Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 43: Harus Tetap Hidup


Pantam dan Dipaidi sudah tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ladusong kini berhadapan Pak Gaelani yang menggunakan sepeda butut Pantam.


Ladusong meremehkan Pak Gaelani. Dihisapnya rokok dengan santainya. Dia hembuskan asapnya ke depan dan berkata, "Ayolah. Kamu mau melawanku dengan sepeda butut itu? Bisa apa kamu? Luahahaha....."


Pak Gaelani tidak mempedulikan ejekan Ladusong. Dia menyentak sepeda butut itu ke arah Ladusong. Masih dengan tangan kiri yang menikmati rokok, Ladusong cukup mengibaskan tangan kanannya pada Pak Gaelani. Pak Gaelani pun berkelit, memutar sepedanya ke samping lalu menggenjot sepedanya kembali sambil mengelilingi Ladusong.


Ladusong memandang Pak Gaelani yang memutari dirinya dengan kecepatan penuh itu. Ditinjunya lantai ruangan itu.


Bammmmmmmm!!!


Lantai bergetar. Lantai di sekitar ruangan kantor bekas Anci itu retak dan terbelah - belah membuat Pak Gaelani terpental dengan sepeda bututnya.


"Dasar serangga." Umpat Ladusong.


Pak Gaelani pun segera bangkit dan mengendarai sepedanya kembali.


"Aku memang tidak mungkin bisa menang melawanmu. Tapi setidaknya aku harus bisa menyelamatkan Insur sekarang." Ucap Pak Gaelani.


Kabut tebal tiba - tiba menyelimuti seluruh ruangan tersebut. Ladusong merasa tidak asing dengan kabut putih tebal tersebut. Itu adalah jurus White Snow!


White Snow menghampiri Pak Gaelani sembari membopong Insur.


"Pak Gaelani, cepat bawa Insur kabur! Aku akan menahan Ladusong sebisaku!" Perintah White Snow.


Pak Gaelani langsung mengangguk.


Setelah Insur sudah diboncengnya, dengan segera Pak Gaelani menggenjot sepedanya keluar dari ruangan tersebut. Ladusong mengetahui hal tersebut dari deteksi tangan kanan robotnya. Dia pun segera berlari mengejar Pak Gaelani.


Srrinnnnnnnngggggg!!! Sringg!! Sriiinggg!!!


White Snow melempar pisau - pisau kecilnya ke arah Ladusong. Serangan itu ditepis Ladusong dengan tangan kanan robotnya.


"Dasar lalat kecil pengganggu!!" Teriak Ladusong.


Dia mengarahkan jurus Max Elbow-nya pada White Snow.


Duuuaaaaaarrrrr!!


Sebuah ledakan dari jurus Max Elbow tersebut mengenai White Snow yang secara tiba - tiba menghilang bersama kabut putihnya. Ladusong melihat Pak Gaelani dan Insur sudah keluar dari kantor dan berada di jalan raya Agung.


Ladusong segera menuju salah satu ruangan di kantor tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuat moge (motor gedhe). Ladusong segera mengendarai moge modifikasi ciptaan Anci tersebut. Dinyalakannya mesin moge dengan hentakan.


Brummmm!!! Bruuuummmm!!! Brummm!!


Suara moge tersebut menggema di seluruh ruangan. Moge tersebut melaju dan menabrak dinding kantor hingga roboh.


"Benar - benar kendaraan yang mengagumkan!! Luahahaha!!!" Ucap Ladusong dengan kerasnya.


Moge ladusong mulai berselancar di jalan raya Agung. Mulai menyusul Pak Gaelani dan sepeda bututnya. Sementara Pak Gaelani menggenjot sepeda bututnya mati - matian agar tidak tertangkap Ladusong.


Tepat sebelum jembatan Agung ada sebuah jalan di sisi samping sungai. Pak Gaelani melakukan manuver dan menukik tajam ke arah jalan tersebut. Ladusong segera menyusul dan melakukan manuver yang tak kalah cantiknya.


Ladusong memencet tombol merah di stang kanan motor nya. Dan sebuah rudal melesat ke arah sepeda Pak Gaelani di depannya. Dan rudal diluncurkan!


Siiiiiiuuuuwwwwwww...... Bluaaauauauaar!!!


Rudal tersebut dihindari Pak Gaelani dan mengenai sebagian tanah lapangan Oliv hingga menimbulkan dentuman yang sangat dahsyat.


"Gila!! Lu niat amat mau bunuh gua dan Insur!!" Umpat Pak Gaelani.


Malam mulai turun. Aksi kejar mengejar antara Ladusong dan Pak Gaelani masih terus berlanjut dengan berbagai tembakan rudal susulan.


