caranya menyelesaikan pertikaian dengan jantan, yaitu dengan adu kecantikan boneka!!


Juli segera mengeluarkan boneka cantik andalannya. Namanya Queen.


Bambang tak mau kalah saing. Dia mengeluarkan boneka cantik andalannya yaitu Princess. Keduanya pun mulai saling adu argumen.


"Lihat nih boneka Queen gua. Dengan rambut hitam lurus dipadu kelopak mata cantik. Ini adalah kecantikan yang anggun dan misteri layaknya Chleopatra! Juahahaha..." Ucap Juli dengan penuh kesombongan.


"Ah itu tak seberapa. Lihatlah boneka Princess gua. Kulit putih susu dipadu dengan rambut berwarna keemasan. Suatu kecantikan glamour dan mewah! Buahahaha..." Ucap Bambang menimpali.


"Eh boneka lu tuh cuma menang mewah aja! Suatu kecantikan tanpa sedikit bumbu misteri itu bagai makan nasi tanpa lauk pauk! Hambar!!" Ejek Juli pada boneka Bambang.


"Dari pada boneka lu, masak tidak ada kesan feminim yang merupakan akar dari suatu kecantikan. Secara nilai estetika itu jauuuuuuh banget ya kalo dibandingin, intinya boneka lu gak level ama boneka gua!!" Ejek balik Bambang pada boneka Juli.


Keduanya pun terus saling mengejek dan mengunggulkan boneka masing - masing. Saat adu argumen mulai memuncak, dilihatnyalah Devi dan dua puluh personil melewati mereka. Devi sempat syok melihat Bambang dan Juli yang sudah berumur itu bermain boneka. Apalagi itu adalah boneka cewek.


Wooooi sadar woooi!! Ingat umur dan tampang sangar looo!!! Teriak Devi dalam batinnya.


Devi tidak tahan lagi melihat hal tersebut. Ditonjoklah muka Bambang dan Juli secara bersamaan. Keduanya pun terjerembab dan mengaduh kesakitan.


"Lu berdua ngapain?!!! Ini situasi genting malah main boneka!!!" Teriak Devi dengan penuh emosi.


"Adudududuhhhh.... Situasi apaan sih mbak Devi?" Tanya Bambang sembari mengaduh kesakitan.


"Insur dan Ladusong sedang bertarung di hutan cemara." Jawab Devi singkat dan segera berlari dengan dua puluh personilnya.


Bambang langsung bangkit dan membawa senjata andalannya, sebuah sapu lidi. Dia segera menyusul ke arah hutan cemara. Bagaimana pun Insur adalah tetangga baiknya. Dia harus menolongnya. Itulah gunanya seorang tetangga! Saling membantu ketika kesusahan!


Sementara Juli bersikap cuek dan tidak mau ikut campur lagi. Dia pun kembali menuju perahu yang dia tambatkan di sisi sungai Tasbran. Dia pulang.