Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 29: Langkah Angin dan Masuk Angin


Dokter Skak terjepit. Dia dikepung oleh para pasukan Tengud yang menodongkan senjata. Sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah para pasukan itu, tapi Tengud. Semua serangan tidak dapat melukai dokter Skak yang memiliki tubuh slime, tapi entah kenapa Tengud dapat mendaratkan serangan padanya.


Dokter Skak sudah membawa batu darah di tanggannya, sekarang dia cuma harus segera kabur. Dokter Skak harus segera memikirkan cara kabur dari tempat itu.


"Jurus ledakan slime!" Teriak dokter Skak.


Tubuh dokter Skak tiba - tiba meledak menjadi serpihan slime yang banyak. Seluruh ruangan gedung dipenuhi dipenuhi slime lengket. Para pasukan kebingungan. Tengud pun kaget tidak menyangka dia meledakkan tubuhnya. Dan dokter Skak pun mampu kabur melalui sebuah lubang got kecil.


"Kurang ajar! Dasar dokter Skak licik!" Teriak Tengud.


"Apakah perlu saya kerahkan pasukan untuk mengejar dokter Skak?" Tanya Mpok Romlah.


"Tidak perlu. Dokter Skak itu manusia slime. Kalian pasti kesulitan menangkapnya." Jawab Tengud.


"Tapi dia mencuri batu darah yang amat sangat penting tuan." Ucap Mpok Romlah.


"Aku tahu kampret! Cepat kamu beritahukan keadaan ini pada Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Tampaknya kita harus memperketat penjagaan kita mulai dari sekarang." Ucap Tengud dengan kemarahan.


Mpok Romlah segera berlari menuju tempat Dia Sang Penguasa Desa KangAgung memberitahukan pencurian yang telah dilakukan dokter Skak.


-----


Dokter Skak berhasil meloloskan diri dan kembali di kantor kloning Ladusong. Dia membuka pintu kantor dan menutup pintunya dengan kasar. Kloning Ladusong segera berdiri dari tempat duduknya melihat kedatangan dokter Skak yang berdarah itu.


"Bagaimana? Kamu berhasil mencuri batu darah itu?" Tanya kloning Ladusong.


"Hebat! Bagus sekali dokter Skak!" Teriak kloning Ladusong.


"Bagus apanya?! Aku hampir mati tahu?! Padahal aku adalah manusia slime, entah mengapa si Tengud itu bisa mendaratkan serangan pada tubuhku." Ucap dokter Skak.


"Sudah, sudah, yang penting kita bisa mendapatkan batu darah. Mana batu darahnya?" Tanya kloning Ladusong dengan tidak sabar.


dokter Skak segera mengeluarkan batu darah dari balik saku bajunya. Cahaya merah batu darah tersebut segera menerangi ruangan kantor tersebut.


"Sekarang dengan batu darah ini kita bisa bernegosiasi dengan Zhou kepala desa Magala itu." Ucap dokter Skak.


"Bagus. Tapi aku juga sempat terpikir cara lain. Kenapa kamu tidak menanamkan batu darah ini pada tubuhku lagi? Bukankah dengan begitu aku bisa menjadi lebih kuat lagi dan kita tidak butuh bantuan dari desa Magala?" Tanya kloning Ladusong.


"Tidak bisa. Batu darah ini begitu kuat. Jika ditanam dua batu darah pada tubuh seseorang pasti tubuhnya meledak karena tidak dapat menahan batu darah di tubuhnya. Ditubuhmu sudah tertanam satu batu darah, jadi tidak mungkin ditanamkan satu batu darah lagi." Ucap dokter Skak.


"Bagaimana kalau batu darah ini ditanamkan pada tubuhmu saja dokter Skak?" Tanya kloning Ladusong.


"Itu juga tidak bisa. Tubuhku sudah aku rombak dengan berbagai uji coba penelitian hingga aku bisa menjadi manusia slime. Jika ditambah batu darah ini pasti tubuhku bisa hancur." Ucap dokter Skak.


"Jadi batu darah ini tidak bisa asal ditanamkan pada tubuh seseorang ya." Ucap kloning Ladusong.


"Memang. Yang penting dengan batu darah ini sekarang kita bisa bernegosiasi dengan desa Magala untuk membantu kita melengserkan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Skahahaha..." Ucap dokter Skak.


