
Rapat anggota empat pilar sedang diadakan di kantor pemerintahan desa KangAgung. Rapat kali ini tampaknya benar - benar membuat Dia Sang Penguasa Desa KangAgung harus ikut turun tangan dalam peperangan. Ikut serta desa Magala dalam konflik internal desa KangAgung tidak dapat begitu saja disepelekan. Senjata buatan desa Magala merupakan senjata terbaik di seluruh pulau Java.
"Kali ini kita mendapatkan posisi yang sulit. Bantuan desa Magala terhadap para pemberontak akan semakin menyudutkan kita." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung membuka rapat.
"Tak habis pikir kenapa desa Magala mau membantu para pemberontak itu." Ucap Tengud.
"Batu darah yang aku titipkan padamu telah berhasil dicuri pihak kloning Ladusong dan dokter Skak. Mereka menggunakan batu darah sebagai ganti bantuan dari desa Magala." Ucap Dia kepada Tengud.
"Iya iya aku yang salah. Aku lengah. Aku tidak mengira dokter Skak akan seberani itu menyelinap dalam gudangku." Ucap Tengud membela diri.
"Sudah, sudah. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara menghadapi situasi ini." Ucap Pak Kaji Dauh menengahi.
"Kita akan membuat barikade pertahanan garis depan yaitu pasukan Tengud. Untuk pertahanan belakang kita gunakan pasukan Pak Kaji Dauh. Di sisi bukit akan ada Williams dan seratus pasukan snipernya yang bertugas sebagai penyerang jarak jauh." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Baiklah tuan Dia." Ucap Pak Kaji Dauh.
"Dan kita membutuhkan bantuan Insur. Dimana dia?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Insur sedang melatih Nu'im secara privat. Aku tidak tau kapan dia akan selesai dan datang membantu." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Di suasana segenting ini bisa - bisanya si Insur itu malah melatih bocah." Ejek Tengud.
"Sudahlah. Lagi pula dari awal Insur memang tidak masuk dalam birokrasi pemerintahan kita. Aku akan mengutus Ning ning untuk mengirim surat pada desa Balatara." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Tapi kudengar desa Balatara sendiri kini sedang menghadapi desa Gorgon. Apakah mungkin mereka mau membantu kita?" Tanya Tengud.
"Kita coba saja dulu. Karaka pemimpin desa Balatara masih saudara sedarah denganku. Setidaknya kita coba dulu. Dan Pak Kaji Dauh, tampaknya kita juga butuh bantuan kubu Serigala Tanah." Ucap Dia pada Pak Kaji Dauh.
"Iya benar. Di situasi seperti ini, bantuan dari kubu Serigala Tanah akan sangat membantu." Ucap Pak Kaji Dauh.
Rapat pun ditutup. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung segera mengutus Ning ning menyampaikan surat pada karaka pemimpin desa Balatara. Sementara itu Pak Kaji Dauh segera menemui nenek Faynem untuk meminta bantuan kubu Serigala Tanah.
Waktu terus berputar. Hari esok akan terjadi pertempuran yang bahkan mungkin lebih besar dari pertempuran empat tahun lalu antara kubu Elang Langit melawan kubu Serigala Tanah. Kini kedua kubu harus bersatu untuk menghadapi pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak yang dibantu desa Magala.
-----
Di pagi hari yang cerah Nu'im sudah mempersiapkan diri berhadapan dengan Insur. Ini adalah latihan terakhirnya dalam mempelajari jurus langkah angin. Insur tidak memakai senjata, dia bahkan meminjamkan samurai hitamnya untuk digunakan Nu'im.
"Gunakan samurai hitamku. Aku akan melawanmu tanpa menggunakan senjata." Ujar Insur sembari melempar samurai hitamnya pada Nu'im.
Nu'im menangkap samurai hitam tersebut. Dengan khidmat dia keluarkan samurai hitam itu dari sarung pedangnya.
"Kamu sudah siap?" Tanya Insur.
