Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 23: Dia Kembali?!


Pagi itu Insur sudah berpakaian serba hitam. Jam wekernya masih menunjukkan pukul 3 pagi. Di depan tempat kos nya sudah ada Pantam yang juga berpakaian serba hitam menunggunya.


"Gimana udah siap Sur?" Tanya Pantam.


"Ok, udah siap nih." Jawab Insur.


Mereka berdua pun bergandengan dengan sepedah butut itu menuju perumahan bangau putih. Mereka berdua bersiap menyergap si Anci berdasarkan informasi yang mereka dapat dari Pak Dauh. Tetapi mereka harus lebih cepat karena bukan hanya mereka berdua saja yang ingin menangkap si Anci, ternyata komandan Ladusong juga memiliki rencana menangkap si Anci.


Jika Anci lebih dulu tertangkap Ladusong maka akan lebih sulit bagi Insur untuk mengetahui kebenaran dari rentetan kejadian pengeboman di kantor pemerintahan, pembakaran warung kopi Pak Cik sekaligus kematiannya, hingga kata - kata terakhir Mbezi sebelum ajal menjemputnya melalui eksekusi publik yang dilakukan kubu Elang Langit di lapangan Oliv.


Insur dan Pantam berboncengan sepeda butut dengan cepat menyusuri jalan yang searah dengan jembatan Agung. Sesampainya di depan kompleks perumahan Bangau Putih, mereka berdua langsung memarkirkan sepeda butut di samping gapura besar perumahan tersebut. Keduanya menyelinap menuju rumah si Anci yang ternyata suami Bu Dilla yang terkenal paling manis dan seksi di perumahan Bangau Putih. Ahhh kampret, jika memikirkan hal tersebut Insur jadi marah sendiri. Bisa - bisanya Anci yang badannya bulat seperti gajah itu mempunyai istri seperti Bu Dilla. Dunia tidak adil!!! Dunia kejam!!!


Sesampainya di depan rumah Anci, Insur dan Pantam segera mengendap - endap memanjat pagar tinggi depan rumah. Insur bisa dengan mudah melewati pagat tersebut. Lain halnya dengan Pantam. Karena tubuh Pantam itu gendut sekali. Sempat Pantam tertancap besi lancip pagar tersebut tepat di tengah pantatnya!


"Auuuuuwwwwwhhh......!" Pantam menjerit tertahan.


"Sssstttt.....! Jangan buat suara berisik!" Kata Insut sembari membungkam mulut Pantam yang masih mengaduh kesakitan.


Dengan cekatan Insur bersalto menaiki dinding samping rumah dengan diikuti Pantam yang masih memegang pantatnya erat - erat. Insur membuka pintu luar kamar si Acni anaknya Anci yang rupanya masih tertidur lelap. Insur melihat Acni yang tertidur lelap. Tak tega rasanya jika melihat si Acni ini, dia masih kecil. Belum mengetahui kesalahan orang tuanya. Insur memiliki pandangan bahwa seorang anak tidak menanggung kesalahan atas perbuatan orang tuanya.


Insur dan Pantam berjalan pelan menuju ruang tamu. Terlihat di tengah ruang tamu Bu Dilla sedang menangis tersedu - sedu sembari memeluk erat Anci.


"Kenapa ini bisa terjadi papa?" Tanya Bu Dilla dengan sesenggukan.


"Papa minta maaf mah, papa tidak menyangka akan terjadi hingga seperti ini. Papa dijebak, kalau papa tidak melakukannya maka mereka mengancam akan membunuh mama dan Acni anak kita satu - satunya."


"Tapi itu perbuatan salah. Membunuh banyak nyawa tak berdosa pa!"


"Hal itu papa tidak tau kalau akhirnya akan terjadi seperti ini karena......"


Belum sempat Anci menyelesaikan kalimatnya dia terkaget memandangi Insur dan Pantam yang turun dari lantai atas melalui tangga.


"Anci! Lu harus jelasin semuanya ke gua kampret!! Gara - gara lu gua banyak kebawa masalah!" Seru Insur sembari mencengkeram kerah Anci.


"Sabar Sur sabar, aku sebenarnya juga terpaksa melakukan ini." Jelas Anci tergelak.


Bu Dilla segera bangkit dari duduknya, tidak tau lagi apa yang bisa diperbuatnya setelah mendengar segala sesuatunya dari suaminya. Belum sempat Anci menjelaskan segala sesuatunya, tiba - tiba....


