Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 3 Chapter 2: Terang dan Gelap


Pagi menerangi desa KangAgung. Suara burung berkicau tampak saling sahut - menyahut di padepokan milik Insur. Dinginnya pagi begitu menusuk tulang. Insur dengan malasnya semakin mempererat selimutnya.


Pintu kamar Insur didobrak oleh Pantam.


Bruaaaakkkkk!!


"Bangun lu pemalas kampret!!" Teriak Pantam dengan penuh amarah.


Insur kaget dan segera berdiri. Disangkanya ada gempa bumi atau sejenisnya. Ketika dilihatnya ternyata Pantam yang mendobrak pintunya, Insur pun naik pitam.


"Eh kacang kuaci! Kalo mau masuk kamar gua ketuk pintu yang bener! Jangan asal dobrak aja! Gua pelatih lo, gua pelatih!!" Ucap Insur menekankan bahwa dirinya adalah seorang pelatih.


"Iya elu pelatih. Lebih tepatnya pelatih tak tahu diri!! Dasar kacang kuaci! Lihat jam wooooi lihat jam!! Ini udah pukul sembilan pagi!!" Bentak Pantam dengan penuh emosi.


"Ah masak?" Ucap Insur tak percaya.


Insur segera melihat jam wekernya yang ternyata memang menunjukka pukul sembilan pagi. Insur pun dengan ogah - ogahan segera merapikan tempat tidurnya. Lalu masih dengan malasnya dia menuju kamar mandi di samping padepokan.


Ketika melintasi aula padepokan, Insur melihat empat muridnya yang sedang berlatih pedang dengan giatnya. Pantam sebagai asisten Insur terpaksa menggantikannya dalam melatih para murid tersebut. Insur segera mandi sambil bernyanyi lagu dangdut dan berjoged ria. Suara sumbangnya terdengar hingga ke aula.


"Ah dasar pelatih kampret! Sempat - sempatnya dia mandi sambil menyanyi. Udah gitu suaranya jelek banget pula!" Gerutu Pantam.


Murid - murid pun hanya tertawa mendengar suara jelek Insur saat bernyanyi.


"Heh ngapain kalian ketawa! Ayo berlatih lagi!!" Teriak Pantam.


Tak selang berapa lama muncullah Tengud dengan empat anak buahnya. Keempat anak buah Tengud adalah emak - emak penggosip paling jempolan di desa KangAgung. Nama - nama anak buah Tengud itu adalah mpok Patonah, mpok Romlah, mpok Sumin, dan mpok Sugik. Mereka adalah para maestro penyebar gosip di desa KangAgung.


Pantam melihat kedatangan Tengud dan ke-empat anak buahnya tersebut yang mulai memasuki aula padepokan. Tampaknya Tengud ingin membuat gara - gara di padepokan tersebut.


"Wah wah wah lagi berlatih ya? Mana pelatihnya si Insur itu? Dasar pelatih pemalas! Teahahaha...." Ejek Tengud.


"Ngapain kamu ke sini Tengud?" Tanya Pantam mengacuhkan ejekan Tengud.


"Tentu saja hanya ingin melihat sebesar apa padepokan yang Insur buat. Ternyata sekarang padepokan ini mulai terancam bangkrut. Kasihan, kasihan... Teahahaha!" Ejek Tengud lagi.


"Maaf kami sedang latihan. Tolong jangan ganggu latihan murid - murid kami!" Bentak Pantam.


"Oh tidak, tidak, tidak. Kami tidak ingin mengganggu latihan padepokan ini. Justru kami ingin membantu kalian berlatih dengan mengadakan latih tanding dengan murid didik kami." Ucap Tengud.


"Maaf kami sedang sibuk." Ucap Pantam mengelak.


Tiba - tiba pintu kamar mandi terbuka. Insur yang masih mengenakan handuk segera berlari ke aula dan berteriak, "Wooooi mau ngajak latih tanding lu? Hayuk!!"


Semua mata melotot melihat Insur. Handuk terlilitkan di pinggang hingga pahanya. Rambut masih ada gelembung sampo. Dan sikat gigi masih menempel di mulutnya. Woooooooi!! Ingat elu pelatih kampret!! Jaga harga diri wooooi!!


Pantam segera menghampiri Insur dan berbisik, "Eh kampret dengerin gua! Tengud ke sini pasti mau cari gara - gara. Dia itu licik! Jangan mau murid kita diajak latih tanding sama dia! Pasti ada udang dibalik kuaci! Eh maksud gua ada udang di balik batu!!"


