Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 42: Sekarang Bukanlah Dulu


Hujan semakin deras. Para pasukan desa KangAgung dan pasukan pemberontak terus bertarung di tengah derai hujan. Pertarungan menjadi bergerilya di gang - gang perumahan Bangau Putih. Ada juga beberapa pasukan yang saling menembak di dalam ruangan rumah. Para Sniper memilih bertengger di atap - atap rumah.


Terlihat Insur dan Dipaidi menyerang kloning Ladusong secara bersamaan. Meskipun telah kehilangan tangan kanannya, Dipaidi ternyata masih mampu bertarung cukup baik dengan menggunakan tangan kirinya. Bahkan kemampuan berpedangnya terlihat lebih baik dari pada sebelum kehilangan tangan kanannya.


Kloning Ladusong menghindari beberapa sabetan pedang dari Dipaidi. Insur meloncat ke depan, menebaskan samurai hitamnya secara vertikal ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong melompat mundur menghindari tebasan Insur. Belum sempat menyiagakan tubuh, kloning Ladusong diserang bertubi - tubi oleh sabetan pedang Dipaidi. Gerakan sabetan pedang Dipaidi tampak seperti tarian air yang mengalir.


Kloning Ladusong tersabet pedang beberapa kali pada tubuhnya. Lalu dia menendang tubuh Dipaidi hingga terpental ke belakang.


"Jurus berpedang apa itu? Seperti sebuah air mengalir yang tiada putusnya." Ucap kloning Laduaong.


Insur pun juga heran dengan teknik pedang yang digunakan Dipaidi. Setahu Insur, kemampuan Dipaidi adalah serangan jarak jauh menggunakan pistolnya. Insur tidak tahu kalau kali ini Dipaidi menggunakan jurus pedang yang terasa asing baginya.


Dipaidi tersenyum lalu berkata, "Ini adalah jurus pedang yang aku dapatkan saat kehilangan tangan kananku. Saat itu......"


Dipaidi pun menceritakan kisahnya....


-----


Satu bulan yang lalu saat kloning Ladusong dan dokter Skak menyerang kantor pusat militer desa KangAgung.


Kantor pusat militer desa KangAgung telah dikuasai seluruhnya oleh pasukan pemberontak. Di atap gedung kantor tersebut terlihat kloning Ladusong yang mengangkat tubuh Dipaidi dengan satu tangan. Terlihat darah mengalir dari bekas tangan kanan Dipaidi yang telah diputus oleh kloning Ladusong.


"Dasar pecundang. Matilah kamu Dipaidi!" Teriak kloning Ladusong sambil melempar tubuh Dipaidi ke bawah.


Tubuh Dipaidi terjatuh meluncur ke bawah dan menabrak beberapa pohon besar hingga akhirnya terjungkal ke samping sebuah sungai kecil di hutan. Hutan tersebut terletak di sisi selatan kantor pusat militer desa KangAgung.


Dipaidi yang dikira telah meninggal itu ternyata masih hidup. Dia berusaha berdiri tetapi jatuh. Tubuhnya sudah mencapai batas.


Dipaidi pun melata ke arah sungai. Meminum air sungai tersebut untuk memulihkan tubuhnya. Dipaidi harus kabur sebisa mungkin terlebih dahulu. Dia menenggelamkan dirinya ke arah sungai dan terhanyut oleh alirannya. Aliran sungai itu menghanyutkan tubuh Dipaidi. Dipaidi tak tahu kemana aliran sungai tersebut membawanya, karena dia sudah pingsan.


Pagi menjelang. Dipaidi mulai tersadar dari pingsannya. Dia tertidur dalam sebuah pondok kecil di hutan. Dilihatnya luka di bahunya sudah diobati dan diperban dengan rapi menggunakan sobekan kain. Dipaidi bangkit dari tempat tidur yang terbuat dari anyaman rotan tersebut.


Dipaidi keluar dari pondok itu. Dia mengamati suasana di sekitarnya. Dia tidak tahu dimana dia berada kini. Pohon - pohon besar dengan banyaknya semak belukar mengelilingi pondok sederhana tersebut.


"Kamu sudah sadar?" Ucap seorang kakek tua yang muncul dari balik semak - semak.


"Siapa kamu? Dimana ini?" Tanya Dipaidi.


Ptaaakkkkkkk!


Kepala Dipaidi langsung dipukul oleh tongkat yang dibawa kakek tua tersebut. Dipaidi terjungkal ke belakang sambil meringis kesakitan memegang kepalanya.


"Dasar tidak sopan! Sebelum bertanya tentang nama orang lain kamu harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu!" Teriak kakek tua tersebut.