Dooooooorrrrrrr!!!!


Anci tertembak tepat dijantungnya dan seketika dia mengejan dan meninggal. Bu Dilla terkaget dan menjerit, "Tidaaaaakkkkk!!!!"


Sementara Insur dan Pantam juga kaget. Di ujung pintu ruang tamu muncullah Pak Ladusong dengan santainya menenteng senjata api laras panjang sembari merokok.


"Ada apa sang legenda? Bukankah kamu sudah terbiasa melihat mayat di masa lalumu?" Ejek Ladusong dengan santainya.


"Kamu....." Insur tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Amarahnya sudah memuncak.


"Tahan Sur, tahan! Jangan gegabah, kita belum tahu situasinya" Ucap Pantam memegangi Insur. "Ayolahhhhh.... kamu adalah legenda, keluarkan saja amarahmu dan mari bertarung sekarang" Ladusong berusaha memprovokasi Insur.


"Kenapa kamu melakukannya Ladusong?!!"


"Kamu mau tau? Akan aku ceritakan, tapi lawan aku dulu. Sudah lama sekali aku menginginkan saat - saat berduel dengan seseorang yang dijuluki legenda saat perang besar dua tahun yang lalu."


Suasana hening mencekam, tiba - tiba masuk beberapa polisi lengkap dengan senjata mereka. "Bawa istri dan anak Anci ke kantor. Dan buang mayat si Anci. Bereskan semuanya." Perintah Ladusong pada para polisi anak buahnya tersebut.


"Siap Komandan! Lantas bagaimana dengan kedua orang ini?" Tanya salah satu anak buah Ladusong. "Mereka berdua urusanku." Jawab Ladusong sembari menjatuhkan rokok dari mulutnya ke lantai dan menginjaknya.


"Kutunggu di tengah lapangan Oliv. Kalau kamu ingin tau kebenarannya. Kita nikmati pagi ini dengan duel terbesar. Luahaahhaa......." Ladusong tertawa dan meninggalkan rumah tersebut.


Insur terdiam dengan muka merah memendam amarah. Sementara anak buah Ladusong segera melaksanakan perintah atasannya. Diseretnya Bu Dilla yang menangis meronta - ronta di atas mayat suaminya. Beberapa polisi menuju kamar atas dan membekap si Acni yang sedang tertidur di kamarnya.


Tanpa berkata - kata Insur segera keluar dari rumah tersebut. Pantam mengekor dari belakang. Di luar sudah banyak para tetangga yang berkumpul melihat kejadian tersebut.


Banyak yang menerka - nerka apa yang sebenarnya tengah terjadi di rumah Bu Dilla tersebut. Ibu - ibu yang suka menggosip pun segera berkumpul di sekitar rumah tersebut untuk mengumpulkan berbagai informasi aktual yang dapat digunakan sebagai bahan gosip pada arisan minggu depan. Bapak - bapak yang malas bekerja pun juga berkumpul dan saling berkomentar agar kehidupan malas mereka tidak dikomentari orang lain.


Insur dan Pantam acuh tak acuh membelah kerumunan tersebut dan bergegas pergi ke tempat sepeda butut Pantam diparkirkan dekat gapura perumahan Bangau Putih.


"Mau kemana kita Sur?" Tanya Pantam yang masih syok dengan kejadian yang telah dilihatnya.


"Sudah jelas. Ke lapangan Oliv!"


"Lu beneran mau duel dengan Ladusong?!"


"Iya!"


"Tapi Sur dia itu salah satu dari empat petinggi kubu Elang Langit!"


"Iya Dia memang salah satu empat petinggi kubu Elang Langit. Tapi kamu juga tau siapa aku kan Tam?"


"Iiii...iya sih. Tapi...."


Pantam kehilangan kata - kata. Sahabatnya sudah membulatkan tekad. Kalau sampai Insur juga mulai bergerak, hal ini akan lebih rumit lagi. Masih terngiang di pikiran Pantam tentang sosok pemuda penuh darah yang seakan menantang langit di atas jembatan Agung dua tahun yang lalu. Siluet seorang pemuda yang melegenda. Dia telah hidup damai dengan mengalah.... Tapi kali ini seseorang benar - benar telah mengusik kedamaiannya! Apakah Insur akan menjadi pembunuh sekali lagi?