Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 39: Manusia Sampah


Perang besar tengah terjadi di perumahan Bangau Putih. Para warga sipil desa KangAgung diungsikan sementara waktu di tenda - tenda darurat yang dibuat di sekitar kantor pusat pemerintahan desa KangAgung.


Awalnya tempat tersebut cukup untuk menampung para pengungsi. Tapi lama kelamaan tenda - tenda tersebut penuh sesak oleh para pengungsi. Empat anak buah utama Tengud yaitu Mpok Sumin, Mpok Romlah, Mpok Patonah, dan Mpok Juleha mengkoordinasikan para pengungngsi tersebut.


"Aduh gawat nih gawat. Tenda pengungsian mulai tidak muat untuk para pengungsi yang mulai membeludak." Ucap Mpok Romlah.


"Bener Mpok. Sepertinya kita perlu tempat pengungsian baru. Bagaimana kalau kita buat tempat pengungsian baru di rumah sakit ApaanLu?" Ucap Mpok Juleha memberikan usul.


"Jangan deh jangan. Di rumah sakit ApaanLu sudah penuh sesak oleh para pasukan desa yang tengah terluka. Kalau kita mendirikan tenda darurat di sekitar rumah sakit ApaanLu nanti ujung - ujungnya malah menganggu proses evakuasi para korban perang." Ucap Patonah.


"Benar juga ucapan Mpok Patonah. Tapi kita benar - benar membutuhkan tempat pengungsian lain." Ucap Mpok Romlah.


"Naaaah gua ada ide nih. Gimana kalau sebagian pengungsi kita arahkan ke padepokan Insur saja. Di sana kan lahannya lumayan luas." Ucap Mpok Patonah memberikan usul.


"Bagus - bagus. Itu ide cemerlang!" Ucap Mpok Sumin.


Ke- empat ibu - ibu raja gossip itu pun segera mengarahkan sebagian pengungsi ke arah padepokan Insur. Di sekitar padepokan Insur itu pun segera dibangun tenda - tenda darurat. Yahhh tapi namanya juga manusia. Menjadi hal yang lumrah untuk buang sampah sembarangan. Alhasil sampah menjadi berserakan di sekitar padepokan Insur.


"Wah ada masalah baru terjadi nih Mpok. Para warga yang mengungsi di padepokan Insur kebanyakan buang sampah sembarangan. Gimana nih solusinya?" Ucap Mpok Patonah.


"Tenang, tenang Mpok Patonah. Sudah menjadi hal yang wajar bagi sesama manusia untuk membuang sampah sembarangan." Ucap Mpok Sumin menenangkan.


"Tapi kalau kita biarkan terus menerus bisa - bisa sampah - sampah ini menimbulkan penyakit berbahaya." Desak Mpok Patonah.


"Ahhh begini saja. Kita buat peraturan baru yang wajib diikuti seluruh para pengungsi. Bagi yang melanggar akan diusir keluar dari pengungsian." Ucap Mpok Juleha.


"Peraturannya apaan Mpok?" Tanya Mpok Sumin.


"Peraturannya adalah barang siapa yang membuang sampah sembarangan harus memakan sampah tersebut." Ucap Mpok Juleha menjelaskan.


"Nahhh bagus itu. Sekalian kita bisa menghemat pasokan bahan pangan untuk para pengungsi. Istilahnya sekali dayung dua pulau sampah terlewati!" Ucap Mpok Patonah.


Mereka pun setuju untuk membuat peraturan tersebut. Akhirnya setelah diberlakukan peraturan tersebut, padepokan Insur pun menjadi bersih. Hal itu bukan karena berhentinya kebiasaan para pembuang sampah sembarangan. Melainkan karena sampah tersebut dimakan oleh banyak orang. Para pemakan sampah itu kerap dinamakan manusia sampah. Mereka membuang sampah sembarangan lalu mereka pungut kembali untuk mereka makan.


-----


Pertempuran terus berlanjut di perumahan Bangau Putih. Mental para pasukan desa KangAgung yang sempat menurun menjadi bangkit kembali. Hal ini karena pasukan desa Magala telah memutuskan untuk mundur dan tidak membantu pasukan pemberontak lagi. Apalagi ditambah bantuan dari desa Balatara yang kini sedang dalam perjalanan. Kini malah berganti pasukan pemberontak yang mentalnya menurun.


"Jangan putus asa! Kemenangan kita tinggal selangkah lagi!!" Teriak kloning Ladusong membakar semangat pasukan pemberontak.


