
Pagi itu suasana begitu damai di desa KangAgung. Desa KangAgung merupakan sebuah desa dengan batas sisi barat adalah desa Balatara, batas utara adalah desa Magala, batas timur adalah lautan hitam, dan batas selatan adalah lautan luas dengan sebuah pulau kecil namanya pulau Es Beku.
Ketenangan desa KangAgung ini bukan serta merta terjadi. Ada beberapa sejarah pergolakan yang sempat terjadi. Pergolakan besar yang baru saja setahun ini terjadi adalah pemberontakan yang dilakukan kloning Ladusong dan dokter Skak yang sempat menguasai sisi barat desa KangAgung.
Pemberontakan tersebut dapat ditumpas berkat bantuan dari Insur. Kini warga desa KangAgung mengalami ketenangan kembali di bawah kepemimpinan Dia Sang Penguasa Desa.
Pagi itu Insur terlihat tenang meminum kopi paginya di teras padepokan yang dia dirikan. Padepokan tersebut sempat menjadi basis utama pembelajaran pedang bagi para pejuang melawan pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak. Kini padepokan tersebut tetap mengajarkan ilmu pedang tetapi dengan menggunakan pedang kayu. Kalau dahulu kala yang belajar berpedang adalah para pejuang dengan pedang sungguhan, maka kini yang belajar berpedang adalah anak - anak kecil dengan menggunakan pedang kayu.
Awalnya padepokan Insur ramai sekali, tapi entah mengapa kini mulai berkurang sedikit demi sedikit. Mungkin ada kaitannya dengan Tengud yang tidak mau kalah bisnis dengan Insur.
"Aduuuh Sur! Gawat nih! Anak - anak yang mulai belajar pedang di sini mulai berkurang sedikit demi sedikit." Gerutu Pantam pada Insur.
Pantam adalah sahabat Insur. Pantam merupakan asisten Insur dalam melatih pedang di padepokan tersebut.
"Lalu?" Tanya Insur dengan santainya sembari menyalakan rokok.
Bentar - bentar, woooooiiii lu itu pelatih pedang! Ngapain lu ngerokok santai di padepokan elu woooi! Dasar kacang kuaci!
Pantam duduk di samping Insur dan juga menyalakan rokok.
"Santai bener lu jawabnya! Ini gawat kalau padepokan kita kekurangan murid! Kita adalah padepokan pertama dan satu - satunya di desa KangAgung looo. Jaga gengsi bro, jaga gengsi!" Teriak Pantam dengan berapi - api.
"Ya kalau orang gak mau belajar ilmu pedang gua masak gua paksa buat belajar." Jawab Insur dengan santainya.
"Be.... bener juga sih kata elu. Tapi kalau padepokan kita semakin sepi maka penghasilan kita semakin menurun. Kalau penghasilan semakin menurun maka nanti kamu bisa jadi pengangguran lagi lo!" Ancam Pantam.
Mendengar kata pengangguran membuat Insur langsung berdiri kaget. Dia Pandangi Pantam dengan mimik wajah serius dan ketakutan.
"Pengangguran?!" Tanya Insur dengan nada meninggi.
"Iya bisa - bisa bukan hanya kamu aja yang jadi pengangguran, tapi aku juga!!" Ucap Pantam.
"Tidak bisa!" Ucap Insur dengan penuh semangat.
Memang dahulu Insur sudah pernah mengalami masa pengangguran yang menyakitkan. Kini dia tidak mau lagi merasakan masa yang mengerikan tersebut.
"Baik. Sekarang ayo kita ke aula utama untuk mengecek keadaan kita terlebih dahulu." Ucap Insur.
Insur dengan sigap menuju ke aula utama padepokannya dimana anak - anak kecil biasanya berlatih. Pantam dengan berjinjit mengekor di belakangnya.
Tampak di aula utama ada empat anak kecil sedang berlatih pedang kayu dengan semangat. Tampaknya mereka belajar sendiri karena Insur sebagai pelatih utama memang terkenal malas.
"Apa?! Cuma empat?! Cuma empat?!! Dimana yang lain?!!" Teriak Insur seperti kesurupan.
Empat anak kecil itu pun kaget dan segera memberi salam pada pelatihnya. Salah seorang anak maju dan memberanikan dir menjawab, "A... anu... Kebanyakan dari anak - anak yang lain mengundurkan diri Pak Insur."
