Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 7: Kekosongan, Kehampaan...


Pagi itu Insur terbangun pukul 05.00 pagi hari karena suara jam wekernya yang beebunyi nyaring...


"Dasar pengangguran.... dasar pengangguran...."


Sesegera mungkin Insur mematikan jam wekernya karena takut si Bambang mengamuk kembali seperti kemarin pagi. Dengan malasnya Insur mandi pagi itu.


Setelah itu dia berpakaian rapi, tak lupa tetap memakai dasi merah bertuliskan tut wuri handayani agar sisi intelektualnya tetap terlihat. Baru saja si Insur membuka pintu ternyata sudah ada si Pantam di depan rumahnya lengkap dengan sepeda butut kebanggaannya.


"Pagi yang cerah ya Sur! gimana tadi malam waktu mengantar Mbak Hana pulang? cieeee.... cieeee...." ejek si Pantam.


"Pala lu ciee cieee! kemaren nyawa gua hampir melayang Tam!"


"Hampir melayang gimana maksud loooo? Segitunya luu bahagia tadi malem sampek melayang - layang, kyahahahaha....."


Si Insur cemberut saja mendengar ejekan sahabatnya ini.


"Tadi malam gua ketemu si Mbezi!" kata Insur menjelaskan dengan santainya.


Pantam terdiam sejenak.


"Ahh becanda lu sur!"


"Beneran."


"Tuuu kan becanda!"


Dan tendangan mendarat di muka si Pantam hingga dia terjatuh dari sepeda bututnya. Si Bambang yang kebetulan menyapu halaman rumahnya melihat pertengkaran mereka berdua.


"Apaan sih pagi - pagi sudah berteman." kata si Bambang.


"Berteman pala lu!!! Ini namanya berantem!!!" Jawab Insur dan Pantam bersamaan.


"Orang lagi berantem malah dibilang berteman, dasar Bambang!" gerutu Insur.


Ohhh tampaknya kedua bocah itu sudah lupa jurus 106 pukulan sapu lidi milik gua, batin si Bambang. Diambilnya sapu lidi lalu diputar - putar oleh Bambang ke depan, ke belakang, samping kiri dan kanan. Lalu dihentikannya putaran sapu lidi itu dan berpose layaknya kera sakti.


"Ampuuuuuun Bambang!" Teriak Insur dan Bambang bersamaan.


Belum sempat Bambang mengayunkan sapu lidinya terdengar suara mobil sport lamborgini milik Anci datang mengerem mendadak dan tak sengaja menabrak Bambang hingga jumpalitan tersungkur di tempat sampah teras rumahnya.


"Gawat Sur!" Teriak Anci.


"Iyaaa gawat lu baru aja nabrak Bambang tetangga gua!!!" Teriak Insur mulai panik.


"Bukan, tapi gawat ternyata gua dapat kabar kalo si Filla hari ini datang ke kantor lebih pagi!" Jelas si Anci ngos - ngos an.


"Waduh gawat beneran tuh, bisa gagal nih anterin paketnya. Ayuk berangkat!" Ucap si Insur sembari langsung melompat masuk ke mobil lamborgini dan mobil itu pun langsung tancap gas meninggalkan Bambang yang mengaduh kesakitan di tempat sampah dan Pantam yang terbengong.


"Aduhhh punggung gua!!! Dasar kampret!!" Teriak Bambang sambil menangis kesakitan.


"Iya gawat nih" Tukas Pantam.


"Iyee Tam ini bisa gawat kalo tulanh ane retak dan...."


Perkataan Bambang langsung dipotong si Pantam, "Bukan itu! tapi gawat kalo beneran yang ditemui Insur adalah Mbezi!"


Dan langit pagi itu terasa cerah tetapi dinginnya menusuk hingga ke tulang.


-----


Di jalan raya yang searah jembatan Agung terlihat lamborgini milik Anci melesat dengan cepatnya.


"Emang kenapa kalo si Filla udah masuk Kantor Ci?"


"Ya kan jadi gak bisa memberikan tuh paket buat dia, bos nya di pemerintahan itu galaknya minta ampun, kalo kerja pokoknya gak boleh sedikit pun ada waktu senggang. Eh Sur tuh bungkisannya jangan lupa ada di dasboard, ambil, bawa sekarang!"


Insur membuka dasboard dan mengambil paket segi empat tersebut dan menimbang - nimbangnya di tangan layaknya mainan.


"Jangan lu mainin kampret!!!! Ntar kalo isinya rusak bisa dimarahin pak Cik tahu rasa looo kalo gak digaji!!"


