Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 7: Kesepakatan


Dokter Skak dan kloning Ladusong bersembunyi di gua bekas benteng pertahanan Surin dahulu kala. Gua tersebut bernama gua Black Hole. Gua Black Hole berada di sisi paling selatan bagian barat dari desa KangAgung. Gua tersebut berada di tepi pantai yang seluruh pasirnya berwarna putih, sehingga dinamakan pamtai Pasir Putih.


Pantai Pasir putih jarang dikunjungi manusia sehingga terlihat begitu bersih dan rapi. Pantai tersebut jarang dikunjungi karena dahulu kala siapa saja takut oleh monster yang bersemayam di sana. Hanya Surin Sang Raja Kegelapan saja yang mampu menaklukkan monster tersebut.


Kini dokter Skak dan Ladusong menuju ke pantai tersebut melalu sungai Tasbran yang bermuara hingga ke laut selatan. Dokter Skak dan Ladusong segera menepikan perahu boatnya dan berjalan kaki melewati pantai menuju gua Black Hole.


"Beneran kita akan bersembunyi di gua Black Hole?" Tanya kloning Ladusong.


"Tentu saja. Tidak ada tempat paling aman kecuali di gua Black Hole. Kita akan menghimpum kekuatan terlebih dahulu. Ingat, kamu sebagai kloning Ladusong saat ini hanya mempunyai kekuatan setengah dari kekuatan tubuh aslimu. Kita butuh rencana kalau kamu ingin menang dari Insur dan berkuasa di desa KangAgung." Jawab dokter Skak menjelaskan.


Keduanya menyusuri pantai Pasir Putih di malam yang dingin itu. Ombak pasang laut mulai datang. Semilir angin menambahkan hawa dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang.


Tiba - tiba pasir di sekitar mereka bergetar. Dokter Skak dan kloning Ladusong kesulitan untuk berdiri. Pasir tersebut terhimpun di satu titik di depan mereka dan membentuk sebuah monster pasir yang besar.


"Siapa kalian berani memasuki wilayahku hah?!" Hardik monster pasir tersebut dengan suara menggema yang besar.


"Gawat! Jangan - jangan ini monster penjaga pantai Pasir Putih!!" Teriak dokter Skak.


"Kita lawan saja dia!" Ucap kloning Ladusong dengan bersemangat.


"Jangan!! Kita tidak bisa melawannya!! Hanya Surin Sang Raja Kegelapan yang mampu melawannya!" Teriak dokter Skak memperingatkan kloning Ladusong.


Tapi peringatan tersebut tidak dihiraukan oleh kloning Ladusong yang segera melompat mengarahkan serangan Max Elbow ke arah monster pasir tersebut.


Duuuuuaaaazzhhhhh!!


Sebuah ledakan mengenai monster pasir yang besar tersebut. Monster pasir itu tercerai berai hancur berantakan.


"Mudah sekali!! Luahahaha....." Teriak kloning Ladusong dengan sombongnya.


Tanah pasir tiba - tiba berguncang kembali. Lalu menyatu dan membentuk monster pasir yang dua kali lebih besar dari yang sebelumnya!


Monster pasir dengan ukuran yang lebih besar itu menghempaskan tangannya pada kloning Ladusong dan dokter Skak dengan kuat.


Swoooooouuuuuzzzzhhhhhhh!!


Dokter Skak dan kloning Ladusong terhempas melayang dengan sangat keras!! Mereka berdua terbang melayang amat sangat jauh sekali hingga mendarat di puncak gunung kembar dengan suara yang sangat keras.


Bedebummmmmmmmm!!!


Kloning Ladusong mendarat di sebuah batu besar. Batu besar itu pun terbelah. Tulang punggung kloning Ladusong retak dan dia pun mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kampret!!" Umpat Ladusong.


Sementara dokter Skak juga terjatuh dengan keras. Tapi tampaknya efek jatuh tersebut tidak melukai dokter Skak. Dia segera merubah bentuk tubuhnya menjadi cairan slime yang akhirnya menyatu kembali. Dokter Skak tidak mengalami luka apapun.


Doter Skak berjalan menghampiri kloning Ladusong yang terluka parah.


"Sudah kukatakan jangan melawan monster itu kan!" Ucap dokter Skak sembari membantu Ladusong bangkit.


"Gila!! Kuat sekali monster itu!! Bagaimana dulu Surin mampu mengalahkannya?!!" Ujar kloning Ladusong dengan darah menetes di mulutnya.


