Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 6: Semoga, Semoga Saja...


Di lapangan Oliv sore hari itu nampak beberapa anak kecil berkumpul untuk melihat duel maut permainan kelereng antara Insur dan Dipaidi. Pertarungan tersebut diwasiti oleh Nu'im yang merupakan pemain pro permainan kelereng di desa KangAgung.


Dipaidi tersenyum mengejek pada Insur karena dia telah memenangkan giliran pertama dalam menembakkan kelerangnya. Tampak sepuluh kelereng sasaran tembak telah dijejer secara rapi dengan jarak yang sama.


"Lihatlah kemampuan menembak kelerengku ini Sur!" Teriak Dipaidi dengan penuh semangat.


Dipaidi bersiap menembak. Dia atur jarak dan gerakan tangannya agar lemparan kelerengnya dapat mengenai sasaran.


Priiiiitttttttttt!!!


Nuim sebagai wasit meniup peluitnya dengan keras pertanda Dipaidi sudah boleh melempar kelerengnya.


Dipaidi melemparkan kelerengnya dengan kecepatan dan akurasi yang begitu sempurna.


Wuuuuuzzzzzhhhhhhh!


Kelereng meluncur dengan stabil, lalu mengenai tanah dan memantul sejenak hingga akhirnya mengenai target kelereng sasaran.


Duazzzzhhhh!


Satu kelereng terkena timpukan. Sungguh suatu kemampuan melempar kelereng dengan keakuratan yang sempurna. Beberapa anak kecil yang awalnya mengejek Dipaidi takjub dengan kemampuannya.


"Wah gila! Ternyata pak Dipaidi punya kemampuan juga!" Komentar salah seorang anak kecil.


"Iya! Hebat sekali kemampuannya!"


"Hidup Dipaidi!"


"Hidup Dipaidi!"


Semua anak - anak yang berkumpul bersorak menyemangati Dipaidi.


"Bagaimana Sur? Gini - gini dulu gua adalah pemain pro permainan kelereng di desa KangAgung! Diahahahaha...." Ucap Dipaidi menyombongkan diri.


Insur hanya tersenyum mendengar perkataan Dipaidi. Kini giliran Insur untuk menembakkan kelerengnya.


Priiiiiiittttttt!


Nu'im si bocah smp kelas satu itu kembali meniup peluitnya sebagai pertanda bahwa Insur sudah boleh melemparkan kelerengnya.


Insur memutar - mutar kelereng di tangannya. Dia tampak serius melihat ke arah sasaran. Inilah saatnya menunjukkan kemampuan melemparkan kelerengnya.


Wuuuuuuuzzzzz!!!


Insur melemparkan kelerengnya dengan keras. Kelereng tersebut menghantam tanah beberapa kali lalu menukik tajam mengenai dua kelereng sekaligus!


"Wuuuuuioooooooo!!! Hebat banget!!" Teriak anak kecil yang menyaksikan hal tersebut.


Insur mengambil dua kelereng sasaran yang kini jadi miliknya sambil tersenyum mencemo'oh Dipaidi.


"Bagaimana Dipaidi? Itu baru namanya tembakan kelereng pemain pro! Zehahaha...." Ucap Insur yang sekarang gantian menyombongkan diri pada Dipaidi.


Dipaidi mulai memanas. Kini giliran dia melempar kelerengnya. Dia tidak ingin kalah dari Insur! Dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya.


Priiiiiiiiittttt!!


Peluit kembali ditiup dengan keras oleh Nu'im.


Dipaidi melakukan kuda - kuda penembakan kelereng. Dia memutar badanya di tempatnya berdiri berulang kali. Lalu dengan hentakan dahsyat dilemparkannya kelereng di tangannya.


Swwwwwuuuuuooozhhhh!


Kelereng melesat dengan tajam membentuk sebuah laju kurva yang miring. Kelereng itu mengenai tiga kelereng sekaligus setelah meliuk - liuk sejenak di tanah. Bagaimana bisa kelereng itu meluncur berputar seperti itu?!


"Wuuuuooooo.... Dahsyat sekali!!" Ucap teriakan anak - anak yang berkumpul.


Dipaidi mengambil tiga kelereng yang dikenainya. Sekarang dia sudah mengantongi empat kelereng. Sementara Insur mengantongi dua kelereng. Tersisa empat kelereng lagi di tempat sasaran.


Dipaidi merasa di atas angin kali ini. Dilihatnya Insur dengan tatapan merendahkan.


"Bagaimana Sur? Sebaiknya kamu menyerah sekarang. Diahahahaha....." Ucap Dipaidi.


Insur tidak menimpali. Kini dia serius akan menggunakan jurus melempar kelereng lefendarisnya, yaitu "Lemparan Sambalado"!


Priiiiiiiittttt!


Nu'im segera meniup peluitnya. Pertanda kini giliran bagi Insur untuk melempar kelerengnya.


Insur mulai memasang kuda - kuda. Lalu dia memutar - mutar tubuhnya sambil menggoyangkan pinggulnya. Goyangan Insur menjadi - jadi. Semua orang yang melihat gerakan tersebut merasa takjub dan tercengang.


Wuuuuuzzzzzzhhhhhhh!