"Benar. Dan kitalah yang akan menguasai desa KangAgung! Luahahaha...." Ucap kloning Ladusong.


"Skahahaha...." Tawa dokter Skak.


"Luahahaha..." Tawa kloning Ladusong.


-----


Di pagi yang cerah itu Pantam melatih warga desa KangAgung berpedang di padepokan Insur. Sementara Insur mengajak Nu'im berjalan kaki mendaki puncak salah satu gunung kembar.


Begitu sampai di puncak Nu'im langsung tumbang berselonjor kaki. Terlihat dia kelelahan sekali. Sementara Insur masih terlihat segar bugar. Tak ada tanda kelelahan dari tubuh Insur.


"Masak mendaki gunung saja sudah tak berdaya. Dasar pemuda lemah!" Teriak Insur memaki Nu'im.


"Ampun tuan Insur. Baru kali ini saya mendaki gunung." Ucap Nu'im sambil berusaha berdiri dengan sikap siap siaga.


"Bukan tuan tapi guru! Panggil aku guru!!" Teriak Insur.


"I...i..iya guru. Maaf guru." Ucap Nu'im.


"Kamu adalah muridku. Ini pertama kalinya aku mengangkat murid. Jangan mempermalukan namaku mengerti?!" Ucap Insur.


"Siap guru!" Ucap Nu'im dengan semangat.


"Baiklah. Selama tiga hari ini kamu akan kulatih di atas gunung kembar ini. Aku akan melatihmu jurus yang pertama. Namanya adalah langkah angin." Ucap Insur.


"Siap guru. Saya siap berlatih jurus masuk angin." Ucap Nu'im.


"Kampret!!! Langkah angin bukannya masuk angin!!" Teriak Insur.


"Siap guru. Maaf saya salah." Ucap Nu'im.


Dan latihan Nuim pun segera dimulai. Untuk latihan pertama adalah membawa air pada dua timba naik turun gunung tanpa tumpah sedikitpun. Tentu saja hal itu sangat berat. Tetapi tekad Nu'im tidak luntur sedikitpun. Di hari pertama sampai malam hari Nu'im naik turun gunung membawa timba hingga lima kali!!


Insur yang merokok dengan santainya itu melihat kesungguhan Nu'im tersebut. Dia tersenyum. Tampaknya Insur tidak salah memilih Nu'im sebagai penerus jurus aliran pedang Surin Sang Raja Kegelapan.


Di malam harinya Nu'im tertidur dekat perapian. Kakinya benar - benar kesakitan, tetapi dia mencoba untuk segera dapat tidur agar besok siap untuk berlatih lagi. Insur melihat Nu'im yang tertidur di depan perapian itu.


"Bagaimana? Anak itu sepertinya juga memiliki tekad bukan?" Tanya Pantam yang tiba - tiba muncul dari balik kegelapan.


"Lumayan. Tapi kalau dalam tiga hari si bocah Nu'im ini tidak bisa menguasai langkah angin maka aku tidak mau mengajarkan jurus yang lain." Jawab Insur.


Insur dan Pantam pun merokok bersama di depan perapian tersebut. Kedua sahabat ini saling bercerita banyak hal.


"Ada kabar baru. Batu darah milik Tengud telah dicuri dokter Skak." Ucap Pantam.


"Benar - benar berita buruk. Lalu bagaimana tanggapan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung?" Tanya Insur.


"Dia Sang Penguasa Desa akan segera menemui Zhou pemimpin desa Magala. Pertemuan itu adalah besok malam. Dalam pertemuan tersebut kloning Ladusong dan dokter Skak juga akan datang. Jadi sekarang kita tinggal menunggu bagaimana keputusan desa Magala. Akan berpihak pada desa KangAgung atau berpihak pada para pemberontak." Jawab Pantam secara panjang lebar.


"Ini semakin sulit. Tapi Dia Sang Penguasa Desa masih memiliki satu buah batu darah lagi bukan?" Tanya Insur.


"Iya. Tetapi batu darah itu sudah ditanamkan dalam tubuhnya. Jika diambil sama saja dengan mengambil nyawa Dia Sang Penguasa Desa KangAgung." Jawab Pantam.


Insur terdiam sejenak. Dia tampaknya sedang bimbang akan memutuskan sesuatu....