Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 1: Aku Memperlihatkan Siang dan Malam


Pagi hari yang cerah. Matahari dengan malu - malu mulai menyinari desa KangAgung. Kehangatannya menepis sisa - sisa kedinginan malam sebelumnya. Siang malam, panas dingin, dan hari yang berganti. Layaknya sebuah simphoni kehidupan antara kebahagiaan dan kesedihan yang datang pada kehidupan setiap manusia.


Siapa diantara manusia yang tidak pernah merasakan kebahagiaan walau cuma sekali di hidupnya?


Siapa diantara manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan walau cuma sekali di hidupnya?


Manusia akan terus mengalami kebahagiaan dan kesedihan selama dia hidup. Dan alam pun seakan juga berkata, "Hey lihat, aku pun juga mengalami siang dan malam terus - menerus wahai manusia!"


Desa KangAgung mulai berbenah. Bekas pertarungan Insur dan Ladusong sehari sebelumnya terlihat di beberapa sudut desa. Gedung pemilihan mulai dipugar kembali oleh beberapa tukang bangunan. Dipaidi dengan perban luka di kepalanya berkacak pinggang melihat proses renovasi gedung tersebut.


Dipaidi menyulut sebatang rokok ketika Devi, sekretarisnya yang handal, datang menemuinya.


"Lapor Pak Dipaidi! Saya sudah mengerahkan seluruh anggota polisi dan tukang bangunan untuk memugar kembali beberapa kerusakan." Lapor Devi pada Dipaidi.


"Bagus... bagus.. Bagaimana keadaan warung kopi mbak Moshi?" Tanya Dipaidi.


"Sudah aman seperti sedia kala. Hanya membutuhkan sedikit perbaikan. Tadi saya lihat warung tersebut sudah berjalan seperti biasanya. Banyak juga pengunjung yang datang." Jawab Devi.


"Lalu hutan cemara?" Tanya Dipaidi lagi.


"Hutan cemara sudah dibersihkan oleh satuan petugas kebersihan. Rencananya besok akan diadakan penanaman bersama seribu bibit pohon cemara kembali oleh perkumpulan ibu - ibu arisan perumahan Bangau Putih." Jawab Devi.


"Ahhh... ibu - ibu perumahan Bangau Putih ya. Pasti anak buah Tengud mulai beraksi di tengah kekacauan untuk menaikkan reputasinya. Bagaimana dengan kantor bekas Anci?" Tanya Dipaidi lagi dan lagi.


"Kantor tersebut diperbaiki oleh dokter Skak. Kemarin malam dia datang ke hutan cemara. Tampaknya dia mencari Insur. Tapi Insur sudah pergi dengan White Snow. Lalu dia mengajukan diri untuk memperbaiki bekas kantor Anci. Dan saya menyetujuinya karena itu cukup membantu kita." Jawab Devi lagi dan lagi.


"Hemmm... Dokter Skak itu sedikit mencurigakan. Kirim beberapa anak buah untuk mengawasi apa yang dia perbuat di kantor bekas Anci." Ucap Dipaidi.


"Siap laksanakan!" Jawab Devi.


"Oh iya Devi, jangan lupa kamu juga istirahat. Tampaknya kamu kurang istirahat." Ucap Dipaidi.


"Siap pak! Tapi saya harus melapor pada Dia Sang Penguasa Desa terlebih dahulu." Tukas Devi.


"Biar aku saja yang melapor pada Dia Sang Penguasa Desa. Sekarang kamu istirahat dulu." Jawab Dipaidi.


Dipaidi segera menuju ke arah sepeda motor bututnya. Menyalakan sepeda motor tersebut dengan suara khasnya yang meraung - raung.


Ngeeeeng ogrok ogrokk... Ngeeeengggg ogrokkk ogrokk....


Dipaidi segera melesat dengan sepeda motor bututnya menuju ke pusat pemerintahan desa tempat Dia Sang Penguasa Desa tinggal. Devi hanya memandangi kepergian komandannya itu dengan muka merah tersipu karena perhatian Dipaidi padanya. Bagi Devi, Dipaidi sungguh keren sekali!


-----


Dengan balutan perban di dadanya Insur terlelap di tempat kosnya. White Snow atau dikenal dengan nama mbak Hana telah merawatnya. Mbak Hana telah mengobati dan merawat Insur sejak tadi malam. Sungguh suatu kesetiaan yang mendalam.


Kini Mbak Hana duduk - duduk di serambi teras kos Insur sambil menikmati pagi hari yang cerah. Terlihat Bambang sedang menyapu halaman rumahnya dengan sebatang rokok terselip di sela - sela bibirnya. Rokok itu dia dapatkan saat dia menyapu tadi.


