Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 30: Bunga Kejahatan


Suasana desa KangAgung malam itu begitu dingin. Dengan udara sedingin itu biasanya orang - orang lebih memilih tidur dengan selimut tebal di rumahnya. Tapi tidak dengan Insur, hari ini dia harus segera menemui Dipaidi. Di depan kantor Dipaidi Insur berdiri tegap. Dilihatnya lampu di salah satu ruangan masih menyala.


"Mungkin Dipaidi masih ada kerja lemburan yang penting." Gumam Insur.


Insur melangkahkan kakinya menuju ruang resepsionis.


"Selamat Datang Bapak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap pegawai resepsionis itu dengan ramah. Resepsionis tersebut merupakan wanita muda yang cukup cantik dengan lesung pipit yang menawan. Tampaknya dia polwan yang terbiasa mengurusi masalah humas. Penampilannya menawan dengan baju ketat dan rok mini. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih dan halus.


"Bisa saya bertemu dengan Pak Dipaidi?" Tanya Insur.


"Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" si resepsionis menanya balik.


"Be... belum. Tapi ini penting sekali."


"Dengan Bapak siapa?"


"Insur. Dia pasti akan mau bertemu saya."


"Baik Bapak Insur tunggu sebentar ya, akan coba saya tanyakan terlebih dahulu. Silahkan duduk di ruang tunggu."


Resepsionis cantik itu segera memencet tombol di telepon. Insur duduk bersantai. Ingin rasanya Insur menyalakan rokok untuk mengusir hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi apa daya, sebatang rokok pun dia tak punya. Benar - benar nasib pengangguran memang mengenaskan. Ruahahahaha.....


Tak beralama - lama resepsionis cantik itu memanggil Insur kembali dan mengantar Insur menemui Dipaidi.


"Tampaknya bos mu Dipaidi sibuk sekali ya hingga begadang selarut ini." Ucap Insur mencoba membuka obrolan.


"Iya, Pak Dipaidi memang merupakan polisi super sibuk. Pastinya tidak sempat untuk bermain - main. Saya sangat bangga dengan bos saya itu. Pak Dipaidi merupakan idola dan panutan saya...." Jawab resepsionis panjang lebar sembari membuka pintu ruangan Dipaidi.


Dan betapa terkejutnya Insur dan si resepsionis tatkala pintu dibuka! Ternyata Dipaidi sedang asik bermain boneka layaknya anak kecil!!!


"Pak Dipaidi....." Ucap resepsionis sembari menutup mulut menggunakan tangannya sendiri karena terkejut.


Dipaidi juga kaget saat dipergoki sedang bermain boneka.


"Eh... ini anu... anu.... Saya cuma meneliti barang bukti!!"


Dengan susah payah Dipaidi menjelaskan pada resepsionisnya. Wibawanya sebagai bos sedang dipertaruhkan.


"Eh iya. Maaf Pak Dipaidi. Ini saya cuma mengantarkan Insur. Permisi Pak." Ucap resepsionis cantik itu segera pamit dan pergi.


Hancur sudah wibawaku!!!!! Gerutu Dipaidi dalam batin.


"Masuk lu Sur, tutup pintunya!" Bentak Dipaidi karena rasa malu.


Setelah menutup pintu rapat - rapat, Insur segera duduk dihadapan Dipaidi. Memandangnya lurus dan mendalam.


"Kenapa kamu menembakku?" Tanya Insur tanpa basa - basi.


"Ahhhh.... Sur, hal ini begitu sulit dijelaskan. Asal kamu tahu saat itu aku benar - benar tidak bisa membantah Ladusong. Aku terpaksa. Tapi jujur saja, aku benar - benar tidak ingin melakukannya. Ada banyak hal yang aku sendiri tidak setuju dengan perbuatan Ladusong dalam mengambil keputusan." Jawab Dipaidi mencoba menjelaskan pada Insur.


Dipaidi berhenti sejenak. Mengambil satu batang rokok dan menyalakannya lalu menyodorkan pada Insur. Insur mengambil satu batang rokok dan juga menyalakannya.


"Kamu masih ingat Sur tentang kejadian pembakaran warung Pak Cik dan terbunuhnya beliau. Aku tidak setuju. Dan aku juga sempat memperingatkanmu jangan ke sana waktu kita bersisipan di tengah jalan. Kamu masih ingat kan? Tentang pembunuhan Anci dan keluarganya aku juga tidak setuju. Kalo Anci dihukum mati pun aku tidak apa - apa, tapi bagaimana dengan istri dan anaknya? Dosa apa mereka sehingga juga harus terbunuh?!" Ucap Dipaidi sambil menggebrak mejanya dengan keras.


