
Di Lapangan Oliv telah berkumpul beberapa polisi. Mereka mengelilingi sisi sekitar lapangan tersebut. Komandan Ladusong menyeringai sembari menyulut satu batang rokok ketika dilihatnya Insur datang dengan menenteng pedang hitamnya.
"Ah ini dia orang yang kita tunggu." Ucap Ladusong.
Insur berjalan santai dan menatap lurus ke depan, melewati beberapa polisi yang berjaga. Tepat di depan komandan Ladusong dia berhanti, menatap mata Ladusong dalam - dalam.
Tanpa berkata - kata, Insur dan Ladusong menuju tengah lapangan Oliv. Duel keduanya sudah tidak dapat dihindarkan. Kerumunan warga segera membludak demi melihat duel yang menegangkan ini. Pantam yang merupakan sahabat Insur pun juga hadir dengan Bambang.
"Aduh gawat nih Tam. Bulu kuduk gua merinding." Ucap Bambang membuka pembicaraan.
Pantam membuka bungkus rokoknya, lalu mengambil satu batang rokok dan menyalakannya, "Mau bagaimana lagi Bambang."
Bambang ikut mengambil rokok milik Pantam dan menyalakannya.
Suasana menegang. Ladusong mengeluarkan pedang raksasa miliknya. Ukuran pedang yang begitu besar itu tidak akan muat diangkat seseorang. Biasanya membutuhkan minimal kekuatan lima orang untuk mengangkatnya. Tapi tidak bagi Ladusong, karena dia dengan mudah mampu mengangkat pedang besar dengan satu tangan dan mengibaskannya ke samping kiri dan kanan seperti melakukan pemanasan.
Insur tetap tenang dengan pedang miliknya. Pedang hitam legam milik Insur merupakan jenis samurai. Insur mengeluarkan pedang dari sarung pedang. Keduanya saling menatap tajam dan saling menunggu serangan dari lawan.
Suasana pagi menanjak siang hari itu begitu membuat tercengang beberapa warga dan polisi yang berjaga di sekitar lapangan Oliv. Begitu juga bagi Faynem dan pak kaji Dauh.
"Ahhh sudah kubilang kali ini Ladusong melakukannya secara berlebihan kan?" Tanya Faynem yang meminta persetujuan pak kaji Dauh.
"Aku juga sudah sebisaku berusaha agar hal ini tidak terjadi. Hemmm... tapi apa daya...." Kata pak kaji Dauh yang sebenarnya sudah mengusahakan agar hal ini tidak terjadi dari jauh - jauh hari. Mulai saat pak kaji Dauh membebaskan Insur, lalu membebaskan almarhum pak Cik dari penangkapan di kantor militer desa KangAgung. Tapi apa daya semua yang dia lakukan ternyata tidak dapat mengantisipasi kejadian buruk ini.
Tiba - tiba Ladusong merangsek ke depan, mengayunkan pedang besar miliknya ke arah Insur. Insur dengan siaga segera melompat ke atas menghindari serangan dadakan Ladusong. Sembari masih di atas Insur memegangi samurai hitam miliknya dengan kedua tangan lalu mengayunkannya ke arah Ladusong sambil mendarat. Bammmmmmm!!!!!
Samurai milik Insur hanya mengenai tanah, ternyata Ladusong menghindar dengan cepat membanting tubuhnya ke samping. Bukan hanya menghindari serangan balik Insur tetapi Ladusong juga melakukan serangan lagi dengan mengayunkan pedang besar miliknya ke arah Insur yang baru saja mendarat. Serangan Ladusong sudah tidak mungkin dihindari lagi! Insur dengan segera bertahan menggunakan samurai hitamnya untuk memblokir ayunan pedang besar Ladusong.
Duaaaasssshhhhhh.....!!
Sebuah percikan api terlihat saat terjadi benturan antara samurai milik Insur dan pedang besar Ladusong. Insur terpental ke belakang sekitar delapan sampai sepuluh meter. Kekuatan pedang besar Ladusong terlalu kuat, mustahil untuk memblokir secara sempurna dari serangan pedang yang sebesar dan seberat itu.
"Luahahaha.... Bagaimana Sur? Pedang besarku ini pernah kugunakan untuk memenggal banyak orang dari kubu Serigala Tanah! Dan dia masih haus darah, luahahaha...." Gema teriakan Ladusong terasa mengerikan.
