Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 22: Keberkahan dan Neraka


Sihir penghalang barrier milik Pak Kaji Dauh membentang besar dari ujung utara hingga ujung selatan. Penghalang tersebut layaknya kaca besar yang memiliki kekuatan super besar yang tidak tertembus. Hanya Surin Sang Raja Kegelapan yang pernah menembusnya.


"Kloning Ladusong! Kita mundur dulu! Tidak mungkin kita bisa menembus penghalang milik Pak Kaji Dauh ini!" Teriak dokter Skak dari sisi barat jembatan.


Kloning Ladusong pun melompat mundur menuju ke arah dokter Skak. Seluruh pasukan kloning Ladusong pun mundur dan kembali ke pusat militer desa KangAgung yang kini menjadi markas besar mereka.


Pak Kaji Dauh dan Tengud juga memundurkan pasukannya. Perang berakhir tanpa penentu siapa yang menang.


Warga desa bagian timur bersuka cita karena Pak Kaji Dauh dan Tengud berhasil menghalangi kloning Ladusong dan dokter Skak untuk membuat onar di desa KangAgung sisi timur dari sungai Tasbran.


Sementara warga desa KangAgung sisi barat sungai Tasbran merasa dilupakan. Mereka akhirnya menjadi budak dari pasukan kloning Ladusong dan dokter Skak. Tindakan semena - mena pun terjadi.


Mbak Hana yang tinggal di sisi kiri sungai Tasbran juga sempat ludes semua dagangannya tanpa ada satu pun yang membayar. Warung kopi mbak Moshi juga bangkrut. Semua anak buah kloning Ladusong selalu ngopi tanpa membayar sepeser pun! Malah kadang mereka meminta pajak keamanan.


Pajak keamanan ini di terapkan semena - mena oleh dokter Skak dan kloning Ladusong. Yang tidak mau membayar maka akan dipenggal saat itu juga.


Banyak warga sisi barat sungai Tasbran yang sengsara selama lima hari tersebut. Lima hari dibuatnya sihir penghalang Pak Kaji Dauh. Bagi orang sisi timur menyebutnya lima hari keberkahan. Bagi orang sisi barat menyebutnya neraka!


"Bagaimana White Snow? Apa perlu kita gerakkan kubu serigala tanah sekali lagi?" Tanya Pak Atu pada mbak Hana.


"Jangan. Jangan bergerak dulu. Kita tunggu saja kabar dari Insur dan nenek Faynem." Ucap Mbak Hana.


"Tapi lihatlah! Banyak warga yang sengsara!" Ucap Pak Atu dengan membara.


"Aku tahu. Tapi yang mampu mengalahkan Ladusong adalah Insur. Jika kloning Ladusong ini lebih kuat dari Ladusong maka kita membutuhkan Insur. Lagi pula koneksi kita dengan nenek Faynem terputus karena penghalang ini. Bersabarlah. Kita tunggu lima hari lagi setelah jurus penghalang barrier ini menghilang." Ucap mbak Hana menjelaskan.


Pak Atu pun mengangguk setuju.


Mbak Hana memandangi langit desa KangAgung yang seakan suram siang itu. Di dalam hatinya dia khawatir dengan seseorang yang menguasai seluruh hati dan pikirannya.


"Dimana kamu Sur?" Gumam mbak Hana.


-----


Pemukiman pantai Kecoak rame sekali saat itu. Ternyata ada kabar bahwa Intan si artis seksi akan kembali ke desanya, yaitu desa Balatara. Para fans segera berkumpul melepas kepergian Intan.


Insur dan Pantam hanya melihat dari kejauhan sambil ngopi dan merokok. Juli pun duduk di samping Insur seakan tak mau lepas dari Insur. Sementara Pak Gaelani mengobrol asik dengan Pantam tentang dunia perbecakan yang ditekuni Pak Gaelani bertahun - tahun.


"Jadi becak yang bagus itu memang harus memiliki akselerasi yang akurat ya Pak Gaelani?" Tanya Pantam.


"Ooohhh jelas itu nak Pantam! Jangan lupa tambahkan besi kerangka baja. Lalu cek rem setiap hari. Atur suhu ban. Dan pakai dua tabung NOS (Nitro Oksida Sistem) untuk menambah kecepatan jika diperlukan!" Ucap Pak Gaelani dengan penuh semangat.


Ketika mereka berempat sedang asik mengobrol, tiba - tiba Intan berlari ke arah Insur dan mencium pipinya.


"Muuuaach... Makasih ya Sur batu darahnya. Aku gak akan lupa kebaikanmu." Ucap Intan lalu pergi menuju helikopter dan terbang jauh dengan Shin dan Shun kembali ke desa Balatara.


