
Insur tidak berdaya ditengah cengkeraman tangan kanan robot milik laduasong. Ladusong mencekiknya dengan perlahan namun pasti. Nyawa Insur dalam bahaya, tetapi untuk melepaskan diri rasanya sudah tidak ada tenaga lagi yang tersisa.
"### Rasakanlah kematianmu yang perlahan Insur, Luahahaha......" Ucap Ladusong menikmati detik - detik kematian Insur.
Sratttttzzzzzzz!!!
Secara tiba - tiba White Snow menebaskan belatinya pada punggung Ladusong. Ladusong melepaskan cengkeramannya pada Insur dan berteriak kesakitan.
"Kurang ajar!!! Siapa berani menggangguku?!!" Ucap Ladusong.
Insur terjatuh dari cengkeraman tangan kanan robot Ladusong. Dia tersengal - sengal mencari napas. Ladusong tidak memberi kesempatan Insur untuk pulih, dia arahkan tinju Max Elbow nya pada Insur yang sedang terkapar itu.
Bammmmmm!!
White Snow bergerak cepat. Dia mengangkat tubuh Insur dan menghindari serangan Ladusong. Setelah menjauh dari Ladusong, White Snow menyandarkan Insur pada tembok.
"Kamu tidak apa - apa?" White Snow bertanya dengan khawatir.
Woooooi pertanyaan macam apa itu woooi?!! Jelas - jelas sudah babak belur dan berdarah begini masih tanya gituan?!! Umpat Insur membatin sambil melotot pada White Snow.
"Lagi - lagi kamu menyelamatkan Insur ya White Snow!! Tapi jangan pikir kamu dan Insur bisa lolos seperti waktu di lapangan Oliv saat itu. Kini dengan kekuatan penghancur dan deteksi tangan kanan robotku kalian tidak akan bisa berbuat apa - apa!! Luahahaha.....!" Ladusong berteriak penuh kegirangan.
Dor! Door! Dooor!!
Dipaidi menembaki Ladusong. Dengan bantuan sistem deteksi tangan kanan robotnya, Ladusong segera menepis tembakan Dipaidi. Malahan salah satu tembakan dari dipaidi mampu ditahan pelurunya oleh tangan kanan robot Ladusong.
"Luahahaha..... Diapaidi!! Dasar pengkhianat!!" Ucap Ladusong.
"Kamulah yang sebenarnya pengkhianat Ladusong. Kamu mengkhianati kepercayaan desa KangAgung padamu." Ucap Dipaidi.
Ladusong dan Dipaidi saling menatap. Mereka berdua tampaknya memiliki ketidak cocokan sejak lama. Dan inilah saatnya mereka berhadapan satu sama lain. Di pinggir ruangan agak menjauh, White Snow mencoba menyembuhkan Insur dengan kabut penyembuh miliknya.
"Ini akan membutuhkan waktu. Semoga Dipaidi mampu mengulur waktu!" Ucap White Snow sambil melihat Insur yang tergeletak tidak berdaya.
-----
Sementara itu Pantam yang mendengar kejadian kerusuhan di gedung pemilihan segera menggenjot sepeda bututnya.
Pantam ingin menolong Insur sahabat baiknya itu. Digenjotnya sepeda butut itu melewati jalan raya Agung menuju gedung pemilihan.
Cittttttt!
Pantam mengerem sepeda bututnya. Tampak olehnya gedung pemilihan telah porak poranda dengan sebuah lubang besar di atapnya.
Banyak polisi bersiaga di depan gedung tersebut. Mereka bersenjatakan senapan laras panjang. Mungkin jumlah personil yang bersiaga sekitar lima puluhan lebih.
Pantam memarkir sepeda bututnya kemudian menghampiri Pak Gaelani yang parkir di sudut gedung.
"Wah ribut amat di gedung pemilihan. Gila! Sampai atap gedung berlubang segedhe itu ya pak Gae!" Ucap Pantam membuka pembicaraan.
"Oh nak Pantam. Iya, terjadi kerusuhan tadi. Insur dan beberapa kubu Serigala Tanah membuat keributan. Tampaknya mereka mengincar kepala Ladusong." Ucap Pak Gaelani menggebu - gebu bercerita.
"Dimana Insur sama Ladusong sekarang?" Tanya Pantam.
"Nah itu dia. Tadi sih sepertinya Ladusong lari lewat jalan rahasia belakanh panggung. Mungkin Insur mengejarnya. Wah wah wah tadi beneran serem loo adu tembak di gedung pemilihan! Saya sempat menjauh takut kena peluru nyasar!" Cerita Pak Gaelani penuh semangat.
Pantam tidak menggubris cerita Pak Gaelani. Dia berfikir keras. Jika lewat pintu belakang panggung maka akan ada hutan pohon raksasa. Dan hutan pohon raksasa itu terhubung dengan bekas kantor Anci melalui suatu aliran anak sungai kecil. Jadi kemungkinan terbesar Insur dan Ladusong bertarung di bekas kantornya Anci.