Inilah kekuatan besar salah satu dari empat pilar tertinggi kubu Elang Langit. Insur diam. Dia dengan segera berlari ke arah Ladusong. Ladusong pun dengan cekatan mengayunkan pedang besarnya dengan arah vertikal dari atas ke bawah. Insur melakukan manuver menyamping menghindari ayunan pedang besar Ladusong.
Pedang besar Ladusong menimbulkan suara besar saat menghantam tanah, membelah tanah hingga retak - retak dan menciptakan debu sesaat. Pandangan mata Ladusong terhalangi, tapi insting bertarungnya dengan sigap mengetahui Insur melakukan sabetan samurainya dari arah samping kirinya. Ladusong sedikit terlambat menghindarkan hingga sabetan pedang Insur mengenai tulang rusuk kirinya
Syyyyyrrrraaaaattssshh.........
Darah pertama telah mengucur di lapangan Oliv.
"Kurang ajar kamu Sur!!" Teriak Ladusong sembari tangan kiri memegangi lukanya dan tangan kanan masih memegang pedang besarnya. Sementara Insur masih menatap tajam, siap melakukan serangan selanjutnya.
Sementara itu di samping lapangan Oliv Faynem si nenek tua pun berkomentar, "Insur memang terkenal dengan kecepatannya. Kecepatan dan kelincahannya hampir setara dengan surin sang kegelapan."
Pak kaji Dauh pun menimpali, "tentu saja, karena memang hanya Insur yang bisa mengalahkan Surin dan menangkapnya hingga akhirnya kami kubu Elang Langit mampu memenangi perang besar empat tahun yang lalu."
Faynem hanya memandang pak kaji Dauh sesaat. Pak Kaji dauh meneruskan kembali penjelasannya, "Sayang setelah kami kubu Elang Langit menang, Insur malah memilih hidup damai menjadi pengangguran dan menjauh dari kubu Elang Langit. Dari dulu dia memang tidak pernah memihak pada kubu Elang Langit maupun kubu Serigala Tanah. Insur adalah orang luar."
Oak kaji Dauh berhenti sejenak, memandang dengan air muka mendalam sementara Faynem mendengarkannya. Pak kaji Dauh berkata lagi, "Bagi Ladusong, Insur yang mengalahkan Surin merupakan kejadian memalukan bagi kubu Elang Langit. Seakan - akan kubu Elang Langit membutuhkan bantuan Insur untuk kemenangan atas Serigala Tanah. Dan kebencian Ladusong masih tertanam. Sekarang... Ahhh.... Jadi pertarunngan keduanya memang sudah tidak dapat dihindari."
Kembali ke tengah lapangan dimana pertarungan Insur dan Ladusong masih berlangsung. Ladusong telah terluka pada sisi kiri rusuknya, tetapi ternyata hal itu tidak menurunkan semangat tempurnya. Dia malah semakin menjadi - jadi. Ladusong merangsek maju mengayunkan pedang besarnya ke kiri dan kanan sehingga tidak ada ruang untuk Insur menghindari serangan. Insur tetap tenang, dia mulai berlari maju dan tepat saat pedang besar Ladusong akan mengenainya dia melompat ke atas. Insur mendarat di sisi belakang Ladusong lalu dengan sigap menebaskan samurainya pada punggung Ladusong!
Tapi ternyata Ladusong sudah memperkirakan pergerakan Insur itu!! Ladusong memutar tubuhnya dengan cepat dan mengayunkan pedang besarnya secara hoizontal. Insur tergelak tebasannya terhenti dan dia membalikkan pedangnya untuk menahan serangan dadakan Ladusong.
Duassshhhhhhhh.....
Kembali terlihat percikan api saat kedua pedang itu bersentuhan, Insur terpelanting ke belakang, menabrak sebuah batu besar di lapangan tersebut.
"Luahahaha.... aku sudah memperkirakan pergerakanmu itu!!!" Tawa Ladusong.
Insur segera bangkit. Disekanya darah yang keluar dari mulutnya. Insur tiba - tiba menyarungkan pedangnya lalu membentuk sebuah kuda - kuda. Suasana lapangan menjadi berubah. Semua penonton kejadian tersebut menahan napas sesaat melihat kuda - kuda Insur. Angin bertiup di lapangan Oliv. Daun - daun berguguran menambahkan suasana aneh saat itu.
Ladusong yang melihat Insur pun tergelak dan berkata, "Jadi ini kuda - kuda legendaris yang pernah mengalahkan Surin itu! Kuda - kuda serangan sang legenda pembantai!"
Angin berhembus kencang menyelimuti lapangan Oliv secara tak berarturan....