Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 43: Bola Slime Raksasa


Insur mulai mundur beberapa langkah dan memutuskan untuk melihat saja pertarungan Dipaidi dan kloning Ladusong. Dipaidi berkuda - kuda dengan pedang birunya. Gelombang air berputar mengelilingi tubuhnya. Sementara Ladusong sudah bersiap - siap untuk mengeluarkan jurus Max Elbow.


Insut terkaget saat pundaknya ditepuk dari belakang. Ketika dia menoleh terlihat Juli di belakangnya dengan senyum manisnya.


"Kamu toh. Kirain siapa." Ucap Insur.


"Kak Insur gak ikut bantuin Dipaidi melawan kloning Ladusong?" Tanya Intan.


"Untuk saat ini belum. Tampaknya Dipaidi sudah berkembang cukup jauh. Dahulu Dipaidi tidak bisa memakai pedang dengan baik. Sekarang dia malah menggunakan pedang biru ditambah kemampuan aneh dari klan Samudera Biru." Ucap Insur.


"Apa?! Dipaidi memiliki kemampuan seperti klan Samudera Biru?! Bagaimana bisa?!" Ucap Juli.


"Aku juga tak tahu. Lihat saja itu. Bukankah gelombang air yang mengitarinya itu salah satu jurus dari klan Samudera Biru?" Tanya Insur.


Juli memandang pada Dipaidi. Betapa kagetnya Juli tatkala sebuah gelombang air mengitari tubuh Dipaidi. Dan lebih kaget lagi saat dia melihat bahwa Dipaidi memegang pedang berwarna biru menyala - nyala.


Kloning Ladusong maju melayangkan jurus Max Elbow pada Dipaidi. Dipaidi menghalau efek ledakan Max Elbow dengan menggunakan gelombang airnya.


Duuuuaaaazhhhh!!


Gelombang air terpecah ke segala arah. Kloning Ladusong memutar tubuhnya. Dipaidi melihat ada celah untuk menyerang ketika Max Elbow bergesekan dengan gelombang airnya. Dipaidi pun maju sembari menyabetkan pedang birunya.


Kloning Ladusong terlihat begitu siap akan serangan Dipaidi. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan untuk menahan tebasan pedang biru Dipaidi. Kloning Ladusong terpental terseret ke belakang. Dipaidi tidak berhenti di situ saja. Dia melompat menerjang ke arah kloning Ladusong dengan tebasan vertikal.


"Jangan main - main kamu Dipaidi! Sejak kapan kamu sekuat ini!" Teriak kloning Ladusong.


Tebasan pedang biru Dipaidi berhasil mengenai tubuh kloning Ladusong hingga tersayat dan mengeluarkan darah.


Sejenak kloning Ladusong linglung dan kesulitan untuk berdiri. Dipaidi memasang kuda - kudanya kembali. Gelombang air kembali mengelilingi tubuhnya.


"Hari ini kamu sedang sial kloning Ladusong. Jurusku akan semakin kuat jika ada air di sekitarku. Dan hujan ini merupakan sumber air yang tidak ada hentinya." Ucap Dipaidi.


"Kurang ajar. Jadi kekuatanmu sama seperti kekuatan klan Samudera Biru yang mengandalkan air ya." Ucap kloning Ladusong sambil bersiap menghadapi serangan Dipaidi selanjutnya.


Dipaidi melompat ke arah kloning Ladusong diikuti oleh gelombang air yang besar.


"Tapi air tidak akan pernah mengalahkan gempa, luahahaha! Rasakan ini Dipaidi!" Teriak kloning Ladusong.


Kloning Ladusong mengerahkan jurus Max Elbownya. Kali ini tidak seperti jurus Max Elbow yang sebelumnya, karena kini Max Elbow tersebut ditambahkan unsur gempa di dalamnya.


Udara menjadi retak sesaat setelah kloning Ladusong mengeluarkan Max Elbow. Retakan udara tersebut menimbulkan guncangan besar disertai ledakan.


Bluuuuarrr! Bluuuuarr! Bluuuaaarrgghh!


Ledakan disertai gempa tersebut memecah gelombang air disekitar Dipaidi. Gelombang air tersebut pecah berantakan ke segala arah. Dipaidi merasakan tubuhnya seperti ditekan oleh efek gempa di sekitarnya. Dipaidi tidak dapat bergerak di udara.


"Sekarang kamu akan benar - benar mati!" Teriak kloning Ladusong sembari melompat ke arah Dipaidi.


Ditinjunya tubuh Dipaidi. Udara kembali retak. Tubuh Dipaidi terpukul dengan kepadatan getaran yang diterima tubuhnya melalui pukulan di tubuhnya.


"Aaaaaaaarrrgggggghhhhhh!!!" Teriak Dipaidi.


Tubuh Dipaidi melayang, lalu terjatuh di tanah. Pedang birunya patah. Ternyata kekuatan kloning Ladusong tidak dapat dikalahkan oleh jurus yang selama ini telah dipelajari Dipaidi. Dipaidi tergeletak ditanah tidak sadarkan diri.