Pantam segera mengambil sepedanya, bersiap menuju bekas kantor Anci. Tak disangka ternyata Pak Gaelani mengikutinya dari belakang.
"Mau kemana nak Pantam?" Tanya Pak Gaelani.
"Mau ke bekas kantornya Anci." Jawab Pantam.
"Nahhhhh pas banget tuh! Ayuk balapan menuju ke sana!" Tantang Pak Gaelani.
Pantam hanya diam dan menggenjot sepedanya. Pak Gaelani menyalah artikan diamnya Pantam tanda bahwa Pantam menanggapi tantangannya. Pak Gaelani pun segera memacu becaknya menyusul Pantam.
Tak butuh waktu lama bagi becak Pak Gaelani untuk menyusul sepeda buntut Pantam. Dilibasnya sepeda Pantam.
Wuzzzzzzzzzz!
Merasa di atas angin, Pak Gaelani pun bermain - main dengan menghalangi laju sepeda buntut Pantam.
"Wooooooi minggir woooooi!! Gua gak ada waktu buat balapan ama luu Pak Gae!!" Teriak Pantam mulai emosi.
Mendengar teriakan Pantam, Pak Gaelani malah mengibas - ibaskan ke kiri dan kanan menghalangi laju sepeda buntut Pantam.
Pantam mulai memanas. Dilihatnya di depan ada tikungan sembilan puluh derajat yang terkenal di jalan Agung ini. Pantam bersiap melakukan manuver cantik menyalip becak Pak Gaelani.
Pak Gaelani tergelak keheranan. Tidak, tidak, tidaaaaaak! Bagaimana mungkin Pak Gaelani mau dikalahkan begitu saja oleh Pantam di tikungan yang sudah dikuasainya bertahun - tahun itu!
Pak Gaelani mencoba menyudutkan sepeda Pantam, tapi Pantam tetap berkelit dan tidak mau menyerahkan lintasan dalam begitu saja!
Akhirnya ketika sama - sama menikung, becak dan sepeda pantam saling menyenggol dan menimbulkan percikan api.
Sungguh suatu balapan paling fenomenal abad ini, fantastis!!
Setelah melalui tikungan tajam tersebut ternyata sepeda buntut Pantam dan becak Pak Gaelani sejajar!
Bekas kantor Anci sebagai tanda finish mulai terlihat. Pantam menggenjot sepedanya dengan liar! Pak Gaelani juga tak mau kalah dalam menggenjot becaknya.
Karena terlalu cepatnya mereka melaju hingga kedua kendaraan tersebut tidak dapat di rem. Sepeda butut Pantam dan becak Pak Gaelani menerobos masuk ke bekas kantor Anci dengan mendobrak pintu kantor tersebut.
Bruuuuuaaaaakkkkkkkkkkk!!
Pintu kantor terlempar ke dalam dengan suara keras. Ladusong dan Dipaidi yang tengah bertarung juga kaget dan tidak dapat merespon dengan cepat.
Akhirnya becak Pak Gaelani menabrak Ladusong. Untung Ladusong punya deteksi dari tangan kanan robotnya. Dengan sigap dipukulnya becak Pak Gaelani yang mengarah padanya itu dengan jurus Max Elbow dan......
Duuuuuuaaaaarrrrrrttt!!!!!!
Becak Pak Gaelani hancur berkeping - keping. Pak Gaelani sendiri terhempas ke belakang akibat ledakan tersebut.
Sementara Dipaidi....
Ohhhh tidak!! Dipaidi tidak dapat mengelak dari terjangan sepeda buntut Pantam. Ban depan sepeda Pantam menancap mengenai pantat Dipaidi.
"Aaaaaauuuuuuuwwwwww..................!!!" Dipaidi melolong kesakitan saat sepeda Pantam menabrak pantatnya. Tepat di tengah pantatnya!!!
"Waduh, maaf Pak Dipaidi. Sepeda saya remnya blong!" Ucap Pantam meminta maaf.
"Pala luuuu bau menyan!!! Auuuw... Pantat gua! Pantat gua!!!" Dipaidi meracau tak karuan menahan rasa sakit.
"Udah tahan aja sakitnya dulu! Kita hadapi Ladusong dulu!" Ucap Pantam.
Dipaidi berusaha bangkit masih dengan memegangi pantatnya. Akhirnya Dipaidi, Pantam, dan Pak Gaelani berhadapan dengan Ladusong.
"Eh ngapain luu ikutan?" Tanya Pantam pada Pak Gaelani.
"Aku mau balas dendam karena Ladusong sudah menghancurkan becak kesayanganku!! Aku akan membalaskan dendam Rudolfo!!" Ucap Pak Gaelani memerah matanya karena marah.
"Siapa Rudolfo Pak Gae?" Tanya Pantam.
"Itu nama becak kesayangan gua!" Jawab Pak Gaelani.
Mereka bertiga pun bersiap menghadapi Ladusong dengan tangan kanan robotnya yang serasa monster haus darah itu.