Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 38: Manusia Baik, Manusia Rusak


Becak Pak Gaelani menerobos semak - semak belukar. Dengan penuh kegigihan Pak Gaelani menggenjot becaknya melalui medan yang bahkan mungkin sepeda pun sulit untuk melaluinnya. Becak tergoncang dengan dahsyatnya. Insur yang berada di kursi penumpang memegang pinggiran becak dengan erat.


"Pak Gaelani bisa santai sedikit tidak bawa becaknya. Bisa - bisa gua mabuk darat kalau begini!" Keluh Insur.


"Diam kamu anak muda! Semakin berat medan berat yang dilalui maka semakin bersemangatlah jiwa petualangku! Gaeahahaha!" Ucap Pak Gaelani yang tidak menghiraukan keluhan Insur dan menggenjot becaknya makin keras.


Insur sudah tidak dapat berkata apa - apa lagi. Dia semakin erat memegang pinggiran kursi penumpang becak karena becak tersebut berguncang tatkala melewati berbagai semak dan bebatuan tak beraturan.


Selang tak lama kemudian sampailah mereka di pinggir jalan raya Agung di sisi timur jembatan Agung.


"Nah sampai lebih cepat kan!" Ucap Pak Gaelani dengan tersenyum bangga.


Insur segera turun dari becak. Dilihatnya pasukan desa Magala tengah merapikan tendanya dan bersiap pergi kembali ke desa Magala. Sementara itu di sisi barat terlihat pasukan desa Balatara dengan jumlah tak kurang dari dua ratusan dipimpin oleh Intan beserta Shin dan Shun.


"Bagus. Bala bantuan dari desa Balatara akhirnya tiba juga. Tampaknya pasukan desa Magala memutuskan untuk mundur dan kembali ke desanya." Ucap Insur.


Pak Gaelani tak menggubris ucapan Insur. Dia terlihat mengelap becaknya dengan khidmat.


-----


Pertarungan semakin memuncak di perumahan Bangau Putih. Bukit yang hancur berantakan karena jurus gempa kloning Ladusong menyebabkan banyak benatuan yang berceceran di tengah area pertempuran yang membara. Tidak sedikit yang akhirnya tertindih batu besar baik itu dari pasukan pemberontak, pasukan desa Magala ataupun pasukan dari desa KangAgung.


"Luahahaha.... Inilah kekuatan dari dewa! Sembahlah aku wahai manusia - manusia kecil!" Teriak Ladusong menggema.


Lanaya tidak menggubris teriakan kloning Ladusong. Dia sudah memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dan kembali ke kapal air besar desa Magala.


"Semua pasukan desa Magala mundur! Kita sudah cukup dalam membantu pasukan pemberontak. Sekarang semuanya kembali ke truk dan segera menuju kapal besar kita!" Teriak Lanaya memberikan komando.


Pasukan desa Magala yang tersisa pun segera menuju truk baja. Lanaya berlari mundur ke arah salah satu truk baja. Dokter Skak yang melihat Lanaya menarik mundur pasukan desa Magala pun menjadi tidak mengerti.


"Hey Lanaya! Apa - apaan ini?! Bukankah desa Magala sudah setuju untuk membantu pasukan kami melawan pasukan desa KangAgung?!" Teriak dokter Skak pada Lanaya.


"Kami memang setuju membantu kalian melawan desa KangAgung. Tapi dalam perjanjian tidak tertulis kalau kami juga membantu kalian menghadapi pasukan desa Balatara." Jelas Lanaya yang langsung melompat ke dalam truk baja.


Tiga truk baja besar itu pun segera mundur melaju ke arah barat kembali ke kapal besar desa Magala. Kini hanya tinggal pasukan pemberontak yang terus bertempur melawan pasukan desa KangAgung.


"Bagaimana ini kloning Ladusong? Tampaknya bala bantuan desa Balatara akan segera tiba kemari. Kita juga sudah tidak mendapat bantuan dari desa Magala." Ucap dokter Skak panik.


"Memang kenapa? Lihatlah tinggal sedikit lagi kita bisa mengalahkan pasukan desa KangAgung. Williams dan pasukannya sudah hancur. Pak Kaji Dauh juga sudah sekarat. Ini adalah kesempatan terbesar kita. Kita tidak boleh mundur!" Ucap kloning Ladusong.


"Tapi pasukan desa Balatara akan segera tiba di sini!" Ucap dokter Skak.


"Kalau begitu kita harus secepatnya mengalahkan pasukan desa KangAgung sebelum pasukan dari desa Balatara itu tiba di sini." Ucap kloning Ladusong dengan mantap.


