Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 12: Aku


Insur, Pantam, dan Pak Jarwi menikmati rokok dan kopi mereka sambil bersantai di warung kopi Mak Imah. Mereka bertiga mengobrol sambil menikmati keindahan pantai Kecoak.


Asap mengepul dari rokok mereka masing - masing. Udara laut sesekali menerpa wajah mereka bertiga. Sungguh suasana yang mampu menenangkan hati.


"Saya jadi ingin tahu sejarah dari pemukiman pantai Kecoak ini. Meskipun pantai Kecoak merupakan bagian dari desa KangAgung tetapi tidak pernah sekalipun tersentuh perang layaknya pusat desa KangAgung." Ucap Insur.


Pak Jarwi pun segera menjawab dengan penuh semangat, "Benar. Kalau kamu ingin tahu maka akan aku ceritakan........."


-----


(### Kisah Pemukiman Pantai Kecoak)


Dahulu kala saat Earth Sang Penguasa dari Barat memulai invasinya ke arah timur akhirnya di sampai pada wilayah bagian paling timur. Disanalah cikal bakal keberadaan desa KangAgung.


Pertarungan perebutan wilayah di tempat paling ujung timur pulau besar Rava itu terjadi antara Earth, Magma, dan Coldness. Magma mengorbankan dirinya menjelma menjadi enam batu darah yang dipegang oleh Jack, anak Magma.


Jack menjadi brutal setelah mendapatkan kekuatan enam batu darah dan berhasil mengusir Coldness hingga kembali ke pulau Es Beku.


Setelah berhasil mengusir Coldness, Jack semakin beringas dan ingin mengalahkan Earth. Earth sebagai Sang Penguasa dari Barat tidak pernah terkalahkan sebelumnya. Tetapi dia cukup kesulitan melawan Jack dengan kekuatan enam batu darah penjelmaan Magma.


Pertarungan demi pertarungan terjadi, tetapi Jack dan Earth masih imbang. Hingga akhirnya Dia anak dari Earth berkhianat. Akhirnya Jack dan Dia berhasil membunuh Earth. Jack dan Dia akhirnya bekerjasama dan mendirikan desa KangAgung dengan Jack yang terpilih sebagai Penguasa Desa pertama.


Dia ternyata menginginkan lebih. Dengan dibantu beberapa anak buah kepercayaannya dia berhasil membunuh Jack dan akhirnya menjadi Penguasa Desa KangAgung. Dia merampas empat buah batu darah, sementara dua batu darah lainnya di bawa Surin anak Jack.


Dia Sang Penguasa Desa akhirnya membangun desa KangAgung sedikit demi sedikit. Dia membuka pemukiman di pantai Kecoak untuk keturunan asli klannya, yaitu klan asli keturunan Earth Sang Penguasa dari Barat.


Dia Sang Penguasa Desa menginginkan keturunan asli klannya jauh dan aman dari berbagai kerusuhan di pusat desa KangAgung. Hingga akhirnya muncullah Surin dengan kekuatan besarnya mampu membuat badai paling menakutkan seperti yang dulu pernah Jack lakukan.


Surin membuat kubu Serigala Tanah, sementara Dia Sang Penguasa Desa membuat kubu Elang Langit. Dia dipukul mundur melalui beberapa pertempuran. Kubu Serigala Tanah akhirnya mampu menguasai sisi timur sungai Tasbran. Sementara Dia Sang Penguasa Desa mempertahankan kekuasaannya di sisi barat sungai Tasbran.


Surin pernah mendengar ada pemukiman di pantai Kecoak. Dia pun berangkat menuju pantai Kecoak dengan pasukannya. Dia Sang Penguasa Desa mendengar kabar ini dan dia berangkat dengan Pak Kaji Dauh untuk menghalangi upaya Surin menuju pemukiman pantai Kecoak.


Kedua pasukan ini bertemu di perbukitan sebelum pemukiman pantai Kecoak.


"Suahahahahaha...... Ternyata kamu menghalangiku masuk ke pemukiman pantai Kecoak ya Dia!" Teriak Surin Sang Raja Kegelapan.


"Jangan pernah kamu menyentuh pemukiman pantai Kecoak! Pemukiman Kecoak adalah satu - satunya tempat damai yang tak akan aku ijinkan kamu menyentuhnya." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


"Alasan klise lagi. Memutar balikkan kebenaran adalah kemampuan spesial lidahmu ya. Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu di sana. Suahahaha...." Ucap Surin.


Tak ingin Surin meneruskan kalimatnya, Dia pun segera memerintahkan pasukannya untuk maju menyerang. Perang pun terjadi. Dia Sang Penguasa Desa mengawasi pertempuran dari jarak jauh bersama Pak Kaji Dauh. Terlihat Surin dengan beringas menebas lawan - lawannya dan mulai menyudutkan kubu Elang Langit. Tebasan teknik angin Surin tidak terhentikan dan menambah jumlah korban kubu Elang Langit.


"Bagaimana ini? Surin ini benar - benar petarung yang berbahaya." Ucap Pak Kaji Dauh.


"Gunakan jurus Penghalang Bariermu dengan kekuatan maksimal." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


"Tapi itu membutuhkan banyak waktu." Ucap Pak Kaji Dauh.