"Sudahlah. Sekarang kita lupakan rencana bersembunyi di gua Black Hole. Kita membuat markas tempat persembunyian di sini saja." Ucap dokter Skak.


"Dimana ini? Kita tadi terlempar cukup jauh." Tanya kloning Ladusong.


"Tampaknya kita berada di hutan tengah - tengah gunung kembar." Jawab dokter Skak.


"Ahh pantas saja aku terasa familier. Tubuh asliku pernah bertarung dengan Surin di salah satu puncak gunung kembar itu." Ucap kloning Ladusong.


"Jadi kamu juga mempunyai ingatan tentang tubuh aslimu?" Tanya dokter Skak.


"Tentu saja! Bahkan kematian tubuh asliku sampai saat ini aku tidak dapat melupakannya!!" Tegas kloning Ladusong.


"Bagus. Berarti aku bisa menganalisa kekuatan Insur dari ingatan tubuh aslimu yang terbunuh olehnya." Ucap dokter Skak dengan ceria.


"Yang aku ingat adalah dua hal... yaitu jurus naga angin yang membunuh tubuh asliku. Yang kedua adalah...." Kloning Ladusong berhenti ragu - ragu untuk melanjutkan.


"Yang kedua itu apa?" Tanya dokter Skak penasaran.


"Sepertinya Insur pernah menyerap ledakan Max Elbow-ku. Tapi aku tidak begitu yakin." Ucap kloning Ladusong dengan ragu - ragu.


Mereka berdua pun diam sejenak dan saling memandang. Udara hutan yang semakin dingin membuat mereka berdua menggigil dan tersadar untuk segera mencari tempat persembunyian.


Dilihatnya dari kejauhan ada cahaya api unggun. Dokter Skak segera memapah kloning Ladusong yang terluka parah dan mendekati api unggun tersebut.


Siapa yang membuat api unggun di tengah hutan gunung kembar malam - malam begini?


Ternyata itu adalah Dia Sang Penguasa Desa!


Dokter Skak segera bersiaga. Kloning Ladusong pun segera ber kuda - kuda walau tubuhnya kini terluka parah. Dia Sang Penguasa Desa duduk dengan santai memandangi mereka berdua.


"Kenapa kamu ada di sini?!" Teriak dokter Skak.


Dia Sang Penguasa Desa tersenyum santai.


"Tenanglah. Aku bisa membunuh kalian berdua dengan mudah jika aku mau. Tapi sekarang aku ingin membuat sebuah kesepakatan yang akan menguntungkan kita berdua." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


"Kalau kami menolak bagaimana hah?!" Teriak kloning Ladusong.


Dia Sang Penguasa Desa menatap tajam pada kloning Ladusong dan dokter Skak. Aura membunuh keluar dari Dia Hingga membuat kaki kloning Ladusong dan dokter Skak gemetar ketakutan dan terjatuh.


Gila!! Apa - apaan ini!! Hanya dengan tatapannya saja bisa membuat kloning Ladusong dan dokter Skak lumpuh tak berdaya!!


"Ini adalah jurus aura membunuh. Ilmu turun menurun yang hanya dimiliki oleh orang - orang bertekad amat sangat kuat. Selama ini hanya aku, Surin, dan seseorang lagi yang mampu mengeluarkannya." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Jurus aura membunuh? Jadi selain Surin yang sudah meninggal kini masih ada Dia dan seseorang lagi yang mampu melakukan jurus ini?! Batin dokter Skak.


"Siapa seseorang itu?" Tanya dokter Skak dengan kakinya yang masih bergetar.


"Itu rahasia. Sekarang yang terpenting adalah kesepakatan kita. Kalian setuju atau tidak. Dan seperti yang kubilang kalau kalian tidak setuju maka aku bisa membunuh kalian dengan mudah di sini." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Dengan kekuatan seperti itu mustahil dokter Skak dan kloning Ladusong mampu melawan Dia Sang Penguasa Desa. Kemungkinan untuk mati adalah sembilan puluh sembilan persen!!


"Baiklah. Kami setuju. Apa kepakatannya?" Ujar dokter Skak setelah menimbang sejenak. Tampaknya kloning Ladusong pun juga setuju untuk membuat kesepakatan.


Dia Sang Penguasa Desa menghentikan aura membunuhnya. Kini dokter Skak dan kloning Ladusong dapat berdiri normal kembali.


"Mari kita buat kesepakatan......" Ucap Dia Sang Penguasa Desa sambil tersenyum.