Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 19: Rapat Besar Empat Pilar


Hari mulai menjelang sore. Warna merah akibat sinar matahari yang akan tenggelam menyoroti desa KangAgung. Sinar tersebut perlahan mulai meredup dan malam menyelimuti desa KangAgung secara perlahan namun pasti. Kelelawar mulai keluar dari tempat persembunyiannya sebagai pertanda malam akan segera tiba.


Pak Kaji Dauh saat itu pergi ke penjara satu - satunya milik desa KangAgung. Di penjara tersebut banyak sekali kriminal - kriminal desa KangAgung. Tidak jarang pula beberapa orang yang sebenarnya bukan pelaku kejahatan tetapi dicap sebagai penjahat karena dikhawatirkan mengusik kekuasaan Dia Sang Penguasa Desa.


Yang baru - baru ini banyak masuk penjara adalah para anak buah Ladusong. Mereka dianggap kriminal karena melakukan tindakan yang mampu mengusik kedamaian desa KangAgung.


Pak Kaji Dauh yang merupakan pimpinan tertinggi penjara desa KangAgung sendiri sebenarnya masih ragu atas jawabannya akan apa yang disebut sebagai kebenaran. Eksekusi Surin dua tahun yang lalu benar - benar mengusik sisi kebenaran dalam dirinya. Apa itu kebenaran?


Pak Kaji Dauh mulai menyeruput kopi di kantornya dan menyalakan rokok. Pikirannya sedang melayang - layang memikirkan jalan hidup yang dia tempuh selama ini. Dan lagi - lagi Pak Kaji Dauh teringat ekspresi Surin ketika akan dipenggal didepan publik. Dia tersenyum!


Apakah Surin sudah menemukan kebenaran dalam hidup sehingga mati pun dia rela? Apakah di akhir hidupnya Surin menemukan kebenaran tentang hidup?


Pak Kaji Dauh menghela napasnya dalam - dalam. Pintu kantornya tiba - tiba didobrak oleh salah satu sipir yang segera melapor, "Lapor! Gawat Pak! Kloning Ladusong dan dokter Skak sedang menuju dalam penjara!"


"Apa?!" Teriak Pak Kaji Dauh.


"Kloning Ladusong dan dokter Skak sedang menuju ke dalam penjara!" Ulang sipir tersebut.


"Dimana mereka sekarang?!" Tanya Pak Kaji Dauh.


"Mereka berada di depan gerbang penjara pak! Beberapa polisi berjaga di depan gerbang menunggu perintah dari anda!" Jawab sipir itu.


Pak Kaji Dauh segera berlari ke arah depan. Dia menaiki tangga menuju atap penjara. Tiba di lantai atap penjara sudah banyak polisi yang berjaga.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Pak Kaji Dauh.


"Lapor. Tampaknya mereka belum bergerak." Ucap salah seorang ketua regu penembak jitu.


Pak Kaji Dauh melihat ke bawah. Terlihat kloning Ladusong yang sedang merokok cerutu besar dan dokter Skak yang berkacak pinggang.


"Apa yang kalian inginkan hah?" Teriak Pak Kaji Dauh.


"Oh Pak Kaji Dauh. Kami ke sini ada urusan sebentar untuk membebaskan anak buah Ladusong yang kalian tangkap! Skahahaha!" Ucap dokter Skak.


"Tidak akan. Ladusong sudah mati di tangan Insur. Sekarang dia kloning Ladusong hanya mempunyai setengah dari kekuatan aslinya. Sebaiknya kalian saja yang menyerahkan diri untuk kamj tangkap!" Ucap Pak Kaji Dauh.


"Ow ow oww.. aku takut. Skahahaha.... Benarkah hanya setengah kekuatan aslinya?" Cemo'oh dokter Skak.


Dokter Skak memberi tatapan pada kloning Ladusong. Kloning Ladusong pun segera maju dan mengarahkan Max Elbow nya ke arah gerbang besar penjara.


Duuuuuuuuaaaarrr Bbaaaaammmzz!


Gerbang penjara yang tingginya hampir dua puluh meter itu berguncang keras hingga menimbulkan gempa. Semua polisi segera tiarap.


"Gila kekuatan besar apa itu? Itu bukan ledakan, tapi kekuatan gempa!" Ucap salah seorang sipir.


Pak Kaji Dauh mengernyitkan kening berfikir tajam. Kekuatan Ladusong adalah ledakan. Tapi kenapa sekarang kekuatan kloning Ladusong adalah gempa yang sangat sebesar itu?


