Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 18: Badai datang


Insur menyeruput kopinya dengan khidmat. Lalu diedarkan pandangannya pada orang - orang di sekitarnya. Ada Juli yang duduk di samping kirinya. Ada Pak Sanan Kulon di samping kanannya. Sementara di depannya terlihat Intan yang diapit oleh Shin dan Shun.


Pantam dengan gupuh mengedarkan kopi pada para tamunya itu. Tampaknya dia sangat bahagia dengan kedatangan Intan dan Juli di mercusuar tersebut. Terlihat Pantam tak henti - hentinya tersenyum bahagia memandang Juli dan Intan.


"Aku ingin tahu duduk perkaranya terlebih dahulu. Coba kamu jelaskan Intan dari sudut pandangmu terlebih dahulu Intan." Ucap Pak Sanan Kulon.


"Baik Pak Sanan." Ucap Intan.


"Pak Sanan Kulon lebih tepatnya. Karena saya punya kembaran di sini namanya Pak Sanan Wetan." Sergah Pak Sanan Kulon membetulkan.


"Iya, iya! Pak Sanan Kulon! Jadi saya jauh - jauh datang ke sini dari desa Balatara adalah untuk mengambil batu darah. Apa pun yang terjadi saya harus mendapatkan batu darah tersebut." Ucap Intan.


"Hemmm... Tampaknya kamu sangat memerlukan batu darah tersebut. Kenapa?" Tanya Pak Sanan Kulon.


"Desa Balatara sebentar lagi akan berperang melawan desa Rogon. Kami membutuhkan tambahan kekuatan sebanyak mungkin. Saya diperintahkan ayah saya, Karaka Sang Pemimpin Desa Balatara, untuk mengambil batu darah tersebut." Jawab Juli menjelaskan.


"Ahhh begitu. Baik, baiklah. Sekarang Insur coba kami jelaskan pendapatmu." Ucap Pak Sanan Kulon pada Insur.


"Saya tidak tahu menahu tentang pertempuran desa Balatara dengan desa Rogon. Pokoknya batu darah ini saya lah yang menemukan terlebih dahulu. Lalu Intan dan anak buahnya ini mencoba merebutnya dari saya." Ucap Insur.


Pak Sanan Kulon manggut - manggut mencoba menilai keadaan dengan se-obyektif mungkin. Diseruputnya kopi hitam lalu dinyalakannya sepuntung rokok sambil berfikir mendalam.


"Ah begitu... begitu... Baiklah. Nak Intan, kami pemukiman pantai Kecoak selama ini hidup dalam damai. Kami tidak pernah berperang. Tentang peperangan antara desa Balatara dan desa Rogon saya harap tidak menyangkut pautkan pemukiman ini." Ujar Pak Sanan Kulon dengan lembut.


"Iya saya tahu! Tetapi pemukiman pantai kecoak ini warganya merupakan keturunan klan Earth bukan?! Sesama keturunan klan Earth sudah seharusnya kita saling membantu!" Teriak Intan yang tak mau kalah.


"Itu seperti anda memaksa menyeret orang yang cinta damai untuk berperang. Logika macam apa itu?!" Ucap Insur.


Insur dan Intan saling berpandangan kembali dengan penuh amarah.


"Sudah cukup. Nak Intan, saya tahu posisi desa anda sedanh sulit. Tetapi jika anda bersikap seperti itu maka hanya akan menambah kesulitan anda. Coba bayangkan bagaimana kalau hal ini terdengar oleh Dia Sang Penguasa Desa KangAgung? Pasti desa Balatara akan lebih dirugikan dengan peperangan dua sisi dari desa Rogon maupun desa KangAgung. Sekali lagi saya harapkan anda lebih berhati - hati dalam bersikap." Ucap Pak Sanan Kulon sembari menatap tajam pada Intan.


Intan terperanjat. Semua yang dikatakan Pak Sanan Kulon masuk akal juga. Intan pun pamit kembali ke hotel mewah bersama Shin dan Shun. Juli juga pamit.


Kini tinggal Pak Sanan kulon, Insur, dan Pantam.


"Sur, kamu boleh membawa batu darah tersebut." Ucap Pak Sanan Kulon sebelum pamit.


"Terima kasih Pak Sanan Kulon." Ucap Insur singkat.


Fajar mulai terlihat. Pertanda sebentar lagi pagi akan muncul. Insur memandangi batu darah di telapak tangannya yang dia timang - timang. Insur sebenarnya masih mempunyai dua batu darah yang lain setelah mengalahkan Surin. Kini dia memiliki tiga buah batu darah.