"Aku akan melawan Surin, jadi kamu bisa mempersiapkan jurusmu itu." Ucap Dia Sang Penguasa Desa sambil melompat jauh ke arah Surin.


Pertarungan antara Dia Sang Penguasa Desa dan Surin Sang Raja Kegelapan pun tak terelakkan. Pertarungan tersebut bagaikan sebuah badai bencana alam yang memporak porandakan pasukan di kedua kubu. Seluruh pasukan akhirnya menjaga jarak sambil melihat pertarungan tingkat dewa itu.


Dia Sang Penguasa Desa mengayunkan tombaknya ke arah Surin. Surin pun juga mengayunkan pedangnya ke arah Dia. Dua senjata mereka saling bersentuhan.


Duuuuuuuuaaaaaargggggghhhhhhh!!!!


Petir menyambar di langit. Tekanan bertemunya kedua senjata mereka amat sangat besar dan menimbulkan hempasan angin super kuat. Tanah bergetar hebat dan langit di atas mereka menjadi terbelah. Inilah dua orang petarung yang sama - sama memiliki kekuatan tekad yang amat sangat besar.


"Kamu benar - benar seperti ayahmu, si Jack. Benar - benar hebat Surin. Diahahaha...." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Suasana mencekam. Beberapa anak buah dari kubu Serigala Tanah maupun dari kubu Elang Langit tiba - tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri. Mereka adalah orang - orang yang terkena aura tekad membunuh Dia dan Surin. Orang - orang bermental lemah akan jatuh tak sadarkan diri.


"Jurusku sudah siap!!!" Teriak Pak Kaji Dauh.


Mendengar teriakan Pak Kaji Dauh, Dia segera melompat melayang mundur menjauh dari Surin.


Pak Kaji Dauh segera melepaskan jurus Barriernya yang berkekuatan maksimal. Menciptakan penghalang dari kaca raksasa yang tidak bisa ditembus oleh siapun.


"Surin! Sekarang aku sudah membuat jurus Barrier maksimalku! Tidak ada yang bisa menembusnya! Sebaiknya kamu mundur dan mengurungkan niatmu menuju pemukiman pantai Kecoak!" Teriak Pak Kaji Dauh.


Surin tertunduk sejenak. Suasana hening. Anggota kubu Elang Langit merasa lega. Anggota kubu Serigala Tanah menunggu keputusan dari Surin sebagai pimpinan tertinggi mereka.


"Jurus penghalang Pak Kaji Dauh ini tidak ada yang bisa menembusnya. Sebaiknya kita mundur tuan Surin." Ucap Pak Cik yang mendekat pada Surin.


"Benar. Kita hanya akan menghabiskan tenaga percuma untuk menembus penghalang yang kuat itu." Ucap Pak Atu.


Surin tersenyum.


Surin tersenyum lebar!


"Kamu pikir aku siapa? Aku adalah Surin Sang Raja Kegelapan! Suahahahaha..... Menarik! Ini menarik!! Tahanlah jurus Barriermu kalau kamu bisa!! Suahahaha..." Teriak Surin dengan tekad yang kuat.


Surin mengayunkan pedangnya ke arah penghalang yang diciptakan Pak Kaji Dauh secara bertubi - tubi.


Angin kencang dengan suara guntur di langit menyambar berkali - kali. Saat menemui hambatan yang tidak bisa ditembus Surin bukannya menyerah, dia justru merasa tertantang dan menikmatinya! Inilah yang dinamakan tekad paling kuat!


Semua yang melihat kejadian itu terpaku hanya bisa menyaksikan Surin yang terus menerus menebaskan pedangnya pada penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh. Hingga akhirnya sihir penghalang tersebut mulai retak dan......


Praaaaaaangggggggggggggg!!!


Sihir penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh akhirnya hancur berkeping - keping.


"Wuuuuiiooooooo ini kemenangan kita!! Hidup Surin! Hidup Surin!!" Teriak para anggota kubu Serigala Tanah.


"Apanya yang tidak tertembus hah? Suahahaha....." Ucap Surin dengan tawa yang menggema memenuhi langit.


Pak Kaji Dauh terduduk lesu dan bergumam, "Tidak mungkin, ini tidak mungkin......"


Saat Surin tertawa terbahak - bahak lalu meloncatlah seorang yang tidak dikenal. Dia dengan cepat berdiri di depan Surin lalu menggenggam tangan Surin.


"Jurus perpindahan dimensi!" Ucap orang tersebut.


Dan Surin pun tiba - tiba lenyap.


Seluruh kubu Serigala Tanah kebingungan dan mereka mundur karena pemimpin mereka tiba - tiba menghilang.


Dan Kecoak menjadi satu - satunya daerah di desa KangAgung yang tidak pernah didatangi oleh Surin. Satu - satunya......


-----


Pak Jarwi mengakhiri ceritanya dengan menyesap kopinya dengan puas. Insur dan Pantam mendengarkan cerita tersebut dengan khidmat.


"Jadi.... Siapa orang yang menggunakan jurus perpindahan dimensi itu?" Tanya Pantam.


"Aku." Jawab Pak Jarwi dengan tenang.