
Pertempurang di atas jembatan Agung kian memanas. Kubu barat yang dikuasai kloning Ladusong dan dokter Skak melawan kubu timur yang dikuasai Dia Sang Penguasa Desa. Terlihat pertempuran sengit masih imbang.
Suara deru tembakan dan pedang yang saling bergesakan sahut - menyahut. Teriakan dari para pejuang maupun juga pemberontak saling berbenturan. Ada yang kesakitan, ada yang penuh amarah, ada juga yang sudah tidak dapat berteriak karena nyawa telah melayang.
Williams meneriaki dengan penuh semangat para anak buahnya. Sekitar seratus orang bertipe penyerang jarak jauh dengan senjata sniper menembaki para petarung di tepian Tasbran sisi timur. Tidak peduli apakah itu lawan atau kawan.
Orang - orang yang bertarung di tepian sungai Tasbran sisi timur itu ada yang terluka parah terkena tembakan ataupun ada juga yang meninggal. Sebagian yang masih selamat berenang kembali ke sungai Tasbran untuk melarikan diri.
Dari atas jembatan, dokter Skak menembak secara membabi buta ke arah sungai Tasbran di bawahnya. Di tengah deru tembakan dokter Skak itu Tengud berupaya menghindar dengan menyelam lebih dalam. Mayat - mayat mulai mengapung di sungai Tasbran. Tengud menjadikan mayat tersebut sebagai tameng dari tembakan brutal dokter Skak.
"Dasar dokter Skak kurang ajar! Awas saja kamu nanti!" Umpat Tengud.
Sementara itu Insur bertarung di tengah kerumunan para petarung kubu timur dan barat yang bertemu di tengah jembatan. Insur dengan gesit berlarian dari satu sisi ke sisi yang lain sambil mengayunkan samurainya.
Di sisi jembatan paling timur terdapat Pak Kaji Dauh dan kloning Ladusong yang saling berhadapan. Kloning Ladusong mampu menyusup dengan cepat ke arah sisi belakang pasukan kubu timur.
"Wah wah wah. Anda benar - benar seperti benteng tak tertembus ya Pak Kaji Dauh." Ucap kloning Ladusong.
"Kebenaran akan selalu menang. Kini kamu akan merasakan kekuatanku kloning Ladusong!" Ucap Pak Kaji Dauh.
Pak Kaji Dauh merangsek maju, mengayunkan tongkatnya ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong segera memblokir serangan ayunan tongkat tersebut dengan kedua tangannya. Dan secara bertubi - tubi serangan tongkat tersebut diluncurkan ke arah kloning Ladusong.
Melihat ada celah, kloning Ladusong segera menarik tongkat Pak Kaji Dauh hingga Pak Kaji Dauh sendiri ikut tertarik ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong segera mendaratkan pukulannya ke arah wajah Pak Kaji Dauh.
Duaaaashhhhh!
Pak Kaji Dauh terlempar ke belakang dan tersungkur di lantai beton jembatan Agung. Dia segera bangkit kembali dan bersiap dengan kuda - kudanya. Disekanya darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Bagaimana Pak tua? Masih mau lanjut? Luahahaha..." Teriak Ladusong dengan congkak.
Dia Sang Penguasa Desa melihat pertempuran di atas jembatan Agung dari kejauhan. Di atas bukit dekat jembatan Agung Dia menghisap pipa rokoknya sembari melihat jalannya pertempuran tersebut ditemani Nin nin selaku sekretaris pribadinya.
"Bagaimana Pak Kaji Dauh mampu menyerang? Setahuku jurusnya hanya sejenis kaca sihir pelindung." Komentar Nin nin.
"Kamu salah Nin nin, kamu salah. Ada dua tipe jurus kaca sihir Pak Kaji Dauh, yaitu untuk pertahanan dan penyerangan. Untuk pertahanan dinamakan jurus barrier, dan jurus barrier ini lah yang memang sering digunakan oleh Pak Kaji Dauh." Ucap Dia Sang Penguasa Desa menjelaskan.
"Untuk jurus tipe penyerangannya bagaimana tuan?" Tanya Nin nin.
