
Dokter Skak mulai memasuki kantor bekas Anci. Beberapa polisi yang berjaga segera bersiaga menodongkan senjata mereka. Dokter Skak terlihat begitu santai di bawah banyak todongan senjata api.
"Dokter Skak! Saya peringatkan sekali lagi untuk tidak membuat kekacauan atau anda akan ditahan karena melanggar hukum!" Teriak salah seorang polisi.
"Hah? Hukum? Skahahaha... Bodho amat dengan hukum! Bagiku yang paling penting adalah ilmu pengetahuan! Skahahaha....." Ucap dokter Skak.
"Tidak ada jalan lain lagi. Kita sudah memberinya peringatan. Dia juga sudah membunuh salah satu anggota kita. Sekarang tembak dokter Skak!" Ucap pemimpin polisi penjaga tersebut.
"Tembaaaaak!" Teriak polisi lain menyampaikan pada semua anggota.
Doooorrr... door... doorr.... dorrr!!
Dopoorrr... door... doorr.... dorrr!!
Rentetan tembakan mengenai tubuh dokter Skak. Tapi tidak ada satu tembakan pun yang melukai dokter Skak. Peluru - peluru itu menembus tubuh dokter Skak yang berubah menjadi cairan slime.
"Kalian pikir kalian bisa melukaiku? Skahahaha...." Ucap dokter Skak.
"Gila!! Tubuh macam apa itu?!" Teriak salah satu polisi.
"Sekarang.... Rasakanlah ledakan cairan racun panasku ini!" Ucap dokter Skak.
Selesai berkata demikian, tubuh dokter Skak berubah mengembung membesar. Ukurannya besar sekali. Dokter Skak terlihat seperti bola gendut besar. Dia tersenyum, lalu....
Duaaaaaaaaaaaaarrrrrgghhh!!
Tubuh dokter Skak meledakkan menjadi cairan - cairan yang berpencar ke segala arah. Cairan tersebut mengenai seluruh area ruang depan kantor bekas Anci. Seluruh anggota polisi yang mengepung dokter Skak tidak dapat menghindari cairan tersebut.
"Aaaarggghhh panas!!! Arrrrghhhh apa ini?!!"
Banyak polisi yang berteriak kesakitan karenan cairan slime yang mengenai tubuh mereka itu melelehkan daing mereka. Seketika para polisi itu ambruk tidak bernyawa.
Slime - slime itu ternyata merupakan racun yang mampu melelehkan daging. Seluruh polisi yang tewas itu meleleh hingga tinggal tulang mereka. Mengerikan!!
Slime - slime yang berpencar itu lalu menyatu kembali dengan cepat membentuk sebuah bola slime besar lagi. Perlahan namun pasti wujud bola slime besar tersebut berubah menjadi tubuh dokter Skak seperti sedia kala.
"Kalian pikir kalian mampu mengalahkanku hah? Skahahaha...." Ucap dokter Skak sembari melewati mayat berserakan yang tinggal tulang belulang tersebut.
-----
Dipaidi dengan cepat menggenjot sepeda bututnya ke arah kantor bekas Anci. Suara deruman motornya menggema di jalan raya Agung.
Ngeeeenggg ogrok ogrok... Ngeeeng ogrok ogrok!
Siang itu mulai beranjak sore. Pak Gaelani yang tubuhnya sudah sembuh melihat Dipaidi yang melaju kencang tersebut. Jiwa pembalap Pak Gaelani pun bangkit kembali.
Pak Gaelani segera menggenjot becaknya yang sudah dia modifikasi karena dihancurkan Ladusong. Becak itu dia namai "Rudolfo Evolution".
"Hay Pak Dipaidi! Buru - buru amat mau kemana?" Tanya Pak Gaelani.
"Ini mau menuju ke kantor bekas Anci!" Jawab Dipaidi.
"Wah kebetulan tuh! Saya juga mau ke sana! Ayuk balapan?" Ajak Pak Gaelani.
"Hah?!!" Ucap Dipaidi yang melongo.
Kampretttt!! Gua kagak ada waktu buat balapan ama lu dasar kacang kuaci!!! Teriak Dipaidi dalam batinnya.
Diamnya Dipaidi disalah artikan Pak Gaelani sebagai tanda setuju untuk balapan. Pak Gaelani segera menggenjot becak rudolfo evolution-nya berusaha menyalip Dipaidi.
Wuuuuzzzzzzzzz!!!
Dengan mudahnya sepeda motor Dipaidi diasapi oleh becak milik Pak Gaelani.
"Rasakan itu anak muda!! Gaeahahahaha..!" Teriak Pak Gaelani.
"Gua kagak ada waktu balapan ama lu anak tua!!" Umpat Dipaidi mulai emosi.
