
Di tepian air terjun itu tampak Insur berhadap - hadapan dengan Memey. Memey adalah sekretaris andalan Ladusong. Nama aslinya adalah Kang Maman, karena tuntutan profesi sebagai sekretaris maka jadilah Kang Maman ini menjadi banci dengan nama Memey. Memey dikenal sebagai banci yang suka sekali bersolek. Make up tebal sudah menjadi satu dengan kehidupannya.
Terlihat Ladusong sudah menghilang dibalik bebatuan atas air terjun. Insur harus segera menyusul Ladusong tapi tampaknya si Memey ini akan membuatnya sedikit kesulitan. Apalagi luka akibat pertarungan dengan Nansu tadi juga sudah membuatnya menahan rasa sakit.
Sebuah perahu di bawah air terjun mendekat. Seseorang keluar dari balik perahu. Dia adalah si Juli! Artis dangdut montok seksi desa KangAgung.
"Dimana ini, ahhh aku tadi ketiduran di atas perahu kok tiba - tiba sudah sampai sini." Ucap Juli dengan gaya merengek manjanya.
Perlu diketahui, si Juli ini walaupun amat sangat cantik tetapi dia adalah lelaki!! Dia adalah lelaki yang berparas cantik. Jaman sekarang cukup sulit mencari pekerjaan di desa KangAgung. Jadi terpaksa si Juli ini menjadi banci penyanyi dangdut.
"Loh kak Insur. Lama gak ketemu." Ucap Juli manja.
Apaan lagi ini?!! Batin Insur. Dia sedang terburu - buru, kini malah harus berurusan dengan dua banci sekaligus?!!
Si Juli memandangi Insur dan memey bergantian. Dia pun langsung tahu keadaan sulit si Insur.
"Kak Insur, sudah si Memey ini biar aku yang atasi. Kamu buruan kejar Ladusong saja!" Ucap si Juli sembari melompat dari perahunya dan mendarat di samping Insur.
"Eh? Apaan sih?" Insur masih tidak paham.
"Aku sebenarnya juga anggota kubu Serigala Tanah. Nenek Faynem menyuruhku untuk membatumu menghabisi Ladusong." Ucap Juli menjelaskan.
Insur pun langsung paham. Dia langsung memanjat dinding batu di samping air terjun untuk menyusul Ladusong.
Sementara Memey dan Juli saling berhadap - hadapan.
"Akika sebel banget nih. Berani - beraninya kamu menganggu eike sih jeng!" Bentak Memey.
"Siapa yang ganggu. Kamu tuh ya yang mukanya penuh make up yang mengganggu penglihatan aku." Jawab Juli dengan ketus.
"Eh dasar papan jemuran!"
"Apaan lu kacang kuaci?!"
"Elo yang apaan! Dasar kulkas dua pintu!!"
"Muka lu yang kayak tatakan panci!"
Dan kedua banci ini saling mengejek terus menerus. Inilah pertarungan dua auman banci yang legendaris di desa KangAgung.
Sementara itu Insur yang telah menyusul Ladusong. Dia mengejar Ladusong hingga masuk dalam lorong gelap yang panjang. Lorong tersebut merupakan aliran sungai, sehingga mau tak mau Insur berenang dalam kegelapan lorong tersebut.
Setelah berenang sekitar dua puluh menit maka sampailah Insur pada suatu ruangan dengan pencahayaan remang - remang. Tampaknya itu adalah suatu ruangan bawah tanah.
Dengan sigap Insur mengamati area di sekitarnya. Lalu dilihatnya sebuah pintu. Insur berlari ke arah pintu tersebut. Di balik pintu itu ternyata adalah sebuah tangga menuju ke atas. Tidak ada waktu lagi, Insur segera melompati anak tangga tersebut.
Hingga sampailah Insur di atas.
Tiba - tiba ada suara menggelegar dari salah satu ruangan di kantor tersebut. Asap bekas ledakan menyelimuti ruangan kantor tersebut. Lalu muncullah Ladusong dengan lengan kanannya yang baru. Lengan kanan itu terbuat dari robot.
"Luahahahaha..... Insur!! Kali ini kamulah yang terkena jebakanku! Inilah kekuatan terbaruku! Sebuah lengan robot yang kuat.... Luahahaha....!" Teriak Ladusong sembari memukul dinding dengan tangan kanannya.