Insur tiba - tiba melompat. Dia menghalau tinju kloning Ladusong dengan samurai hitamnya.


Duuuuaaarrrggghhhhh!


Kedua serangan itu bertubrukan antara satu sama lain. Keduanya seimbang.


"Akhirnya kamu turun tangan lagi ya legenda pembantai. Buat apa kamu melindungi orang tidak berguna itu hah?! Luahahaha!" Cemo'oh kloning Ladusong.


"Dia adalah panglima militer tertinggi desa KangAgung. Dia adalah salah satu dari sekian orang yang memiliki pemikiran yang terbaik untuk masa depan desa KangAgung. Kelemahan bukan hanya diukur dari segi kekuatan fisik, tetapi juga tekad." Ucap Insur.


Insur dan kloning Ladusong saling melompat mundur. Keduanya akhirnya akan berduel kembali. Satu lawan satu.


"Juli! Bawa Dipaidi ke rumah sakit. Dia sesegera mungkin membutuhkan pengobatan. Aku akan melawan kloning Ladusong sendiri." Perintah Insur.


Juli mengangguk dan segera membopong tubuh Dipaidi. Diambilnya pedang biru yang tergeletak sembari tetap membopong Dipaidi.


"Ahhh akhirnya kita bisa bertarung satu lawan satu lagi. Ini adalah saat - saat yang telah lama aku nantikan." Ucap kloning Ladusong sembari tersenyum lebar.


Hujan mulai berhenti. Dari arah barat terdengar suara deru tank - tank besar milik desa Balatara. Akhirnya pasukan bantuan dari desa Balatara sudah tiba!


-----


Setengah jam sebelum kedatangan pasukan desa Balatara. Terlihat pertarungan Tengud dan dokter Skak di tengah - tengah perumahan Bangau Putih.


Tengud yang berubah menjadi ular raksasa berwarna hitam legam. Tipe ular tersebut adalah ular kobra. Sisik kehitaman itu bukan hanya terlihat menakutkan tetapi juga memiliki kekerasan yang lebih keras dari pada baja. Konon ketika Tengud sudah menampakkan wujud ular raksasanya maka tidak ada yang dapat melukainya sedikitpun.


Tengud mengibaskan ekornya berkali - kali ke arah dokter Skak. Tetapi dokter Skak mampu menghindarinya dengan mengubah tubuhnya menjadi cairan slime.


"Shhhh... ssshhh.... Dasar dokter Skak pengecut! Rupanya kamu hanya pintar melarikan diri saja!" Teriak Tengud dengan rasa jengkel.


"Skahahaha.... Inilah kekuatan slime milikku! Selama aku memiliki kekuatan maka tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu menyentuhku!" Teriak dokter Skak yang merasa senang telah membuat Tengud merasa jengkel.


Pertarungan keduanya terasa alot sekali. Tengud yang memiliki ketahanan sisik luar biasa dan dokter Skak yang memiliki tubuh slime yang bahkan tidak dapat disentuh dengan mudah. Semua serangan cairan ledakan slime dokter Skak tidak mampu melukai sisik wujud ular raksasa Tengud, begitu juga serangan kibasan ekor Tengud tidak dapat melukai dokter Skak yang berwujud cairan slime.


Pertarungan keduanya malah hanya menambah kerusakan pada beberapa rumah di area tersebut. Entak itu rusak tertindih ekor raksasa Tengud atau meleleh karena cairan slime panas dokter Skak. Para pasukan desa KangAgung maupun pasukan pemberontak memilih untuk menjauhi area pertempuran mereka.


"Aku sudah muak! Terpaksa aku akan memperlihatkan wujud perubahan keduaku!" Teriak Tengud.


"Sama. Kurasa pertarungan kita memang harus segera disudahi. Rasakanlah jurus andalanku yang sudah kupersiapkan untuk membunuhmu Tengud!" Ucap dokter Skak.


Tubuh dokter Skak tiba - tiba berubah menjadi sebuah bola cairan slime yang amat sangat besar. Bahkan besarnya sampai sepadan dengan besarnya ukuran wujud ular raksasa Tengud.


Bola cairan slime yang besar itu awalnya berwarna kebiruan lalu perlahan mulai berubah menjadi kemerahan. Cahaya kemerahan itu memenuhi segala penjuru di gelapnya malam itu. Semua mata terbelalak tertuju pada bola slime raksasa tersebut.


Sebuah kepala muncul dari bola slime raksasa. Itu adalah kepala dokter Skak.


"Inilah jurus rahasiaku Tengud. Aku merubah diriku menjadi bola slime raksasa! Aku akan meledakkan diriku dan semua yang ada di sekitarku! Dan cairan slime panas ini akan berhamburan memenuhi seluruh area perumahan Bangau Putih ini! Skahahaha!" Teriak dokter Skak.


Mendengar ucapan dokter Skak tersebut membuat semua pasukan yang sedang bertarung menghentikan pertarungan dan segera melarikan diri dari area tersebut. Tapi terlambat......