Mau tak mau akhirnya dokter Skak menyetujui rencana kloning Ladusong. Dia pun menyemangati pasukan pemberontak untuk segera mengalahkan pasukan desa KangAgung.


Sementara itu Dia Sang Penguasa Desa KangAgung pun juga terus membakar semangat pasukan desa KangAgung.


"Tetaplah bertarung! Jangan putus asa! Bantuan dari desa Balatara akan segera datang! Bertahanlah dengan seluruh kekuatan kalian!!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


Pertarungan pun terus berlanjut. Suara pedang yang beradu dan tembakan - tembakan menyalak memenuhi setiap ujung jalan di depan perumahan Bangau putih yang sebagian besar rumahnya telah hancur.


-----


"Terima kasih sudah datang memberi bantuan kepada desa KangAgung." Ucap Insur.


"Anggap saja kita impas. Kamu juga telah membantu desa Balatara dengan memberikan batu darah padaku." Ucap Intan.


Intan menghadap ke arah kapal besar desa Magala yang tertambat di sebelah utara jembatan Agung.


"Bagaimana dengan pasukan desa Magala? Kita serang sekarang?" Tanya Intan.


"Jangan. Biarkan mereka memutuskan terlebih dahulu akan terus bertarung membantu pasukan pemberontak atau memilih untuk mundur kembali ke desanya." Ucap Insur.


Zhou berdiri di atas kapal melihat pasukan desa Balatara yang berkumpul di tengah jembatan Agung tersebut. Jaki berada di sisi kanan menemaninya.


"Lama sekali datangnya si Lanaya itu. Bisa - bisa kita akan berperang dengan pasukan desa Balatara kalau begini." Ucap Zhou menanti kedatangan Lanaya dan pasukannya.


Tak lama kemudian nampaklah tiga truk baja besar dari arah timur yang dengan laju cepat menuju kapal besar desa Magala.


"Akhirnya dia datang juga." Ucap Jaki.


Gerbang kapal besar tersebut terbuka dengan suara dengungan besar. Tiga truk baja tersebut segera memasuki kapal tersebut. Setelah ketiga truk memasuki kapal, pintu tertutup kembali.


"Tuan Zhou, maaf kalau saya terlambat untuk kembali." Ucap Lanaya melapor pada Zhou.


"Iya. Sekarang kita bisa bergegas kembali pada desa kita. Yang penting tujuan kita untuk mendapatkan salah satu batu darah telah tercapai." Ucap Zhou.


Mesin kapal besar segera menyala dengan suara meraung - raung. Dengan lambat namun pasti kapal tersebut berputar haluan menuju arah utara.


"Mereka mundur. Berarti sekarang kita tinggal menuju perumahan Bangau Putih untuk mengakhiri pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak di desa KangAgung ini." Ucap Insur.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Ucap Intan.


Tank - tank besar dari desa Balatara pun bergerak menuju ke arah timur, ke perumahan Bangau Putih. Pertempuran akhirnya akan menemui puncaknya.


Sementara itu Pak Gaelani sudah menggenjot becaknya terlebih dahulu. Di jalan dia menemukan tubuh Bambang yang lemas tak berdaya karena mencret berulang kali.


"Lu gak apa - apa Bambang?" Tanya Pak Gaelani.


"Tolong gua. Gua lemes banget nih Pak Gaelani. Tolong antarkan gua ke rumah sakit." Jawab Bambang.


Tanpa ba bi bu lagi Pak Gaelani langsung membopong Bambang dan mendudukkanya di kursi penumpang pada becaknya.


"Gak gua sangka lu sampek lemes gitu tergeletak di pinggir jalan. Emang kenapa lu Bambang?" Tanya Pak Gaelani sembari menggenjot becaknya.


"Si kampret dokter Skak memaksa gua memakai jurus Eraser gua berkali - kali. Dan efek jurus gua itu adalah membuat perut gua mulas dan mencret!" Jelas Bambang dengan terengah - engah.


Ah sungguh malang sekali nasib Bambang. Dalam sebuah perang, orang yang tidak ikut perang pun tetap akan terkena imbasnya. Karena manusia itu saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Ketika satu manusia telah rusak, maka dia akan merusak manusia yang lain. Ketika manusia baik, maka dia akan menarik manusia lain untuk berbuat baik. Dan ketika manusia rusak dan manusi baik bertemu, maka hanya tergantung siapa yang memiliki tekad terkuatlah yang akan mempengaruhi yang lain.