"Bagaimana Pak Kaji Dauh. Itu adalah peringatan dari kami. Kalau kamu tidak mau melepaskan anak buah Ladusong maka akan kami ratakan penjara ini dengan tanah! Skahahaha...." Ucap dokter Skak.


"Kekuatan macam apa itu? Bukannya kekuatan Ladusong adalah ledakan?" Ucap Pak Kaji Dauh.


"Aku telah mengekstraksi batu darah dalam tubuh kloning Ladusong ini. Kamu tahu sendiri kan mengerikannya kekuatan batu darah ini? Skahahaha..." Ucap dokter Skak merasa di atas angin.


"Aku ulangi pertanyaanku. Kamu mau membebaskan para anak buah Ladusong atau kami ratakan penjara ini dengan tanah hah?!" Teriak dokter Skak.


"Baik! Kami akan melepaskan anak buah Ladusong!" Ucap Pak Kaji Dauh.


"Bagus, bagus... Pilihan yang tepat.. Skahahaha!" Ucap dokter Skak.


Pak Kaji Dauh segera memberi perintah anak buahnya untuk membebaskan anak buah Ladusong.


"Bebaskan seluruh anak buah Ladusong!" Perintah Pak Kaji Dauh.


"Ta... tapi pak..." Ucap ketua penjaga sipir.


"Ini perintah!!" Teriak Pak Kaji Dauh.


"Baik, laksanakan!" Jawab si ketua penjaga sipir tersebut.


Seluruh anak buah Ladusong akhirnya dibebaskan. Gerbang penjara terbuka dan seluruhnya segera berkumpul di depan kloning Ladusong dan dokter Skak.


"Hidup kloning Ladusong!!"


"Hidup dokter Skak!!"


Mereka pun berteriak penuh kegembiraan.


Gerbang penjara tertutup kembali dengan suara dengungan besar. Pak Kaji Dauh yang menatap dari arah atas penjara merasa ngeri. Dia harus segera melaporkan kejadian tersebut pada Dia Sang Penguasa Desa.


Kloning Ladusong dan dokter Skak beserta seluruh anak buah Ladusong berjalan menuju ke arah barat melalui tepi jurang di samping penjara desa KangAgung. Tampaknya mereka akan menuju pusat militer yang berada di perkantoran sisi barat sungai Tasbran.


"Ini gawat. Kalian semua sekarang tetap siaga di sini. Aku akan membuat rapat darurat dengan empat pilar Elang Langit yang tersisa!" Ucap Pak Kaji Dauh pada anak buahnya.


Rapat besar empat pilar Elang Langit pun segera diadakan dengan mendadak di gedung pusat pemerintahan desa KangAgung. Pak Kaji Dauh dan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung sudah menduduki kursi besarnya masing - masing. Di sisi kanan Dia Sang Penguasa Desa terdapat Nin nin tangan kanannya. Sementara Pak Kaji Dauh tampak sendirian. Sembari menunggu kedatangan Tengud, Dia


Sang Penguasa desa pun mengajak mengobrol Pak Kaji Dauh.


"Pak Kaji Dauh. Jarang - jarang sekali anda datang tanpa Pantam tangan kanan anda itu." Ucap Dia membuka obrolan.


"Oh, Pantam sedang bersama Insur di pemukiman pantai Kecoak." Jawab Pak Kaji Dauh.


"Apa?!!" Tiba - tiba Dia terperanjat kaget.


"Ada apa?" Tanya Pak Kaji Dauh.


"Oh tidak apa - apa. Tidak apa - apa, diahahaha..." Tawa Dia menyembunyikan kekagetannya.


Pak Kaji Dauh merasa ada yang disembunyikan Dia Sang Penguasa Desa. Tapi pikiran itu terhenti saat Tengud memasuki ruangan rapat dengan ke-empat anak buahnya yang semuanya adalah ibu - ibu raja gosip di desa KangAgung.


"Hello gaes... Maaf datang terlambat. Biasalah ada bisnis uang. Dan uang adalah segalanya bukan? Teahahaha...." Ucap Tengud dengan santainya.


Tengud segera duduk dengan satu kaki diangkat di atas meja. Sungguh tidak sopan. Dia Sang Penguasa Desa mengabaikan ketidak sopanan Tengud.


"Baiklaha. Rapat empat pilar Elang Langit akan segera kita mulai. Selain anggota empat pilar Elang langit silahkan keluar." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Nin nin dan ke-empat ibu - ibu anak buah Tengud pun keluar dari ruangan tersebut. Kini di ruangan tersebut tinggal Dia Penguasa Desa, Pak Kaji Dauh, dan Tengud. Rapat besar empat pilar kubu Elang Langit pun dimulai!