
Dokter Skak dan kloning Ladusong berjalan menyibakkan daerah hutan belantara di bawah gunung kembar. Udara dingin dan banyaknya nyamuk tidak menghalangi semangat mereka menyibakkan rerumputan liar yang tingginya hampir dua meter itu.
Setelah memakan waktu sekitar satu jam perjalanan mereka pun tiba di depan depan gerbang benteng rahasia. Dokter Skak segera maju dan memasukkan kunci yang dia dapatkan dari Dia Sang Penguasa Desa.
Pintu gerbang besar yang terbuat dari besi baja tebal itu beegetar hebat lalu terbuka. Dokter Skak dan kloning Ladusong segera memasuki ruang gelap tersebut.
Didalamnya tampak sebuah ruangan dengan lampu cerah sekali. Peralatan lengkat tersedia di sisi kiri dan kanan tembok tanah. terlihat beberapa meja dipenuhi tabung - tabung kimia. Tempat itu benar - benar sebuah laboratorium sempurna bagi dokter Skak.
"Tempat yang sungguh mengangumkan!" Teriak dokter Skak.
"Lihat. Di sini juga ada banyak persediaan makanan." Ucap kloning Ladusong sembari membuka sebuah kulkas yang amat sangat besar. Kulkas tersebut berisi berbagai makanan yang diawetkan.
Di pojok ruangan terlihat sebuah batu yang sebesar batu akik. Warna batu itu merah menyala memenuhi sekitarnya.
"Ini dia... ini dia... Batu darah! Skahahaha....!" Teriak dokter Skak yang takjub akan batu tersebut.
"Memang batu darah itu benar - benar sehebat itu ya?" Tanya kloning Ladusong seakan mencemo'oh.
"Hey kampret!! Kamu jadi belum tahu kehebatan batu darah ini?!" Bentak dokter Skak.
Dokter Skak pun mulai menceritakan kisah tentang batu darah tersebut....
-----
Sekitar seratus tahun yang lalu desa KangAgung belum terbentuk. Hanya sebuah perbukitan dengan sebuah sungai besar, gunung kembar, dan pantai bagian selatan yang dipecah menjadi dua melalui aliran sungai Tasbran yang mengarah ke laut. Saat itu desa KangAgung hanya tempat hutan belantara yang penuh misteri.
Lalu datanglah Earth sang penguasa dari barat. Dia mulai membuka pemukiman di sisi barat dari sungai Tasbran. Sementara itu penjelajah Magma sang penguasa dari sebuah pulau penuh gunung api datang dari arah timur dan membuka pemukiman di sisi timur sungai Tasbran. Dari sisi selatan datanglah klan Samudra Biru dipimpin Coldness yang datang dari sebuah pulau selatan samudera.
Ketiga klan bertengkar memperebutkan wilayah tersebut. Hingga Magma mengorbankan tubuhnya dan menjadi enam buah batu darah. Dengan kekuatan enam batu darah yang disatukan itu Jack yang merupakan anak dari Magma mampu mengusir Coldness dan klannya hingga kembali ke pulau asalnya di selatan samudera.
Ternyata Jack masih terus mengamuk dan mengejar Klan Samudra Biru. Jack datang dengan armada tempurnya yang menggunakan sepuluh perahu super besar dan kekuatan enam batu darahnya.
Melihat Jack menuju ke pulau tersebut, membuat Coldness khawatir akan terbantainya seluruh klan Samudra Biru. Coldness pun menggunakan sihir penghancur diri dan membuat tubuhnya menjelma menjadi gunung - gunung es yang mengelilingi pulau tempat klannya tinggal. Akhirnya pulau itu menjadi pulau tertutup. Jack dan pasukannya tidak bisa memasuki pulau tersebut dan klan Samudera Biru yang di dalam pulau tersebut juga tidak dapat keluar lagi. Nama pulau itu menjadi pulau Es Beku. Pulau tempat para klan Samudera Biru yang tertutup dari dunia luar.
Jack yang masih marah akhirnya mengalihkan perhatiannya menyerang Klan milik Earth. Pertarungan besar - besaran terjadi. Dia Yang merupakan anak Earth malah berkhianat membantu Jack dengan Syarat Jack memberikan dua buah Batu Darah. Akhirnya Earth tewas di tangan Jack dan Dia.
