
Insur terbangun di suatu ruangan remang - remang. Dia sudah pingsan selama dua hari. Dilihatnya bekas tembakan di dadanya telah diperban rapi. Tampaknya orang yang menyelamatkannya telah merawatnya dengan baik. Insur tidak dapat mengingat siapa yang menolongnya. Dilihatnya ruangan sekitar itu dengan sebisanya, tampak banyak senjata api berserakan. Di ujung ruangan agak jauh dari tempat dia tertidur terlihat suatu pintu yang tampaknya seperti sebuah lift. Insur mulai berjalan sempoyongan mendekati lift tersebut.
Belum sempat Insur memencet tombol lift, tiba - tiba lift terbuka dan terlihat sosok wanita di dalamnya.
"Kamu.... apakah kamu yang menyelamatkanku?"
"Iya. Kamu tampaknya sudah siuman."
"Agak lebih baik, aku mengucapkan terimakasih tapi ada hal yang harus segera aku lakukan."
"Jangan gegabah. Duduklah dulu, akan aku ceritakan situasinya terlebih dahulu waktu kamu pingsan selama dua hari ini."
Mbak Hana membantu Insur duduk kembali.
"Seingatku kemarin...."
Insur tidak meneruskan kalimatnya. Dia bingung sendiri, bagaimana untuk mengatakan tentang asap tebal putih yang dia sendiri jelas - jelas tahu bahwa itu jurus ternama dari white snow?! Mbak hana dengan santainya menuangkan kopi dingin pada sebuah gelas mug besar lalu menyodorkannya pada Insur.
"Aku white snow" Ujar mbak hana dengan santai.
Insur menerima mug berisi kopi dingin itu dengan bergetar seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kenapa kamu menyelamatkanku?" Insur bertanya setelah meneguk kopi pahit.
"Ingin saja" Jawab mbak hana dengan santainya.
"Kalau kamu benar - benar white snow tentunya kamu juga sudah tau akulah yang menyebabkan kubu Serigala Tanah hancur berkeping - keping. Dua tahun lalu aku mengalahkan Surin, ketua dari kubu Serigala Tanah, hingga dia dieksekusi penggal di lapangan Oliv. Kamu harusnya dendam denganku kan? Kenapa menolongku?"
"Heemm.. Karena ini adalah perintah Surin sebelum dia meninggal."
"Perintah Surin?"
Mbak Hana tertunduk memandangi lantai ruangan yang remang - remang tersebut. Lalu dilihatnya wajah Insur dan berkata, "Dulu aku sempat mencoba menyelamatkan Surin waktu ditangkap setelah kamu mengalahkannya. Malam sebelum Surin dieksekusi aku membobol penjara.............."
Dan kisah Mbak Hana yang ternyata adalah White Snow itu berlanjut..........
(### Empat tahun yang lalu...)
Saat itu Surin Sang Kegelapan telah ditangkap oleh kubu Elang Langit. Kekalahan telak kubu Serigala Tanah dengan kubu Elang Langit di jembatan Agung itu merupakan pukulan menyakitkan. Dan semua hal itu disebabkan oleh Insur.
Malam harinya White Snow yang selamat dari pertempuran di jembatan Agung mencoba menyelamatkan Surin. Penjara besar kubu Elang Langit bernama penjara Dinding Besi. Dalam penjara itu telah banyak anggota kubu Serigala Tanah yang tertangkap.
White Snow segera menggunakan jurus kabut putihnya. Seluruh area penjara Dinding Besi terselimuti kabut putih pekat yang berhawa dingin itu. Dengan mudah White Snow membobol masuk dan segera mencari sel tempat Surin ditahan.
Pak Kaji Dauh yang merupakan pimpinan penjara saat itu segera menyuruh anggotanya bersiaga. Dia memiliki firasat kalau ini bukan kabut biasa.
Sesampainya White Snow di sel Surin, dia terkejut. Saat itu Surin dirantai di sekujur tubuhnya, kaki dan tangannya dipaku dengan sebuah pasak besar dari besi. Sungguh pemandangan mengerikan.
"Hamba datang untuk membebaskan anda ketua!" Ucap White snow sembari memberi hormat dengan bersimpuh pada satu kaki.
"Suahahahaha... Ternyata kamu datang ya White Snow!" Ucap Surin yang masih bisa tertawa dalam kondisinya yang mengenaskan.
"Tentu saja. Anda adalah ketua yang sangat saya hormati. Saya akan melakukan apa saja yang anda perintahkan sekalipun nyawa taruhannya!" Jawab White Snow.
