Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 42: Geleng dan Angguk


Insur terkapar tak bergerak bersandar pada salah satu dinding ruangan kantor bekas Anci. Luka yang dideritanya cukup parah. White Snow sudah berusaha mengobatinya sebisa mungkin dengan jurus kabut penyembuhnya.


"Bertahanlah Sur." Ucap White Snow sembari mengelus pelan pipi Insur.


Tak tega rasanya saat melihat kesedihan mendalam pada sudut mata White Snow. Perasaan yang hampir sama tatkala kita akan kehilangan sesuatu yang berharga.


Di ruangan lain yang lebih luas Ladusong berhadapan dengan Dipaidi, Pantam, dan Pak Gaelani. Ladusong bersikap arogan, merasa bahwa yang dia hadapi hanyalah tiga semut kecil yang kapan saja dapat dia habisi semaunya.


"Tampaknya kita butuh strategi. Ladusong kini menjadi terlalu kuat berkat tangan kanan robotnya itu." Ucap Pantam.


"Kita bagi tugas saja sesuai kemampuan masing - masing. Aku adalah tipe petarung jarak jauh, jadi aku akan menyerangnya dari jarak aman." Kata Dipaidi.


"Nah bagus! Tipeku adalah petarung jarak dekat. Tapi aku bukan tipe penyerang. Kemampuanku hanya bertahan. Jadi aku akan menjadi barisan depan sehingga kamu bisa menembak Ladusong" Sambut Pantam.


"Nah sekarang kamu Pak Gaelani. Apa kemampuanmu?" Tanya Dipaidi pada Pak Gaelani.


Dipaidi dan Pantam pun memandangi Pak Gaelani sembari menunggu jawaban. Pak Gaelani hanya melongo. Jujur saja, selama ini Pak Gaelani tidak pernah bertarung. Seluruh hidupnya dia habiskan hanya untuk meningkatkan skill nya dalam mengayuh becak.


"Anu... anu.... waduh apa ya kemampuanku. Ah pokoknya aku maju saja untuk membalaskan dendam becak gua yang dihancurkan Ladusong!!" Jawab Pak Gaelani.


Dipaidi dan Pantam hanya dapat melotot mendengar jawaban Pak Gaelani. Mereka berdua membatin; Apaan woooooi!!! Elu gak guna banget kampret!!! Dasar kacang kuaci!!!


Ladusong tiba - tiba menerjang ke arah mereka bertiga. Pantam menghalangi laju Ladusong. Ladusong mengarahkan pukulan tangan kanan robotnya ke arah Pantam. Duazzzzzhhhhh!!! Pukulan itu ditahan Pantam dengan kedua tangannya. Pantam terseret mundur sekitar satu meter. Tampaknya pertahanan Pantam cukup baik untuk menahan serangan Ladusong.


"Lumayan juga ya kamu gendut. Tidak pernah kusangka kamu dapat menahan pukulan tangan kanan robotku. Luahahaha....!" Ladusong tertawa.


Dipaidi telah bersembunyi di jarak aman. Dia keluarkan dua pistol andalannya yang masing - masing dia pakai di tangan kiri dan kanan.


Dor! Dor! Dorr!! Dorrr!!! Dor!!! Dorrrr!!!!


Enam tembakan beruntun dikeluarkan Dipaidi. Ladusong dengan sigap bertahan dengan tangan kanan robotnya. Peluru dari Dipaidi mental begitu saja.


"Ah sial! Mungkin tangan robot itu terbuat dari baja! Keras sekali!!!" Umpat Dipaidi.


Ladusong menyeringai. Dia berlari ke arah Dipaidi, tapi lagi - lagi Pantam menghalaunya. Ladusong memukul Pantam kembali, dan Pantam bertahan dengan kedua tangannya seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini berbeda, Ladusong ternyata tidak hanya mendaratkan satu pukulan, tetapi berkali - kali pukulan.


Pantam tetap bertahan di tengah pukulan Ladusong yang bertubi - tubi. Tiba - tiba Ladusong mundur satu langkah, melakukan sebuah kuda - kuda singkat dan.... Bammmmmm!!!!!!


Sebuah jurus Max Elbow dikeluarkannya. Pantam terhempas ke belakang, menghantam sebuah dinding salah satu ruangan hingga akhirnya dia jatuh dengan suara keras, Duaaaammmbbbb!!


"Hanya segitu sajakah jurus bertahanmu? Sungguh menggelikan, Luahahaha..." Ladusong tertawa terbahak - bahak hingga menggema ke seluruh ruangan.


Dipaidi segera bertindak mengambil kesempatan saat Ladusong lengah. Dia menembakkan tembakan beruntun pada kepala Ladusong.