Setelah jeda satu hisapan rokok, Dipaidi kembali melanjutkan, "Aku benar - benar sudah muak menjadi kaki tangan Ladusong. Tapi apa dayaku karena sekarang pangkatku berada di bawahnya".


Insur memancing dengan bertanya, "Lalu apakah kamu akan tetap berada di posisi ini?"


Dengan segera dan menggebu - gebu Ladusong menjawab, "Tentu tidak Sur, tentu tidak! Oleh karena itu aku mencalonkan diri sebagai komandan militer tertinggi desa KangAgung. Aku ingin melengserkan Ladusong. Tiga hari lagi akan diadakan putusan pemilihan komandan tertinggi desa KangAgung yang baru!"


Sebenarnya informasi tersebut Insur juga sudah tau. Semua sudah sesuai dengan narasi yang dibangun Insur sebelum dia datang.


Insur pun berkata, "aku akan membantumu. Kita lengserkan Ladusong!"


"Kamu mau membantuku?"


"Tentu. Aku sudah punya rencana."


"Apa itu?" Ujar Dipaidi mulai tertarik dan penasaran.


"Aku dan White Snow sekarang sedang mengumpulkan sisa - sisa pasukan kubu Serigala Tanah yang bersembunyi".


Dipaidi kaget dan membelalakkan mata. White Snow?! Pasukan Serigala Tanah?!! Dipaidi seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya. Santai saja. Tujuan kami kali ini hanya kepala Ladusong" Ucap Insur mencoba menjelaskan.


Dipaidi terdiam sejenak. Ini gila. Jika kubu Serigala Tanah bangkit kembali tentunya malah akan membuat keadaan semakin kacau. Perang besar seperti yang terjadi empat tahun lali bisa saja terulang kembali.


"Kamu ingin membangkitkan Serigala Tanah kembali Sur?" Tanya Dipaidi.


"Tidak! Percayalah tujuan kami hanya kepala Ladusong. Setelah itu pasukan Serigala Tanah akan bersembunyi kembali dan tidak akan menyentuh pemerintahan yang sekarang dipegang kubu Elang Langit" Ucap Insur menjelaskan dengan tegas.


Dipaidi diam lama. Berfikir keras. Resiko akan kebangkitan kubu Serigala Tanah benar - benar momok menakutkan bagi kedamaian yang telah tercipta. Setelah menghela napas panjang akhirnya Dipaidi memutuskan, "Baik. Aku percaya padamu. Aku setuju."


Insur tersenyum mendengar keputusan Dipaidi dan berkata, "Bagus, sekarang kamu cukup berikan kami peta dan bukakan akses agar kami dapat menyelinap dalam acara pemilihan tersebut."


Dipaidi pun menyanggupi. Setelah selesai bernegosiasi dan berhasil, Insur pun bergegas pamit.


"Sur! Ingat berhati - hatilah. Saat pemilihan nanti ke-empat pilar langit akan hadir semuanya." Ucap Dipaidi.


"Tentu saja, semua sudah aku rencanakan dengan baik. Laksanakan saja tugasmu. Aku kembali dulu ke tempat persembunyianku." Ucap Insur pamit sembari membawa bungkus rokok milik Dipaidi. Lumayanlah dapat rokok gratis, batin Insur. Dasar tokoh utama tak tahu malu! Kerja wooooi kerja biar bisa beli rokok! Ruahahaha.....


Insur keluar dari ruangan Dipaidi dan melewati ruang resepsionis. Dilihatnya resepsionis cantik tadi sedang menangis.


"Kamu kenapa?" Tanya Insur.


"Huhu...huhuhu... Enggak apa - apa. Cuma saya sedih melihat Pak Dipaidi yang saya kira berwibawa itu ternyata main boneka!! Boneka barbie pula macam anak cewek!!" Jawab resepsionis cantik tersebut.


Insur benar - benar tergelak menahan tawanya.


"Nama kamu siapa? kayaknya wajah kamu agak familier gitu ya...." Tanya Insur.


"Saya adik kembaran Filla yang dulu meninggal karena bom di kantor pemerintahan. Nama saya Devi. Mungkin anda dulu pernah bertemu kembaran saya?" Tanya resepsionis cantik bernama Devi tersebut.


"Tidak." Jawab Insur singkat dan segera keluar dari kantor tersebut.


Di luar Insur berjalan kaki pulang sambil dilihatnya langit malam yang kelam itu. Masih teringat dengan jelas ledakan paket yang dibawanya saat itu. Dosa mengalir yang terus membekas, layaknya bunga kejahatan....