Pertarungan pun berlanjut hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kedua pasukan terus bertarung dengan sisa - sisa tenaga yang mereka miliki. Ada beberapa pasukan yang akhirnya tergeletak lemah tak berdaya karena kehabisan tenaga.


Dokter Skak mulai serius dan mengincar melawan Tengud. Dia merubah tubuhnya menjadi slime dan meluncur ke arah Tengud.


"Sama. Aku juga akan mengerahkan seluruh tenagaku kali ini! Kepalamu adalah milikku!" Teriak Tengud.


Tengud segera berubah bentuk menjadi monster ular raksasa besar. Inilah jurus andalan Tengud. Perubahan monster ular kobra raksasa sehingga dari keempat pilar langit dia mendapat julukan raja binatang buas. Sisik ular hitam raksasa itu keras bagai baja.


"Shhhh.... Shhhh..... Ayo kita akhiri pertarungan kita yang sempat tertunda berkali - kali!" Ucap Tengud sembari mendesis.


"Bagus, bagus. Aku pun ingin menggunakan jurus andalanku. Tapi bukan di sini tempatnya. Skahaha..." Ucap dokter Skak yang berubah menjadi slime dan meluncur menjauh menuju ke arah tengah - tengah perumahan Bangau Putih.


"Shhhh... Ssshhh... Jangan kabur kamu dokter Skak!!" Teriak Tengud.


Tengud yang telah menjadi ular raksasa itu pun mengejar dokter Skak. Tubuh besar ular tersebut melata cepat menyebabkan guncangan besar yang membuat para petarung di sekitarnya kehilangan tempat berpijak.


"Gila! Jadi itu wujud ular raksasa si Tengud. Benar - benar mengerikan seperti legenda yang kudengar!" Ucap salah seorang pasukan.


Pertarungan kini bukan hanya merebak di depan gapura Bangau Putih yang sudah hancur. Peperangan juga melebar hingga di dalam perumahan Bangau Putih yang luas tersebut. Para pasukan desa KangAgung dan pasukan pemberontak bertarung secara beringas di jalan gang perumahan, ada juga yang bertarung di atap rumah, bahkan ada juga yang bertarung di dalam rumah hingga kamar mandi!


Nu'im saat itu bertarung dengan para pasukan pemberontak hingga menuju dalam rumah. Dengan jurus langkah angin Nu'im secara cepat menebas leher musuhnya memakai pedang kayunya. Salah seorang pemberontak ketakutan melihat ganasnya si Nu'im dan segera berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu rapat - rapat.


"Dasar pengecut! Ayo keluar dan hadapi aku!" Teriak Nu'im sambil menggedor pintu kamar mandi dengan kerasnya.


"Gua bukan pengecut! Gua cuma kebelet pipis aja!!" Teriak pemberontak tersebut dari dalam kamar mandi.


"Alasan!! Dasar pengecut!!" Teriak Nu'im.


Pantam melihat kejadian tersebut sambil bersantai makan di ruang makan.


"Bagus, bagus. Ternyata si Nu'im hebat juga. Tampaknya Insur melatihnya dengan baik. Jurus langkah anginnya sudah setingkat lebih baik." Gumam Pantam sembari makan mie instan yang baru diseduhnya.


Woooooi ini sedang perang wooooi! Sempat - sempatnya lu buat mie instan! Dasar kacang kuaci!


Sementara itu di depan gapura perumahan Bangau Putih yang telah rusak kini terlihat kloning Ladusong yang tengah memukuli kepala Pak Atu hingga tak berdaya. Muka Pak Atu bonyok dan lebam dengan dipenuhi darah.


"Luahahahaha!! Apa cuma segini kemampuanmu Pak Atu?! Cuih! Menyedihkan! Kukira kamu hebat karena kamu salah satu komandan kubu Serigala Tanah. Ternyata kamu hanyalah sampah! Luahahaha!!" Teriak kloning Ladusong yang terus menghujani kepala Pak Atu dengan pukulan bertubi - tubi hingga Pak Atu pingsan.


"Hentikan kloning Ladusong! Pak Atu sudah pingsan! Ayo lawan aku!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Ah ini dia yang kutunggu - tunggu. Akhirnya kamu turun tangan dalam pertempuran ini. Orang nomor satu di desa KangAgung." Ucap kloning sambil tersenyum menyeringai.


Keduanya pun saling berhadapan. Malam mulai turun. Petir menyambar berkali - kali di langit yang gelap menciptakan kilatan cahaya dengan suara yang memekakkan telinga.