Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 35: Bambang dan Jurusnya


Di bawah bulan purnama dan dinginnya angin malam kedua kekasih tersebut bertemu. Keduanya terpaku saling memandang. Ada romantisme yang tidak dapat diucapkan dengan kata - kata.


"Kamu sudah kembali Sur?" Ucap Mbak Hana dengan tetap berusaha bersikap biasa sekalipun hatinya berdegup kencang.


"Iya Mbak Hana. Habi dari melatih si bocah Nu'im. Kok mbak Hana ada di sini juga?" Tanya Insur berbasa - basi yang akhirnya kelihatan basi juga.


"Kubu Serigala Tanah sudah setuju untuk membantu mempertahankan desa KangAgung." Jawab Mbak Hana.


"Hah? Mana mungkin?! Terutama Pak Atu. Pasti sulit bagi Pak Atu untuk mau bekerja sama dengan kubu Elang Langit." Ucap Insur.


"Nenek Faynem sudah berhasil membujuknya." Jawab Mbak Hana.


Keduanya terdiam kembali sejenak. Suasana canggung tersebut tiba - tiba tercairkan dengan kedatangan Juli. Dengan gaya berlari imutnya Juli langsung mendekap lengan Insur.


"Kak Insur akhirnya datang juga." Ucap Juli sambil berggelanyut manja.


"Apaan lu kacang kuaci?! Lu juga ikut membantu dalam perang ini?" Tanya Insur yang merasa risih.


"Iya dong. Nenek Faynem memintaku untuk ikut membantu. Duh senangnya bisa sama - sama kak Insur lagi." Ucap Juli yang semakin erat mendekap tubuh Insur.


Mbak Hana yang melihat hal tersebut langsung cemberut dengan muka kesal yang ditahan. Tanpa berkata apapun mbak Hana berjalan menjauhi Insur dan Juli.


"Eh? Kok mbak Hana pergi begitu saja?" Ucap Insur.


"Ya jelas lah. Masak kak Insur gak paham." Ucap Juli.


"Paham apaan?" Tanya Insur tidak mengerti.


"Tau ah gelap. Udah ya kak Insur Juli mau tidur dulu. Ingat bangun pagi - pagi soalnya besok kita tidak tau apa yang direncanakan pasukan pemberontak dan pasukan desa Magala itu." Ucap Juli.


Insur hanya terdiam mengerutkan alisnya. Ah dipikir secara mendalam pun percuma. Tidak ada jawaban bagi tuna asmara jika masalahnya itu tentang cinta. Dan malam pun semakin dingin. Sedingin hati para pria tuna asmara.


-----


Sekitar pukul tiga dini hari truk - truk baja yang besar sejumlah empat buah dinyalakan. Suaranya menderum membangunkan para pasukan pemberontak dan pasukan desa Magala. Jaki berdiri tegap memegang mikrofon besar.


"Semuanya segera bersiap! Ganti pakaian bertempur lalu segera naik truk baja besar yang telah disediakan! Pasukan yang terpilih ikut hanya seratus dari pasukan pemberontak dan seratus dari pasukan desa Magala. Jadi dalam satu bunker yang dimuat truk tersebut diisi masing - masing lima puluh orang. Sementara yang tidak terpilih bertugas menjaga kapal besi air desa Magala di tepi sungai Tasbran!" Teriak Jaki memberikan komandonya secara lengkap.


"Untuk pasukan yang menjaga kapal besar kita siapa yang akan memimpinnya?" Tanya Lanaya.


"Aku, kamu dan tuan Zhou. Walaupun kita sepakat untuk bekerja sama dengan pasukan pemberontak ini tapi kita hanya sekedar membantu. Keamanan kapal besar kita lebih penting dari pada memenangkan pertempuran ini. Lagi pula kita sudah membantu turun tangan di pertempuran kemarin. Jadi sekarang kita membantu sedikit saja dengan memberikan perlengkapan tempur kita saja." Jelas Jaki.


Zhou berjalan santai ke arah Jaki dan Lanaya.


"Bagaimana?" Tanya Zhou singkat.


"Sebagian pasukan yang terpilih sudah saya komandokan untuk menaiki truk tuan Zhou." Jawab Jaki.


"Lanaya. Dalam pertempuran kali ini cukup kamu dan seratus pasukan desa Magala saja yang membantu pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak. Aku dan Jaki akan menunggu di kapal besar kita. Entah kenapa hari ini aku merasakan firasat buruk." Ucap Zhou.


"Baik tuan Zhou." Ucap Lanaya.