"Untuk itu jarang sekali digunakan. Kita lihat saja apakah Pak Kaji Dauh akan menggunakannya kali ini." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
"Kapal dari mana itu? Besar sekali kapal tersebut?!" Ucap Nin nin.
"Itu adalah kapal besar milik desa Magala!" Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
Pertempuran terhenti karena kehadiran kapal besar dari desa Magala tersebut. Desa Magala merupakan desa yang berada di sebelah utara desa KangAgung. Desa Magala terkenal dengan industri bajanya. Segala jenis senjata terbaik merupakan buatan desa Magala. Selama ini desa Magala tertutup dan tidak mau bekerja sama dengan desa yang lain. Tetapi desa lain juga merasa ragu kalau harus bertempur dengan desa Magala yang terkenal sebagai desa gudang senjata.
Kloning Ladusong dan Pak Kaji Dauh menghentikan pertarungannya.
"Desa Magala. Tampaknya kita tidak bisa melanjutkan pertarungan kita hari ini Pak Kaji Dauh." Ucap kloning Ladusong.
Pak Kaji Dauh memandang kepergian kloning Ladusong yang kembali ke sisi barat jembatan Agung. Seluruh pasukan kloning Ladusong dan dokter Skak pun menyudahi pertempuran dan bergerak kembali ke arah barat.
Pasukan Desa KangAgung masih siaga dan memandangi kedatangan kapal besar dari desa Magala tersebut. Tengud berenang ke tepi barat.
"Kurang ajar si dokter Skak itu! Awas saja kalau ketemu lagi! Akan kulumat habis dia!" Ucap Tengud dengan penuh amarah.
Tengud segera bergabung kembali dengan pasukan desa KangAgung di jembatan. Tengud, Insur, Pak Kaji Dauh, dan pasukan desa KangAgung berkumpul di tengah jembatan Agung. Sementara kloning Ladusong dan dokter Skak serta seluruh anak buahnya sudah mundur menjauh.
"Pasukan kloning Ladusong dan dokter Skak mundur ke arah sisi timur jembatam Agung. Kita harus mengejarnya, kita tidak boleh membiarkan mereka lolos satu pun!" Teriak Tengud.
"Tenanglah. Apa kamu tidak lihat kapal besar dari arah utara sungai Tasbran itu. Mereka dari desa Magala. Kloning Ladusong dan dokter Skak pun juga mundur karena kedatangan kapal besar dari desa Magala tersebut." Ucap Pak Kaji Dauh.
"Kapal besar dari desa Magala?! Kenapa kapal besar dari desa Magala kemari? Apa mereka mau menyerang desa KangAgung saat desa KangAgung sedang dirongrong oleh pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak?" Tanya Tengud bertubi - tubi.
"Aku juga tidak tau. Lihatlah. Di sana sudah ada Dia Sang Penguasa Desa. Biarkan dia yang menyambut kedatangan kapal besar dari Magala itu. Kita tunggu saja hasil dari pertemuan kepala desa KangAgung dan kepala desa Magala." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Lalu bagaimana sekarang? Masak kita harus berdiri diam di sini saja?!" Ucap Tengud.
"Tentu tidak. Kita bubar dulu. Obati semua yang terluka. Kuburkan semua orang yang meninggal secara massal." Ucap Pak Kaji Dauh dengan bijaksana.
Tengud pun segera membubarkan pasukan desa KangAgung yang masih berkumpul. Williams membantu menguburkan mayat - mayat di sekitar tempat area pertempuran. Semua petarung yang terluka berat atau pun ringan segera dilarikan ke rumah sakit Apaanlu.
Hari mulai beranjak sore. Pertempuran antara pasukan kloning Ladusong dan dokter Skak melawan pasukan desa KangAgung lagi - lagi tertunda untuk kedua kalinya. Karena akan ada hal yang lebih mengkhawatirkan, yaitu kedatangan kapal besar desa Magala.
Pak Kaji Dauh dan Nin nin bersiap menerima kedatangan tamu dari desa Magala tersebut.
"Ini akan semakin merepotkan." Ucap Dia Sang Penguasa Desa sembari mendengus.