Karena mendengar kata tak digaji Insur pun gelagapan dan segera berhenti bermain - main dengan paket tersebut.


"Emang isinya apaan?" tanya Insur penuh rasa ingin tahu.


"Gua juga kagak tahu. Pokoknya inget waktu lu ngasih luu cuma harus bilang gini 'Dengan penuh kasih sayang dari penggemar rahasiamu' gitu... Inget hafalin!"


Insur pun segera komat - kamit menghafalkan pesan tersebut.


"Dengan penuh kasih sayang dari penggemar rahasiamu, dengan penuh kasih sayang dari penggemar rahasiamu, dengan penuh kasih sayang dari.... Kampret!!!!" teriak Insur mendadak.


Ternyata si Anci mengerem dengan ngawur mobilnya tepat di depan kantor pemerintahan. Insur yang kaget pun segera menghardik Anci, "Hey Kampret kalo ngerem bilang - bilang jangan mendadak! Dasar tutup panci!!!"


"Maaf Sur maaf, itu tuh soalnya gua liat si Filla. Itu noh yang putih bersih dan manis, pakek rok mini, rambut hitam panjang lurus dan...."


"Iya iya gua tau! Udah gua turun sekarang!"


"Ya udah gua tinggal ya Sur, ntar abis anter itu langsung aja lu ke warungnya pak Cik sendiri aja. Gua buru - buru ada urusan lain."


Setelah menurunkan Insur, Anci pun langsung tancap gas dari kantor pemerintahan teraebut.


Insur segera mendekati perempuan yang bernama Filla tersebut.


"Apakah lu yang bernama Filla?"


"Iya Om, nama saya Filla. Ada perlu apa ya?" Tanya Filla sambil melihat menyelidik terhadap Insur yang membawa bungkusan paket di tangannya.


Insur pun menggerutu dalam batinnya, Kampret!!!! Gua dipanggil om!!!! Dasar cewek centil pakek rok mini!!! udah seksi, manis, imut, cantik..... ahhh sudahlah....


"Ini gua mau antar paket sama lu Fill"


"Paket? Dari siapa Om?"


"Rahasia, pokoknya gua disuruh beri lu paket ini ama disuruh nyampein pesan 'Dengan penuh kasih sayang dari kampret...' eh maksud gua 'Dengan penuh kasih sayang dari penggemar rahasiamu' gitu Fill."


Insur segera menyerahkan paket di tangannya dan terbayang - bayang akan gaji 40 juta yang akan segera dia terima.


"Ok, makasih ya Om." Ujar Filla setelah menerima paket tersebut dan segera masuk ke kantor pemerintahan meninggalkan Insur yang bengong melompong dengan khayalannya menerima uang sebanyak itu.


Tak berapa lama Insur melamun, tiba - tiba kilatan cahaya dan suara menngelegar terdengar di kantor pemerintahan. Ternyata suara itu berasal dari paket yang meledak dengan dahsyatnya. Orang - orang lari kepanikan, banyak orang terkapar bersimpah darah, tak sedikit juga yang kehilangan kaki, tangan, kepala.... dan yang jelas pasti banyak nyawa yang menghilang saat itu.


Insur ternganga dengan peristiwa yang dia lihat di depannya. Asap hitam kelabu pekat membumbung tinggi dari kantor pemerintahan. Polisi darurat yang disiagakan langsung bertindak cepat menangani keadaan gaduh itu.


Orang - orang yang selamat segera menelepon. Ada yang menelepon rumah sakit, ada yang menelepon pemadam kebakaran, ada yang menelepon orang tuanya, ada yang menelepon pacarnya, ada juga yang menelepon dukun tentang nomor togel yang keluar terkait peristiwa tersebut.


Insur masih diam tak bergerak. Dia merasa lemas, dan dia pun terjatuh bersimpuh di kedua lututnya dengan lunglai.


Ohhh tidak, Filla si gadis manis yang seharusnya masih punya masa depan yang panjanh itu, orang - orang tak berdosa yang kehilangan nyawa, dan banyak juga yang terluka parah tanpa mengetahui kesalahan apa yang mereka perbuat. Seluruh darah, seluruh teriakan memilukan ini mengingatkannya akan kejadian 'itu'. Tangisan - tangisan yang menghantuinya sepanjang hidupnya sebagai pengangguran selama ini.


Masih dalam posisi berlutut lemas Insur langsung disergap beberapa polisi, Komandan Ladusong yang memimpin saat itu segera menyuruh sebagian anak buahnya mengamankan Insur yang tak berdaya. Di mata Insur saat hanya ada kekosongan, kehampaan....