Insur dibuat ternganga oleh keadaan yang dilihatnya di depan mata. Karena malasnya Insur hingga dia tidak tahu kalau ternyata selama ini murid di padepokan pedangnya berkurang hingga menyisakan empat anak di depannya. Bayangan akan bangkrut dan menjadi pengangguran langsung menghinggapi kepala Insur.
"Bagaimana bisa sampai seperti ini Tam?! Gawat!! Kalau gua bangkrut bisa - bisa gua jadi pengangguran lagi! Mengerikan, mengerikan....." Ucap Insur hampir menangis.
"Tenang Sur tenang. Segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Sekarang kamu sudah tau kan kondisi padepokan kita?! Jadi sekarang kita harus mencari tahu akar penyebab masalahnya baru kita temukan solusinya." Ucap Pantam dengan bijak.
Insur mulai menghembuskan asap rokoknya. Dia mencoba tenang dan berfikir penyebab dari kemunduran padepokannya. Sebenarnya salah satu penyebabnya amat sangat jelas, yaitu kemalasan Insur!
Bayangkan, saat murid - muridnya datang untuk belajar ilmu pedang, dia malah tidur di kantornya! Guru pedang macam apaan itu woooooi!!
"Apa sebenarnya penyebabnya ya Tam?" Tanya Insur yang belum mengerti.
Pantam hanya melotot pada Insur yang tidak juga sadar diri itu. Ditinjunya Insur hingga Insur terjatuh dari kursinya!
Bruuuuuaaaaakkkkk!
"Dasar lu gak sadar diri! Jelas - jelas itu karena elu sebagai pelatih satu - satunya di padepokan ini yang malasnya minta ampun!!" Teriak Pantam dengan penuh emosi.
"Apaan lu? Gua kan udah menjalankan tugas gua! Gua udah ngajarin mereka berpedang kok!!" Umpat Insur membela diri.
"Dasar kacang kuaci!! Elu ngajarnya cuma lima menit! Abis itu selama satu jam lebih lu suruh mereka belajar sendiri dan elu malah ngopi ama merokok di kantor!! Sadar wooooi sadar!! Belum lagi kebiasaan elu main judi tiap malem sampek akhirnya elu selalu bangun kesiangan! Mana ada orang yang mau menitipkan anaknya untuk belajar pedang pada orang semacam elu!!! Ngaca wooooiii ngaca!! Dasar tutup panci!!" Teriak Pantam bertubi - tubi melampiaskan emosinya.
Insur terdiam. Hujan kalimat dari Pantam mulai menyadarkan akan kesalahan dirinya sendiri. Kini Insur mulai duduk kembali di kursi kantornya dengan lemas tak bertenaga. Dia nampak sudah sadar akan kesalahannya sendiri.
"Betul juga Tam." Ucap Insur lemas.
Pantam yang melihat temannya itu tampaknya mulai sadar diri menjadi muncul rasa ibanya.
"Sudah, sudah. Berarti sekarang kita tinggal mencari solusinya." Ucap Pantam.
"Mau solusi yang bagaimana lagi Tam? Nama gua kan udah hancur! Gak mungkin gua bisa memulihkan nama gua lagi!" Ucap Insur.
"Sur...." Ucap Pantam mencoba menenangkan hati Insur.
"Udah... udah!! Dasar kehidupan kacang kuaci! Kehidupan memang tega mempermainkan gua!! Awalnya gua bisa dirikan padepokan dan mulai enggak jadi pengangguran. Tapi sekarang malah padepokan ini terancam bangkrut dan gua bisa jadi pengangguran lagi! Kampret!!" Ucap Insur dengan emosi meluap - luap.
Pantam meninju muka Insur sekali lagi dengan lebih keras.
Bruuuuuuaaaakkkkk!
"Diem lu tatakan panci!! Itu bukan sikap Insur yang gua kenal!! Kamu adalah satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin!! Kamu adalah orang yang pernah menyelamatkan desa KangAgung dari pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak!! Dimana tekadmu yang dulu itu?!" Teriak Pantam.
Insur tidak menjawab. Tampaknya Insur sudah kehilangan kekuatan tekadnya.
"Ah sudahlah. Sekarang kita konsentrasi saja membuat nama baikmu kembali di desa KangAgung ini." Ucap Pantam.
Kini Pantam membopong Insur untuk berdiri kembali. Tekad Insur harus dikembalikan. Dia tampaknya telah masuk dalam perangkap serangan mental Tengud. Bagaimana untuk melawan Tengud yang merupakan pengendali gosip sosial di desa KangAgung? Apakah Insur dan Pantam mampu melawannya?