"Kalau begitu langsung saja kita mulai." Jawab Insur sembari melompat ke arah Nu'im.
Insur melompat sembari mengarahkan tendangan ke arah Nu'im. Nu'im dengan sigap berguling ke samping menghindari tendangan gurunya itu. Insur segera berlari lagi ke arah Nu'im. Nu'im dengan sigap menyabetkan samurai hitam ke arah Insur, tapi Insur mengelak dengan melompat melayang dan mendarat pada salah satu dahan pohon besar.
Nu'im berbalik, lalu berlari dengan cepat menaiki pohon tersebut menuju ke arah Insur. Dia tusukkan samurai hitam itu pada tubuh Insur, tapi lagi - lagi Insur dapat menghindarinya dengan memutar tubuhnya lalu jatuh di tanah.
Nu'im kembali meluncur ke bawah dan menyabetkan samurainya. Tapi Insur lagi - lagi menghindar melompat ke arah dahan pohon lain. Nu'im mengejar Insur yang berlompatan di antara dahan - dahan pohon besar tersebut. Nu'im menyabetkan samurai hitamnya pada berulang kali hingga dahan - dahan pohon besar tersebut tumbang satu per satu.
Insur menghindari serangan - serangan yang datang dengan jurus langkah anginnya. Tidak ada satu serangan pun dari Nu'im yang mengenainya. Nu'im terus mengejar Insur dengan jurus langkah angin juga. Hingga akhirnya mereka tiba di tepian jurang.
"Sekarang anda sudah tidak punya jalan mengelak lagi guru!" Ucap Nu'im.
"Benarkah?" Cemo'oh Insur.
Nu'im segera maju ke arah Insur yang sudah berada di tepian jurang. Tidak ada tempat lagi untuk Insur mengelak. Nu'im melesat cepat dengan menggunakan langkah anginnya. Dia menusukkan samurai hitam ke arah Insur dan.....
Duaaaaazhhhhhh!
Nu'im terhempas ke belakang karena tendangan langkah angin dari Insur. Samurai hitam lepas dari pegangan Nu'im dan ditangkap oleh Insur. Nu'im berusaha bangkit hingga akhirnya dengan cepat Insur menghilang lenyap dan secara tiba - tiba sudah berada di belakang tubuh Nu'im sembari mengalungkan samurai hitam pada leher Nu'im.
"Skakmat. Kamu kalah." Ucap Insur.
"Iya guru. Jurus langkah angin milik anda benar - benar lebih cepat dan tidak terbaca." Ucap Nu'im.
Nu'im segera mengembalikan sarung pedang pada Insur. Insur mengambilnya. Dia menyarungkan kembali samurai hitamnya.
"Jurus langkah angin pun memiliki levelnya sendiri - sendiri. Kamu sudah mengetahui dasarnya. Kamu cuma perlu meningkatkannya melalui latihan sendiri. Sekarang latihan langkah anginmu sudah selesai. Kita pergi ke pusat kota desa KangAgung." Ucap Insur.
"Tapi saya masih mempelajari satu jurus saja. Saya rasa itu belum cukup guru." Protes Nu'im.
"Satu jurus yang diasah sempurna lebih baik dari pada seribu jurus yang dipelajari asal - asalan." Ucap Insur.
"Baik guru." Ucap Nu'im.
"Aku mendapat kabar hari ini pasukan pemberontak kloning Ladusong dan dokter Skak mulai menyerang desa KangAgung lagi. Kini mereka mendapat bantuan dari desa Magala. Aku harus secepatnya kembali." Ucap Insur.
"Baik guru." Ucap Nu'im.
Mereka berdua pun menyusuri hutan secara cepat dengan menggunakan jurus langkah angin. Tidak ada waktu yang boleh terbuang sia - sia. Desa KangAgung sedang terjadi peperangan besar yang bahkan tampaknya lebih besar dari peperangan empat tahun yang lalu antara kubu Elang Langit dan kubu Serigala Tanah.
Sementara itu di desa KangAgung bara pertempuran sudah terjadi.