Dor! Dor! Dor! Doooooor!!!!


Tapi lagi - lagi ternyata Ladusong mampu menepis tembakan Dipaidi dengan tangan kanan robotnya.


"Ini gila! Gerakan refleks macam apa itu?!" Seru Dipaidi.


Ladusong berlari ke arah Dipaidi. Dipaidi mulai panik dan menembak secara membabi buta pada Ladusong yang semakin mendekat. Ladusong tetap merangsek maju sembari menahan tembakan Dipaidi dengan tangan kanan robotnya.


Ketika sudah mendekat, Ladusong segera mencengkeram bahu Dipaidi. Dilemparkannya Dipaidi ke atas dengan sigap. Tubuh Dipaidi melayang ke atas lalu mulai jatuh lagi ke lantai. Tepat saat akan jatuh ke lantai itulah ladusong melancarkan serangan Max Elbow pada tubuh sisi kanan Dipaidi.


Duuuuazzzhhhhhhh!!!


Tubuh Dipaidi terpelanting kebelakang akibat sikutan Max Elbow Ladusong dengan ledakan sepuluh kali lipat itu. Tubuh Dipaidi terseret di lantai hingga lima meter. Tulang rusuk bagian kanan Dipaidi tampaknya patah. Dia menyemburkan darah dari mulutnya dengan melotot tajam.


Ladusong berdiri santai. Menyalakan rokok sembari melihat melihat ke sekelilingnya. Pantam yang tak sadarkan diri dan menancap di tembok. Lalu Dipaidi yang sudah tidak bergerak lagi dengan darah menyembur dari mulutnya. Ladusong menghisap rokoknya dan berkacak pinggang.


"Sungguh kutu - kutu kecil kurang ajar. Berani sekali kalian melawan aku yang tak terkalahkan ini. Luahahaha...." Ladusong tertawa terbahak - bahak.


"Ini belum berakhir Ladusong!!!!" Teriak Pak Gaelani.


Ah Ladusong hampir melupakan keberadaan Pak Gaelani yang tidak berguna itu. Masih tetap merokok santai Ladusong memandang Pak Gaelani dengan pandangan menghina.


"Hei papan jemuran, memangnya kamu bisa apa hah?" Cemo'oh Ladusong.


Pak Gaelani kini sudah bersiap di atas sebuah sepeda butut yang ternyata milik Pantam. Apa yang mau dilakukan Pak Gaelani dengan sepeda butut itu? Apakah Pak Gaelani akan mengalahkan Ladusong yang bahkan Insur, Pantam, dan Dipaidi tidak dapat melakukannya? Inikah kekuatan sejati seorang pembecak yang tekun dibidangnya?!!


-----


Hari mulai beranjak sore. Di tempat lain, jauh dari tempat pertarungan di kantor bekas Anci, tampaklah nenek Faynem dan Pak Kaji Dauh di serambi rumah Pak Kaji Dauh. Keduanya bersantai menikmati teh memandangi cahaya semburat merah senja di sore itu.


"Aku harap semuanya baik - baik saja." Ucap nenek Faynem.


"Iya. Asalkan tidak sampai merembet jauh hingga terjadi perang besar seperti empat tahun yang lalu." Ucap Pak Kaji Dauh menimpali.


Tak lama kemudian dari arah sungai Tasbran muncullah sebuah perahu. Dari perahu itu melompatlah seorang pria berwajah cantik. Dia adalah Juli. Nenek Faynem dan Pak Kaji Dauh melihat kedatangan Juli tersebut.


"Lapor nek, saya sudah menyelesaikan tugas saya." Kata Juli sembari bersimpuh di hadapan nenek Faynem.


"Bagaimana keadaan di sana?" Tanya nenek Faynem.


"Gedung pemilihan sudah porak poranda. Pertarungan sempat berpindah ke hutan pohon raksasa. Di sana Nansu dan regu Sepuluh Kegelapan tewas. Memey sekretaris Ladusong juga sudah saya bunuh. Sekarang pertarungan sedang terjadi di kantor bekas milik Anci dulu." Kata Juli memberi penjelasan panjang lebar terkait keadaan seputar pertempuran tersebut.


Mendengar informasi dari Juli itu nenek Faynem mendengus pelan. Dilihatnya Pak Kaji Dauh dalam - dalam.


"Apakah sekarang saatnya?" Tanya nenek Faynem.


Pak Kaji Dauh menggeleng - gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


"Jangan. Kita tidak usah turun tangan atau keadaan akan menjadi lebih buruk lagi." Ucap Pak Kaji Dauh.


Nenek Faynem akhirnya mengangguk tanda setuju.