
Malam terasa begitu dingin. Angin laut yang menerpa pantai menambahkan rasa dingin yang amat sangat. Insur memakai jaket tebal berwarna hitam. Dia menunggu kedatangan Juli sesuai perjanjian mereka. Sementara Pantam tertidur pulas di kamarnya dengan selimut imut hello kitty-nya.
Insur menendang - nendang pasir pantai untuk mengusir rasa jenuhnya. Tak lama kemudian terlihat Juli dengan pakaian imutnya. Kaos imut bergambar kelinci dipadu dengan hot pants.
"Maaf ya Sur kamu menunggu agak lama." Ucap Juli dengan manja.
"Iya. Hey lu gak kedinginan cuma pakek kaos kayak gitu?" Tanya Insur.
"Iya kak dingin banget." Jawab Juli.
"Dasar kampret!" Ucap Insur sembari memberikan jaketnya pada Juli.
Juli Segera mengenakan jaket Insur. Kini giliran Insur yang kedinginan diterpa angin malam.
"Udah ayo cepet masuk!" Bentak Insur sambil menggigil.
Insur membuka pintu mercusuar tersebut dan segera masuk. Juli mengekor di belakang Insur sambil tersenyum. Mereka berdua menaiki tangga menuju lantai paling atas mercusuar dimana ruangan tempat mereka tuju berada.
"Juli, boleh tanya sesuatu?" Tanya Insur membuka obrolan.
"Apaan kak?" Tanya Juli.
"Emmm... Gimana ya, jangan marah ya tapi." Ucap Insur.
"Hu'uh. Apaan sih?" Tanya Juli.
"Ini kata Pak Iconk, denger - denger sebenarnya kamu cowok ya?" Tanya Insur dengan berhati - hati.
"Juahahaha....." Juli tertawa terbahak - bahak.
Insur berhenti berjalan menaiki tangga. Dia memutar badannya dan memandangi Juli dengan melotot.
"Jadi beneran kamu cowok?!" Ucap Insur terperanjat.
"Juahahaha..." Juli masih tertawa terpingkal - pingkal.
"Ahhh.... Kampret! Padahal kamu manis banget." Umpat Insur sembari meneruskan menaiki tangga.
"Aku manis ya kak?" Tanya Juli dengan manja.
"Apaan lu kampret?! Dasar banci kaleng!" Bentak Insur.
"Kalau aku beneran cewek gimana hayoooo?" Goda Juli.
"Lama - lama gua tabok lu ya!" Ujar Insur.
"Sebenarnya Juli itu beneran cewek loo kak." Ucap Juli.
"Iya lu cewek! Lebih tepatnya cewek jadi - jadian! Dasar banci kaleng!" Ucap Insur tidak mau dibodohi.
"Tapi aku beneran cewek kak!" Teriak Juli sambil menatap Insur.
Insur cuek dan bersikap bodho amat sambil terus melangkahkan kakinya menaiki tangga. Juli merasa sewot. Dia pun segera mengambil tangan Insur lalu diletakkan di dadanya. Insur kaget. Dia merasa menyentuh sesuatu yang begitu lembut, halus, ada sedikit rasa kenyal, tapi juga dibalik kelenyalan itu juga ada rasa daging empuk. Itu... itu... itu adalah.....
Insur kaget dan segera menarik tangannya dari dada Juli.
"Kamu.... kamu... kamu ternyata cewek Juli?!!" Teriak Insur tak percaya.
"Iya kak. Masak gak percaya. Apa perlu lihat yang bawah agar kak Insur percaya?!" Teriak Juli dengan marah.
"Tapi kata Pak Iconk kamu itu cowok! Seluruh desa KangAgung juga tau kalo kamu itu cowok!" Ucap Insur.
Insur dan Juli berhenti melangkahkan kaki menaiki tangga mercusuar. Mereka berdua saling berpandangan. Juli mendengus perlahan.
"Sebenarnya itu memang sudah direncanakan nenek Faynem. Nenek Faynem menyuruh Pak Cik untuk menyebarkan berita kalau aku cowok. Sebenarnya aku ini cewek tulen. Cuma nenek Faynem khawatir kalau aku yang sebatang kara ini sebagai cewek nanti banyak yang menganggu. Apalagi aku satu - satunya anggota klan Samudera Biru di desa KangAgung." Ucap Juli menjelaskan dengan serius.
Insur kaget dengan fakta yang baru diketahuinya itu. Ternyata desas - desus Juli sebagai cowok banci itu memang sengaja disebarkan. Juli ternyata adalah cewek asli!