Keempat truk siap diberangkatkan. Kali ini para pasukan gabungan tersebut dipimpin oleh kloning Ladusong, dokter Skak, dan Lanaya.


"Kukira mereka akan membantu kita hingga akhir. Tidak tahunya hanya setengah - setengah saja." Gerutu kloning Ladusong.


Keempat truk itu akhirnya berangkat. Deru suara truk - truk baja besar tersebut meraung di sepanjang jalan Agung. Tak selang berapa lama mereka pun tiba di tempat dimana jurus penghalang kaca Barrier milik Pak Kaji Dauh diaktifkan.


Truk - truk besar itu berhenti. Dokter Skak menyeret paksa Bambang yang terikat tangannya dibelakang.


"Sekarang cepat gunakan jurusmu untuk melapisi truk - truk besar ini agar mampu menembus sihir penghalang milik Pak Kaji Dauh ini!" Perintah dokter Skak.


"Ampuuuun.... Kalau jurusku kugunakan untuk untuk melapisi truk sebesar ini sudah pasti saya akan mencret!" Teriak Bambang protes.


Dokter Skak mengeluarkan pisaunya lalu menaruhnya di leher Bambang.


"Lakukan atau kamu akan mati!" Ancam dokter Skak.


Mau tak mau Bambang pun mengeluarkan jurus pelapis erasernya pada truk besar tersebut. Truk pertama yang telah dilapisi pun segera melaju menembus penghalang Pak Kaji Dauh dengan mudahnya.


"Gila! Ternyata berhasil! Ini benar - benar satu - satunya jurus yang mampu menembus Barrier milik Pak Kaji Dauh. Ayo lakukan lagi pada truk berikutnya!!" Ucap dokter Skak.


Tiba - tiba sebuah suara diselingi bau khas menguar di udara.


Brrrrruuuutttt! Preeeeettt!!


Ternyata Bambang mencret di celana!


"Kampret!! Bau sekali!!" Umpat dokter Skak.


"Kan sudah kubilang efek sampingnya kalau yang dilapisi jurusku terlalu besar maka aku akan mencret!! Dasar kacang kuaci!!" Teriak Bambang sambil menagis tak karuan merasakan mulas pada perutnya.


"Aku tidak peduli!! Cepat gunakan jurusmu lagi pada truk yang berikutnya!!" Teriak dokter Skak sembari menendang pantat Bambang.


"Auuuuwwwwww!!!" Suara lolongan Pantam menggema di udara pagi itu.


Dan akhirnya dengan amat sangat terpaksa Bambang menggunakan jurusnya pada keempat truk baja besar tersebut. Seluruk truk akhirnya berhasil menembus sihir penghalang milik Pak Kaji Dauh.


Truk - truk baja besar tersebut melaju meninggalkan Bambang yang terkulai lemas tergeletak di pinggir jalan. Sudah empat kali Bambang mencret. Dan di setiap mencretnya ada rasa pedih tak tertahankan di perut dan pantatnya.


"Dasar kacang kuaci!! Kurang ajar sekali dokter Skak itu memaksaku! Auw auw auuuuwww!" Umpat Bambang yang masih kesakitan sambil memegang pantatnya.


Tiba - tiba muncul seseorang misterius berjaket tebal berjalan ke arah Bambang. Bambang memandang orang tersebut dan kagetlah dia.


"Kamu... Kamu.... Tidak mungkin!! Bagaimana kamu masih bisa hidup?!" Teriak Bambang tidak percaya.


"Sudahlah Bambang. Yang terpenting sekarang aku membutuhkan bantuanmu." Ucap pria misterius tersebut.


"Bantuan apa? Tentu aku bantu kalau aku bisa." Ucap Bambang yang tampaknya cukup menghormati orang misterius tersebut.


"Bantu aku menembus sihir penghalang ini." Ucap pria misteris tersebut.


"Kampret!! Pala lu bau menyan!! Aku sudah gak kuat lagi!!" Ucap Bambang.


Pria misterius itu menggenggam tangan Bambang dan menatapnya dengan serius.


"Kamu bisa. Kamu pasti bisa!" Ucap pria misterius tersebut menyemangati Bambang.


Dan akhirnya terpaksa Bambang menggunakan jurusnya pada motor pria misterius. Pria misterius itu pun akhirnya mampu melaju menembus sihir penghalang. Motor tersebut melaju meninggalkan Bambang yang tergeletak tidak sadarkan diri karena telah mencret lima kali berturut - turut!!