Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 28: Waduh, waduh, waduh.....


Di pagi hari yang dingin Insur menuju sungai Tasbran lengkap dengan alat pancingnya. Terlihat di sudut sungai si Pantam telah menunggunya dengan rokok terselip di mulutnya.


"Bagi rokoknya Tam!" Seru Insur setelah mendekat.


Pantam mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek api. Dengan cepat Insur membuka bungkus rokok itu, mengambil satu dan menyalakannya. Asap rokok mengepul pekat dari kedua sahabat itu.


"Gimana Sur udah sehat?" Tanya Pantam sambil mengayunkan pancingnya.


Sembari menunggu umpan dimakan ikan, kedua sahabat tersebut mengobrol panjang.


"Yah lumayan Sur. Cuma sekarang tidak bisa kemana - mana dulu. Ladusong mengerahkan personilnya untuk menangkap gua."


Setelah penjelasan Insur, Pantam terdiam. Ditemani kabut tipis pagi yang dingin keduanya asik menikmati rokok.


Tak berapa lama Pantam pun mulai membuka pembicaraan lagi, "trus kamu tinggal dimana sekarang? Kos mu diobrak - abrik komandan Ladusong dan anak buahnya."


"Gua tinggal di ruang bawah tanah mbak Hana untuk saat ini. Gak tau sampai kapan."


Insur menyedot rokoknya dalam - dalam.


"Sama mbak Hana? Janda paling semok di desa KangAgung?!" Kata Pantam tak percaya sembari membanting alat pancingnya.


"Kampret luuu Sur!!! Beruntung banget lu!!!" Ucap Pantam dengan rasa sebal dan iri karena Insur serumah dengan mbak Hana yang montok itu.


"Luu iri? zehahahaha....!" Ucap Insur mengejek.


Keduanya pun bergulat di sisi sungai Tasbran itu.


Sambil bergulat keduanya masih saling bertukar kalimat.


"Kampret!!! Lu pasti cari - cari kesempatan buat ngintip mbak Hana mandi!! Iya kan? Iya kan?!!" Kata Pantam sembari mengunci kaki Insur dan menggelitik telapak kakinya.


Insur tak tinggal diam, dia menyusup di balik tubuh Pantam dan mengarahkan kedua tangannya pada perut pantam dan menggelitiknya pula sambil berkata, "Ya jelaslah! Tapi gua selalu gak berhasil!! Lu tau kan gimana rasanya sakit menahan nafsu?! Lu tau kan? Lu tau kan?!!"


Keduanya pun terus bergulat saling menggelitik hingga kecapekan sendiri. Dan keduanya sama - sama terlentang kecapekan. Sungguh dua sahabat sejati sepernafsuan! Ruahahahaha......


Setelah mengatur napas karena capek, Pantam pun berkata, "Pak kaji Dauh menyuruhku membawamu kepadanya."


Insur menatap kosong sungai Tasbran yang luas di hadapannya.


"Dia mau apa?"


"Gak tau Sur"


Insur bangkit, berkata dengan mantap, "Bawa aku ke rumah pak kaji Dauh."


-----


Terlihat di serambi rumah pak kaji Dauh telah duduk Insur, Pantam, dan pak kaji Dauh selaku empunya rumah. Di meja telah tersedia berbagai makanan ringan, kopi hijau khas, dan beberapa bungkus rokok. Pak kaji Dauh mulai menyalakan rokoknya dan asap pekat putih halus segera menyebar. Hari mulai beranjak siang, sudah pukul 10 pagi.


Akhirnya pak kaji Dauh segera memulai membuka percakapan, "Sur, apa yang kamu lakukan benar - benar mulai di luar kendaliku. Sekalipun aku salah satu orang berpengaruh di kubu Elang Langit tapi Ladusong itu cukup merepotkan. Kamu tau sendiri Sur Ladusong dan aku itu sama - sama salah satu dari empat pilar Elang Langit. Kalau kamu mau menjatuhkan Ladusong maka hal ini bisa menjadi masalah besar. Jangan hanya karena satu atau dua orang yang mati terus kamu mengacaukan kedamaian yang telah kita bangun".


Insur menyedot dalam - dalam rokoknya.


"Bukan seperti itu Sur! Maksudku setiap nyawa itu penting tapi kedamaian secara global itu lebih penting! Sudah biarkan saja kematian pak Cik, Mbezi, dan Anci sekeluarga. Mereka memang harus mati untuk kedamaian desa KangAgung ini!!!" Bentak pak kaji Dauh sembari menggebrak meja.