Surin pun berkata, "Kalau begitu... Laksanakan perintah terakhirku ini. Mulai saat ini kamu harus menjaga keselamatan Insur dengan nyawamu..."
White Snow kaget, "Kenapa?! bukankah Insur yang menyebabkan anda tertangkap?!! Harusnya dia dibunuh!!"
Surin masih tersenyum tenang dan melanjutkan, "Dengarkan White Snow. Ada banyak hal yang tidak kusampaikan padamu tapi kamu harus mencari tahunya sendiri suatu saat nanti. Besok aku akan dieksekusi publik. Kubu Langit akan memenggalku di Lapangan Oliv. Tapi aku tidak takut mati! Suahaha... yang aku takutkan adalah tekadku yang mati! Dan tekadku tidak akan mati, tidak akan pernah! Kau tahu kenapa? Karena aku mewariskan tekadku pada Insur."
Surin sang raja kegelapan tersenyum lebar.
"Pergilah! Jangan selamatkan aku! Aku siap untuk mati besok. Perintah terakhirku...... Jaga keselamatan Insur dengan nyawamu! Suahahaha.... Pergi!!!" Surin membentak White Snow setelah memberi tugas terakhirnya.
Dengan berlinang air mata White Snow berkata, "Siap laksanakan....!" White Snow pun bergegas pergi.
Sempat terjadi pertempuran singkat antara White Snow dan pak kaji Dauh. Tetapi White Snow berhasil melarikan diri.
White Snow mengakhiri ceritanya dengan terisak - isak, mencoba menahan tangis saat mengenang kematian Surin, satu - satunya orang selama ini dia hormati.
"Jadi jangan salah paham. Aku menyelamatkanmu hanya karena kamu satu - satunya orang yang dipercaya tuan Surin untuk meneruskan tekadnya."
White Snow memandang lurus pada Insur. Insur tidak berkata apa - apa. Seperti ada sebuah rahasia yang hanya dia dan Surin yang mengetahui kebenarannya.
"Sur, sebaiknya kamu berhati - hati. Setelah pertarunganmu dengan Ladusong kemarin, polisi segera diperintah menangkapmu. Kos mu telah diobrak - abrik. Untuk sementara waktu tinggallah di sini. Kalau mau keluar jangan sampai ketahuan polisi" Ucap mbak Hana memperingatkan Insur dengan tegas.
"Bagaimana keadaan Ladusong saat ini?" tanya Insur.
"Tangan kanannya putus. Dengan kondisinya saat ini Dipaidi berusaha melengserkannya"
"Dipaidi kan tangan kanan Ladusong, kenapa?"
"Tampaknya selama ini Dipaidi tidak suka cara yang diambil komandannya tersebut dalam menyikapi kasus. Mulai dari pembakaran warung pak Cik dan pembunuhan Anci sekeluarga. Tentunya kekalahan Ladusong dalam pertarungan denganmu merupakan kesempatan emas bagi Dipaidi untuk menggulingkan kekuasaan Ladusong dalam militer pemerintahan"
"Memang sudah sampai dimana perkembangannya?"
"Sebentar lagi akan ada pemilihan komandan militer desa Agung yang baru. Apakah Dipaidi atau Ladusong? Dipaidi orangnya biasa - biasa saja. Tidak terlalu menonjol. Sementara Ladusong adalah salah satu empat pilar Elang Langit dengan segudang prestasi. Tetapi sekarang kehilangan satu tangan, belum lagi perbuatannya yang terlalu beringasan. Entahlah." Ucap Mbak Hana mengakhiri ceritanya dan dia berjalan menuju lift untuk keluar ruangan.
"Jadi mulai saat ini aku panggil kamu White Snow atau mbak Hana?" Tanya Insur.
Mbak hana berhenti, berpaling memandang Insur dan menjawab, "Mbak Hana. Tapi kalau kamu mau memanggilku sayang juga gak apa - apa."
Mbak Hana pun masuk lift dan pergi. Insur terdiam sendiri di ruangan tersebut. Ahhh ternyata banyak kejadian juga saat dia pingsan.
Sebelum Insur tertidur, dilihatnya ada sebuah alat pancing di sudut ruangan. Hobinya tergelitik. Diambilnya Handphone lalu ditelepon lah sahabatnya.
"Halo Tam!"
"Lu masih hidup Sur?!!!"
"Iya santai saja, yuk besok mancing di sungai Tasbran bagian selatan!"
"Ok Sur.... kangen gua ama lu!!"
Dan kedua sahabat itu pun bercanda bersama....