"Ma... maaf kek. Nama saya adalah Dipaidi. Saya adalah komandan militer tertinggi desa KangAgung." Ucap Dipaidi memperkenalkan diri.


Ptaaaakkkkkkk!


Lagi - lagi kakek tua tersebut memukul kepala Dipaidi dengan kerasnya. Dipaidi segere menjerit kesakitan memegangi kepalanya yang telah benjol dua kali di pagi itu.


Dipaidi melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Pukulan kakek tua tersebut menjadi semakin beringas.


"Tapi saya beneran panglima tertinggi desa KangAgung kek!" Teriak Dipaidi.


"Kalau begitu apa passwordnya?" Tanya kakek tua tersebut.


"Password apaan?" Tanya Dipaidi keheranan.


"Tuh kan berarti kamu palsu! Dasar penipu!" Teriak kakek tersebut sembari kembali memukuli Dipaidi.


"Aduh... aduh... ampun kek! Passwornya... passwornya adalah... ulu ulu ulu puja kerang ajaib!" Teriak Dipaidi akhirnya asal - asalan mengucapkan passwordnya.


Si kakek tua tersebut tiba - tiba menghentikan pukulan tongkatnya. Lalu dia berdiri sopan dan berkata, "Kamu benar. Itulah passwordnya. Sekarang aku percaya."


Apaan?!!! Password apaan itu??!! Padahal gua ngawur ngucapinnya!!! Teriak Dipaidi dalam batin.


Akhirnya Dipaidi dirawat oleh kakek tua tersebut. Kakek tua tersebut juga menjelaskan kalau mereka sekarang berada di hutan perbatasan antara desa KangAgung dan desa Balatara. Kakek tua tersebut selama ini hidup sendirian sebatang kara di hutan tersebut.


Silih bergantinya hari akhirnya Dipaidi mulai membaik keadaannya. Dan entah mengapa ada ikatan emosional tersendiri antara Dipaidi dan kakek tua tersebut. Hingga akhirnya kakek tua tersebut berniat mewariskan ilmu pedangnya pada Dipaidi. Dipaidi awalnya menolak, tetapi setelah berpikir sejenak akhirnya Dipaidi setuju.


Dipaidi berpikir memang dia harus menjadi lebih kuat untuk mengalahkan kloning Ladusong. Beberapa latihan berat dijalani oleh Dipaidi. Berlatih bernapas dalam air, berjalan di atas air, makan di air, minum di air, mandi di air, buang air kercil di air..... Bentar - bentar, woooooi kenapa jadi aneh begini woooi!!!


"Apa - apaan sih latihan aneh ini kek?!" Teriak Dipaidi tak mengerti dan merasa konyol dengan latihan yang dilakukannya.


"Diam kamu kacang kuaci! Seorang murid itu harus menurut pada gurunya!" Teriak kakek tua tersebut dan memukul kepala Dipaidi dengan tongkat.


Akhirnya Dipaidi menjalani latihan - latihan yang diberikan kakek tua tersebut dengan terpaksa. Selang tak lama kemudian ternyata kakek tua tersebut meninggal. Sebelum meninggal dia mewariskan sebuah pedang berwarna biru pada Dipaidi.


-----


Kembali ke masa sekarang.


Dipaidi mengakhiri kisahnya. Lalu dia memasang sebuah kuda - kuda dengan pedang birunya. Hujan mengguyur seluruh tubuhnya.


"Sekarang akan kuperlihatkan sebuah jurus yang aku persiapkan untuk membunuhmu kloning Ladusong!" Teriak Dipaidi.


"Luahahaha! Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku dengan hanya latihan satu bulan dan pedang birumu itu?! Ayo! Majulah!" Teriak balik kloning Ladusong.


Insur mundur beberapa langkah ke belakang. Dia melihat dari kejauhan dan menyarungkan kembali samurai hitamnya. Tampaknya Insur hanya ingin menjadi penonton saja untuk saat ini.


Dipaidi mengeluarkan suatu aura kebiruan yang aneh. Air hujan yang berada di sekitar tubuhnya tiba - tiba berkumpul menjadi gelombang air yang berputar - putar di sekitar tubuhnya. Gelombang air tersebut semakin membesar dan terus membesar.


"Bagaimana mungkin? Bukankah ini jurus klan Samudra Biru?" Gumam Insur tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Kloning Ladusong yang melihat jurus Dipaidi itu kini bersiaga dengan kuda - kuda Max Elbow-nya. Tampaknya Dipaidi yang sekarang bukanlah Dipaidi yang dahulu dikenalnya. Dia sudah bertambah kuat.