Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 46: Pertarungan Pembalap


Pak Jarwi melihat pertarungan Tengud dan dokter Skak di tengah laut selatan. Dia duduk di atas permukaan air. Tampak laut terasa seperti biasa dengan gelombangnya. Tetapi sebenarnya di dasar laut tengah terjadi pertempuran sengit.


"Wah gawat tampaknya Tengud akan kalah. Hebat juga si dokter Skak itu." Komentar pak Jarwi.


Pak Jarwi pun membuka sebungkus popcorn di saku jaketnya yang besar. Dia makan dengan rakus. Lalu diambilnya satu batang rokok dan disulut. Benar - benar rasanya seperti sedang menonton film dvd di rumah.


"Sekarang Tengud sudah terperangkap dalam gelembung slime dokter Skak. Tengud pasti juga mulai kehabisan napas. Salahnya sendiri merubah bentuknya ke wujud manusia kembali." Ucap pak Jarwi sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Tapi jujur saja aku masih penasaran. Bagaimana si Tengud itu mampu memukul tubuh slime dokter Skak. Apakah itu merupakan kekuatan tekad seperti yang dimiliki Surin dan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung ya?" Ucap pak Jarwi berbicara pada dirinya sendiri.


Tengud kini tak berkutik dikurung dalam tubuh slime dokter Skak. Tengud tidak dapat bernapas di dalam air jika tidak merubah tubuhnya menjadi wujud ular raksasa. Tapi jurus penjara slime dokter Skak mampu mengunci semua jurus sehingga tidak dapat dikeluarkan.


"Matilah kamu karena kehabisan napas Tengud! Skahahaha!" Ucap dokter Skak.


Tengud bersusah payah menahan kesadarannya yang mulai memudar.


----


Di hutan tengah gunung kembar. Tampak pak Gaelani mengayuh becaknya dengan penuh semangat. Matanya fokus tertuju pada kloning Ladusong yang mengendarai motor gedhe.


"Maju Rudolfo! Kamu pasti bisa menyusul motor itu!" Teriak pak Gaelani sembari terus mengayuh becak kesayangannya itu.


Jalanan hutan begitu terjal dan banyak bebatuan. Kloning Ladusong berulang kali menabrak gundukan batu besar. Diterjangnya begitu saja gundukan batu tersebut hingga pecah belah. Kekuatan motor gedhe yang dikendarai kloning Ladusong ini tampaknya tidak main - main.


"Dasar si pak Gaelani itu rupanya mengejarku! Tampaknya itu Insur di kursi penumpang becak!" Ucap kloning Ladusong.


kloning Ladusong memutar kemudi motor gedhenya. Pak Gaelani mengerem becaknya. Kini moge (motor gedhe) kloning Ladusong saling berhadapan dengan becak Pak Gaelani. Kedua pengemudi tampak tegang dengan urat - urat di leher mereka.


"Kamu mau melawan mogeku ini dengan becakmu hah?" Tanya kloning Ladusong dengan sinis.


"Jangan remehkan becakku ini kloning Ladusong! Ayo kita bertarung kendaraan!" Teriak pak Gaelani.


Bentar - bentar! Wooooi serius woooi masak becak mau melawan moge! Dasar saus tar - tar! Teriak Insur sambil matanya melotot tak percaya.


Perang kendaraan ini tak dapat dihindari lagi. Kloning Ladusong memutar gas mogenya. Dengan cepat mogenya menghentak meluncur sambil jumping!


Pak Gaelani tak mau kalah atraksi. Dia pun menggenjot becak sambil mengangkat stang becaknya. Becaknya pun jumping ke depan.


"Wooooi hati - hati Pak Gaelani! Gua ada di kursi penumpang nih!" Teriak Insur.


"Percayakan padaku Sur! Tidak ada satupun kendaraan yang mampu melawan becak Rudolfoku ini!" Teriak pak Gaelani dengan penuh semangat.


Moge kloning Ladusong dan becak pak Gaelani pun meluncur saling berhadapan. Keduanya saling jumping dan bertabrakan di udara. Karena bobot dan kekuatan moge kloning Ladussong lebih besar maka becak pak Gaelani pun terpelanting berputar.


Moge kloning Ladusong mendarat dengan sempurna sambil melakukan drift dan berhenti dengan amat sangat keren sekali.


"Rasakan itu dasar becak bobrok! Luahahaha!" Teriak kloning Ladusong.


becak pak Gaelani berputar - putar di udara lalu jatuh di tanah. Dengan kekuatan akselerasi terbaik pak Gaelani menjaga kestabilan becaknya. Becak terus berputar tapi dengan pengalaman pembecak yang handal pak Gaelani mampu mengatasi situasi tersebut. Becak berhenti.