Jack pun menjadi penguasa tunggal dan menamakan desa tersebut desa KangAgung. Jembatan pun dibangun untuk memudahkan hubungan antara sisi barat dan sisi Timur sungai Tasbran. Semua warga desa KangAgung hidup dengan damai di bawah kepemimpinan Jack.
Tapi itu tidak bertahan lama. Dia tiba - tiba menjadi serakah dan menginginkan seluruh batu darah yang dimiliki Jack. Selain itu Dia juga ingin berkuasa penuh atas desa KangAgung.
Jack terbunuh. Dia naik tahta menjadi Penguasa Desa KangAgung. Dia akhirnya dijuluki Dia Sang Penguasa Desa. Tapi Dia masih belum puas karena ternyata batu darah yang dia dapatkan dari kematian Jack hanya dua buah. Batu darah yang terkumpul di tangan Dia Sang Penguasa Desa hanya empat buah.
Waktu pun terus bergolak hingga akhirnya bangkitlah pertempuran antara kubu Elang Langit yang dipimpin Dia Sang Penguasa Desa dengan kubu Serigala Tanah yang dipimpin Surin Sang Kegelapan!!
-----
Dokter Skak menghela napas setelah bercerita berapi - api mengenai rentetan sejarah tentang batu darah tersebut. Kloning Ladusong hanya mendengarkan. Ternyata kemampuan dokter Skak dalam hal menguak informasi benar - benar menakutkan. Bahkan kloning Ladusong baru tau sekarang bahwa Surin Sang Raja Kegelapan adalah anak dari Jack Sang Pendiri Desa KangAgung.
Kini kloning Ladusong jadi mengetahui alasan kenapa Surin melakukan pemberontakan terhadap Dia Sang Penguasa Desa. Semuanya menjadi jelas bagi kloning Ladusong.
Kini salah satu dari ke-empat Batu Darah milik Dia Sang Penguasa Desa diberikan pada mereka. Dokter Skak tidak sabar untuk segera meneliti Batu Darah yang penuh dengan sejarah mematikan desa KangAgung tersebut.
"Kloning Ladusong! Bersiaplah! Aku akan melakukan eksperimen Batu Darah ini dengan tubuhmu!" Teriak Dokter Skak pada kloning Ladusong.
"Pertama - tama akan aku masukkan Batu Darah ini dalam tubuhmu. Setelah itu kamu harus dimasukkan dan ditidurkan dalam tabung ini." Ucap dokter Skak sembari menunjuk pada tabung setinggi dua meter yang terbuat dari kaca tebal dan berisi cairan penuh gelembung.
"Berapa lama?" Tanya kloning Ladusong.
"Satu Minggu. Setelah ku ekstraksi selama satu minggu dalam tabung tersebut maka tubuhmu akan bergabung sepenuhnya dengan batu darah tersebut." Ucap Dokter Skak dengan penuh semangat.
"Sekarang cepat pelorotkan celanamu dan menungging!" Perintah dokter Skak.
"Hah?!" Tanya kloning Ladusong tidak mengerti.
"Aku akan memasukkan Batu Darah ini melalui lubang belakangmu." Ucap dokter Skak sambil mengelap Batu Darah berwarna merah menyala itu.
"Kampret!!! Kenapa harus lewat lubang belakang?!! Kan bisa aja langsung gua telan aja kampret!!!" Teriak kloning Ladusong.
"Khasiatnya kalau lewat lubang belakang nanti lebih mantap!!" Teriak dokter Skak tak mau kalah.
Kloning Ladusong tetap menolak jika Batu Darah itu harus dimasukkan melalui lubang belakangnya. Dokter Skak dengan segera menyuntik tubuh kloning Ladusong hingga terasa lemah tak bertenaga. Dibaliknya tubuh Ladusong lalu dimasukkannya Batu Darah tersebut lewat lubang belakang kloning Ladusong.
"Aaaaaaauuuuuuuuuwwwwwwwwwww!!" Teriak Ladusong sekeras - kerasnya.
Lalu dokter Skak menceburkan tubuh kloning Ladusong dalam tabung kaca berisi air buih. Ditutupnya rapat - rapat tabung tersebut.
"Sekarang tinggal menunggu akan sekuat apa kloning Ladusong setelah seminggu dari sekarang. Skahahaha...." Tawa dokter Skak menggema.
Seminggu dari sekarang desa KangAgung akan mengalami kekacauan yang mengerikan.....