Tengud pun tersenyum licik. Dipanggilnya si Nu'im anak desa KangAgung dari sisi barat. Insur dan Pantam sempat syok dibuatnya. Bukankah Nu'im adalah salah satu murid pertama Insur? Kenapa sekarang dia menjadi murid dari Tengud?!


"Teahahaha.... Ayo Nu'im buktikan kekuatanmu pada empat murid Insur itu!" Teriak Tengud.


Dengan segera Nu'im melesat maju dan menyabitkan pedang kayunya pada ke-empat mirid Insur.


Bam! Bam! Bam! Baaaammmm!!


Dengan seketika ke-empat murid Insur tergeletak tak berdaya. Tengud tertawa terbahak - bahak dengan puasnya. Sementara Pantam segera menolong ke-empat murid Insur. Insur yang masih memakai handuk menatap pada Nu'im lalu pada Tengud.


Mpok Romlah ternyata sudah memvideokan kejadian tersebut dari awal. Mpok Romlah memang terkenal paling hebat dalam menyebarkan video sensasional penuh gosip di desa KangAgung.


"Lihatlah Sur! Padepokanmu ini akan segera hancur. Aku sudah menyuruh salah satu anak buah kepercayaanku untuk memvideokan kejadian hari ini. Namanya Mpok Romlah. Dengan video dari mpok Romlah akan aku jadikan alat sosialisasi padepokanku yang segera aku buat. Dengan begini padepokanku akan untung besar dan padepokanmu akan bangkrut! Teahahaha...." Ucap Tengud panjang lebar.


Tengud, Nu'im, dan ke-empat anak buahnya pun segera pergi meninggalkan padepokan Insur. Insur memandangi kepergian mereka dengan sorot mata tajam. Terlihat Pantam sedang mengobati ke-empat murid yang terbantai oleh Nu'im.


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Insur pada Pantam.


"Tidak terluka parah. Mereka hanya syok saja." Jawab Pantam.


"Kenapa mereka dapat dikalahkan dengan mudah oleh Nu'im ya?" Tanya Insur heran.


Pantam pun menonjok pipi Insur dengan keras hingga Insur terjatuh masih dengan handuk dipinggangnya.


"Dasar kampret!! Jelas - jelas itu karena elu belum pernah mengajarkan ke-empat muridmu ini satu jurus pun!!" Teriak Pantam dengan kesal.


Pantam benar - benar kesal pada Insur. Mau sampai kapan Insur seperti ini?!


Sore itu Insur terdiam sendirian sambil merokok memandangi alam sekitar padepokannya. Padepokan Insur berada di sebelah timur perumahan Bangau Putih yang dikelola oleh Tengud. Memang si Tengud itu kalau soal bisnis selalu kejam dan ingin orang lain sukses seperti dirinya. Sifat licik dan iri hati itulah yang membuat Tengud ingin menghancurkan padepokan Insur.


Kini padepokan Insur sudah tidak memiliki satu pun murid. Ke-empat muridnya yang terakhir juga mengundurkan diri dan memilih belajar pedang di padepokan baru yang dibuat Tengud.


Insur tidak dapat berbuat apa - apa lagi. Kini dia menjadi pengangguran lagi. Dan Insur sadar bahwa keadaan itu terjadi karena kecerobohannya sendiri. Kini dia bingung harus memulai dari mana untuk bangkit kembali.


Pantam yang melihat Insur termenung segera menghampiri dan memberi semangat.


"Sudahlah Sur. Yang terjadi biarlah terjadi. Setidaknya ada dua akar permasalahan dalam hidupmu saat ini." Ucap Pantam.


"Apa itu?" Tanya Insur.


"Kedzoliman Tengud dan dirimu sendiri." Jawab Pantam.


Setelah berkata seperti itu Pantam meninggalkan Insur. Pantam kini kembali bekerja sebagai sekretaris Pak Kaji Dauh. Dan akhirnya Insur sendirian di padepokannya tersebut. Sepi, sunyi, dan terhina.


Kini Insur sudah tidak punya apa - apa lagi. Dan dia menjadi pengangguran akut lagi. Sehabis gelap terbitlah terang. Tapi setelah terang pasti akan gelap lagi. Dan begitulah kisah hidup Insur, kembali menjadi gelap.