"Itu tidak ada apa - apanya kloning Ladusong!" Teriak pak Gaelani sambil berkacak pinggang.


Kloning Ladusong pun memanas dan penuh amarah. Dipencetnya dua tombol merah disammping stang gas mogenya.


Dua roket keluar dari moge kloning Ladusong.


"Gawat dua roket itu menuju ke sini!" Teriak Insur.


"Tenang saja Sur! Becakku ini juga ada mempunyai senjata yang bisa kulemparkan pada musuh. Tapi aku butuh timing yang tepat." Ucap pak Gaelani.


"Hah?" Ucap Insur sambil melotot lagi tak percaya. Mana ada becak memiliki simpanan senjata wooooiiii!


Pak Gaelani menggenjot becaknya dengan jalan zig - zag.


Bluuuuaaarrrghhh! Bluuuaaaarrrgggh!


Kedua rocket dapat dihindari oleh becak pak Gaelani. Bebatuan gunung meledak dan menghamburkan serpihan batu tak beraturan ke segala arah.


"Kurang ajar. Ulet juga kamu pak Gaelani. Tapi keuletanmu itu cukup sampai di sini saja!" Teriak kloning Ladusong.


Kloning Ladusong segera menekan sebuah tombol biru di mogenya. Dengan cepat ban di mogenya berubah menjadi paku - paku besar mengerikan. Lampu depan mogenya pecah dan mengeluarkan sebuah tombak baja yang lancip. Kini moge kloning Ladusong benar - benar telah berubah menjadi kendaraan perang seutuhnya.


"Gila! Udah gua turun aja dari becak lu pak Gaelani. Biar kuhadapi sendirian!" Ucap Insur yang merasa kasihan jika becak pak Gaelani harus berhadapan dengan moge kloning Ladusong.


"Tidak bisa Sur! Harga diriku sebagai pembecak andalan mau dikemanakan. Tenang saja aku punya senjata andalan!" Ucap pak Gaelani.


"Kalau gitu cepat lu keluarin senjata andalanmu itu dasar kacang kuaci!" Teriak Insur.


"Sudah gua bilang gua menunggu waktu yang tepat dasar tutup botol kecap!" Teriak pak Gaelani.


Melihat pertengkaran pak Gaelani dan Insur membuat kloning Ladusong merasa diacuhkan. Kloning Ladusong marah hingga terlihat otot di sekitar lehernya.


"Dasar duo kampret!! Rasakan kekuatan penghancur mogeku ini!!" Teriak kloning Ladusong.


Moge dengan tombak besar itu melaju cepat ke arah becak pak Gaelani. Pak Gaelani segera menggenjot becaknya menghindari serangan tubrukan dari moge bertombak tersebut. Becak pak Gaelani berhasil menghindar. Moge bertombak tersebut menabrak batu besar di belakangnya.


Bluuuuaaarrrrggghhhh!!


Batu besar tersebut hancur lebur terkena tombak moge kloning Ladusong. Pak Gaelani dan Insur melotot bersamaan melihat kekuatan tombak penghancur itu.


"Gila kekuatan tombak di ujung mogenya ternyata mengandung jurus ledakan kloning Ladusong!" Teriak Pak Gaelani sambil melotot.


"Makanya cepat lu keluarin senjata becak lu!" Teriak Insur yang juga melotot.


"Baik. Akan aku gunakan. Tapi aku butuh sebuah kesempatan. Akan kubuat kesempatan itu datang!" Teriak pak Gaelani yang semakin terpacu adrenalinnya.


Pak Gaelani menggenjot becaknya menjauhi moge bertombak kloning Ladusong. Moge bertombak segera mengejar becak tersebut.


"Jangan lari kamu pengecut! Kamu takut kan setelah melihat kekuatan penghancur dari moge bertombakku ini?! Luahahaha!" Teriak kloning Ladusong yang terus mengejar becak pak Gaelani.


Pak Gaelani menggenjot becaknya sambil mengibas ke kiri dan ke kanan. Kloning Ladusong semakin terpancing amarahnya. Dia semakin beringas ingin segera menabrak becak itu dengan tombak di depan mogenya.


"Akhirnya ada kesempatan Sur! Sebaiknya kamu bersiap! Akan kuperlihatkan senjata andalan becakku ini!" Teriak pak Gaelani.


Apakah gerangan senjata andalan becak pak Gaelani itu?