Mendengar umpatan Dipaidi yang emosi malah membuat Pak Gaelani kesetanan. Dia mengibaskan becaknya ke kiri dan kanan menghalangi laju sepeda motor butut milik Dipaidi.
Dipaidi mulai emosi. Dia pun segera menggeber motornya mencari celah menyalip becak Pak Gaelani. Tapi ternyata kemampuan blokade jalanan milik Pak Gaelani tidak dapat ditembus oleh Dipaidi.
"Bagaimana anak muda?! Inilah kemampuan master dari seorang pembecak sejati!! Gaeahahaha!!" Teriak Pak Gaelani mencemooh Dipaidi.
Dipaidi pun segera menghujamkan sepeda motornya saat akan melewati gundukan tersebut. Lalu dengan sebuah tekanan dari gundukan jalan itu dia angkat sepeda motornya sehingga meloncat dan melayang di udara.
Pak Gaelani yang melihat hal tersebut tidak mau menyerah begitu saja. Dia juga mengangkat becaknya hingga meloncat juga ke udara.
Motor Dipaidi dan becak Pak Gaelani sama - sama melayang di udara. Keduanya saling menatap, dan mereka berdua sama - sama mengerti bahwa pertarungan di udara ini harus di selesaikan dengan adu auman singa.
Mereka berdua pun saling mengeluarkan auman singa mereka!
"Dasar remahan rengginang!" Mulai Pak Gaelani.
"Dasar tutup odol!" Balas Dipaidi.
"Muka lu kayak bakpao!"
"Hidung lu kayak ulat berbulu!"
"Ngaca lu? Emang di rumah lu gak ada kaca?!"
"Gue? gue?! Elu yang harusnya ngaca!!"
"Tuh muka apa panci, banyak amat minyaknya!"
"Lu, gue, end!! Talk to my hand dasar tatakan panci!"
Keduanya pun saling mengaum hingga akhirnya kendaraan mereka menghujam kembali ke jalan aspal.
Baaammmmmmmm!!
Dentuman kendaraan mereka begitu keras terdengar.
Kantor bekas Anci sebagai tempat finish mulai terlihat. Dipaidi dan Pak Gaelani memacu kendaraan mereka habis - habisan. Peluh keringat mengalir di tubuh mereka masing - masing.
Dan akhirnya......
Finish!!!!
Mereka berdua lagi - lagi seri!
"Wahhh... Udah dua kali nih kita seri Pak Dipaidi. Gaeahahaha...." Tawa Pak Gaelani dengan lepas.
"Bodho amat!!! Gua lagi ada hal penting!!!" Teriak Dipaidi.
Dipaidi segera membanting motornya dan berlari ke arah pintu masuk kantor bekas Anci. Pak Gaelani yang penasaran pun akhirnya turun dari becaknya dan segera menyusul Dipaidi.
Ketika pintu depan dibuka betapa terkejutnya Dipaidi dan Pak Gaelani dengan apa yang mereka lihat. Tulang - tulang berserakan benyak sekali. Tampaknya itu adalah beberapa polisi yang berjaga. Mereka seperti meleleh terkena zat yang mengerikan.
"Gila apa - apaan ini?!" Teriak Pak Gaelani.
"Tadi dokter Skak ke sini." Jawab Dipaidi singkat.
Dipaidi segera berlari ke sana kemari mengelilingi ruangan demi ruangan di kantor bekas Anci. Tapi semuanya kosong. Tidak terlihat tanda - tanda keberadaan dokter Skak.
"Kampret! Dimana dia?" Ucap Dipaidi.
"Jangan - jangan di jalur bawah tanah." Jawab Pak Gaelani sekenanya.
Dipaidi kaget. Ah benar juga, kan ada jalur bawah tanah.
Dipaidi segera membuka pintu jalur bawah tanah diikuti oleh Pak Gaelani di belakangnya. Mereke berdua menuruni tangga menuju ke bawah yang sempit. Lalu mereka keluar dari sebuah pintu besi tua. Mereka tiba di pelataran bawah tanah dengan aliran sungai di sampingnya.
Dipaidi melihat ke sekitar tapi ternyata juga kosong tidak ada tanda - tanda keberadaan dokter Skak.
Tiba - tiba tanah bergetar. Lantai dibawah mereka terbuka! Dipaidi dan Pak Gaelani segera melompat mundur.
Ternyata ada ruangan bawah tanah lagi di dalam ruang bawah tanah!!
Di lantai yang terbuka itu muncul dokter Skak dengan seseorang yang tampak familiar bagi Dipaidi dan Pak Gaelani.
"Luahahahahaha........!!" Tawa orang tersebut memenuhi ruangan bawah tanah.