"Eh mbak Hana. Gimana kabar Insur?" Tanya Bambang basa - basi.


Ah ada - ada saja si Bambang. Dia kan kemarin malam juga ikut melihat pertarungan tersebut. Masak masih tanya juga keadaannya. Setelah menghela nafas sejenak mbak Hana pun menjawab, "Dia belum siuman."


Dari ujung jalan terlihat nenek Faynem datang ke arah mereka berdua.


"Dia masih belum sadarkan diri nek." Jawab mbak Hana sembari menghaturkan sembah.


"Sekarang kamu pulang saja dulu. Kamu pasti capek sekali. Butuh istirahat. Biar Bambang yang menjaga Insur." Ucap nenek Faynem.


Bambang segere menukas cepat, "Apaaa?!! Gua jagain Insur?! Hello.... please dech, you must know lah kalau gua tuh...."


Bruuuuuaakkkkkkkkkkkk!


Belum selesai kalimat Bambang tapi dia sudah tersungkur karena ditendang mukanya oleh nenek Faynem.


"Lu pilih; jaga Insur atau gua hajar lu?!" Bentak nenek Faynem.


"Ampun nek ampun... iye iye.. ane jaga tuh Insur nek." Jawab Bambang sembari menangis terisak - isak.


Mbak Hana segera pamit pulang untuk beristirahat. Tak selang berapa lama gantian nenek Faynem yang undur diri karena ingin menemui Pak Kaji Dauh. Kematian Ladusong pasti akan menimbulkan pergolakan besar di kubu Elang Langit yang kini tengah berkuasa di desa KangAgung.


-----


Di kantor bekas Anci tiba - tiba didatangi dokter Skak. Beberapa polisi yang berjaga dan sedang membersihkan puing - puing segera menatapnya dengan tajam. Ada sekitar sepuluh polisi yang berjaga.


"Maaf dog, tempat sedang tidak boleh dimasuki oleh warga sipil desa KangAgung." Kata salah seorang polisi sembari menghadang dokter Skak yang ingin masuk.


"Hey!!! Bukan dog tapi dok!!! Dokter!!!" Bentak dokter Skak dengan bersungut - sungut.


"Oh iya maksud saya gitu dok. Mohon anda mengikuti prosedur yang berlaku." Ucap polisi lain yang menghampiri dengan penuh rasa sabar.


"Ahhh apaan sih, cuma lihat - lihat saja masak gak boleh. Minggir!" Bentak dokter Skak.


Doktet Skak pun memaksa masuk. Terpaksa dua polisi tersebut mengunci tangan dokter Skak dengan memelintirkannya di belakang. Bammmm! Dan mereka menjatuhkan dokter Skak ke tanah.


"Dokter, kami benar - benar minta maaf jika kami berbuat kasar. Tetapi ini perintah langsung dari komanda tertinggi desa KangAgung yang baru, yaitu pak Dipaidi." Ucap salah satu polisi masih tetap dengan mengunci lengan dokter Skak.


"Skahahaha.... Jadi kalian mau main kasar ya..." Ucap dokter Skak dengan santai.


Tiba - tiba tubuh dokter Skak meleleh membentuk cairan kental layaknya slime. Dua polisi tersebut kaget dan menjauh dari tubuh dokter Skak.


"Ada yang tidak beres. Segera panggil yang lain! Aku akan menghadangnya sebisa mungkin!" Ucap salah seorang polisi pada temannya.


Seorang polisi yang diberi perintah tersebut segera memasuki gedung kantor untuk memberitahu pasukan polisi lainnya. Sementara yang seorang lagi mengacungkan sebuah pistol pada dokter Skak yang berubah menjadi cairan slime tersebut.


"Kalian tidak dapat melawanku. Dasar kutu - kutu kecil." Ucap dokter Skak.


Dokter Skak yang sudah menjadi cairan slime itu merangsek ke depan. Polisi tersebut mengeluarkan tembakannya.


Dorrrr... dorrr... dorrrr!!


Tiga tembakan melesat. Tetapi tembakan itu menembus tubuh slime dokter Skak tanpa membuatnya terluka. Apa itu?! Batin polisi tersebut.


Slime tersebut meluncur ke arah polisi itu. Menelannya mentah - mentah. Tubuh polisi itu pun meleleh dan dia tewas seketika.


"Mau menghentikanku dengan pistol?! Dasar! Aku adalah cairan racun! Dan cairan racun adalah aku! Skahahahaha!!" Tawa dokter Skak meledak - ledak sembari dia berjalan masuk menuju kantor bekas Anci. Apa yang sedang ingin dicari dokter Skak ini? Makhluk macam apa sebenarnya dokter Skak?