Pantam yang tidak ikut bicara dan hanya ngemil saja sampai kaget karena memang jarang sekali pak kaji Dauh menunjukkan emosinya seperti saat ini.


"Terus apa yang sebenarnya anda inginkan dari saya?" Tanya Insur sembari menatap dalam - dalam mata pak kaji Dauh.


"Berhenti membuat masalah dengan Ladusong. Keluarlah dari desa KangAgung. Lupakan semuanya. Hiduplah tenang. Segala kebutuhanmu akan aku cukupi, di setiap bulannya akan aku kirimkan sejumlah uang. Hiduplah di luar dan jangan ikut campur lagi masalah desa KangAgung. Ini untuk kebaikanmu sendiri Sur, dan juga untuk kedamaian seluruh desa KangAgung."


"Kalau aku tidak mau?"


"Ini perintah Sur!"


"Perintah dari siapa? Dari "Dia" sang penguasa desa?"


"Insur.....!!!!!!"


Bruakkkkk..........


Kali ini bukan hanya menggebrak meja tetapi juga memukul Insur hingga terjatuh dari tempat duduknya.


Suasana hening. Pantam hanya terdiam tak berani bergerak di tempat duduknya. Walaupun Insur adalah sahabat baiknya tetapi Pantam tidak berani membantah Pak kaji Dauh karena Pantam adalah tangan kanan Pak kaji Dauh. Pantam hanya menunduk melihat Insur di lantai dengan rasa kasihan.


Insur segera bangkit dengan santainya sambil berkata, "aku sudah memilih keputusanku, aku tidak akan berhenti hingga Ladusong mendapatkan ganjaran yang setimpal, kematian!"


Pak kaji Dauh menatap tajam Insur, begitu juga Insur menatap tajam balik Pak Kaji Dauh. Keduanya pun saling bertukar kata, "Ladusong harus menerima balasan perbuatannya, inilah keadilan."


"Tapi kedamaian harus tercipta Sur!"


"Jadi ini kedamaian yang dulu mau kamu ciptakan?" Pertanyaan Insur yang terakhir membuat Pak kaji Dauh terdiam seribu bahasa.


Insur melenggang pergi menjauh dari rumah pak kaji Dauh.


Setelah Insur pergi, Pak kaji Dauh berkata pada Pantam, "Insur tampaknya akan bergerak saat pemilihan komandan militer yang baru desa KangAgung antara Ladusong dan Dipaidi sekitar tiga hari lagi di kantor militer. Kita tidak perlu ikut campur Tam! Kita sudah memperingatkan Insur sebisanya. Sekarang biarkan waktu yang menjawab kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Siap Pak kaji Dauh!" Jawab Pantam dengan tegas.


-----


Malam itu di ruang bawah tanah toko mbak hana, Insur mengutarakan keinginannya menyerang Ladusong saat pemilihan komandan militer desa KangAgung. Awalnya mbak Hana tidak setuju, tapi karena dilihatnya sinar penuh keyakinan di kedua mata pria yang amat dicintainya maka mbak Hana mau tak mau menyetujuinya.


"Bukankah agak sulit untuk membunuh Ladusong di tengah lautan polisi yang berkumpul?" Tanya mbak Hana.


"Kumpulkan anggota Serigala Tanah yang tersisa. Aku juga akan segera menemui Dipaidi." Ujar Insur serius.


"Menemui Dipaidi?! Bukankah dia juga anggota Elang Langit?!"


"Memang benar. Tapi ada ungkapan musuhnya musuh adalah teman kita. Saat ini Dipaidi sedang bertarung dengan Ladusong memperebutkan posisi komandan militer desa KangAgung. Aku yakin Dipaidi akan membantu kita."


Setelah mendengar perkataan Insur, mbak Hana pun manggut - manggut. Tersenyum manis pada Insur. Aduhhhh seberapa kadar manis senyumnya itu!!!!! Ohh sungguh pesona keindahan ciptaan Tuhan yang tiada duanya, gumpalan pipi lembut merah merona, dipadu bibir tipis mungil yanh... Woiiii sadar woiii ini cerita mau dikemanakan? Dasar pengarang tak bermutu. Ruahahaha.....


Malam itu Insur segera bergegas untuk menemui Dipaidi. Di ujung jalan tak terduga dia bertemu Pak Gaelani dengan becak kesayangannya yang terparkir di sisi jalan. "Mau kemana Sur? Sini gua anterin!" teriak Pak Gaelani sembari mendekat. Waduuuuhhh.... bakalan ribet nih!