Sebuah tembakan rudal hampir mengenai Pak Gaelani. Merasa tidak ada celah untuk kabur, Pak Gaelani segera membanting setir sepeda butut tersebut ke arah sungai.


Bluuaaauauauauaaar!!!


Pak Gaelani terselamatkan. Dia memacu sepedanya di atas aliran sungai Tasbran. Eh bentar - bentar. Dia memacu sepedanya di atas sungai?!! Ini gila!!


Itulah salah satu jurus mengerikan dari Pak Gaelani. Dengan pengalaman sebagai pembecak master di desanya, tidak ada satu medan pun yang tak dapat dia lalui. Inilah kekuatan seorang pembalap sejati.


Ladusong sempat melongo dan kaget sejenak saat melihat Pak Gaelani mampu bersepeda di atas air. Lalu serangan rudal kembali diluncur kan dari motor nya.


Siiiiuuuuwwwwwww!!! Bluaauauauuauaarrr!!!


Rudal tersebut mengenai aliran sungai. Menimbulkan ledakan yang membuat air sungai membuncah ke atas seperti air mancur besar. Pak Gaelani tetap dengan semangat mengayuh sepeda butut itu.


Dia sentakkan sepedanya ke atas, kembali pada jalan setapak di samping sungai Tasbran.


Di ujung jalan terlihat warung kopi mbak Moshi. Malam itu tampaknya warung tersebut sedang ramai. Para pengunjung warung dibuat kaget dengan kedatangan Ladusong dan Pak Gaelani. Ladusong menembakkan rudal terhakhirnya.


Siuwwwwwww!!!!


Kali ini Pak Gaelani tidak bisa menghindar. Jika dia menghindar maka rudal tersebut akan mengenai para pengunjung warkop. Akhirnya diterimalah rudal tersebut dan.....


Bluaauauauauuaaaar!!!


Sepeda butut itu tercerai berai hancur berantakan.


Para pengunjung warkop segera membubarkan diri. Mereka takut akan diamuk oleh Ladusong. Banyak juga dari pengunjung itu yang diam tak bergerak dan hanya menyaksikan dari kejauhan. Sebagian juga ada yang menjadikan kejadian tersebut sebagai tambang uang.


"Hay gaes... ini lagi ada rame - rame nih di warung kopi mbak Moshi! Jangan lupa like and subreeek ya gaesss!!!" Ucap penonton tersebut pada kamera ponselnya.


Pak Gaelani tergeletak tidak berdaya. Ladusong menghampirinya dan menyalakan rokoknya.


"Bikin repot saja. Dasar hama penganggu!! Luahaha....!!" Teriak Ladusong sembari menendang - nendang tubuh Pak Gaelani yang sudah tidak berdaya.


Tidak ada yang berani menghalangi Ladusong. Semua pengunjung warkop hanya memandangi tindakan kurang ajar Ladusong dari kejauhan. Bahkan ada yang masih juga mencari uang di situasi gawat Pak Gaelani.


"Hay gaeeeesss.... aduh kasian sekali Pak Gaelani. Yang mau membantu Pak Gaelani cukup dengan like dan subrrrrreeeekkk video gua yaa gaessss!" Ucap orang tersebut pada ponselnya dan hanya merekam dari kejauhan tindakan kejam Ladusong.


"Hentikan Ladusong!"


Sebuah suara keras membuat semuanya terdiam. Insur berdiri tegap. Tampaknya dia sudah sembuh dari luka sebelumnya. Ladusong berbalik dan menghadap Insur. Senyum merekah di bibirnya.


"Jadi kamu sudah sadar ya Sang Pembantai. Luahahaha...." Ucap Ladusong.


"Bersiap - siaplah untuk babak ketiga pertarungan kita Ladusong. Ini adalah akhir dari pertempuran kita. Aku atau kamu yang mati." Ucap Insur sembari menatap tajam.


"Benar. Dan inilah saat yang kutunggu - tunggu untuk menyelesaikan masalah kita berdua." Balas Ladusong.


Malam terasa mencekat. Dengan banyak mata memandang, tampaknya mereka berdua berniat mengakhiri pertempuran mereka dengan dua pilihan; hidup atau mati!


White Snow memandangi dari kejauhan di balik rimbunan pohon bambu. Tugas terakhir dari Surin harus dia jalankan, yaitu melindungi Insur dengan nyawanya.


Dan ada banyak hal yang ingin White Snow tentang rahasia desa KangAgung. Bagaimana sejarah terciptanya kubu Serigala Tanah dan kubu Elang Langit? Bagaimana kisah desa KangAgung berdiri? Sejarah kelam apa yang menyelimuti desa KangAgung?


Dan semua pertanyaan itu dapat terjawab jika White Snow bisa terus bersama Insur. Apapun yang terjadi pada pertarungan ini, Insur harus hidup! batin White Snow.