Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 25: Berirama


Matahari mulai muncul dengan malu - malu. Sinarnya secara perlahan namun pasti kini menyinari desa KangAgung dengan kehangatannya. Hangat matahari pagi biasanya disambut suka cita oleh warga desa KangAgung, tapi tidak hari ini.


Kloning Ladusong dan dokter Skak beserta pasukannya bersiap di sisi barat jembatan Agung. Pasukan tersebut membawa banyak senjata lengkap. Samurai, pedang, pisau, pistol, senapan laras panjang, shotgun, rompi anti peluru, dan sebagainya.


Di sisi timur jembatan tak mau kalah. Pak Kaji Dauh, Tengud, dan Insur memimpin pasukannya dengan jumlah sama besar. Senja yang dibawa pun beragam. Samurai, pedang, senjata api, cangkul, tongkat, gergaji, dan sebagainya.


Kedua kubu saling menunggu pecahnya penghalang sihir milik Pak Kaji Dauh. Insur menenteng samurai hitamnya dan menyemangati pasukannya, "Apa pun yang terjadi jangan mundur! Masa depan desa KangAgung sedang dipertaruhkan!"


"Wuoooooooooooo...." Teriak pasukannya.


Sihir pelindung Pak Kaji Dauh mulai retak. Pasukan kedua kubu siap bertempur mempertaruhkan nyawanya. Tak berapa lama pelindung sihir itu pun pecah berkeping - keping.


"Majuuuuu.......!!" Teriak Ladusong menyemangati pasukannya.


"Majuuuuu......!!" Teriak Pak Kaji Dauh pula.


Kedua pasukan saling berlari dan akhirnya bertemu di tengah jembatan Agung. Kedua pasukan saling bertubrukan. Suara pedang yang beradu, letupan pistol, dan juga teriakan - teriakan kesakitan mulai terdengar. Tak sedikit yang terdorong dan akhirnya tercebur ke sungai Tasbran.


Kloning Ladusong merangsek maju. Dia hajar siapapun yang berada di depannya. Insur dengan gesit membelah pasukan lawan. Menyabitkan samurai hitamnya dan berlari zig - zag di sela - sela kerumunan musuh.


Dor! Dor! Dooor!


Suara tembakan beruntun terdengar. Insur berguling ke samping menghindari tembakan dari pasukan musuh yang berada di dinding jembatan. Insur melompat ke arah penembak, mengarahkan sabetan pedangnya pada para penembak dengan cepat.


Craah, crasshhh, crashhhh!


Tiga penembak terkena sabetan samurai Insur dan akhirnya terjatuh ke sungai. Dari belakang pasukan kloning Ladusong mengincar leher Insur dengan pisaunya. Insur mengelak, berputar mengitari orang tersebut lalu menendangnya hingga tersungkur.


Zwuuuuzhhhh.....!!


Sebuah tombak melayang ke arah ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong dengan sigap mengarah serangan Max Elbow nya ke arah laju tombak.


Duaaaaarrgghhhh!!!


Tombak tersebut meledak berkeping - keping dan serpihannya mengenai orang - orang di sekitar. Tengud melompati kerumunan dan melemparkan pisaunya dengan arah tak karuan. Bukan hanya pasukan musuh tetapi bahkan pasukannya sendiri juga ada yang terkena lemparan pisau beruntun Tengud.


"Dia gila! Dia tidak mempedulikan pasukannya sendiri! Dasar Tengud!!" Ucap Pak Kaji Dauh yang mengayunkan tongkatnya memukul pasukan musuh di sekitarnya.


Pasukan warga desa KangAgung ada yang sudah berhasil mengepung dokter Skak. Dokter Skak bersikap santai. Para pasukan yang mengepung dokter Skak berlari maju mengarahkan kapak mereka. Dengan cepat dokter Skak mengubah dirinya menjadi slime hingga serangan kapak tersebut tidak bisa melukainya.


"Apa kalian pikir kalian bisa membunuhku? Skahahaha..." Teriak dokter Skak.


Pertarungan di jembatan Agung itu kian memanas. Banyak pasukan dari kedua kubu yang sudah terluka parah bahkan adanjuga yang sudah meregang nyawa. Dia Sang Penguasa Desa hanya melihat pertarungan tersebut dari jauh tanpa ada keinginan untuk turut ikut bertarung.


"Anda tidak ikut turun bertarung kali ini tuan?" Tanya Nin nin sekretaris Dia Sang Penguasa Desa.


"Buat apa hah? Biarkan saja mereka bertarung. Kita tinggal melihat dari jauh arah perkembangan pertarungan ini." Jawab Dia Sang Penguasa Desa.


