Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 34: Bahkan Kebodohan pun adalah Nikmat


Malam mulai semakin dingin. Langit seakan meniupkan kantuk yang amat sangat berat. Pak Gaelani kala itu tertidur di atas becaknya samping trotoar jalan Agung yang merupakan jalan aspal satu - satunya di desa KangAgung. Dengan berselimutkan sarung Pak Gaelani menggigil menahan hawa dingin yang menusuk - nusuk tubuhnya.


Pak Gaelani merupakan pembecak satu - satunya di desa KangAgung. Dia sudah menekuni dunia perbecakan tak kurang dari sepuluh tahun. Di jalanan aspal desa KangAgung itu tidak ada satupun yang tidak tahu kemampuan masternya dalam mengendarai becak.


Becak Pak Gaelani dinamainya Rudolfo. Begitu sayangnya Pak Gaelani pada becaknya itu. Seluruh hidupnya telah dia curahkan pada becaknya. Sangking sayangnya Pak Gaelani pada becaknya itu hingga kini akhirnya dia belum menikah juga di usianya yang telah menginjak empat puluh tahun lebih.


Kalau ditanya tentang menikah, pasti dengan cepat Pak Gaelani langsung menjawab, "Cintaku hanya ku persembahkan pada Rudolfo". Gila gak tuh?!! Gila!!! Tapi siapapun bisa menjadi gila zaman ini di desa KangAgung. Benar dan salah hanyalah suatu kata klise untuk menenangkan hati atau menyakiti hati orang lain.


Malam itu Pak Gaelani tidur dengan nikmatnya di becaknya. Tampaknya terasa nyaman sekali walaupun hawa dingin menggelitik seluruh tubuhnya.


Bruakkkkkk....!!!


Tiba - tiba becak itu ditendang oleh si nenek Faynem. Sangking kagetnya Pak Gaelani menjadi latah dengan bahasa banci, "Eh pentong eh pentong.... ihhhh akika kagura....!"


Eh???? Si nenek Faynem melongo melihat Pak Gaelani menjadi latah.


Begitu melihat nenek Faynem maka Pak Gaelani membusungkan dadanya kembali layaknya pria sejati sambil menahan malu.


"Eh nenek Faynem bikin kaget saja. Kenapa nek? Butuh tumpangan?" Tanya Pak Gaelani.


Nenek Faynem pun menjawab, "Iya! Anterin gua ke rumah Pak Kaji Dauh, yang cepet!".


Sebagai master tukang becak, Pak Gaelani langsung menyiagakan becaknya. Mengelap tempat duduk becaknya, mengecek rantai dan rem becak, lalu mengayuh saat si nenek Faynem sudah duduk di becaknya. Becak tersebut mengayuh dengan irama santai namun lumayan cepat. Kemampuan cepat sampai tetapi tetap membuat nyaman pelanggan telah dipelajari Pak Gaelani dengan seksama selama ini.


Tak disangka dari arah belakang muncullah Pak Icong dengan mendorong gerobak kacangnya.


"Eh Pak Icong semangat banget dorong gerobaknya." Sapa Pak Gaelani basa - basi.


"Iya Pak Gaelani, hari ini lumayan laku banyak! Jadi semangat saya dorong gerobaknya. Serasa tidak ada yang mampu menyalip saya hari ini, Iahahaha.....", Jawab Pak Icong dengan bercanda.


Mendengar jawaban Pak Icong, tiba - tiba jiwa pembalap Pak Gaelani tergelitik. Pak Gaelani pun menantang Pak Icong, "Ayuk sini balapan gerobak lu sama becak gua!"


Merasa ditantang maka Pak Icong pun tidak mundur, "Ayuklah! Gua siap libas lu malam ini Pak Gaelani!". Keduanya pun bersiap balapan dengan finishnya rumah Pak Kaji Dauh.


Faynem yang menumpang di becak Pak Gaelani hanya melongo. Woooooiiii balapan macam apa ini?!! Masak becak mau balapan sama orang yang dorong gerobak?!!! Batin Faynem.


Duasshhhhhhhhhh!!!


"Inilah kekuatan dari pedagang kacang yang sedang laris dagangannya, iahahaha!!" Ucap Pak Icong sembari tertawa terbahak - bahak ketika melibas becak Pak Gaelani.


Pak Gaelani tampaknya masih terlihat santai. Di depan jalan terlihat tikungan sembilan puluh derajat yang terkenal di jalan Agung tersebut.


"Inilah saatnya kutunjukkan performa sebenarnya dari becak andalanku! Maju Rudolfo!!" Teriak Pak Gaelani membara.