Insur berfikir apa sebaiknya dia berikan saja satu buah darah yang baru ditemukannya itu pada Intan? Selain bisa membantu Intan, tampaknya batu darah akan lebih aman jika berada di luar desa KangAgung, jauh dari Jangkauan Dia Sang Penguasa Desa....


Sinar pagi mulai terlihat terang. Menerangi pemukiman Kecoak dengan kehangatannya.


Sementara itu di tempat persembunyian.....


Dokter Skak terlihat serius sekali melihat perkembangan dari batu darah yang diekstraksi ke tubuh kloninh Ladusong. Dokter Skak memandangi tubuh kloning Ladusong yang berada di tabung air.


"Bagus. Perkembangannya sejauh ini benar - benar cepat. Tak kusangka batu darah dapat terekstraksi secepat ini padahal masih tiga hari." Gumam dokter Skak pada dirinya sendiri.


Tiba - tiba alarm berbunyi keras mengagetkan dokter Skak. Ada kendala dalam proses ekstraksi tersebut. Tabung kaca yang menampung tubu kloning Ladusong mulai retak dan akhirnya.......


Prrrraaaaaannnnnng byuuuuuurrrr!!!!


Tabung itu pecah dan air di dalam tabung tumpah ruah menggenangi ruangan tersembunyi tersebut. Dokter Skak kaget. Dilihatnya tubuh kloning Ladusong kelaur dari tabung tersebut.


"Hemmmm.... aku merasakan tubuhku sangat segar dan penuh vitalitas. Benar - benar kekuatan batu darah yang menyatu dalam tubuhku ini amat sangat hebat! Luahahahaha......" Teriak kloning Ladusong.


"Padahal belum penuh satu minggu tapi batu darah sudah terekstraksi sangat cepat dalam tubuhmu! Benar - benar luar biasa!" Ucap dokter Skak.


"Berarti ini saatnya kita bergerak. Kita kuasai desa KangAgung. Dan aku juga ingin membalaskan dendam tubuh asliku yang terbunuh oleh Insur!" Ucap kloning Ladusong.


"Benar! Tapi kita membutuhkan banyak pasukan. Pertama - tama kita bergerak ke penjara desa KangAgung terlebih dahulu. Kita bebaskan anak buahmu yang ditangkap Dipaidi lalu kita menuju ke barat dan menguasai pusat militer desa KangAgung." Ucap dokter Skak menjelaskan rencana besarnya.


"Kenapa kita tidak langsung menyerang pusat pemerintahan desa KangAgung saja? Dengan begitu seluruh desa KangAgung akan berada dalam kekuasaan kita?" Tanya kloning Ladusong.


"Jangan! Ingat bahwa batu darah yang kita miliki itu dari Dia Sang Penguasa Desa. Tampaknya dia lebih kuat dari kita. Untuk saat ini kita kuasai sisi barat desa KangAgung terlebih dahulu. Untuk melawan Dia Sang Penguasa Desa kita memerlukan rencana lebih lanjut. Skahahahaha....." Ucap dokter Skak sambil tertawa terbahak - bahak.


Mereka berdua keluar dari ruang persembunyian mereka. Setibanya di luar, kloning Ladusong berhenti sejenak dan memandang benteng tempat mereka bersembunyi tersebut. Dokter Skak juga ikut berhenti dan memandang kloning Ladusong.


"Ada apa?" Tanya dokter Skak.


"Aku hanya ingin menguji kekuatan baruku ini." Jawab kloning Ladusong.


Kloning Ladusong lalu melakukan kuda - kuda dan mengarahkan jurus Max Elbow nya pada benteng tersebut.


Duuuuaaarrrrr Bluuuuaaaaarrrr!!


Benteng tersebut hancur luluh lantak karena tekanan ledakan Max Elbow. Seketika ledakan beruntun terjadi dan membumi hanguskan benteng tersebut. Kobaran api menyala - nyala di depan kloning Ladusong. Mata dokter Skak terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kekuatan penghancurnya sudah seperti sebuah bencana alam besar.


"Mengerikan, sungguh mengerikan...." Ucap dokter Skak.


"Luahahahaha.... Ini dia kekuatan yang selama ini aku cari - cari. Luahahahahha....." Tawa Ladusong menggema di hutan tengah gunung kembar tersebut.


Tampaknya badai gemuruh akan kembali mengguncang desa KangAgung. Bahkan kali ini badainya akan lebih mengerikan dari yang sebelumnya!