Insur masih bengong setelah dicium Intan. Sementara Pantam dan Pak Gaelani marah - marah.


"Kampret enak banget luu dicium Intan hah? Sini gua pukul lu!" Ucap Pantam.


"Emang kampret kepala kuaci lu Sur!" Umpat Pak Gaelani ikut - ikutan.


Bruuuuuaaaaakkkkk!


Insur terjatuh. Bukan karena dipukul Pantam ataupun Pak Gaelani, tapi karena dipukul Juli!


"Beraninya kakak selingkuh di depanku! Pakek dicium segala!" Teriak Juli.


"Kampret apaan sih elu?! Bukan gua yang mencium, tapi si Intan!" Teriak Insur.


"Sama aja! Kakak jahat!" Ucap Juli sembari memukul muka Insur berkali - kali sambil menangis.


"Emang gua siapa lu? Wooooi berhenti mukul woooi!" Teriak Insur terkena hujan pukulan Juli.


Dari arah barat pantai terlihat sebuah mobil monster 4 x 4 WD membelah pasir pantai. Mobil monster tersebut berhenti di tempat Mak Imah, tempat Insur dan kawan - kawan ngopi.


"Hello everybody! Bagaimana kabarnya?" Tanya Pak Jarwi sambil turun dari mobil tersebut.


"Oalah Pak Jarwi. Akhirnya pulang juga." Ucap Mak Imah menyambut kedatangan Pak Jarwi.


"Kopi hitam yang pahit satu ya mak!" Pesan Pak Jarwi.


Mak Imah pun segera membuatkan pesanan Pak Jarwi.


"Hey Tam gimana rasanya jaga pantai? Asik kan?" Tanya Pak Jarwi.


"Yah lumayan sih Pak Jarwi." Ucap Pantam sembari duduk kembali bersama Pak Gaelani.


"Loh Insur mana?" Tanya Pak Jarwi.


"Itu sedang dipukuli Juli." Ucap Pantam.


Pak Jarwi pun melihat Insur yang mulai berdiri dan duduk di kursinya kembali dengan muka lebam sehabis dipukuli Juli.


"Eh Pak Jarwi gimana kabarnya?" Tanya Insur.


"Ah baik." Jawab Pak Jarwi singkat.


Juli pun ikut duduk di samping Insul dan merangkul lengannya dengan manja. Ah tampaknya Insur mulai bersabar dengan sikap aneh si Juli ini. Jadi dibiarkannya Juli memeluk lengannya.


Mak Imah datang dan menyajikan kopi di depan Pak Jarwi lalu kembali ke tempatnya. Pak Jarwi pun menyeruput kopi panas tersebut dengan penuh nikmat.


"Aaaahhh mantap nih kopi! Oh iya Insur, Pantam. Gua ada kabar buat lu berdua." Ucap Pak Jarwi sembari menyalakan rokok.


"Kabar apaan Pak Jarwi?" Tanya Insur.


"Ini terkait keadaan pusat desa KangAgung saat ini. Kantor militer desa KangAgung sekarang dikuasai oleh kloning Ladusong dan dokter Skak." Ucap Pak Jarwi.


"Apa?!!" Teriak Insur, Pantam, dan Pak Gaelani bersamaan.


"Iya. Dan Dipaidi kabarnya telah kehilangan tangan kirinya dan sampai saat ini belum ditemukan mayatnya. Saat ini desa KangAgung sisi barat dikuasai oleh kloning Ladusong dan dokter Skak yang bertindak semena - mena pada warga di sana. Sementara warga desa bagian timur masih aman." Ucap Pak Jarwi.


"Ini gawat! Kita harus kembali ke pusat KangAgung sekarang!" Teriak Insur.


"Sabar Sur. Untuk melawan kloning Ladusong dan dokter Skak beserta anak buahnya kamu butuh banyak pasukan. Saat ini Pak Kaji Dauh sedang mempersiapkan pasukannya dengan baik di sisi timur desa KangAgung." Ucap Pak Jarwi.


"Berarti aku harus menuju sisi timur desa KangAgung untuk membantu Pak Kaji Dauh membebaskan sisi barat dari tangan kloning Ladusong dan dokter Skak." Ucap Insur.


"Tidak semudah itu. Pak Kaji Dauh membuat penghalang super barrier yang memisahkan sisi barat dan sisi timur desa KangAgung. Kalian tidak bisa menembus sisi timur sekarang." Ucap Pak Jarwi.


"Waduh gimana nih?!" Ucap Pantam panik.


"Santai saja, sebenarnya aku ada cara. Tapi ini.... Berbahaya!" Ucap Pak Jarwi serius.