Kelereng yang dilempar Insur terbang ke langit. Sangat jauh rupanya lemparan Insur. Semua mata memandang kelereng yang dilempar Insur ke atas langit.


Lalu kelereng tersebut menghujam kembali ke bumi dengan kecepatan dua kali lipat karena bantuan gaya gravitasi. Kelereng tersebut menghujam ke arah empat kelereng sasaran yang tersisa dan.......


Bedebummmmmmmm!!


Ledakan dahsyat terjadi! Semua mata memandang tak percaya. Ke-empat kelereng yang tersisa semuanya terkena lemparan Insur.


"Wuuuuooooooooooo!!" Teriakan para anak kecil yang berkumpul.


Hasil akhir Insur mengantongi enam kelereng, sementara Dipaidi hanya mengantongi empat kelereng. Jadi Insur lah pemenangnya!!


"Hasil dari pertandingan ini ialah.... Insur yang menang!!" Teriak Nu'im mengumumkan kemenangan Insur.


"Hidup Insur!"


"Insur nomor satu!"


"Hidup legenda kelereng Insur!"


Seluruh anak kecil meneriakkan kemenangan Insur dengan penuh suka cita. Insur dan Pantam berpelukan karena sangking harunya. Sementara Dipaidi memerah wajahnya karena emosi telah dikalahkan Insur.


"Kamprettttt!!! Ah sudah bubar semua!! Ayo mandi semua anak - anak! Ini udah sore!!" Teriak Dipaidi dengan kesal.


Anak - anak kecil itu pun segera bubar untuk mandi sore. Sementara Insur dan Pantam dijewer telinganya oleh Dipaidi.


"Sini luu iku gua!" Ajak Dipaidi yang masih kesal karena kalah.


Dipaidi menggiring Insur dan Pantam ke arah gerobak milik pak Iconk. Ilmuwan Oldton melihat kedatangan mereka dan memberikan dua kursi plastik tambahan untuk Insur dan Pantam.


"Sini - sini Sur, Tam! Makan nasi kucing dulu!" Ucap Oldtom.


"Dibayari apa kagak nih?" Tanya Insur.


"Udah santai aja. Gua yang bayar." Jawab Dipaidi.


Insur dan Pantam pun segera melahap dua bungkus yang diserahkan oleh pak Iconk pada mereka. Dipaidi pun juga melahap satu bungkus nasi kucing yang sedari tadi belum disentuhnya.


"Sur, kenalin ini ilmuwan Oldton." Ucap Dipaidi.


"Iya udah kenal gua." Jawab Insur sembari menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Nah pak Oldton inilah yang membantuku menganalisa mesin di bawah lantai bawah tanah kantor bekas Anci." Ucap Dipaidi.


"Trus hasilnya gimana?" Tanya Insur.


"Kalau itu sih silahkan pak Oldton yang menjelaskan sendiri." Ucap Dipaidi sembari melihat ke arah pak Oldton.


"Ehmmm... ehmmm... Jadi gini biar gua jelasin pada kalian semua sekalian. Mesin itu ternyata adalah mesin pembuat kloning tubuh. Jadi Ladusong yang sekarang bukanlah Ladusong yang asli. Dia adalah bentuk kloning dari Ladusong yang telah Insur bunuh." Ucap Oldton menjelaskan.


"Oh itu masuk akal. Mungkin sesaat sebelum Ladusong bertarung dengan kita di lantai atas kantor bekas Anci itu dia menyempatkan diri mengkloning tubuhnya." Sela Pantam.


"Tapi untuk apa?" Tanya Dipaidi.


"Menurut pemikiranku, Ladusong tau bahwa kemungkinannya untuk hidup saat bertarung dengan Insur itu tidak dapat diprediksi. Jadi dia membuat kloning dirinya agar saat dia mati dia masih bisa balas dendam." Jawab Oldton.


"Apakah bentuk kloning Ladusong itu sekuat aslinya?" Tanya Insur pada Oldton.


"Tidak. Menurut analisaku, kemampuan kloning Ladusong ini hanya setengah dari kekuatan tubuh asli. Jadi mungkin kloning Ladusong yang sekarang itu tidak terlalu berbahaya." Jawab Oldton.


Mereka pun berhenti mengobrol sejenak. Diteguknya es teh di depan mereka masing - masing. Ahhhhh nikmatnya! Tenggorokan mereka yang kering terasa segar setelah diguyur air es teh tersebut.


"Tapi jika kloning ini dimodifikasi oleh dokter Skak pasti tetap berbahaya." Ucap Dipaidi.


"Jadi kloning Laduaong itu kabur dengan dokter Skak? Si dokter yang gila itu ya?!" Kata Oldton terperanjat.


"Iya. Baiklah untuk sementara kita harus tetap siaga. Pak Oldton saya minta anda menghancurkan mesin kloning tersebut. Mesin itu lebih banyak memberikan masalah dari pada manfaat." Ucap Dipaidi.


"Siap, laksanakan." Kata Oldton.


Selesai makan dan minum, mereka pun bubar. Pak Iconk membersihkan meja gerobaknya. Dia bersiap untuk menutup dagangannya dan pulang.


Malam mulai turun. Kegelapan yang menenangkan mulai menyelimuti desa KangAgung. Semoga. Semoga saja....