"Yah itu sih kalau yang mengganggu cowok biasa. Masalahnya yang mengganggu aku ini cowok yang berbahaya kak." Jawab Juli.
"Siapa emangnya orang itu?" Tanya Insur.
"Dia Sang Penguasa Desa." Jawab Juli.
Apa?! Kenapa si tua bangka paling berpengaruh itu sempat - sempatnya bernafsu dengan Juli yang masih muda ini?! Batin Insur.
"Kenapa? Tidak mungkin!" Ucap Insur tidak percaya.
"Karena Dia Sang Penguasa Desa menginginkan anak dari campuran klan nya yang keturunan asli Earth dengan aku yang keturunan klan Samudera Biru." Ujar Juli menjelaskan.
Ah semua sekarang terasa begitu masuk akal. Pantas saja Dia Sang Penguasa Desa begitu menginginkan Juli. Dia Sang Penguasa Desa ingin memiliki keturunan dengan kekuatan gabungan antara klan keturunan Earth dengan klan Samudera Biru.
"Pantas saja kamu harus memakai trik memunculkan berita palsu bahwa kamu ini banci. Memang kalau urusannya dengan Dia Sang Penguasa Desa bakalan ribet." Ucap Insur mulai mengerti keadaan Juli.
"Terus kalau sama kak Insur aja gimana?" Tanya Juli dengan imut dan manis.
"Apaan lu dasar anak ingusan!" Ucap Insur.
"Tapi tadi kak Insur udah menyentuh dadaku loo! Tanggung jawab dong!" Teriak Juli dengan marah tapi tetap terlihat begitu menggemaskan.
"Kan elu tadi yang narik tangan gua! Masak salah gua?! Salah elu sendiri kampret!" Ucap Insur.
"Pokoknya tanggung jawab!" Teriak Juli lebih keras.
"Diem lu kacang kuaci! Ini udah malem!" Ucap Insur.
Juli pun langsung cemberut.
Akhirnya mereka berdua sampai di lantai teratas mercusuar. Tampak sebuah ruangan gelap terbuka. Dari dalam terlihat pancaran sinar kemerahan dari batu darah di dalamnya.
"Nah ini ruangannya. Cepat kamu buka segel sihir khusus milik klan Samudera Biru ini." Ucap Insur.
"Pokoknya tanggung jawab..." Ucap Juli masih juga sebal.
"Apaan sih elu kacang kuaci! Serius nih! Cepet bukain segel sihirnya!" Perintah Insur.
Juli pun maju ke ruangan gelap tersebut dengan muka cemberut dan langkah kaki yang dihentak - hentakkan. Juli segera merapal mantera pembuka segel sihir klan Samudera Biru di depan ruangan tersebut.
Suasana hening. Tiba - tiba muncul titik embun air di sekitar Juli. Embun air itu berkumpul satu sama lain lalu menjadi gumpalan air yang mengalir berputar - putar mengelilingi tubuh Juli.
Insur takjub melihat hal tersebut. Kekuatan klan Samudera Biru memang amat sangat terkenal dengan kemampuan sihir airnya. Tak disangka Juli sudah ada pada tingkatan yang tinggi. Juli bukan hanya mampu mengendalikan air, tetapi dia juga mampu menciptakan air dari udara di sekelilingnya.
Air yang mengelilingi tubuh Juli menerjang ke depan ke arah dinding segel sihir sihir.
Crrrraaaaasshhhhhhh!
Aliran air itu membeku menjadi bongkahan es yang akhirnya terpecah belah hancur lebur dan menguap hilang begitu saja.
"Udah! Segel sihirnya udah kebuka!" Ucap Juli masih juga dengan muka cemberut.
Insur segera maju ke ruangan tersebut. Diambilnya batu darah itu. Insur mendekatkan batu darah itu ke mukanya dan mengeceknya.
"Ini beneran batu darah asli!" Ucap Insur setelah mengamatinya.
"Emang apa sih bagusnya batu darah itu?!" Ucap Juli yang ngambek.
"Kamu gak tahu? Batu darah adalah penjelmaan dari magma yang mengorbankan dirinya. Di dunia ini hanya ada enam batu darah. Aku memiliki dua batu darah saat mengalahkan Surin. Empat yang lainnya seharusnya ada di tangan Dia Sang Penguasa Desa. Tak kusangka salah satu yang Dia miliki ternyata disimpan di sini." Ucap Insur menjelaskan.
"Benar sekali." Ucap seseorang misterius yang tiba - tiba muncul di belakang Insur dan Juli.
Insur dan Juli segera siaga dan melihat dengan seksama siapa orang tersebut. Ternyata dia adalah Intan dari Desa Balatara!