Nin nin mengangguk dan mulai menyalakan api untuk rokok cerutu milik Dia Sang Penguasa Desa. Keduanya hanya memandang pertempuran tersebut dari jauh.


Insur mulai terkepung oleh beberapa anak buah kloning Ladusong. Dengan segera Insur memutar - mutar tubuhnya lalu mengayunkan samurainya. Para anak buah kloning Ladusong terhempas terkena putaran angin yang mengarah pada mereka. Ada beberapa yang terjatuh di sungai.


Tengud merampas senapan artileri dari salah seorang pasukan. Lalu menembakkannya secara acak dan beruntun ke arah sungai. Ada yang tertembak tepat di kepala, ada yang di bahu, ada juga yang menghindari tembakan - tembakan tersebut dengan berenang ke tepi sungai ataupun menyelam ke dalam sungai.


"Teahahaha.... Mati kalian semua! Tempat pertarungan merupakan tempat hiburan paling menarik!" Teriak Tengud.


Tengud menjadi lalai dan tidak tahu ada musuh di belakangnya yang menendang bokongnya hingga di jatuh di sungai Tasbran.


Byuuuuuur!


Tengud terjatuh dan berenang dengan gelapan.


"Kampret! Siapa itu?!" Teriak Tengud.


Ternyata orang yang menendangnya adalah dokter Skak. Dokter Skak segera mengambil senapan artileri yang tadi dipakai Tengud, lalu mengarahkan tembakannya ke arah Tengud.


Tengud segera menyelam lebih dalam menghindari tembakan artileri tersebut.


"Bagaimana rasanya Tengud?! Skahahaha....!" Teriak dokter Skak.


Sementara itu kloning Ladusong akhirnya tiba di depan Pak Kaji Dauh.


"Akhirnya aku mendapat lawan yang bagus dari pada para teri - teri kecil anak buah kalian itu. Luahahaha..." Ucap kloning Ladusong.


"Apa kamu pikir kamu bisa melawanku kloning Ladusong?!" Ucap Pak Kaji Dauh sambil menyiapkan kuda - kuda.


Kloning Ladusong merangsek maju ke arah Pak Kaji Dauh. Dilayangkannya pukulan bertubi - tubi. Pak Kaji Dauh merespon cepat dengan menciptakan sihir penghalang barrier miliknya.


Duazzhh, duazzhh, duaaaazhhh!


Serangan kloning Ladusong menghantam sihir pelindung barrier milik Pak Kaji Dauh. Tapi pelindung tersebut kokoh dan kuat sekali. Tak satu pun pukulan kloning Ladusong yang mampu menembus penghalang tersebut.


"Benar - benar seperti legenda yang kudengar. Jurus penghalangmu ini sulit sekali untuk ditembus. Luahahaha!" Teriak kloning Ladusong yang malah semakin bersemangat.


Pertarungan di jembatan Agung mulai memuncak. Suara desingan peluru dan teriakan - teriakan ngeri penuh kesakitan mulai terdengar sahut - menyahut. Pertarungan tak hanya terjadi di atas jembatan Agung. Di sungai Tasbran yang berada di bawah jembatan dengan ukuran raksasa itu pun juga terjadi saling adu pedang ataupun saling menembak. Pertarungan juga terjadi di sisi tepi sungai Tasbran.


Dia Sang Penguasa Desa yang menyaksikan dari kejauhan pun segera melakukan tidakan pencegahan. Dia tidak mau peperangan itu merembet hingga ke pemukiman warga sipil desa KangAgung.


"Persiapkan regu tembak. Tembak siapa saja yang berada di sisi tepi sungai Tasbran. Aku tidak akan membiarkan peperangan ini meluber hingga kemana - mana." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.


Williams sebagai ketua regu tembak terhenyak. Dia pun segera mengajukan komplain terkait keputusan Dia Sang Penguasa Desa.


"Tapi tuan, yang bertarung di sisi tepi sungai Tasbran itu juga ada beberapa pasukan warga kita." Ucap Williams.


"Ini perintah!" Tegas Dia dengan singkat.


Mau tak mau Williams pun segera mengerahkan pasukannya di atas tepian sungai Tasbran sisi timur. Sekitar seratus penembak jitu tipe sniper anak buahnya dia posisikam.


"Tembak siapa saja yang berada di depan kalian! Tidak peduli dia pasukan desa KangAgung ataupun pasukan anak buah kloning Ladusong!" Teriak Williams.


Dan suara desingan peluru sniper pun terdengar berirama.....