Dan benar saja! Di tikungan tersebut Pak Gaelani melakukan manuver legendanya dan melibas Pak Icong dan gerobaknya. Pak Icong kaget dan tidak berkutik, tampaknya balapan ini akan dimenangkan oleh Pak Gaelani, tapi ternyata.....


Tapi ternyata Pak Gaelani mulai mengalami rintangan. Dan rintangan itu berasal dari si nenek Faynem yang kaget karena manuver mendadak dari Pak Gaelani tadi!


"Dasar panci bolong! Kalau bawa penumpang hati - hati! Gua udah tua!! Ingat jantung gua! Jantung gua!!", si nenek Faynem terus mengumpat sembari memukuli kepala Pak Gaelani.


"Ampun nek, ampun.....", Pak Gaelani berusaha bertahan dengan satu tangan melindungi kepalanya dari pukulan si nenek Faynem sementara tangan yang satunya masih memegang setir becaknya. Dan akibat pukulan bertubi - tubi tanpa henti dari si nenek Faynem, becak Pak Gaelani pun menjadi mulai melambat.


Melihat becak Pak Gaelani yang melambat maka Pak Icong pun merasa ada kesempatan untuk menyalip. Dia dorong gerobaknya dengan kekuatan penuh seorang pedagang yang telah menekuni dunianya selama bertahun - tahun. Kaki - kaki seorang pejuang keluarga benar - benar tak terbantahkan! Sedikit demi sedikit Pak Icong mulai menyusul!


Melihat Pak Icong mulai menyusulnya, Pak Gaelani mulai panik. Tidak, tidak, tidak! Dia tidak boleh dikalahkan saat ini! Reputasi sebagai master di dunia perbecakan sedang dipertaruhkan saat ini, Pak Gaelani tidak mau dirinya dikalahkan begitu saja. Dengan tetap dihujani pukulan nenek Faynem dia pun terus menggenjot becaknya. Rintangan berupa pukulan dari nenek Faynem dia terima begitu saja demi menjaga harga diri sebagai raja jalanan desa KangAgung.


Rumah Pak Kaji Dauh mulai terlihat. Kedua petarung ini mengeluarkan seluruh semangat dan potensinya. Butir - butir keringat mulai mengaliri tubuh keduanya. Inilah pertarungan sejati antara dua pria sejati. Mereka mulai mendekati finish bersamaan dan akhirnya....... Finish!!!


Ternyata pemenangnya adalah Pak Gaelani!!!


Setelah sampai di depan rumah Pak Kaji Dauh, Faynem pun turun. Memberi uang jalan pada Pak Gaelani yang mukanya sudah bonyok dipukulinya.


Faynem langsung memasuki rumah Pak Kaji Dauh. Diketuknya pintu tiga kali. Tak selang berapa lama Pak Kaji Dauh keluar dan kaget, "Loh Faynem! Ngapain malem - malem ke sini?"


"Ada kabar penting. Ini berkaitan Insur." Jawab Faynem.


Mendengar nama Insur disebut, Pak Kaji Daub langsung serius dan mempersilahkan nenek Faynem masuk, "Mari duduk dulu, kita bicarakan lebih jelas."


Faynem pun duduk dengan tidak sabaran. Tanpa basa - basi Faynem pun langsung menjelaskan semuanya, "Besok Insur mau menggerakkan anggota Serigala Tanah untuk membunuh Ladusong. Tidak semua anggotanya. Hanya White Snow dan Pak Atu beserta anak buahnya yang bersedia. Nansu dan anak buahnya menolak. Jadi langsung saja Pak Kaji Dauh, kedatangan saya ke sini hanya menghimbau agar saya dan kamu tidak perlu datang ke acara pemilihan komandan militer desa KangAgung besok. Jika kita datang dan ikut campur maka saya khawatir hal ini malah hanya akan menimbulkan gejolak yang lebih besar lagi."


Pak Kaji Dauh syok mendengar berita itu. Dia terdiam sejenak. Tampaknya menimbang keputusannya. Setelah mantap, dia pun berkata pada Faynem, "Iya. Aku tidak akan datang."


Mendengar jawaban itu Faynem pun segera pulang berjalan kaki. Di tengah jalan Faynem sempat melihat Pak Gaelani dan Pak Icong yang tengah asyik makan kacang dagangan Pak Icong. Faynem pun membatin, ah enaknya jika kita tidak tahu apa - apa. Kadang kebodohan pun adalah bentuk nikmat dari Tuhan.