Dan dinding itu roboh dengan begitu mudahnya.
Insur memandangi Ladusong. Dia keluarkan samurai hitam dari sarung pedangnya.
"Jadi si Anci itu sebenarnya adalah ilmuwan bawahanmu ya?" Tanya Insur.
"Akhirnya kamu tahu ya. Luahahaha... Akulah yang memaksanya menjebak Pak Cik dan Mbezi agar bertanggung jawab atas pengeboman di kantor pemerintahan. Lalu setelah tujuanku membunuh Pak Cik dan Mbezi tercapai, maka aku juga membunuh Anci dan keluarganya agar tutup mulut! Luahahaha....." Ladusong tertawa dengan kerasnya hingga menggema di seluruh ruangan kosong tersebut.
Ladusong segera berlari ke arah Insur, dia arahkan tinju tangan kanan robotnya ke arah Insur. Insur menghingdar ke samping kanan, berusaha menebas rusuk kanan Ladusong. Tapi apa daya Ladusong dengan cekatan menggunakan sikut robotnya ke arah Insur, dan.......
Bammmmmmmmmmmm!!!
Ternyata itu adalah jurus max elbow Ladusong yang menggunakan tangan robotnya. Jurus max elbow memang sudah membahayakan karena daya ledak sikut Ladusong. Kini dengan menggunakan tangan robot maka daya kekuatan ledaknya menjadi sepuluh kali lipat!
Insur terhempas melayang menjauh karena efek ledakan. Lalu menabrak sebuah dinding salah satu ruangan di kantor tersebut dengan kerasnya. Dinding itu menjadi retak dan Insur segera tersungkur. Dia kesulitan mengambil napas.
"Luahahaha..... Bagaimana Sur?! Inilah kekuatan baruku!! Sekarang tidak ada satupun di desa KangAgung ini yang dapat mengalahkanku!!" Ucap Ladusong dengan suara parau yang keras.
Insur mengatur napasnya kembali. Dia tidak menyangka kekuatan tangan robot itu begitu dahsyatnya. Jika Insur tidak segera memotong tangan robot itu maka akan menjadi masalah berat untuk mengalahkan Ladusong.
Insur segera menyarungkan kembali samurainya lakukan melakukan kuda - kuda. Itu adalah kuda - kuda jurus legendaris Sang Pembantai!
"Akhirnya kamu langsung menggunakan jurus legendarismu itu ya?! Luahahaha......" Ucap Ladusong sembari bersiap menahan serangan yang akan datang.
Ini sudah kedua kalinya Ladusong melihat jurus itu. Sekarang Ladusong lebih bersiaga dan berhati - hati dari pada yang sebelumnya. Apalagi sekarang dia sudah mempunyai tangan kanan robot yang kuat. Dia yakin bisa mengatasi jurus Sang Pembantai kali ini.
Angin tiba - tiba menyelimuti seluruh ruangan kantor tersebut. Kursi - kursi terbang menyingkir karena kerasnya angin tersebut. Suasana angin yang bergerak kesana - kemari dengan kerasnya itu membuat Ladusong memicingkan mata. Ini benar - benar kejadian yang sama waktu di lapangan Oliv, Ladusong membatin.
Syyaaaaaaatzzzzzz!!
Lagi - lagi Insur tiba - tiba menghilang dari pandangan mata. Ladusong bersiaga. Kini Insur tidak terlihat di tengah kencangnya angin, dengan kecepatan seperti itu sulit bagi Ladusong untuk mengetahui gerakan Insur.
Lalu entah kenapa Ladusong mengepalkan tangannya dan menyerang ke depan serangan serangan max elbownya.
Duaaaaaarrrtrrtrtt!!!!!
Sebuah ledakan menggema yang ternyata mengenai Insur yang entah kenapa tiba - tiba terlihat. Angin kencang berhenti dan Insur yang terkena max elbow tepat di dadanya melambung ke udara terdorong karena ledakan.
Insur terjatuh terseret ke lantai berulang kali lalu menabrak dinding untuk kedua kalinya. Kali ini lukanya lebih parah dari sebelumnya. Darah keluar dari mulutnya. Tubuhnya tampak tidak kuat lagi karena mendapat ledakan sepuluh kali lipat max elbow tersebut. Apakah Sang Legenda Pembantai akan berakhir seperti ini?